Anya seorang perempuan kaya yang harus meninggalkan semuanya yang dia miliki karena sakit hati yang dia punya kepada Adi. Dia memilih menghilang dari kehidupan masa lalunya dan memulai segala sesuatunya dari nol. Akankah dia bertemu dengan kekasih baru dan mempunyai kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia Arinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Tidak Suka
Anya masih sibuk dengan laporan yang seolah tidak ada habisnya. Cindy pun keluar masuk ke ruangan Anya menyiapkan laporan maupun dokumen yang anya butuhkan.
Drrrrttt drrrrrttt
Ponsel disamping Anya bergetar. Ada pesan masuk, Anya melihat sekilas. Sebuah pesan dari sebuah nama yang membuat Anya mengerutkan dahi. Mario Tampan. Ya nama tersebut tertera di layar ponsel Anya sekarang. Anya lalu mengambil ponselnya.
Kamu jangan lupa makan siang, hari ini aku banyak kerjaan. Nggak bisa makan bersama. Jangan kangen. ☺
Anya melihat jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Anya menutup laptop dan merapikan dokumen di mejanya. Tidak lupa dia membalas pesan Mario.
Ini lagi mau makan ke kantin. Aku nggak bakalan kangen sama cowok tengil kaya kamu 😋
Kirim, pesan terkirim.
Anya lalu mengganti kontak Mario menjadi Cowok Tengil. Anya tersenyum, memasukkan ponsel ke kantong celananya dan berjalan keluar ruangan menuju kantin.
Saat Anya keluar dari ruangnya, dia melihat Cindy masih sibuk dengan pekerjaannya. Anya menghampirinya dan mengajak makan siang bersama. Mereka pun berjalan bersama ke kantin. Sesampainya di kantin mereka memesan makanan bersama kemudian duduk.
"Cin, minta nomormu dong, kan aku sekarang dah punya HP", kata Anya sambil menyuap bakso ke mulutnya.
"Ni catet", Cindy memberikan ponselnya pada Anya. Anya pun memasukkan nomor Cindy ke ponselnya. Merekapun melanjutkan makan siang mereka.
"Bu Anya kok makannya sama Cindy? Sudah dibuang ya sama Tuan Mario?", kata Nisa mengagetkan Anya. Anya hampir tersedak namun masih bisa diatasi. Anya pun menoleh.
"Hai Bu Nisa, makan bakso sini. Enak lho. Apalagi ini pedas banget, mantap deh", Anya tersenyum lebar menatap Nisa.
Drrrrt drrrt drrrt
Ponsel Anya bergetar di sakunya. Anya mengambilnya. Terlihat nama cowok tengil melakulan panggilan video. Anya menekan tombol hijau di layarnya. Panggilan video tersambung.
"Ada apa? Aku lagi makan?", tanya Anya pada Mario.
"Jutek amat. Nggak kangen aku? Makan apa kamu?", tanya Mario.
"Ngapain kangen kamu. Ni makan bakso. Mau?", Anya mengarahkan ponselnya ke arah mangkok bakso.
"Mau, tapi suapin", Mario terkekeh.
"Males", Anya menjulurkan lidahnya. Mario tertawa melihatnya. Nisa yang masih di dekat Anya tampak tidak suka. Anya yang menyadarinya pun mengarahkan ponselnya ke Nisa.
"Cowok tengil, ada yang nyari katanya dia kangen kamu", Anya tertawa. Mario yang melihat wajah Nisa pun langsung berubah raut wajahnya.
"Apaan sih Nya, aku video kamu karena aku kangen kamu, ngapain sih dilihatin muka Nisa?", kata Mario dengan nada kesal lalu mematikan panggilan tersenyum.
"Dasar cowok tengil nggak jelas. Main matiin aja", Anya pun memasukkan kembali ponselnya ke saku.
Nisa yang mendengarkan panggilan video tersebut semakin tidak suka dengan Anya. Apalagi ketika mendengar Mario bilang kangen sama Anya. Amarahnya semakin mendidih. Nisa mengepalkan tangannya.
"Bu Nisa nggak cape berdiri? Sini duduk, makan bakso sekalian mau?", kata Anya sambil tersenyum sinis. Nisa pun pergi tanpa mengatakan apa apa. Nisa pergi dengan membawa amarah.
Cindy yang daritadi hanya diam saja melihat Anya dan Nisa pun mulai menunjukkan rasa ingin tahunya.
"Nya, ada apa sih antara kamu sama Nisa?", tanya Cindy.
"Aku juga bingung kenapa dia nggak suka sama aku", kata Anya menyuap bakso terakhir ke mulutnya.
"Cerita dong. Kepo ni", kata Cindy. Anya menghela nafas panjang, sebenarnya dia enggan cerita hal tidak penting, tapi muka Cindy seolah menunjukkan keingin tahuannya.
"Dulu pertama kali ketemu Nisa pas nglamar kerja, pas aku nyerahin lamaran dia bilang suruh taruh saja, terus minta aku ninggalin nomor yang bisa dihubungi. Berhubung aku gak punya HP waktu itu, dia bilang aku suruh langsung wawancara tanpa di tes dulu", Anya berhenti cerita. Dia mengambil es tehnya dan meminumnya. Cindy masih dengan sabar menunggunya.
"Waktu aku mau pulang, dia bilang ke aku kalau aku tidak mungkin bisa masuk ke perusahaan ini, karena dia pikir aku hanya bermodal cantik saja. Aku merasa tersinggung dong, aku bertekad akan menunjukkan padanya aku tidak hanya bermodal wajah tapi juga otak. Hari berikutnya aku wawancara, saat wawancara seorang pria muda menanyakan jika perusahaan sedang dalam krisis, terlilit hutang namun ada proyek besar yang bisa membuat perusahaan bangkit lagi dan lepas dari hutang. Dia tanya gimana cara aku menyakinkan investor dan client biarau kerjasama. Aku jawab tu. Eh pria muda itu langsung nempatin aku di posisi sekarang. Melihat aku langsung dapat jabatan Nisa sangat tidak suka. Itulah kenapa dia nggak suka aku", Anya mengakhiri ceritanya.
"Pantesan. Emang siapa pria muda yang mewawancarai mu?", tanya Cindy penasaran.
"Nggak tahu aku lupa. Habis aku terlalu fokus ingin menunjukkan kemampuanku, jadi aku tidak terlalu memperhatikan", jawab Anya. "Balik yuk. Udah mau habis ni jam makan siangnya. Aku juga masih banyak laporan", ajak Anya.
Mereka pun kembali ke departemen marketing. Anya sudah memikirkan banyaknya laporan yang harus dia analisa kerjakan. Sedangkan Cindy masih memikirkan apa mungkin yang mewawancarai Anya itu adalah Mario. Mengingat bagaimana dengan mudahnya Anya langsung menjadi manager. Tapi rasa ingin tahunya tidak terjawab karena Anya sendiri lupa.
______________
jangan lupa vote, like dan share nya teman teman. jadikan juga sebagai salah satu novel favorit semua pembaca.
terimakasih semuanya.
follow IG : @widiaarinta
sukses
semangat
keren dan mantap