Eldar adalah putra dari Aurora dan Aiden yang dibesarkan oleh om dan tantenya.
Maminya membunuh daddynya sendiri. dan tidak mau menerima kehadirannya.
Eldar tumbuh dalam.bayang bayang kejahatan maminya.
ini sequel dari not secondlead. Langsung baca ini juga ngga apa apa.
Terimakasih sudah mampir, ya....♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesak
"Papi, ada yang mau sky bicarakan," ucapnya langsung setelah masuk ke ruang kerja papinya. Hanya waktu malam sudah larut beginilah papinya berada di rumahnya.
"Ya, ada apa?" tanya Geraldy sambil mendongak dan tersenyum.
Skylar menarik nafas panjang. Apa yang dikatakannya mungkin bisa merubah mood papinya. Sejak maminya meninggal, mereka hanya tinggal berdua saja. Papinya pun ngga menikah lagi walaupun Sky sudah mengijinkannya.
Dia pun duduk di depan meja kerja papinya. Dia menatap papinya yang seolah menunggu dia berbicara.
"Mengapa papi melarang El berhubungan denganku. Apa salah, El?" Dada Skylar terasa sesak. Sudah beberapa hari ini El pergi dan tanpa kabar yang dia terima.
Geraldy yang ngga menyangka kalo pertanyaan itu yang akan keluar dari mulut putrinya sempat terpaku. Kemudian terdengar helaan nafasnya ketika melihat sepasang mata putrinya berkaca kaca.
"Kamu suka dengan El?" tanyanya pelan.
Skylar tertegun, tak menyangka jawaban itu yang akan dia terima dari papinya.
Dia sedih El pergi tanpa pamit dengannya. Dia sedih dulu El ngga mengantarnya ke bandara. Dia juga sedih saat mengingat kemarahan El padanya.
Apa itu artiya dia suka? Atau sudah cinta?
"Papi mengira kamu menyukai Er." Geraldy tersenyum tipis.
"Karena itu papi minta dia menjadi suamimu. Tapi dia menolak."
Skylar terkejut. Mengapa ngga ada satu pun yang mengatakan hal ini padanya? Batin Skylar berteriak.
Mengapa papinya tega mempermalukannya.....
Air mata Skylar menetes. Dia pun berbalik pergi.
"Sky....!" panggil papinya tercekat melihat air mata putrinya. Skylar sangat jarang menangis. Hanya saat maminya meninggal dia menangis. Setelah itu dia ngga pernah lagi melihat putrinya menangis.
Saat dia akan mengejar putrinya, ponselnya berdering. Geraldy menghela nafas panjang.
Sejak istrinya meninggal di kala Skylar baru kelas dua SMP, dia menjadi orang yang gila kerja untuk melupakan kesedihannya. Sky ngga pernah marah atau menuntut banyak waktu untuknya. Putrinya jadi sangat mandiri sejak dia masih remaja. Dia terbiasa melakukan apa apa sendiri. Sebagai papi, dia hanya mencukupi materi saja, bukan perhatian dan kasih sayang.
Panggilan telpon ini pun memintanya besok pagi pagi sekali harus berangkat. Padahal dia belum berbaikan dengan putrinya. Bahkan meminta maaf.
Mungkin dia sudah lancang, tapi dia melakukannya untuk kebahagiaan Sky. Tapi ternyata tindakannya malah membuat putrinya menangis.
*
*
*
Papi minta maaf, ya, Sky. Papi ngga sempat pamit. Papi sayang Sky.
Skylar tersenyum miris saat membacanya. Papinya mengirimkannya pesan lewat ponselnya.
Dia menarik nafas panjang.
Skylar berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit. Kenangan bersama El muncul begitu saja.
Wajar kalo laki laki itu marah berat padanya. Dia pasti sangat tersinggung. Larangan papinya pasti ada kaitannya dengan masa lalu orang tuanya.
"Sky," panggil Jennifer yang setengah berlari mendekatinya. Di tangannya ada dua buah paper bag.
Skylar menatap curiga.
"Jangan katakan kalo aku harus memberikannya lagi pada dokter Fadel," tebaknya langsung.
"Enak aja, ini bukan untuk dia," bantah Jennifer dengan wajah sedikit meronanya.
"Hemm.... Syukurlah. Kamu tau, aku pusing ngadepin banyak pertanyaan darinya saat memberikan paper bagmu," canda Skylar.
Bibir Jennifer melengkung tanpa dia sengaja.
"Ohya? Pasti dia ge-er."
Skylar tertawa kemudian melangkah kembali menyusuri lorong.
"Dokter Fadel udah beberapa hari ini ijin ngga masuk."
"Kemana? Apa dokter juga bisa sakit?" ceplos Jennifer perhatian.
"Cieee..... yang katanya ge-er " Berderai tawa Skylar mengejek Jennifer yang malu malu mengakui perasaannya.
"Apaan, sih. Wajar, kan, kalo aku nanya gitu," balas Jennifer ngga terima isi hatinya dikulik sahabatnya.
Skylar masih betah mengetawakan sahabatnya.
"Sky....!" kesal Jennifer.
"Cie..... marah," ledek Sky tambah membuat Jennifer gemas ingin mencubit lengannya.
"Iya-iya. Dokter Fadel lagi ada acara keluarga. Katanya, sih, ijin seminggu."
"What's? Ngga salah?" Kali ini Jennifer menyesali dirinya abis abisan karena ngga bisa menyembunyikan kekagetannya.
Meledak tawa Skylar mendengarnya. Dia pun berlari lari kecil menghindari cubitan Jennifer yang sudah kadung malu berat.
Ngga lama kemudian keduanya sudah duduk karena kelelahan di depan ruang opanya di rawat. Opanya sudah cukup stabil.
Jennifer pun sudah memberikan paper bagnya pada mami dan tantenya yang berada di dalam ruangan.
"Sky....."
Skylar menoleh, menatap Jennifer yang matanya memandang lurus ke arah taman rumah sakit.
"Baru beberapa hari El pergi, tapi aku udah kangen dengannya."
Aku juga, batinnya sedih. Kini mereka sama terdiam. Sibuk dengan pikiran masing masing.
"Aku ngga mau dia kepincut sama bule bule di sana."
Skylar masih ngga menjawab. Tapi jantungnya berdetak keras juga mendengarnya.
Dia pun ngga mau. Sky juga masih berharap El ngga membencinya.
*
*
*
El tersenyum melihat adik tirinya yang sedang mengobrol sambil tertawa bersama Hector, teman sekolahnya.
Remaja itu rupanya datang tepat waktu, dapat dilihat El dari senyum yang selalu merekah di wajah adiknya itu.
Fadel baru saja pergi meninggalkannya karena ponselnya berdering.
El ngga nyangka kalo dokter itu pewaris grup yang sangat terkenal. Hampir sejajar dengan keluarganya. Hanya berada sedikit di bawah keluarganya saja.
Pasti dokter yang ahli menggunakan pisau bedah itu juga mahir menggunakan pistol.
Eldar tersenyum lagi.
"Adikmu?"
El menoleh menatap seorang gadis spanyol cantik yang barusan menyapanya.
"Aku Leticia Benedicto. Aku sudah tau namamu," senyum gadis itu saat menatapnya.
El balas tersenyum. Dia akui gadis ini sangat percaya diri. Tapi bukan gadis ini saja. Samantha juga sama.
"Itu Hector Garcia, kan?"
"Iya."
"Ternyata dia menyukai adikmu," senyumnya lagi.
El tersenyum samar mengingat sikap manis keduanya saat pulang sekolah tadi.
"Bagaimana keadaan orang tua kalian?"
"Masih sama."
Leticia mengangukkan kepalanya.
"Semoga cepat sadar, ya. Aku beberapa kali bertemu tante Aurora. Dia sangat cantik, juga baik. Dia pernah bilang kalo kakak laki laki Belinda sangat tampan."
Hati El bergetar lagi mendengarnya. Ternyata maminya ngga malu mengakuinya.
Kenyataan kenyataan yang dijumpainya setelah berada di Madrid sangat jauh berbeda dari yang dirasakannya selama ini.
Mungkin maminya mengalami tekanan batin. Cuma itu yang bisa dia simpulkan.
"Bolehkah, aku berdansa dengan salah satu pewaris kerajaan bisnis yang sangat terkenal di dunia?"
El menyambut tangan yang terulur itu dan membawanya ke tengah ruangan, masih ada yang berdansa di sana.
El sengaja melakukannya karena dia tau saat ini Carlo Benedicto sedang mengawasinya. Setidaknya memberi sedikit kebahagiaan pada musuh, mungkin bisa membuatnya menunda lebih lama rencana kejahatannya lagi pada keluarganya.
Fadel yang baru saja selesai dengan telponnya, tersenyum melihat El yang sedang berdansa dengan Leticia Benedicto. Dia pun menjepretnya beberapa kali. Sebagai bukti yang akan dia berikan pada keluarganya kalo mereka ngga percaya omonganya tentang keadaan El yang baik baik saja nanti.
semoga eldar kuat menghadapinya...
pelajaran berharga dari karya mu thor..
u menghargai sesama