Kiara percaya cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Tapi ternyata, bermodalkan cinta saja tidaklah cukup. Pernikahan yang baru berjalan 1 tahun atas dasar perjodohan itu harus berakhir begitu saja setelah Erick menjatuhkan talak untuk yang ketiga kalinya. Alasannya selalu sama, hanya karena merasa tidak diperhatikan. Padahal, sebelum memutuskan menikah mereka sudah sepakat akan saling memahami profesi masing-masing.
3 bulan kemudian Erick kembali dengan sejuta penyesalan dan meminta rujuk. Kiara yang sejatinya masih mencintai sang mantan suami kembali memberikan kesempatan meski tahu jalan kembali kali ini harus melewati lika-liku yang rumit. Kiara harus menikah terlebih dahulu dengan laki-laki lain yang disebut muhalil.
Bagaimanakah perjalanan rumah tangga Kiara bersama suami muhalilnya dalam bayang-bayang Erick yang menanti mereka segera bercerai? Namun, siapa sangka dibalik pernikahan muhalil itu, ternyata tersimpan sebuah rahasia yang berusaha dibongkar oleh sang muhalil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31. SUARA ITU...
"Malam ini, Om akan kembalikan Papa Shanun." Lirih Denis sambil menatap sebuah kado yang baru saja selesai di bungkusnya. Isinya hanya sebuah boneka panda berukuran sedang yang dia beli tempo hari bersama Kiara, tapi malam nanti saat dia memberikan kado itu, tepatnya di malam ulang tahun Shanum apa yang selama ini menjadi kesedihan gadis kecil itu akan terkuak.
Sejenak, pikirannya tertuju pada Kiara. Denis menghela nafas panjang membayangkan bagaimana reaksi istrinya itu. Air mata yang bercucuran, serbuan kalimat cacian mungkin saja akan terburai malam ini. Dan itu pasti.
Denis melirik jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore dan sebentar lagi Kiara akan pulang dari rumah sakit. Istrinya itu sudah berjanji akan pulang cepat agar bisa menghadiri ulang tahun Shanum malam ini.
Tak berapa lama kemudian terdengar suara klakson mobil, Denis meletakkan kado itu diatas tempat tidur lalu beranjak menuju pintu sambil terkekeh pelan, karena biasanya istrilah yang menyambut suaminya pulang kerja tapi yang terjadi sekarang justru kebalikannya.
Dari kejauhan, Kiara geleng-geleng kepala melihat Denis yang berdiri di ambang pintu kamar sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, bibirnya mengembangkan senyum serta sorot matanya yang terlihat berbinar itu tak lepas menatapnya. Jika saja Denis sedang tidak lupa ingatan, pasti sudah akan dia semprot.
Denis tersenyum kecut begitu Kiara masuk ke kamar dan seakan tidak melihat keberadaannya, dia pun menutup kembali pintu kamar kemudian menghampiri Kiara yang duduk di tepi tempat tidur.
"Oh ya, Papa sama Mama sudah duluan ke rumah Ana." Ujar Denis.
Kiara mendongak, menatap Denis dalam beberapa detik kemudian berkata, "Ya udah, aku siap-siap dulu baru setelah itu kita juga langsung ke rumah Ana." Ujarnya terdengar antusias, ada rasa tak sabar untuk segera menyambangi kediaman adik sepupu Denis itu. Saat mengajak Shanum berbelanja keperluan sekolah, dia sempat menawarkan untuk mengantar pulang karena ingin tahu dimana Liana tinggal, tapi sayangnya waktu itu Liana menolak diantar pulang.
*
*
*
"Maaf ya, ini terpaksa harus kita turunkan dulu." Mama Flora mengusap lembut punggung Liana setelah baru saja meletakkan sebuah bingkai foto pernikahan di lantai. Beberapa saat lalu Denis mengirim pesan bahwa telah berada diperjalanan menuju rumah Liana bersama Kiara.
Liana tersenyum tipis, "Gak apa-apa Tante," ujarnya terdengar lirih. Dari sorot matanya dapat mama Flora tangkap ada kekhawatiran di dalam sana.
"Ada apa, Ana?"
"Tante, jujur saja aku takut." Liana mulai terisak. Meski sudah tekad melakukan ini, tapi tetap saja ada kerisauan yang besar dihatinya. Papa mertuanya akan nekat melakukan apapun dan menyingkirkan siapapun yang merusak rencananya.
"Jangan takut," sahut Papa Rangga yang baru saja dari dapur dengan membawa segelas teh. Di rumah Liana tidak ada art yang bisa disuruh, sementara sejak tadi Liana sendiri dan istrinya sedang sibuk menurunkan semua bingkai foto keluarga kecil Liana dan Erick, jadi mau tak mau dia harus membuat teh sendiri.
"Bagi Om, Handoko itu hanya setumpuk kardus bekas yang akan rusak dengan sendirinya karena tertindih kardus lainnya." Seloroh papa Rangga begitu telah berdiri dihadapan Liana dan istrinya.
"Dan Erick, hanya anak kecoa yang berada diantara tumpukan kardus itu." Sambungnya sambil terkekeh. "Jangan takut, Ana. Tangan Handoko tidak akan bisa menggapai kamu dan putrimu. Om dan Azka serta Denis akan melindungi kalian." Ujarnya meyakinkan.
Liana hanya mengangguk meski hatinya belum sepenuhnya lega, dibalik ancaman itu dia juga memikirkan keselamatan Denis dan Erick. Meski papa Rangga akan memberi perlindungan tapi siapa yang bisa mencegah jika papa mertuanya berhasil mengecoh.
Liana dan mama Flora pun kembali melanjutkan pekerjaan mereka, membawa semua bingkai foto itu menuju gudang untuk disimpan sementara sebelum denis dan Kiara sampai, dan hanya menyisakan foto Shanum dan Liana saja. Kali ini papa Rangga juga ikut membantu, membawa pigura yang paling besar yang merupakan foto pernikahan Erick dan Liana, matanya melotot menatap Erick yang tersenyum dalam foto itu.
*
*
*
"Ma, Papa kok belum datang?" Tanya Shanum. Sekarang sudah pukul tujuh malam, yang lainnya sudah berkumpul tapi papanya belum juga terlihat.
"Sabar ya Sayang, sebentar lagi Papa pasti akan sampai." Liana mencoba membujuk putrinya sambil tersenyum, namun dalam hatinya juga merasa was-was akan suaminya yang ternyata tidak bisa hadir malam ini. Terlebih sudah beberapa kali ia mencoba menghubungi namun tidak tersambung.
Sementara itu, Kiara yang duduk di sebelah Denis, diam-diam mengedarkan pandangannya. Sejak tiba di rumah minimalis itu tak satupun foto suami Liana yang dia temukan. Hanya ada beberapa foto Liana dan Shanum saja.
"Kenapa tidak ada foto suaminya Ana di rumah ini?" Tanpa sadar Kiara berbisik pada Denis saking penasarannya.
Denis tersentak, namun sesaat kemudian dia tersenyum menutupi rasa terkejutnya. "Di servis kali," jawabnya asal.
Kiara memutar bola matanya malas, jawaban macam itu. Memangnya ada foto diservis. Ada-ada saja.
Tak berapa lama kemudian terdengar suara klakson mobil, Liana segera mengintip di jendela. Tegang mulai menguasai setiap sudut hatinya begitu melihat Erick turun dari mobil, dia segera menghampiri putrinya kembali.
"Sayang, kita kasih kejutan untuk Papa ya? Kita matikan lampunya." Ucap Liana pada putrinya.
Shanum hanya mengangguk sambil tersenyum.
Liana pun menyalakan satu lilin, setelah mematikan lampu dia gegas menuju pintu menyambut kedatangan suaminya.
Erick tercengang begitu pintu terbuka, suasana didalam rumah gelap gulita, hanya ada cahaya dari lilin yang dipegang oleh Liana.
"Kenapa lampunya padam?" Tanya Erick.
Dari jarak yang tak begitu jauh dari pintu, semua orang dapat mendengarkan suara Erick. Tak terkecuali Kiara, diantara kegelapan kedua matanya terbelalak mendengar suara itu... suara yang tidak asing ditelinga nya.
si erik manggil Denis abang liana atau erik yang adik nya Denis ini🧐