NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Dilamar Ceo Dingin

Tiba-tiba Dilamar Ceo Dingin

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Airlangit

Follow IG-Airlangit9

Nekat pergi ke kota, bermodalkan Ijazah SMA untuk mengadu nasib. Siapa sangka, sebuah insiden membuatku terperangkap dalam hubungan tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Airlangit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sungguh tak terduga

Dilara tak bisa diam dengan tenang, ia terkadang berjalan mondar-mandir, duduk, berdiri dan mondar-mandir lagi.

Ucapan Daniel kemarin sangat menganggu pikirannya.

"Kamu kenapa, sih?" Arsila yang sedang menonton sinetron kesukaan, terganggu oleh Dilara yang mondar-mandir di depan televisi, menghalangi pandangannya.

"Ars, apa mungkin seorang pria ganteng melamar perempuan jelek?"

"Gila kali, kau, Dil. Mana ada yang seperti itu. Sebenarnya banyak sih, adanya di sinetron." Arsila terkikik mendengar ucapannya sendiri.

"Saya serius, loh, Ars."

"Kenapa kau bertanya seperti itu? Bos Daniel melamarmu?"

Dilara garuk-garuk kepala. Sulit mulutnya menjelaskan apa yang terjadi.

"Gak, kan? Kecuali kalau dia melamarmu kamu boleh minta pendapatku."

Dilara mematung depan televisi, pandangannya menerawang.

"Awas! Pergi dari sana!" Arsila mengibas-ngibaskan tangannya. "Ganggu orang nonton saja, ini hari libur seharusnya kamu juga nonton bareng saya seperti ini, bukannya mondar-mandir kaya orang banyak masalah."

Dilara memilih mengambil kasur lantai dari atas lemarinya kemudian baringan di atasnya sambil membaca komik.

Arsila melirik ke arah temannya itu kemudian mengarahkan kembali pandangan ke layar televisi. "Sebuah keajaiban jika Bos melamarmu."

"Keajaiban apanya. Laki-laki bengis seperti itu," sahut Dilara acuh.

"Bengis apa maksudmu? Dia melakukan kekerasan fisik selama kalian pacaran?" Arsila menggeser duduknya mendekati Dilara.

"Semua orang yang melihat juga akan menilai, Daniel itu ya begitulah orangnya, dingin, gak peka, arogan, kasar, seenaknya sendiri." Saat mengatakan hal tersebut, perilaku Daniel selama ini padanya tergambar jelas di mata. Kemudian kejadian kemarin membuatnya semakin emosi. "Dan semena-mena. Dasar lelaki egois. Seolah saya ini barang miliknya berbuat sesuka hati dia."

Arsila bertepuk tangan. "Waow ... kamu luar biasa, di saat gadis lain memuji ketampanan seorang Daniel, kamu malah mencacinya."

"Tampan apanya? Wajahnya doang. Setampan-tampannya lelaki, pasti ngupil, ngiler saat sendiri."

Wajah Arsila langsung muram. Pintar sekali gadis yang sedang membaca komik itu merusak imajinasi bagusnya.

"Kentut, buang kotoran." Dilara masih melanjutkan ucapannya. "Ya seperti kita aja lah, namanya manusia. Jadi jangan terlalu kagum pada sesuatu. Termasuk pada manusia tak tahu diri seperti Daniel itu."

"Ish, kamu benar-benar sadis." Arsila mencebik lantas melanjutkan menonton sinetron.

Semakin lama, Dilara bosan juga hanya baringan, ia menutup komik di tangannya, dan memejamkan mata merasa mengantuk. Meskipun sebentar lagi waktu zuhur, toh ia sedang datang bulan.

Deringan ponsel yang keras mengejutkan Dilara. Gadis itu terbangun dan menggapai-gapai ponsel di dekat kasurnya. Samar-samar mata mengantuknya yang belum sepenuhnya terbuka, melihat Arsila juga tiduran di samping kasurnya.

"Assalamualaikum, Mak." Sapa Dilara dengan suara serak begitu panggilan diterima.

"Nak, ada kabar baik untukmu!" Nada bicara ibunya terdengar bersemangat.

"Kabar baik apa, Mak?"

"Nak, rombongan lamaran dari kota datang, katanya dia Bos-mu, sekarang mereka ada di sini."

Mata Dilara langsung terbuka lebar, mulutnya menganga. "Beneran, Mak?"

"Beneran, Nak. Lekas pulang, kamu."

Dilara langsung mematikan sambungan telepon. Dia berdiri dan membereskan barang-barang yang diperlukan untuk dibawa pulang.

Mendengar suara orang berlari-lari, Arsila mengernyitkan dahi kemudian membuka mata. Ia melihat Dilara tampak pontang-panting membereskan sesuatu.

"Apa yang kamu lakukan, Dil?" tanyanya sambil mengucek mata.

"Gawat, Ars. Ada urgen di rumah saya di kampung, saya harus pulang." Dilara menjawab cepat, kini gadis itu sedang mengenakan kerudung.

"Urgen apa, Dil?"

"Saya tak bisa menceritakannya sekarang. Benar-benar genting, Ars." Gadis itu meraih ranselnya dan mengulurkan tangan pada Arsila untuk pamitan.

"Benar-benar harus pergi dadakan, Dil?" Arsila yang belum sepenuhnya sadar, mengantarkan gadis berkerudung itu ke pintu.

"Iya, Ars. Saya pergi dulu, ini benar-benar darurat. Nanti kita kontekan kalau saya sudah berada di kampung halaman. Tolong sampaikan izin saya ke atasan."

Arsila mengangguk, dan melihat temannya itu berjalan terburu meninggalkan koridor.

***

Dilara terus melihat jalanan di depannya, seorang tukang ojek kampung sedang mengantarnya menuju rumah.

"Di sebelah mana atuh rumahnya, Neng?"

"Terus jalan saja, Mang! Berisik sekali tanya mulu. Kalau saya tak bicara berarti benar, kalau saya menunjuk sebuah arah baru Mamang ikutin."

"Dari tadi sepertinya muter-muter aja."

"Saya akan bayar mahal, Mang. Gak usah khawatir." Dilara menyahut ketus.

Kemudian ojek itu memasuki jalan setapak pesawahan. Beberapa orang petani tampak terlihat di pinggir jalan sedang beristirahat. Sedikit lebih jauh di sana, terlihat ada orang yang mengambil rumput dan mengambil padi.

"Musim panen, rupanya, ya," gumam Dilara.

Beberapa menit kemudian, ojek itu menepi depan halaman sebuah rumah bambu. Bergegas Dilara menyerahkan ongkos perjalanan. Dua ratus ribu, si tukang ojek itu langsung mencium uang tersebut dan cengengesan.

"Terima kasih, ya, Neng. Sehat selalu."

"Sama-sama, Mang."

Dilara melangkah gusar mendekati teras bambu rumahnya. Pintu masuk rumahnya itu terlihat terbuka. Ia mempercepat langkah hingga akhirnya sampai di ambang pintu. Sontak saja semua orang yang ada di ruangan rumahnya menoleh.

"Kamu baru tiba, Nak?" Ibunya yang tampak lusuh menghampiri.

Dilara terdiam melihat Nyonya Dilbara duduk di kursi rodanya, sedangkan Daniel, ayah dan adiknya duduk lesehan di atas tikar. Beberapa orang yang mungkin pembantu dari kota duduk terpisah di belakang mereka.

Pandangan Dilara menatap lebih jauh. Di sudut ruangan itu, kado-kado yang tampak mewah menumpuk, ada juga rangkaian bunga yang dibentuk sedemikian rupa.

Pegangan tangan sang ibu di pundak, membuyarkan lamunan Dilara. Seperti tersihir, ia menurut ketika ibunya membawanya ke kamar dan memberikannya baju ganti.

"Mandi dulu, sana. Tak baik menghadapi tamu dengan tubuh kotor."

Dilara pun berjalan ke kamar mandi dengan perasaan yang tak menentu. Beres membersihkan diri, ia sengaja tak memakai apapun di wajahnya, dan memakai kerudung hanya pakai peniti tanpa topi dalam.

Ibunya masuk ke kamar menyusulnya kemudian membawanya ke ruang depan di mana para tamu berada.

"Subhanallah walhamdulillah, saya benar-benar tak menyangka bakal ada lamaran dadakan seperti ini." Kartika, ibunya Dilara berbicara. "Yang membuat saya kaget, yang melamar merupakan orang terhormat."

"Kita semuanya sama, Bu. Di mata Allah, yang membedakan adalah ketakwaan." Kirana menyahut.

"Wah ... pintar sekali putrinya ibu ini. Cantik juga." Tak juga disentuh makanan di dalam toples plastik oleh tamunya. Kartika membukanya dan menyodorkan pada mereka. "Silakan dimakan, Bu, Pak."

Dilbara mengulurkan tangannya pertanda ia menginginkan apa yang disodorkan ibunya Dilara. Dengan sigap, pelayan langsung mengambilkan untuknya.

Perlahan Nyonya Konglomerat itu mengunyah camilan yang masuk ke mulutnya dan kemudian tersenyum. "Wah ini enak sekali, apa namanya?"

"Itu reginang, Bu. Yang lainnya lebih enak. Meskipun bentuknya sederhana, rasanya tak biasa." Kartika menjelaskan.

"Beneran enak, Mam?" Kirana bertanya.

Dilbara mengangguk.

Gadis muda itu pun mencoba apa yang dimakan ibunya dan ketagihan langsung memakan lagi. Daniel dan ayahnya jadi ikut-ikutan.

Suara orang memakan kerupuk saling bersahutan-sahutan di ruangan yang tak luas tetapi, bersih itu, diselingi gurauan.

Selagi para orang tua berbincang, Dilara memberanikan diri melihat Daniel, dan pria itu pun balik menatapnya. Beberapa detik keduanya saling pandang.

"Nak Dilara tampak beda, ya, dalam balutan kebaya dan kerudung pashmina." Dilbara sungguh-sungguh memuji. "Tampak cantik."

Daniel memalingkan muka, apa yang dikatakan ibunya benar, Dilara tampak berbeda. Tak seperti biasanya gadis itu hanya mengenakan pakaian bermotif kuno dengan kerudung yang topi dalamnya dibiarkan keluar.

Saat ini Dilara mengenakan kebaya berwarna cerah dengan terusan jarik dan kerudung berwarna senada. Penampilannya benar-benar seperti gadis kampung yang cantik.

"Oh, ya, Nak. Kamu setuju, kan atas lamaran ini?" Dilbara bertanya sambil menatap Dilara.

"Saya--" Gadis itu mengepalkan telapak tangannya. Mengingat barusan ibunya sangat bahagia dan adik-adiknya ceria atas lamaran itu, tekadnya yang semula mencegah lamaran sedikit goyah.

"Dil?" Sang ibu menyentuh pundaknya. "Ayo, jawab."

"Ini terlalu mendadak, lamaran ini mendadak sekali."

Mendengar ucapan Dilara, keceriaan di wajah Dilbara perlahan surut. Ia khawatir mendengar perkataan gadis itu selanjutnya.

Dilara melirik sekilas orang-orang dan menatap wajah ibunya lama sekali.

"Apakah Emak bahagia dengan lamaran mereka?" tanyanya lirih.

"Apa yang kamu bicarakan, tentu saja Emak bahagia melihat putrinya dipinang orang dan akan menikah."

Dilara tak tega membuat wajah-wajah penuh harap itu kecewa. Akhirnya kepalanya mengangguk tanda setuju.

Dilbara langsung tersenyum lebar, memegang dadanya sendiri. Kirana pun tersenyum sambil memegang erat tangannya.

Berbeda halnya dengan Daniel, pria itu menunduk dengan wajah tanpa ekspresi.

****

para pembaca yang baik dan ramah, tinggalkan like dan komentar terbaik ya, agar author semakin semangat update-nya 😍

1
Nur RaudLoh NauRa
menakjubkan/Drool/
Nur RaudLoh NauRa
bagus sila, dasar pemalas tu mbk2 m mas seenak e udelle
Nur RaudLoh NauRa
lucunya/Drool/
Apreel Leeya
typo trus..ayahnya dipanggil Murad..Murad...
Teresia Atik tinus
Kecewa
Cechen Mei li
lelaki dancuk
Cechen Mei li
kok murad sih
Cechen Mei li
said kk
Cechen Mei li
saik kk bukan Danil🤦‍♀️
Nayla Azizah
kasihan ms dilara menderita mulu Thor??kpan bahagia menghampiri'n??
Shen shandian luo
gak mau uangnya tapi tetep ikutan bohong...kan percuma bicara soal dosa....😂😂😂😂😂😂😂😂
Irma Yanti
dilara lugu.. kadang bikin emosi ya..maaf Thor
Irma Yanti
cerita bagus Thor...semangaaad
Yuniarti Rossyidie
ceritanya lumayan menghibur...lucu...
💟노르 아스마💟
sejauh ini bayik suka ...gk bertele²
Marchel
halo kakak author yang baik hati aku ijin share novel aku ya yang berjudul " Bos and me " dan " gadis cantik itu milikku " terimakasih kakak author 🙏
Cusy Low Aty
lanjut
Suriani Anhy
biarlah said bersama Dilara, utk daniel mudah2hn selamat dn mnjdi mafia utk bisa bls dendam kpd murad.... 😀😀🤭, bisa dong kita menghayal juga thor🤭
Ziza Yazid
lanjut persi dilara
Ziza Yazid
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!