•••
Sam tidak pernah jatuh cinta dengan wanita manapun.
Hatinya mati dan beku.
Prinsipnya terlalu kokoh.
Bentengnya terlalu tinggi.
Ternyata cintanya hanya tertuju pada sang keponakan.
Gadis cantik yang memikat hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puppy Bangtan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32. Club
Kini Sam mengantar Shila untuk pulang.
Selama perjalanan ia tampak diam dan terus menatap keluar jendela.
Sesekali Sam melihatnya, merasa cemas dengan suasana hati Shila saat ini.
"Sayang, apa paman membuat kesalahan? Apa sesuatu mengganggu pikiranmu?" tanya Sam pelan sembari mengusap lembut paha kiri Shila.
Shila masih diam, pikirannya masih berkecamuk dan ricuh di dalam.
Shila menoleh kala Sam menepikan mobilnya di bahu jalan.
"Kenapa berhenti?" tanya Shila panik.
Sam melihat lekat Shila, meneliti setiap inchi wajahnya.
"Bukankah mama sudah setuju dan merestui hubungan kita, apalagi yang mengganggu pikiranmu?" tanya Sam pelan.
Shila yang kini sedang sensitif di mana ia teringat akan orang tuanya sontak tersulut emosinya.
"Bukankah aku sudah menolak? Aku tidak ingin menjalin hubungan tabu ini, pergilah dan temukan wanita lain untuk kau nikahi," usirnya pada Sam dengan tegas.
"Aku tidak menerima penolakanmu," tekan Sam di mana ini kali pertamanya ia berbicara sedikit dingin pada Shila tanpa embel- embel paman.
Shila menyipitkan matanya kala ucapan Sam benar- benar menjengkelkan.
"Apa sikapmu selalu seperti ini?" tanya Shila yang tak percaya dengan sikap arogan Sam.
"Ya, sifatku memang seperti ini, aku bisa mendapatkan apapun dengan mudah termasuk untuk mendapatkanmu, dan aku tidak suka dengan penolakan," sontak tamparan keras Sam dapatkan dari Shila untuk kesekian kalinya.
Kedua bahu Shila tampak naik turun saat ini.
Sam baru sadar dengan apa yang barusan ia katakan pada Shila.
"Brengsek," umpat Shila sebelum ia turun dari mobil Sam.
Sam menghembuskan napas berat dengan mata yang berkaca- kaca.
Ia menatap nanar kepergian Shila yang pergi menaiki taksi.
Sam mengusap sekilas air matanya dan bergegas untuk membuntuti Shila dari belakang memastikan jika ia pulang dengan selamat.
***
Club
Kini Sam berakhir di clubnya setelah membuntuti Shila tadi.
"Apa ia akan baik- baik saja?" tanya Omega kala melihat Sam minum alkohol begitu banyak sekali.
"Tenang saja, dia tak akan mati hanya karena minum alkohol," beritahu Nicholas dengan santai.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Gavi pada Hiro.
"Aku bukan cenayang, kenapa tidak kau tanya sendiri orangnya," ketus Hiro yang sedang lelah.
Gavi berdecak sembari merebut rokok di tangan Hiro.
"Masalah Shila lagi?" celetuk Omega yang mana ucapannya sukses membuat semua mata tertuju padanya.
"Kenapa? Apa ucapanku benar?" tanya Omega yang memancing kesabaran Sam yang sedalam palung mariana.
"Sumpal mulutnya!" perintah Nicholas pada Hiro dan Gavi.
Dengan spontan mereka langsung menyumbar mulut Omega dengan irisan lemon.
Sam menaikan kedua kakinya di atas meja, menghembuskan asap rokoknya tinggi.
"Apa Shila marah?" tanya Hiro membuka obrolan seriusnya.
Sam hanya diam memandangi Hiro.
"Kau tahu, mama merestui hubungan kita," Hiro hampir tersedak rokoknya kala mendengar ucapan Sam barusan.
"Aku hampir memanggil pemadam kebakaran saat melihatmu tersedak rokok," gumam Gavi sembari menyodorkan sebotol air mineral.
Hiro memutar bola matanya dengan malas kala mendengar reaksi Gavi barusan.
"Apa tersedak rokok bisa menyebabkan kebakaran? Parasmu tampan tapi kenapa otakmu kosong," olok Hiro dengan geram.
"Aku berniat untuk mengisinya, tapi rumah sakit manapun tidak menyediakan otak Albert Einstein," jawab Gavi dengan gurau andalannya.
Omega dan Nicholas yang mendengar percakapan mereka berdua dengan kompak menghembuskan napas jengah.
"Dua pria kosong sedang mengobrol dan menyatu dengan alam," gumam Omega membuat Nicholas menaikkan sebelah alisnya.
"Apa otakmu penuh?" sarkas Nicholas dengan kasar.
"Hanya 1/4," jawabnya singkat membuat Nicholas berdecak.
Nicholas lalu beralih pada Sam.
"Lalu apa yang mengganggu pikiranmu jika kau sudah mendapatkan restu dari mamamu? Kau juga sudah menemukannya bukan?" Sam kembali menghembuskan asap rokoknya.
"Masalahnya dia yang menolak untuk menjalin hubungan ini," ujar Sam dengan lesu.
Nicholas hanya diam dan mendengarkan sembari menuang koktailnya.
"Menurutku itu wajar sih Sam, kalian baru saja bertemu, mana mungkin ia langsung menerimamu mengingat masalah yang belum usai 2 tahun lalu seperti katamu," ucap Nicholas yang mana hal itu menarik perhatian Sam.
"Maksudmu?" tanya Sam dingin.
Nicholas menghembuskan napas panjang.
"Yah mungkin ia masih ingin sendiri atau ingin menyelesaikan masalahnya, enggak semua wanita seperti Shila, meski kita belum pernah bertemu, aku yakin dia wanita yang berbeda dari wanita pada umumnya, jangan terburu- buru untuk mengikatnya, ia butuh waktu dan ruang untuk melakukan sesuatu, dan ia pasti punya alasan menghilang selama 2 tahun ini untuk menghindarimu, coba pikirkan dengan baik, apa yang membuatnya seperti itu," kata Nicholas menasehati Sam.
"Kita tahu Shila cantik, makanya Sam ketar- ketir saat ini," goda Hiro yang mana itu sangat tepat sekali dengan hati Sam.
"Oh iyaya, kenapa baru sadar kalau Shila sekarang single," gumam Gavi yang mana ia langsung mendapatkan tatapan tajam dari Sam.
Gavi, Nicholas dan Hiro saling tatap hingga mereka tersenyum tanpa mengatakan apapun.
"Pikiran kita sama bukan?" Gavi dan Hiro mengangguk setuju dengan ucapan Nicholas.
Sam berdecak lalu menghisap rokoknya begitu dalam.
"Jangan mendekat apalagi berniat menggodanya, aku akan menghabisi kepala kalian satu persatu," kecam Sam dengan kejam membuat mereka bertiga sontak kicep.
Omega yang melihat hal itu, tertawa dengan mulut yang penuh dengan lemon membuat Gavi menambah sumpalan lemonnya.
"Terus sekarang rencanamu apa? Jangan terus mengusiknya atau dia akan merasa risih dan terus menghindarimu," beritahu Nicholas yang langsung diangguki oleh Gavi dan Hiro.
"Mengusiknya? Aku hanya tidak bisa melihatnya jauh dari pandanganku. Aku harus memastikan dengan mata kepalaku sendiri jika ia baik- baik saja dan aman, aku tidak bisa melihat dia hidup seperti itu, jika bisa mengandalkanku kenapa ia harus hidup semandiri itu? Aku bisa melakukan segalanya, bahkan aku akan mengerahkan segala hidupku hanya untuknya," kata Sam dengan panjang lebar dan penuh keyakinan serta ketulusan dari dalam hatinya.
Sontak mereka berempat langsung bertepuk tangan.
"Jika aku wanita, aku akan menikahimu," kata Gavi yang diangguki oleh Nicholas dan Hiro.
Sam hanya berdecak dan mematikan putung rokoknya.
Kini ia beralih pada koktailnya.
"Jangan sampai cintamu berubah menjadi obsesi," timpali Nicholas memperingati Sam.
Sam tersenyum miring dan menenggak koktailnya.
"Aku tahu itu," sungutnya kesal membuat Nicholas tersenyum tipis.
"Tapi Sam, kau mungkin akan sangat marah ketika mendengar ini," ujar Hiro tiba-tiba di mana ia sudah setengah mabuk.
Sam menaikkan sebelah alisnya.
"Kata Max, di kantor Desain Smith Shila adalah Primadona. Semua karyawan laki- laki di sana masih bujang. Dan semua karyawan selalu berebut untuk bisa menjadi suami Shila, kau mungkin tidak percaya jika Shila setiap hari selalu dilamar oleh teman kerjanya sendiri," beritahu Hiro membuat Nicholas dan yang lain seketika panik.
Omega sontak langsung melepas lemon dalam mulutnya.
"Ayo sumpal mulutnya dengan tisu kamar mandi," ajak Omega yang diangguki oleh Nicholas dan Gavi.
Sontak mereka bertiga langsung menyeret Hiro untuk ke belakang.
Sam yang mendengar ucapan Hiro barusan kini dibuat panas dingin dan sedikit ketar- ketir.
"Bahkan Smith sendiri juga menyukai Shila Sam," teriak Hiro membuat Sam memejamkan matanya sembari mengepalkan tangannya.
Ia berusaha sekuat mungkin untuk menahan emosinya.
Ting
Equilibrio in 1 Kuadriliun.
Anak Lo yg cinta sama sam tapi sam juga gk memberikan harapan palsu dia juga sudah menolak secara baik baik,tapi anak lo yg gk waras itu terlalu obsesi sama sam.
Baru Bapanya Aluna Balas dendam ke Sheyla udah gak waras otaknya kali.Aneh banget.Anaknya udh bodoh tambah bapaknya makin bodoh Lagi.