Alesha Hanania, gadis kampung yang terpaksa berhenti kuliah karena ayahnya meninggal dunia dan ibunya sakit-sakitan.
Esha mulai mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Sampai pada suatu hari dia bertemu dengan Rosi, teman sekolahnya. Rosi menawarinya pekerjaan di Jakarta.
Setibanya di Jakarta, ternyata Rosi menipunya. Rosi membawa Esha ke sebuah klub malam untuk dijual kepada pemilik klub.
Malam itu menjadi malam yang bersejarah dalam hidup Esha. Malam yang merenggut kesucian yang selama ini ia jaga. Malam yang mempertemukannya dengan pria brengsek bernama Raffi Bastian Anggara ....
WARNING!!
Banyak mengandung bawang. Siapkan tisyu dulu yah sblm membaca... 😂
Budayakan untuk LIKE di setiap eps sbg bentuk dukunganmu terhadap penulis dan novel ini... TQ 🙏
Ig Author @_anita.rai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ceraikan Aku!
Raffi membawa Aulia pulang ke rumah. Sampai di rumah Raffi langsung masuk ke kamarnya. Aulia mengikuti Raffi dari belakang. Raffi menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Aulia menghampiri Raffi.
"Kak Raffi.. apa kak Raffi nggak senang kalau Lia hamil?" tanya Aulia.
"Entahlah Lia aku pusing" jawab Raffi sambil memicit keningnya dengan tangan kanannya.
"Lia sangat bahagia kak karena Lia mengandung anak kak Raffi, orang yang paling Lia cintai. Seharusnya kak Raffi juga bahagia karena sebentar lagi kak Raffi akan jadi seorang ayah. Mari kita buka lembaran baru kak! Kak Raffi lupakan perempuan itu! Tinggalkan dia... demi anak kita kak!" seru Aulia dengan suara yang memelas.
"Maaf Lia tapi aku nggak bisa. Aku sangat mencintainya. Aku nggak bisa meninggalkannya!"
Raffi beranjak dari tempat tidur lalu keluar dari kamar meninggalkan Aulia. Aulia tidak kuasa menahan air mata yang jatuh ke pipinya. Aulia menyeka air matanya lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya untuk menghubungi Esha.
Tut.. tut.. tut... ( menghubungkan)
Saat itu Esha masih berada di kantor. Mendengar ponselnya berbunyi, dengan cepat Esha meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja kerjanya. Esha melihat nama Aulia tertera di layar ponselnya. Dengan cepat Esha menjawab panggilan Aulia.
Esha : "Hallo assalamu'alaikum Aulia. Kamu sudah kembali dari Singapura?"
Aulia : "Wa'alaikumsalam. Iya Alesha, tadi siang aku pulang. Aku ingin bertemu denganmu. Apa kau mau menemuiku sepulang kerja nanti?"
Esha : "Kamu kenapa Aulia? Suaramu terdengar seperti habis menangis?"
Aulia : "Nanti aku ceritakan. Kita ketemu di tempat biasa"
Esha : "Baiklah Aulia, sampai jumpa. Assalamu'alaikum"
Aulia : "Wa'alaikumsalam"
Aulia mengakhiri panggilannya kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi dan berpakaian, Aulia berangkat ke restoran untuk menemui Esha. Sebelum pergi, Aulia mencari Raffi tapi Raffi tidak ada di rumah. Aulia bertanya pada bi Nanik yang saat itu tengah memasak di dapur.
"Bi Nanik, dimana kak Raffi?" tanya Aulia.
"Tadi bibi lihat tuan Raffi keluar bawa mobil nyonya" jawab bi Nanik.
"Bibi nggak tanya dia mau pergi kemana tadi?" tanya Aulia lagi.
"Maaf bibi nggak berani nyonya" sahut bi Nanik sambil menundukkan mukanya.
"Ya sudah, nanti kalau kak Raffi pulang tolong bilang sama dia saya keluar sebentar" perintah Aulia.
"Baik nyonya" sahut bi Nanik.
**********
Sore itu Aulia menemui Esha di restoran dekat kantor. Aulia sudah datang terlebih dulu. Dua gelas jus alpukat sudah tersaji di atas meja. Tak lama kemudian Esha datang menghampiri Aulia.
"Assalamu'alaikum Aulia" sapa Esha.
"Wa'alaikumsalam, Alesha duduklah. Aku sudah memesan jus alpukat kesukaanmu" tutur Aulia.
"Terima kasih Aulia" sahut Esha.
Esha pun duduk berhadapan dengan Aulia.
"Oh ya Alesha, ini aku bawakan sedikit oleh oleh dari Singapura buat kamu" tutur Aulia sambil menyodorkan paper bag berwarna biru kepada Esha.
"Apa ini Aulia? Kenapa kamu repot repot membelikanku oleh oleh?" tanys Esha seraya menyambut paper bag itu.
"Ini hand bag limited edition. Aku harap kau menyukainya. Aku tidak merasa direpotkan kok Alesha. Kau ini kan temanku" sahut Aulia.
"Limited edition? Pasti harganya sangat mahal. Maaf Aulia aku tidak bisa menerimanya" ucap Esha sambil menyodorkan paper bag itu kepada Aulia lagi.
"Aku akan marah kalau kau tidak mau menerimanya" ketus Aulia.
"Ya sudah kalau begitu aku terima. Terima kasih Aulia" sahut Esha lalu meletakkan paper bag itu di atas meja.
"Oh ya Aulia kamu ada masalah apa? Muka kamu terlihat pucat. Apa kamu sakit?" tanya Esha sambil memperhatikan wajah Aulia.
"Alesha aku hamil" tutur Aulia sambil menatap Esha.
"Apa?? Kamu hamil??"
Esha terkejut dan mengernyitkan dahinya mendengar kata kata Aulia barusan.
Aulia menganggukkan kepalanya. Esha terdiam sejenak. Raut mukanya berubah seketika.
"Tapi kenapa kamu terlihat sedih? Bukankah seharusnya kamu bahagia?" tanya Esha dengan penasaran.
"Kamu tau Alesha, selama aku di Singapura kak Raffi nggak pulang ke rumah. Dia menemui perempuan itu. Perempuan yang dicintainya itu. Aku marah, aku kecewa, aku nggak bisa mengontrol emosiku lagi Alesha. Sampai akhirnya aku pingsan. Kak Raffi membawaku ke rumah sakit dan aku dinyatakan hamil oleh dokter" tutur Aulia dengan mata yang berkaca kaca.
"Aku ingin membuka lembaran baru bersama kak Raffi. Aku ingin kak Raffi meninggalkan perempuan itu demi anak ini. Tapi kak Raffi bilang dia nggak bisa meninggalkan perempuan itu. Aku harus gimana Alesha?" imbuh Aulia.
Ada butiran air bening menetes dari pelupuk mata Aulia.
"Yang sabar Aulia..."
Esha menggenggam tangan Aulia berusaha menenangkannya. Tanpa disadari, Esha pun menitikkan air matanya. Cepat cepat Esha menyeka air matanya itu.
"Alesha apa kamu sudah tau siapa perempuan itu? Apa kamu pernah melihat kak Raffi berduaan dengan seorang perempuan selama aku di Singapura?" tanya Aulia.
"Enggak Aulia... aku nggak pernah lihat bapak Raffi seperti itu" jawab Esha sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya Allah.. sampai kapan aku harus menutupi ini semua dari Aulia. Aku nggak tega melihat kesedihannya. Apalagi sekarang dia mengandung anak kak Raffi. Apa yang harus aku lakukan?" gumam Esha dalam hatinya.
**********
Raffi mengemudikan mobil sportnya dengan kencang tanpa arah dan tujuan selama berjam jam. Pikirannya kacau. Saat hari mulai gelap tanpa disadari Raffi telah sampai di depan apartemen Esha. Muka Raffi terlihat lesu. Perlahan Raffi keluar dari mobilnya lalu berjalan memasuki lobby. Raffi menaiki lift ke lantai 12. Setelah sampai di depan apartemen Esha, Raffi membunyikan bel pintu beberapa kali.
Ting tong... ting tong...
Ceklek!
Tak lama kemudian Esha membukakan pintu.
"Kak Raffi?" seru Esha.
"Assalam'alaikum sayang" ucap Raffi dengan senyum yang dipaksakan.
"Wa'alaikumsalam" sahut Esha.
"Kebetulan kak Raffi kesini. Ada yang ingin Esha bicarakan dengan kak Raffi" tutur Esha dengan wajah yang serius.
"Ada apa sayang?" tanya Raffi dengan penasaran.
Mereka masuk ke dalam. Raffi duduk di sofa. Sementara Esha beranjak ke dapur untuk membuat minuman. Beberapa menit kemudian, Esha datang membawa secangkir kopi di tangannya.
"Kak Raffi Esha buatkan kopi hitam kesukaanmu, minumlah!" tutur Esha sambil meletakkan kopi itu di atas meja lalu Esha duduk di sebelah Raffi.
"Terima kasih sayang" sahut Raffi. Raffi pun meminum kopi itu.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Raffi dengan penasaran.
"Aulia hamil kan?" tutur Esha.
Raffi terkejut mendengar pertanyaan Esha.
"Bagaimana kamu bisa tau? Apa Lia yang memberitahumu?" tanya Raffi.
"Iya, tadi aku bertemu dengannya" sahut Esha.
"Kak Raffi aku tidak bisa terus menerus membohongi Aulia. Aulia sudah terlalu baik padaku. Dia menganggapku sebagai temannya. Aku ingin kak Raffi menceraikan aku sebelum Aulia tau yang sebenarnya!" seru Esha sambil menatap Raffi dengan mata yang berkaca kaca.
"Apa? Cerai?" sontak Raffi melototkan kedua matanya.
"Aku nggak bisa menceraikanmu sayang. Aku sangat mencintaimu. Aku nggak bisa hidup tanpamu" imbuh Raffi.
Raffi menggenggam tangan Esha erat.
"Esha mohon ceraikan Esha kak. Kita akhiri hubungan ini. Hiduplah bahagia bersama Aulia dan anak yang ada dalam kandungannya" ucap Esha dengan suara memelas.
"Tapi aku nggak mencintai Lia. Aku nggak akan bahagia hidup dengannya" seru Raffi.
"Cobalah belajar untuk mencintai Aulia kak. Dia perempuan yang baik. Dia pantas untuk kau cintai. Sementara aku.. aku hanya penghalang kebahagiaan kalian" imbuh Esha.
"Penghalang apa sayang? Kau ini istriku. Dan aku sangat mencintaimu. Aulia lah yang jadi penghalang kebahagiaan kita. Juga orang tuaku" seru Raffi.
"Itulah sebabnya Esha minta kak Raffi untuk menceraikan Esha.. karena begitu banyak dinding yang menghalangi hubungan kita. Kalau kak Raffi nggak mau menceraikan Esha, Esha akan pergi dari kehidupan kak Raffi" ucap Esha sambil menatap Raffi dengan tajam.
"Apa yang kamu katakan sayang. Aku nggak akan pernah menceraikanmu. Jangan pernah tinggalkan aku! Aku nggak bisa hidup tanpamu..." tutur Raffi sambil memelas.
Raffi menarik Esha ke dalam pelukannya. Esha membiarkan Raffi memeluknya untuk yang terakhir kalinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..........
Notes :
Dear readers yang budiman,
Di novel ini penulis memang sengaja menceritakan tokoh utama yaitu Alesha, yang menghadapi banyak ujian demi ujian dalam hidupnya sebelum akhirnya dia menemukan kebahagiaannya. Jadi jangan heran kalau Alesha banyak sedihnya di sini. Di episode sebelumnya, komentarnya pada malas baca lagi... aku jadi nggak semangat nulis nih 😢
Jangan lupa tekan LIKE, LOVE, dan komentarnya setelan membaca...!!!
Terima kasih 😊
Penulisnya cukup faham dalam Agama, sehingga tidak los kontrol.
Judul Kesucian Alesha dlm cerita ini ibu meligat tentang keiklasan hati dari Alesha, Amar ya sejak awal, disusul Raffi seyelah menikah siri dgn Aulia yg sederhana tp bisa mengetuk hati Raffi sbg suami untuk melakukan kebaikan dalam hidup termasuk Sholat n adab pd orang2 yang sdh berjasa mengurus dirinya, juga Aulia keiklasannya muncul saat tahu Raffi sangat mencintai Alesha apalagi tahu bgw mereka sdh menikah...
Semangat thor, sehat selalu, memang benar menulis tuh tidak mudah, mood nya harus bagus/Heart//Heart//Heart/