Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35
Polisi datang lebih cepat daripada yang diinginkan Bima.
Musik di lantai utama Nirwana berhenti. Para tamu menoleh bingung. Beberapa orang yang tahu ada masalah di lorong VIP langsung pura-pura sibuk dengan gelas masing-masing.
Shania berdiri di tengah lorong dengan kartu identitas terbuka. Pistol Bima sudah dimasukkan ke kantong bukti sementara. Anak buah Bima berlutut dengan tangan di belakang kepala, wajah mereka pucat.
"Bawa semuanya," perintah Shania. "Periksa izin senjata, rekaman kamera, dan siapa saja yang ada di lorong."
"Siap."
Bima didorong berdiri. Wajahnya penuh keringat, hidungnya berdarah, tetapi matanya masih menyimpan kebencian.
Saat melewati Shania, ia mendesis, "Kamu akan menyesal."
Shania menoleh.
Bima belum sempat menikmati ancamannya ketika siku Shania menghantam wajahnya. Kepalanya tersentak, lututnya hampir ambruk.
"Ancaman terhadap petugas juga dicatat," kata Shania dingin.
Anak buahnya langsung menutup mulut.
Widya berjalan keluar bersama Shania. Di wajahnya tidak ada panik, hanya ketenangan seorang wanita yang sudah terlalu sering melihat orang berusaha menggertak.
Mereka baru sampai lobi ketika pintu utama Nirwana terbuka.
Jaya Harim masuk dengan beberapa pengawal.
Pria itu memakai kemeja batik hitam dengan motif emas tipis. Rambutnya disisir rapi, wajahnya tampak tenang, tetapi begitu ia muncul, suara di lobi turun seperti ada tangan yang menekan seluruh ruangan.
Bima yang sedang dibawa polisi langsung seperti melihat penyelamat.
"Bang Jaya! Tolong, Bang! Dia memukulku, dia mau bawa aku--"
"Diam."
Satu kata dari Jaya cukup membuat Bima membeku.
Jaya menatap Shania, lalu Widya. Senyumnya muncul perlahan.
"Bu Shania. Bu Widya. Malam ini Nirwana rupanya terlalu ramai."
Shania tidak mundur.
"Bima Hartono membawa senjata api dan mengancam nyawa orang. Barang bukti ada. Rekaman ada. Saksi ada. Kami bawa ke kantor."
"Saya sangat menyesal mendengarnya." Nada Jaya halus. "Bima anak muda, emosinya kadang buruk. Saya tentu tidak membenarkan. Tapi ini terjadi di tempat saya. Jika memungkinkan, saya ingin menyelesaikan secara internal dulu. Besok saya antar dia sendiri ke kantor, lengkap dengan pengacara."
Shania tersenyum dingin.
"Hukum bukan layanan antar jemput, Pak Jaya."
Beberapa pengawal Jaya berubah wajah.
Jaya menatap Shania lebih lama. Perempuan ini tidak seperti aparat yang bisa disapa dengan amplop dan makan malam. Ia punya nama Anggraini di belakangnya, dan di sisinya berdiri Widya, perempuan yang kini memegang Cakra Medika.
Jika ia memaksa, malam ini bisa berubah menjadi perang terbuka.
Matanya pindah ke Widya.
Widya tersenyum tipis.
"Pak Jaya tidak perlu melihat saya. Adik saya sedang bekerja. Saya tidak punya hak mengganggu."
Kalimat itu terdengar sopan, tetapi menutup semua jalan.
Jaya menahan senyum.
"Kalau begitu, saya tidak akan menghalangi."
Ia melangkah ke samping.
"Bu Shania, silakan."
Shania memberi isyarat. Bima dan anak buahnya dibawa keluar. Bima ingin berteriak lagi, tetapi tatapan Jaya membuatnya menelan semua kata.
Setelah polisi pergi, wajah Jaya menjadi dingin.
Seorang pengawal mendekat. "Bang, Bima..."
"Cari pengacara terbaik. Tunggu waktu yang tepat."
"Baik."
Jaya masuk ke mobil hitam di depan klub. Di kursi belakang, Maya Santoso sudah menunggu. Ia mengenakan gaun hijau gelap dan memegang ponsel, wajahnya tenang seolah baru selesai menonton drama yang tidak terlalu mengejutkan.
"Bima tertangkap," kata Jaya.
"Karena Arka?"
Jaya menatapnya.
Maya mengangkat bahu. "Akhir-akhir ini, kalau ada kekacauan yang tampak bodoh tapi hasilnya besar, biasanya ada dia."
"Dia berhubungan dengan Widya Anggraini."
Mata Maya bergerak tipis.
Jaya melanjutkan, "Aku ingin tahu sejak kapan."
Maya menyandarkan tubuh. Dalam hatinya ia memaki Arka. Laki-laki itu baru beberapa hari masuk lingkarannya, tetapi sudah membuat benang yang sulit ia kendalikan. Namun di depan Jaya, ia tidak bisa menunjukkan terlalu banyak keterkejutan.
"Tidak aneh."
"Jelaskan."
"Aku pernah bilang, Arka dari keluarga pinggiran yang punya sedikit warisan pengobatan dan bela diri. Ayahnya punya koneksi lama. Aku sempat minta dia membantu membuka jalan ke beberapa pihak untuk urusan Cakra Medika. Mungkin Widya tertarik karena kemampuan itu."
Kebohongan itu keluar lembut, rapi, dan hangat.
Maya bahkan menambahkan sedikit nada menyalahkan diri.
"Aku belum sempat memberi tahu Bima. Salahku. Dia terlalu cepat cemburu."
Jaya diam.
Bima memang selama ini mengaku perkembangan dengan Widya berjalan baik. Sekarang terbukti tidak. Kalau Widya sampai memanggil Arka, berarti Bima hanya membual. Dalam hal ini, penjelasan Maya justru masuk akal: Arka mungkin kartu alternatif yang belum sempat diumumkan.
"Kalau begitu," kata Jaya akhirnya, "suruh Arka bergerak lebih cepat. Cakra Medika tidak boleh lepas."
Maya tersenyum pelan.
"Aku akan bicara dengannya."
Jaya menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk.
Mobil bergerak meninggalkan Nirwana.
Maya memandang keluar jendela. Senyum di bibirnya tetap ada, tetapi matanya dingin.
Arka.
Kamu benar-benar makin sulit dipegang.
Di sisi lain kota, Arka mengemudi cepat menuju apartemen Yulia.
Pesan Yulia membuat pikirannya tidak bisa tenang.
Begitu pintu apartemen terbuka, ia melihat ruang tamu masih terang. Yulia duduk di sofa dengan apel setengah dikupas di tangan. Pak Mahendra duduk di kursi roda, menatap ponsel seperti baru melihat hantu dari masa lalu. Pak Sari keluar dari dapur membawa piring kecil berisi pisang goreng madu.
"Arka?" Yulia langsung berdiri. "Kenapa wajahmu begitu?"
Arka mendekati Pak Mahendra.
"Pak, foto itu benar?"
Pak Mahendra mengangkat wajah. Matanya masih merah.
"Benar. Namanya Wira Anggara. Rekanku. Orang yang kusangka sudah gugur."
Arka menahan napas.
"Anaknya Bianca Lestari."
Yulia terkejut. "Bu Bianca?"
Pak Mahendra memejamkan mata.
"Aku tidak tahu. Dulu kami hanya tahu Wira punya istri dan anak kecil. Setelah operasi gagal, semua tercerai-berai. Kalau anaknya sekarang menjadi Bianca Lestari..." Suaranya berat. "Berarti selama ini dia hidup tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ayahnya."
"Dia mengira ayahnya hilang," kata Arka.
"Lebih baik begitu untuk sementara."
Arka menatapnya.
Pak Mahendra melanjutkan, "Kalau dia tahu, dia akan masuk terlalu cepat ke pusaran yang bahkan kami pun tidak mampu keluar. Jaya masih hidup. Orang-orang lama masih hidup. Bukti lama juga belum lengkap."
Arka diam.
Maya ingin ia mendekati Bianca. Jaya ingin masuk Cakra Medika. Widya sekarang menghubunginya. Shania mengawasinya. Pak Mahendra menyimpan masa lalu. Semua garis itu saling menyilang, dan di tengahnya ada nama Bianca.
Pak Sari meletakkan piring di meja.
"Kalau bicara berat terus, pisang gorengnya nanti dingin. Makanan manis tidak suka menunggu."
Kalimat sederhana itu memecah ketegangan. Yulia hampir tertawa, tetapi wajahnya masih cemas.
Arka mengambil satu pisang goreng, menggigitnya, lalu menatap Pak Mahendra lagi.
"Saya akan menyelidiki pelan-pelan. Pak Mahendra fokus pulih. Jangan hubungi siapa pun dari masa lalu dulu."
Pak Mahendra mengangguk.
"Hati-hati, Arka. Kalau Wira benar masih meninggalkan sesuatu, banyak orang akan bergerak."
"Saya tahu."
Malam itu, Arka tidur tidak nyenyak.
Pagi harinya, ponselnya berdering.
Bianca.
Ia mengangkat sambil duduk di tepi ranjang.
"Bu Bianca?"
Suara Bianca terdengar lebih segar dari biasanya, tetapi tetap berusaha tenang.
"Arka, aku menambahkan tugas baru untukmu."
"Tugas apa?"
Ada jeda setengah detik.
"Mulai sekarang, kamu juga menjadi terapis pribadiku. Setiap hari, bantu aku terapi kepala."
Arka memegang ponsel dan menatap dinding.
Untuk beberapa detik, ia tidak tahu harus menjawab apa.
Hidupnya baru saja mendapat pekerjaan lagi.