Hasrat adalah sebuah keinginan. Keinginan dalam apapun. Tapi kata "hasrat" biasanya berkonotasi sedikit negatif. Kata itu selalu disandingkan dengan keinginan untuk bercinta.
Sedangkan bagi Abra Ishan Abinawa dia tidak mengenal kata itu. Dia tidak memiliki keinginan untuk berhubungan dengan wanita di usianya yang sudah tidak muda lagi, yakni 32 tahun. Menurutnya wanita itu sungguh ribet dan menyusahkan. Terlebih sebuah alergi muncul saat dia bersentuhan dengan wanita. Hingga dia bertemu oleh seorang gadis yang memanggilnya "Om".
Gadis cantik berusia 25 tahun bernama Ciara Kamila Prasojo itu selalu membuat Abra naik darah. Ada saja ulah Ciara yang membuat Abra kehabisan akal.
Apakah akan muncul hasrat dari Abra kepada Ciara?
Lalu kira-kira hasrat seperti apa itu?
Dan, bagaimana dengan alergi Abra?
Cerita ini pol ringan ya guys. Nggak akan ada konflik yang berat. So nikmati aja oke.
HAPPY READING
pict. by pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Presdir Ketus 32
Senyum merekah menghiasi bibir Abra. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat jarang terjadi. Wanti bahkan sampai terheran-heran dengan bos nya itu. Terlebih saat Abra menyapa dirinya, sungguh Wati seperti mimpi.
" Apa agenda hari ini Wan?" tanya Abra sebelu memasuki ruangannya.
" Rapat bulanan mengenai evaluasi terhadap kinerja karyawan Pak Bos!"
Abra mengangguk lalu masuk ke dalam. Ia duduk di kursinya dengan tenang sambil melihat jam yang melingkar di tangan. Pukul 07.45 menit, Abra mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja menunggu waktu datangnya seseorang. Siapa lagi kalau bukan Ciara, dia sudah meminta gadis itu untuk datang di jam 08,00 nanti.
" Seharusnya dia akan datang tepat waktu bukan?" gumam Abra lirih.
Beberapa menit berlalu, pukul 08.00 tepat belum ada tanda-tanda Ciara datang. Abra masih tenang, ia bahkan menyalakan stopwatch di ponselnya untuk menghitung kedatangan Ciara. Seakan sedang memberikan toleransi Abra menyetel stopwatch nya di angka 2 menit. ya, dia berharap dalam waktu 2 menit itu Ciara akan datang.
2 menit berlalu, tidak tampak sama sekali akan datangnya Ciara. Abra kembali menyetelnya, kali ini dia menambahkan waktu 3 menit. Dan alhasil dalam waktu 3 menit itu Ciara juga belum muncul.
" Heh, sepertinya dia sangat suka-suka bermain dengan ku," ucap Abra kesal.
" Wanti! siapkan rapat SE GE RA!!!"
Teriakan Abra sungguh memekakkan telinga Wanti. Gadis itu sangat terkejut. Wanti awalnya ingin menuliskan pesan dan dikirim ke grup pesan, tapi rupanya sang bos kembali berteriak. Abra meminta Wanti memanggil mereka secara langsung.
" Buseet, ini orang kenapa sih? Bukannya tadi dia masih happy ya, kenapa hanya dalam waktu beberapa menit saja sudah berubah lagi. Dari kelinci manis menjadi seekor serigala. Ya Tuhan, kuatkan hati dan otak hamba untuk mengahadapi Bos hamba yang satu ini."
Wanti benar-benar tidak habis pikir dengan perubahan sikap Abra yang hanya sekian menit itu. Tapi saat ini bukan itu yang harus dia khawatirkan, melainkan rapat yang nanti akan dijalani. Wanti yakin, rapat kali ini tidak akan berjalan dengan mulus.
" Aku peringatkan kepada kalian semua, suasana hati Bos sedang sangat tidak baik. jangan membuat kesalahan sekecil apapun. mengerti!"
Glek!
Para karyawan yang saat ini sudah duduk di ruang rawat kesulitan menelan saliva mereka. Bagaimana tidak, warning dari Wanti sungguh membuat mereka harus ektra waspada. Dibawah kepemimpinan Abra, mereka seperti tengah menyanding bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak.
Tapi ternyata peringatan Wanti tidak terlalu dipedulikan oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Belinda. Ia dari tadi malah tersenyum saat yang lagi ketakutan. Jika rekan-rekannya menundukkan kepala mereka, Belinda dengan bangga malah menegakkan kepalanya dan membusungkan dadanya.
" Heh, apa yang perlu ditakutkan. Abra hanya seorang laki-laki normal. Lihatlah, di sini hanya ada 3 wanita, dan aku lah yang paling cantik serta seksi. Aku yakin dengan adanya aku Abra akan memiliki perasaan yang lebih baik," gumam Belinda lirih. Sepetinya kepercayaan diri wanita itu tengah berad di atas puncak.
" Tidak perlu basa-basi. Laporkan semuanya. Dimulai dari departemen pemasaran!"
Abra masuk dan langsung duduk di kursi kebesarannya. Ia mengamati satu per satu para karyawannya. Dan kening Abra mengernyit saat melihat seseorang di sana.
" Stop! Woi kamu yang duduk di pojok. Apa kamu stres, mengapa dari tadi senyam senyum begitu! Apa kamu pikir aku ini badut!"
Wanti membuang nafasnya kasar. Dia yakin setelah ini pasti tidak akan berjalan dengan lancar. Dan benar saja, laporan dihentikan lalu diganti dengan ceramah Abra yang lebih seperti guru BP sedang menginterogasi para siswa yang mendapati siswa-siswa nya karena membuat masalah.
" Kamu pikir ini sedang apa hah! Apa menurutmu ini sebuah lelucon?"
" Ti-tidak pak, bukan itu maksud saya. saya~"
" Heh, siapa yang menyuruhmu menjawab hah! Dan itu bajumu, astaga Wanti!!! Apa kamu belum MEMBINA nya hah!"
Wanti membulatkan matanya, ia rasanya ingin menenggelamkan kepalanya di bak air saat ini. Wanti melirik sekilas kepada orang yang dimaksud. Ia lalu membuang nafasnya kasar. berkali-kali ia mengatakan kepada Belinda untuk berpakaian yang pantas di kantor, tapi sepertinya tidak digubris oleh wanita itu. padahal kemarin saat tidak ada Abra, Belinda tidak berpakaian ketat begini. Tapi mengapa sekarang ada Abra malah bajunya sepeti salah ukuran?
" Saya yang salah Pak Bos, saya akan kembali memberi tahu Nona Belinda untuk memakai pakaian yang sesuai aturan," sahut Wanti. Dari pada dia membela diri, lebih baik mengakui kesalahan. Saat ini suasana hati Abra sangat buruk, jiak dia beralasan pasti akan menambah kemarahan sang bos.
" Kalian perlu tahu, kinerja kalian itu akan berpengaruh terhadap bonus akhir tahun. jika kalian tidak bekerja dengan baik, jangan harap mendapatkan itu. Dan satu lagi, saya benci dengan orang yang tidak taat aturan! Jika hal ini terjadi lagi saya tidak segan untuk meng-out orang yang seperti itu. Lanjutkan kerjaan kalian, rapat sampai di sini."
Abra berdiri dari duduknya. Dengan langkap tegap dan tanpa ekspresi, pria itu meninggalkan ruang rapat dan masuk melalui pintu samping yang memang terhubung dnegan ruangannya sendiri.
Brak!
Huuuuft
Setelah pintu kembali di tutup semua orang di ruang rapat itu menghembuskan nafas penuh kelegaan. Tapi detik selanjutnya mereka menatap ke arah Belinda dengan tajam. Tanpa berkata apapun satu per satu dari mereka keluar ruangan dan menuju meja kerja masing-masing. Wanti berjalan pelan menuju tempat Belinda duduk.
" Bel, sudah ku katakan, jangan berbuat aneh-aneh. Ini terakhir kali aku mengingatkan kamu. Setelah itu kamu mau bagaimana sungguh bukan urusanku lagi. Aku sudah membantumu masuk ke JD, setelah itu apapun yang terjadi dnegan mu aku tidak akan ikut campur lagi. Ekhem, Nona Belinda silakan kembali ke meja kerja Anda."
Belinda menggertakkan gigi-giginya karena saking kesalnya. Ia hanya ingin tampil ramah di depan Abra. Tapi siapa sangka Abra malah bersikap seperti itu kepadanya.
" Huh, lihat saja. Aku pasti akan bisa menaklukkan mu Abra. Kamu sekarang bersikap dingin kepadaku, aku yakin kamu nanti akan bisa bertekuk lutut di hadapanku. Aku pasti bisa!"
TBC
Terima kasih utk karyanya Kak, sehat2 slalu 🙏🏼💐💪🏼