Bukan hanya tentang cinta. Tapi, tentang ikrar dari sebuah pernikahan itu sendiri. Mencintai, tapi tidak dicintai, rasa sakit yang bertubi-tubi. Yang pada akhirnya memilih pergi, setelah sebuah pengorbanan mewakili rasa cinta yang mendalam.
Dua kisah yang berbeda, tapi tujuannya sama. memperjuangkan pernikahan.
Aulya, nama yang simpel, tapi hidupnya penuh kesedihan. Menikah dengan Muhammad Zaen, laki-laki yang tidak mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syarifatul hidayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Sama-sama Merasa Seperti Bermimpi
"Mas, apakah kita sedang bermimpi?" Aulya masih menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Apakah kamu bermimpi sedang melakukan hubungan suami istri?"
"Mas sendiri?"
"Aku tidak bisa menceritakannya. Tapi aku bahagia dengan mimpi itu. Sebentar aku hidupkan lampu kamar,"
"Tapi mas, kenapa aku sedang tidak memakai baju, apa sebenarnya yang terjadi, aku bingung Mas."
"Aku suamimu, kita harus buktikan sama-sama apa yang terjadi."
Lampu dihidupkan, Zaen melihat semua sisi kamarnya. matanya tertuju pada minuman, lalu mengingat semuanya. Akhirnya Zaen pun pahama. "Pasti papa yang ada dibalik ini semua." Batin Zaen.
Aulya segera berlari kekamar mandi dengan menggunakan selimutnya. Sambil mengambil baju yang sedang berseretakan di lantai.
Saat Aulya sudah pergi, mata Zaen tertuju pada sebuah noda merah di spreinya.
"Ini bukan mimpi, tapi aku sudah melakukan ini semua, meski seperti mimpi. Aulya pasti merakan ini mimpi juga." Guman Zaen.
Lama sekali Aulya dikamar mandi, Zaen khawatir Aulya kenapa-napa.
"Kamu baik-baik saja kan," panggil Zaen sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Tidak ada jawaban, Aulya membuka pintu kamar mandinya. wajahnya terlihat merah, malu dan tidak ingin lama-lama menatap Zaen.
Setelah melihat tempat tidurnya, Aulya sangat terkejut, lalu membereskan sprei yang kotor itu.
Zaen melihatnya, masih seperti orang sedang du hipnotis.
"Ini bukan mimpi, tapi kenapa mas Zaen merasa ini seperti mimpi," Batin Aulya.
Melihat Aulya tampak bingung, Zaen mendekatinya dan memeluknya dari belakang.
"Tidak perlu dipikirkan, ini semua rencana Papa dan Mama, kita sama-sama seperti bermimpi, padahal ini nyata, hanya saja kita dibuat tidak menyadari. Minuman yang kamu minum itu ada obatnya."
Aulya mencoba melepas tangan Zaen, karena masih tidak mengerti.
"Diam, tidak perlu membuka tanganku, ini mungkin yang Allah ridhoi, aku janji akan bertanggung jawab. Dan kamu memang sepenuhnya milikku, jadi untuk apa masih terlihat bingung."
"Aku hanya takut Mas, setelah ini aku akan merasa asing dan rasa sakit hatiku akan semakin menyiksaku," Jawab Aulya meneteskan air mata.
"Apa kamu menyesal?" Zaen membalikkan tubuh Aulya, menghadapnya.
"Aku tidak menyesal, karena setiap pernikahan ini adalah kewajiban. Dan aku harus tunduk atau patuh dengan apa yang kamu inginkan."
"Kamu tatap aku, kamu lihat dari mataku, apakah kamu merasa akan aku ditinggalkan."
"Ada Sela mas, yang akan menjadi ratu di kehidupanmu, kamu tidak cinta, kamu hanya kasihan kepadaku, dan setelah rasa kasihan itu pergi, maka aku akan tersingkirkan."
"Cukup, kamu jangan terus menuduhku, kalau aku akan meninggalkanmu. Mungkin belum ada cinta yang tulus, tapi saat aku didekatmu, aku merasa nyaman. Dan aku merasa takut kehilanganmu."
"Aku tidak ingin di duakan mas, pilih aku atau Sela, aku ikhlas menjalaninya nanti, jika aku harus di ceraikan."
"Sudah berhenti berdebat, biarkan saat ini aku menikmati kebersamaanku denganmu, tolong izinkan aku menjadi suamimu seutuhnya."
"Tapi mas, saat ini Sela..."
Tangan Zaen menutup mulut Aulya, sudah dua kali Sela ingin mengatakan jika Sela ada dirumahnya. Tapu Zaen terus saja memotong pembicaraan Aulya.
"Kamu harus nurut apa yang menjadi keinginanku, atau kamu mau menjadi istri durhaka." ujar Zaen.
"Tapi, mas.."
"Aku lapar, tolong masak untukku, terserah mau masak apa, aku mau kamu siapkan makan untuk kita makan malam. Ayo hapus air matanya, seharusnya kita menikmati kebersamaan ini."
Aulya hanya mengangguk, lalu pergi meninggalkan Zaen. Kali ini Zaen dibuat diam, masih memikirkan yang telah terjadi.
"Aku masih waras, dan aku harus membuat Aulya bahagia, aku tidak boleh terus menerus menyakitinya."
Didapur Aulya segera memasak, karena tidak ingin membuat Zaen menunggu lama, Aulya membuat nasi goreng, setelah selesai, Aulya segera memanggil Zaen.
Mereka pun makan nasi goreng bersama. Tidak banyak bicara, setelah selesai, Aulya langsung membersihkan meja dan dan mencuci piring.
Zaen langsung kembali kekamar, mengajak sholat isyak bersama. Lagi-lagi aulya tidak banyak bicara, hanya mengangguk atau menggeleng kepalanya.
Selesai sholat, Aulya langsung menyalami Zaen.
"Mas aku pamit tidur lagi ya, aku ngantuk."
"Banyak minum, biar pengaruh obatnya cepat hilang."
"Obat apa mas?"
"Obat yang sudah membuat kita bermimpi. Ini ulah Bik wito, karena perintah mama dan papa."
Aulya terkejut, karena tahu mertuanya sudah berbuat nekad. Tapi tidak pantas rasanya jika harus menegur, karena akan malu.
"Kita di jebak," ujar Aulya, lalu naik ke kasurnya.
"tidurlah, percuma jika harus protes pada Papa dan Mama. Yang ada kita di ketawain."
"Iya, mas benar. Kalau begitu aku tidur dulu mas."
Membaca doa, aulya berharap saat bangun, Zaen masih punya rasa yang sama. Dan mau menerima aulya dan melepaskan Sela.
Semua terasa seperti mimpi. Saat Aulya membuka matanya. Sosok laki-laki yang selalu menyakitinya, karena kehadiran orang ketiga. Saat ini laki-laki itu nyata ada disampingnya. Membuat Aulya menangis.
Aulya masih tidak percaya, dengan perjalan hidupnya. Mencintai Zaen yang sudah beristri. Sedang dirinya jauh lebih berhak atas pernikahannya. Aulya tidak bisa memiliki Zaen seutuhnya. Aulya memang istri sah Zaen. Tapi seperti wanita yang sudah merampas Zaen.
Saat sepasang mata membalas tatapan Aulya. Dia pun terkejut. Karena Zaen sudah terbangun. Senyum manis dipagi hari. Zaen menghampiri Aulya yang masih terbaring menatap dirinya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apakah aku terlihat menakutkan, atau kamu takut aku meninggalkanmu,"
"Tidak perlu terlalu takut Mas, karena aku tahu, aku tidak pernah ada dihati kamu. Dan suatu hari nanti kamu memang akan pergi meninggal kan aku. Karena aku tahu, cintamu lebih besar padanya." Jawab Aulya.
"Aku sadar, cintaku belum sepenuhnya untukmu. Tapi, aku merasa nyaman berada disampingmu. Dan, ingin belajar untuk bisa membahagiakan pilihan Mama dan Papa. Wanita sholehah yang Allah kirim untukku."
"Terimakasih. Tapi, Mas tidak perlu memuji dan merayuku, dan merasa iba kepadaku. Karena aku, tidak mau Mas mencintai aku, karena rasa kasihan. Hadirkan aku dalam hatimu. Karena memang Mas, menginginkanku, bukan karena terpaksa." Jawab Aulya pelan tapi mampu membuat Zaen tidah tega.
"Aku tidak merasa kasihan, akupun tidak iba. Yang aku rasakan saat ini hanya tidak ingin melepaskanmu. Karena kamu sudah hadir dihidupku."
"Aku tidak berharap banya. Aku pun sudah ikhlas, jika pilihanmu adalah yang terbaik. Maka aku akan pergi." bulir hangat membasahi pipi Aulya, rasa takut kehilangan sedang melanda hatinya. Keadaan sudah mulai romantis, tapi masih menyakitkan.
"Aku tidak ingin kamu melepaskan aku. Yang aku mau kamu memperjuangkanku. Seperti aku yang akan berusaha memperjuangkanmu."
"Saat aku memperjuangkanmu, saat itu juga perasaan takut menyelimuti hatiku." ujar Aulya.
Zaen mendekati Aulya,
"Boleh aku memeluk?"
"Tanpa meminta izin, mas berhak atas diriku, dan aku tidak boleh menolakmu. Aku, sudah menjadi istri dan itu artinya, aku harus patuh dengan semua keinginan kamu."
mereka saling bertatap mata, semakin dekat dan menatap penuh arti.
ratapi penyesalanmu..
apalagi ketika kau liat perlakuan istri tersayangmu pada ibumu kau akan nyesel zaen telah mempertahankanya...
pergi yg jauh aulia biar zaen tau rasa..