Kenzo adalah salah satu anak keluarga konglomerat Wijaya group, jajaran keluarga elit dan terpandang di Jakarta.
Umur Kenzo Wijaya sudah 28 tahun, pertanyaan dan segala tuntutan untuk menikah selalu di layangkan padanya. Baik Ibunya, Ayahnya, Saudara, dan Teman-temannya yang kini sudah punya anak.
Kenzo sendiri masih ingin berfokus pada karirnya dan tak mau menyentuh yang namanya percintaan, sakit hati di masa lalu membuatnya enggan jatuh cinta.
Hingga suatu hari, Ia tak sengaja bertemu seorang gadis SMA mungil yang merubah pandangannya tentang jatuh cinta.
Seperti apa fase-fase yang di lewati Kenzo menemukan cintanya, dan siapa nama gadis yang mampu meluluhkan bongkahan es yang sulit di cairkan.
Yuk simak perjalanan cinta antara CEO dan gadis SMA... Happy Reading ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mister Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di mana ini?
Rombongan anak buah Joe dan para polisi baru saja tiba di lokasi, tak lama kemudian sebuah mobil hitam menyusul.
Para polisi mulai menyelidiki dan memasuki bangunan mangkrak yang sudah berlumut itu, sejenak Joe hanya terpaku dalam mobil, dalam hati Ia bertanya apakah Sam salah melacak?
Kemudian Ia turun, mengikuti para polisi yang mulai mencari keberadaan Bosnya, beberapa anak buahnya juga terlihat sudah berada di lantai dua yang kelihatan sangat rapuh.
Joe bergidik ngeri membayangkan kalau gedung itu bisa roboh setiap saat, setelah membayangkan kengerian itu Joe dengan penuh keraguan ikut memasuki gedung tua terbengkalai itu.
Dilihat dari bentuk bangunan, Joe dapat menebak bahwa dulunya itu adalah sebuah hotel mewah. terlihat dari beberapa banyak kamar, lampu kristal yang berserakan, dan lantainya yang mengkilap khas lantai marmer.
Ia berdiam di tengah ruangan, bukannya ikut mencari Joe malah mematung melihat para anak buahnya yang terus menyusur di setiap ruangan dan kamar yang berbau lembah itu.
Tak berselang lama, beberapa polisi dan anak buahnya yang tadinya berada di lantai dua mulai terlihat turun.
"Tidak ada orang atau tanda-tanda." Ucap salah satu polisi memberitahu atasannya.
Joe segera menarik salah satu anak buahnya, "Bagaimana?"
"Sepertinya mereka baru saja kabur Pak, dilihat dari jejak kakinya mereka sepertinya baru saja pergi." Tutur anak buahnya dengan perawakan tinggi besar.
"Kau yakin?" tanya Joe cemas.
"Yakin Pak." Jawab anak buahnya lagi.
"Ya sudah, kamu cari di lantai bawah ini apapun itu, yang bisa dijadikan bukti. Waktu kita terbatas, beritahu yang lain bahwa kita hanya punya waktu lima menit dari sekarang, sebelum para polisi kembali melanjutkan pencarian di tempat yang lain."
"Baik Pak, laksanakan!"
Laki-laki bertubuh tegap itu segera pergi dari hadapan Joe, sedangkan Joe semakin dibuat cemas oleh fakta ini.
"Siapa sebenarnya dalang dibalik ini?" Tanya Joe pada dirinya sendiri.
Setelah mengetahui fakta bahwa tak ada seorang pun di gedung itu, maka Joe harus mencari setidaknya satu barang bukti untuk membuktikan pada polisi bahwa pernyataannya benar tentang Bosnya yang baru saja diculik di tempat ini.
Lama mencari, dan sudah lima menit mereka tak menemukan satu barang bukti apapun untuk membuktikan pada polisi.
Joe yang sempat ikut membantu, mulai hilang harapan ketika Ia mengacak-acak lemari dan meja tua dan tidak menemukan apapun.
"Kita salah tempat sepertinya!" Kata seorang atasan polisi pada Joe.
Joe yang hilang harapan hanya mengangguk setuju, mungkin Sam salah memberikan lokasi yang benar.
Ketika mereka memutuskan untuk pergi, entah mengapa Joe merasa berat sekali meninggalkan tempat itu, dia sangat yakin Bosnya tadi berada di sini.
Kini tinggal Joe seorang di dalam gedung, Ia mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, untuk melampiaskan amarahnya karena tak berhasil menemukan Bosnya Ia menendang kursi yang berada tak jauh darinya.
"Awh...!!" teriaknya, merasa kesakitan. Bangku itu ternyata tak serapuh kelihatannya.
Saat sedang kesakitan, tanpa sengaja Ia melihat sebuah benda pipih mengkilap tergeletak di pantai.
Joe segera memungutnya, dan betapa gembiranya Ia menemukan ponsel milik Bosnya Kenzo.
Joe segera berlari keluar gedung dengan langkah terpincang-pincang.
"Ketemu, ketemu!" teriaknya histeris, sang atasan polisi segera menghampirinya.
"Ini ponsel milik Tuan Kenzo," Joe menjelaskan, setelah Atasan polisi itu mengambil ponsel itu dan membolak-balikan memeriksa.
"Baiklah, kami akan melacak dan berusaha semaksimal mungkin. Mungkin mereka masih tak jauh dari sini, sebaiknya kita berpencar."
Setelah para polisi dan anak buahnya pergi, Joe segera masuk mobilnya, lalu seseorang menelponnya.
"Ya, halo." Jawab Joe datar.
"Ibu sekarang berada di rumah sakit Pak, belum sadar sampai sekarang." Kata seseorang perempuan dibalik telepon, dari suaranya mengisyaratkan perempuan itu panik sekali.
"Siapa yang memberitahu?" tanya Joe kemudian, tanpa ingin tahu siapa orang yang menelponnya itu.
"Saya juga dak tahu Pak, tadi sepertinya ada ada yang menelpon lewat telepon rumah dan setelah Ibu mengangkat telepon itu tiba-tiba Ibu jatuh pingsan."
"Aneh," Gumam Joe semakin frustasi. "Apa yang dibicarakan orang dibalik telepon itu? apa tak ada yang tahu?"
"Nggak ada Pak,"
"Begini saja, kamu cari orang untuk mencari nomor si penelpon, kalau sudah ketemu kamu kabari saya kembali. Oke?"
"Baik Pak,"
"Kabari saja juga kalau Ibu udah siuman.
"Baik Pak."
Joe benar-benar sangat kacau sekali, permasalahannya semakin komplek dan rumit.
Yang tadinya hanya Zahra yang diculik, kini Bosnya juga ikutan diculik, belum lagi Ibu Bosnya yang pingsan setelah ditelpon oleh nomor tak dikenal.
Ia semakin frustasi memikirkan masalah yang dalam sekejap menjadi tanggung jawabnya sebagai orang kepercayaan Tuan Kenzo.
Joe menghela nafas berat, kemudian menelpon Sam untuk membahas rencana selanjutnya.
***
Di tempat lain,
Zahra merasa sukmanya ditarik kembali dari kegelapan menuju tempat sebenarnya, Ia gelagapan setelah seember air mengguyur tubuhnya yang terasa sakit semua.
Zahra reflek duduk, kemudian mendengar suara familiar yang berteriak kepadanya.
"Berdiri! cepat!"
Zahra mendongak, seketika matanya membulat, sekujur tubuhnya terasa diikat sangat kuat hingga membuatnya beberapa detik tak bisa bernapas.
"B-bud-bude?" gagapnya.
"Kenapa? kaget ya?" Kata Budenya memasang tampang galak.
Zahra merasakan darahnya seperti membeku, dinginnya air ditambah angin malam hari membuatnya menggigil hebat.
Zahra hanya bisa meringkuk di lantai, menggigil ketakutan, Ia merasa tak tahan menatap tajamnya pandangan Budenya kepadanya.
"Kamu telah membuat saya rugi!" teriak Budenya membuat orang di kamar sebelah berjengit.
"Kamu pantas mendapatkan ini!" lanjutnya, "Ibumu telah menjualmu kepadaku, dan aku telah membayar mahal untuk itu."
Zahra masih terdiam, menggigil.
"Karena kamu kabur malam itu, aku kehilangan klien VIP yang akan membayarmu dengan harga tinggi. Dia akan membayar keperawananmu dengan harga 500 juta, dan karena kamu melarikan diri. Saya rugi, bahkan pengusaha itu mengancam akan menghancurkan bisnis ini, karena kecewa kau kabur!"
Zahra menatap lantai yang dingin, air matanya mengalir tak terbendung. Kini tak ada lagi orang yang akan menolongnya seperti dulu, dan Ia akan kehilangan apa yang paling berharga baginya.
"Kau akan membayarnya esok pagi, dan kau akan mengembalikan kerugianku karena sudah ada yang menawarmu dengan harga fantastis. Kau tau berapa?"
Tawa melengking Budenya memenuhi kamar kecil dengan satu kasur itu, Zahra hanya bisa menangis.
Zahra segera memeluk kaki Budenya itu meminta belas kasihan, dengan air matanya yang sudah membasahi pipi dan helai rambut basah menempel di sana.
"Aku mohon Bude, maafkan aku.... A-aku rela menjadi apapun asalkan jangan, jangan menjadi___
"Tidak Bisa!" Bantah Budenya menendang Zahra hingga terjatuh.
"Aku janji akan melunasi dan memayar sebagai gantinya__
"Tidak Bisa!"
"Kumohon Bude, aku mohon.... "
Tiba-tiba Budenya berjongkok, mendekati Zahra dan mencengkram wajahnya.
udah tau budhenya jahat kenapa g ngelawan aja.
anak SMa harusnya udah agak ngerty cara melawan orang jahat
giliran sama kenzo aja suka ngebantah dan ngomong kasar
Buat dialog tag, tanda baca, dan penggunaan huruf kapitalnya bisa diperbaiki lagi biar makin rapi.
Semangat lanjut ceritanya~