Merasa menjadi tumbal kehidupan yang keras membuat Alina menjadi pekerja malam yang dikorbankan oleh tantenya sendiri.
Akankah hidup Alina berubah setelah bertemu dengan Tuan Muda bernama Leon Hansen Wijaya?
Kepoin kisahnya di novel ini yah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini Jayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31# Kematian Doni
Alina berlari kecil di sepanjang koridor Rumah Sakit, disusul Leon dan AK di belakangnya. Ia segera berangkat tak lama setelah mendapat kabar bahwa Doni, adiknya mengalami gagal nafas dan sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir 5 menit sebelum pihak Rumah Sakit menghubunginya.
Beberapa perawat dan dokter menyambut kedatangan mereka. Alina terdiam sejenak sebelum masuk ke ruang ICU.
Alina perlahan membuka kain yang menutupi wajah Doni, tangannya bergetar diiringi tangis sesenggukan. Alina menghambur memeluk jenazah adiknya yang sudah memucat, diciuminya berkali-kali untuk yang terakhir terakhir kalinya sebelum jenazah dimandikan dan dikafani.
Pria di belakangnya tampak menguatkannya, megusap lembut punggung Alina dan dibiarkannya Alina menangis dipelukannya setelah jenazah adiknya dibawa ke ruang pemulasaran.
"Kenapa mendadak begini?" ucapnya lirih, Leon melirik ke arah AK. Assistennya itu mengerti arti dari lirikan mata Leon padanya.
AK keluar dari ruangan ICU mendatangi dua bodyguard yang ditugaskan berjaga di depan ruangan ICU untuk menjaga adik Alina dari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Apa ada yang mencurigakan?" selidik AK menatap dingin kedua pria di depannya.
"Maaf Tuan AK, sepertinya ada yang mencoba menyabotase adik dari Nona Muda. Kami melihat ada dua orang perawat keluar mencurigakan setelah itu adik Nona Muda tidak lama mengalami gagal nafas," jelas salah satu dari dua bodyguard itu.
"Lalu kenapa kalian hanya diam saja kalau memang ada yang mencurigakan?" sentak AK tidak lagi memperdulikan keadaan sekitarnya, kemarahan AK merupakan suatu kewajaran karena menjaga adiknya Alina bagian dari tanggung jawabnya.
"Kami dihalangi Tuan, karena melanggar SOP saat melakukan pemeriksaan rutin pada pasien. Itu alasan mereka dan kami juga lihat ada pendampingan dari dokter Nelson,"
Dan Doni berada di bawah tanggung jawab Dokter Nelson. Seorang dokter yang baru bertugas di Rumah Sakit Medika Utama.
AK menghela nafas berat, Leon tidak akan menerima begitu saja kematian adiknya Alina. Apalagi Alina terlihat sangat shock menghadapi semua ini.
"Aku ingin bertemu dengan dokter yang bertanggung jawab pada pasien yang meninggal ini," pinta Leon pada salah satu perawat yang sedang sibuk membereskan ruangan bekas tempat Doni.
"Baik, akan saya sampaikan sekarang." perawat itu keluar dari ruangan ICU pergi ke ruangan Dokter Nelson. Tak lama ada perawat lain mendatangi Leon yang masih berada di depan ruang ICU bersama Alina dan juga AK.
"Anda ingin bertemu dengan dokter yang bertanggung jawab pada pasien yang meninggal atas nama Doni Gunawan?" tanya perawat itu secara rinci.
"Iya betul. Aku ingin menemuinya!" jawab Leon dengan mimik ketus.
"Baik, silahkan mari ikut dengan saya." ucap pria setengah baya mempersilahkan Leon berjalan bersamanya.
Sampai di depan ruang pemeriksaan Dokter Nelson, lantas Leon segera masuk setelah handle pintu dibukakan oleh perawat itu.
"Mari Tuan Leon, silahkan duduk." Dokter Nelson berdiri tanda ia segan akan kedatangan Leon ke ruangannya.
Sikap angkuhnya kembali diperlihatkan saat mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Aku tidak akan basa-basi lagi, aku merasa kematian adikku sangat janggal. Dia dinyatakan gagal nafas sementara kondisinya sedang koma. Apa kamu bisa menjelaskannya?" tohok Leon.
Wajah Nelson terlihat agak memucat dari sebelumnya, dahinya mulai berkeringat walau AC sudah dinyalakan.
"Begini Tuan, pasien yang bernama Doni ini ada tanda-tanda kesadaran saat perawat memeriksa rutin dan terjadilah gagal nafas Tuan," suara Nelson dibuat setenang mungkin.
Leon berdecak kesal menghadapi pria di hadapannya.
"Aku baru bertemu dengan dokter sepertimu. Kamu seperti dokter gadungan. Kamu tahu siapa aku? Aku bisa memecatmu dari Rumah Sakitku dan aku akan pastikan kamu tidak dapat lagi bekerja di Rumah Sakit manapun dan izin praktekmu akan dicabut. Aku pastikan itu!" sentak Leon mengintimidasi Nelson, sampai dokter muda itu nafasnya terlihat naik turun dengan cepat.
Setelah pemulasaraan selesai almarhum Doni dibawa langsung ke tempat pemakaman umum, Alina memutuskan langsung menguburkannya mengingat keluarganya hanya tinggal ia seorang diri. Leon menuruti keinginan Alina setelah sebelumnya menyuruh AK untuk mempersiapkan liang kubur pada pengurus pemakaman.
Kepergian Doni hanya diantar oleh kakak tercintanya sendiri, Alina. Leon, AK, Lusy dan beberapa bodyguard berdiri mematung melihat Alina bersimpuh berderai air mata. Siapa yang tidak terpukul, saudara kandung satu-satunya telah pergi meninggalkan dunia fana ini. Selesai dikuburkan Alina tidak beranjak pergi, ia memegang nisan dan mencium nisannya berkali-kali. Hanya air matanya mengiringi kepergian Doni.
"Pergilah dengan tenang ya Dek, maafkan kakak yang tidak selalu ada di sisimu. Semoga Allah menerimamu di sisi-Nya, Aamiin," ucap Alina lalu mendo'akan kepergian adiknya dipimpin oleh seorang ustadz yang sengaja dipanggil untuk memimpin upacara penguburan.
Leon mendekap tubuh Alina, agar wanita yang dicintainya itu tidak merasa sendirian.
***
Tiga hari setelah kepergian Doni masih menyisakan kesedihan mendalam baginya. Alina sering berdiam diri mengurung dirinya di kamar. Ia juga kehilangan selera makannya sampai tubuhnya terasa lemas. Leon sampai harus turun tangan sendiri memasak sesuatu agar Alina bisa makan meski hanya beberapa suapan saja.
Beruntung Leon tidak pernah meninggalkannya sedikitpun, urusan perusahaan ia pantau dari laporan AK. Masalah pribadinya dengan Bella dikesampingkannya dulu, biarlah AK mengurus semuanya sendiri.
Malam hari setelah Alina beristirahat, Leon berbicara serius dengan AK di ruang kerjanya. Leon sudah menduga pasti AK akan memberikan kabar baik padanya terkait kematian adiknya Alina.
"Bagaimana hasilnya, apa dokter gadungan itu ikut campur di dalamnya?" tebakan Leon tepat.
"Benar Tuan, Nelson salah satu orang kepercayaan Nona Bella,"
"Apa Bella?" kesal, Leon meremas satu batang rokok yang tengah menyala.
"Iya Tuan, Nelson mengakui semuanya karena kita sudah punya bukti tentang pelanggaran kode etik kedokteran yang dilakukannya. Sebelum masuk ke Rumah Sakit Medika, dia mendirikan klinik aborsi dan sampai sekarang masih berjalan, dia juga pernah melakukan mal praktek terhadap banyak pasien dan beberapa diantarannya meninggal." jelas AK.
AK mengancam bahwa Nelson akan dijebloskan kepenjara dengan berbagai tindakan kejahatan yang dilakukannya. Hingga Nelson ketakutan dan menghubungi AK mengakui apa yang dilakukannya pada adik Alina.
"Kenapa dia bisa masuk ke dalam Rumah Sakit? Kamu tahu kan EK, Rumah Sakit itu bukan Rumah Sakit murahan. Perekrutan tenaga kerjanya juga ketat. Jelaskan padaku!" sentak Leon, AK dijadikan bulan-bulanannya saat ini.
"Tuan, Nelson masuk atas rekomendasi Nona Bella dan persetujuan dari Ketua." icap AK.
"Ayah?"
"Aaaarrrggggghhhhh!!!!!" AK tidak menduga kalau Leon akan semarah ini, meninjukan kepalan tangannya ke dinding sampai terlihat sedikit robek dan berdarah.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?"
"Jangan perdulikan Aku! Yang harus kamu lakukan cari bagaimana caranya Nelson dan Bella mendekam di penjara!"
"Baik, Tuan Muda."
***
Tbc...