Suamiku punya dua identitas? Mana yang benar?
Demi adik yang sedang tertidur panjang dalam komanya, Ellena akhirnya memutuskan menerima ajakan menikah dari seorang pria yang paling dia benci. Namun, apakah lelaki itu memang sejahat itu? Seiring berjalannya waktu, Ellena mulai meragukan itu. Akan tetapi, kehadiran sosok Darren yang tak pernah Ellena ketahui keberadaannya selama ini, seketika membuat keraguan Ellena kembali menguap. Mana sosok asli yang sebenarnya dari suaminya? Bima atau Darren?
Selamat datang di dunia percintaan yang bertabur intrik perebutan harta dan tahta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Bima menatap Andra tajam lalu berpindah menatap Ellena yang kini mulai terlihat takut memandangnya. Kemudian, ia tertawa sumbang sambil menyisir rambutnya dengan tangan.
"Lo udah gak punya stok cewek lagi bro ? Masa' istri saudara sendiri mau lo embat ?".
Andra mengelap sudut bibirnya yang berdarah dengan ibu jarinya. Luka itu ia dapatkan akibat pukulan dari Bima, sepupunya sendiri semenit yang lalu.
"Mungkin status dia emang istri lo. Tapi gue tahu, kalo lo cuma mau manfaatin dia doang." Geram Andra yang berusaha menahan amarah.
Lagi-lagi Bima hanya tertawa sinis. Kini pria itu melangkah mendekati Ellena dan menggenggam tangan El erat.
"Ikut gue pulang." Perintah Bima seraya menarik pergelangan tangan Ellena, tetapi dihalangi oleh Andra. Kini, Ellena sudah berpindah dalam genggaman Andra.
"Biar gue yang antar dia pulang." Sahut Andra dingin.
Bima benar-benar berusaha mengendalikan dirinya sekarang. Amarah sudah kembali mencapai ubun-ubun kepalanya. Tidak bisakah Andra mencari perempuan lain untuk di ganggu ?. Kenapa harus istrinya.
Lagi, Bima menarik El hingga pegangan Andra terlepas.
"Dia istri sah gue, Ndra kalau lo lupa. Dia lebih pantas pulang bareng suaminya ketimbang saudara iparnya." Ucapan Bima telak menusuk Andra. Kini Andra mundur selangkah, sedikit shock mendengar hal itu. Bima benar. Dia tidak lebih berhak untuk mengantar Ellena di banding Bima.
"Mas Andra, El akan baik-baik aja kok. Tolong jangan di perpanjang lagi." Mohon Ellena. Wajahnya masih memancarkan aura ketakutan dan Andra bisa merasakan itu. Akhirnya Andra mengalah dan memilih menuruti permintaan Ellena.
"Telepon aku kalau Bima ngapa-ngapain kamu karena masalah ini." Akhirnya hanya itu yang bisa di ucapkan Andra.
Sebelum Ellena menjawab, Bima sudah lebih dulu menyeret El keluar dari cafe itu. El hanya menatap sedih ke arah Andra sebelum dirinya di seret paksa masuk ke dalam mobil Bima.
"Kamu gak bisa cari pria lain untuk kamu pacari selain Andra ?." Suara marah Bima kembali memecah keheningan.
"Saya gak pacaran sama mas Andra, Pak !". Tegas Ellena. Ia muak jika terus di tuduh seperti ini.
"Jangan bohong. Kalau kalian nggak memiliki hubungan spesial, ngapain Andra bilang cinta ke kamu ?". Emosi Bima kembali meluap.
"Dia memang bilang cinta ke saya. Tapi saya nggak nerima dia. Saya sadar sama status saya, Pak." Ellena balik membentak. Sudah tidak tahan dengan tuduhan tak berdasar Bima. Kenapa pula, pria ini harus berakting sebagai suami yang baik sekarang.
Bima menoleh sebentar dan menatap Ellena dengan pandangan merendahkan.
"Kamu pikir saya percaya ?".
"Saya gak minta bapak buat percaya."
Bima kembali tertawa sarkas. Ia menggelengkan kepalanya.
"Perempuan murahan memang berbeda."
Sontak Ellena menoleh menatap Bima tak percaya. "Maksud bapak ?". Gadis itu kini memicingkan matanya, menunggu jawaban dari seorang Bima Dirgantara.
"Kurang jelas ?". Kembali Bima tertawa sarkas . "Saya bilang perempuan murahan memang berbeda. Gak puas dengan mengeruk uang saya, sekarang kamu juga mau uang dari sepupu saya ? Tau aja kamu kalau Andra juga tajir."
Ellena menganga mendengar ucapan Bima. Ellena yakin tidak salah dengar kali ini. Bima benar-benar mengatainya gadis murahan. Tak terasa, air mata menetes kembali dari pipinya.
"Setelah kamu dapat uang dari Andra, siapa lagi yang kamu mau goda ? Apa Redi ? Atau Arga ?".
Ellena memejamkan matanya. Hatinya terlalu sesak untuk menerima hinaan lebih dari ini.
"Cukup, Pak ! Saya gak serendah yang bapak pikirkan." Ellena segera membuka pintu mobil dan berlari sambil terisak tepat saat mobil Bima berhenti di lampu merah.
Bima berusaha meneriaki Ellena agar kembali tetapi tidak di gubris gadis itu. Sementara lampu sudah kembali hijau, dan suara klakson dari mobil lain di belakang Bima sudah berbunyi tidak sabaran.
"Sial !". Bima lagi-lagi memukul stir mobilnya karena kesal. Entahlah. Dirinya sendiri bingung, apa yang membuatnya bisa seperti sekarang. Dia tahu betul bahwa Ellena memang menolak Andra tadi, tetapi entah kenapa dia tetap saja berpura-pura tidak tahu dan lebih memilih menuduh Ellena dengan tuduhan yang tidak berdasar. Bukan salah bocah tengil itu jika banyak yang menyukainya, tak terkecuali bila itu Andra, sepupunya sendiri. Tetapi, Bima tetap saja meluapkan amarahnya kepada Ellena. Bukan karena ia marah pada gadis itu, tetapi lebih tepatnya dia marah terhadap dirinya sendiri. Mengapa sekarang dia merasakan nyeri di dadanya setiap kali dia melihat Ellena dan Andra bersama ? Tetapi, dengan bodohnya, dia malah menjadikan Ellena sasaran kemarahan yang harusnya ia tujukan untuk dirinya sendiri.
*
*
*
Suara bel pintu depan berbunyi. Putri yang sedang asyik menonton live streaming BTS di coutube segera menghentikan aktifitasnya dan bergerak menuruni tangga untuk membuka pintu.
"El ? Kamu di sini ?". Putri nampak terkejut ketika menemukan Ellena di depan pintu dengan wajah sembab. Dengan cepat Ellena menghambur memeluk Putri seraya menumpahkan air matanya. Dia ingin berbagi beban ini dengan sahabatnya. Rasanya Ellena sudah ingin menyerah. Semuanya terlalu berat untuk dia pikul sendiri.
"Aku capek, Put ! Aku capek ....". Suara tangis Ellena semakin keras.
Putri mengusap punggung Ellena dan semakin mempererat dekapannya pada tubuh rapuh El. "Ushhh.. aku di sini, El ! Aku di sini." Putri menopangkan dagunya di pundak Ellena dengan prihatin. Gadis itu tidak berniat bertanya tentang apa dan kenapa Ellena bisa sesedih ini. Baginya, hal itu bisa ia cari tahu nanti-nanti saja. Yang terpenting sekarang, bagaimana cara menenangkan Ellena.
Dari kejauhan, Bima memperhatikan Ellena yang tengah memeluk erat sahabat baiknya, Putri. Awalnya dia berniat menjemput Ellena paksa untuk kembali bersamanya. Tetapi, ketika melihat betapa rapuhnya gadis itu sekarang, dia memilih untuk tidak melakukannya dan lebih baik untuk mengamati gadis itu dari jarak aman seperti sekarang. Tangis Ellena terdengar semakin pilu di telinga Bima. Lagi-lagi, nyeri di dadanya kembali terasa. Tanpa sadar, ia meraba dadanya tempat dimana jantungnya terasa berdetak. Ada rasa sakit di sana ketika melihat Ellena yang terluka seperti sekarang. Dan dia sadar, itu semua karena ulahnya.
"Aku nggak sanggup lagi, Put ! Aku kangen mama sama papa. Aku mau di peluk mereka. Aku capek tinggal disini sendiri. Aku capek!".Beban di hati Ellena perlahan mulai di keluarkannya.
Putri menengadah ke atas. Berusaha menahan air mata yang ikut keluar mendengar keluh kesah Ellena. Ia tahu rasa sakit Ellena. Ia tahu penderitaan Ellena.
"Jangan ngomong, gitu ! El gak boleh nyerah ! Kan El masih punya Ellio, diva, nadia dan juga Putri." Ucap Putri terbata-bata. Tangisnya sudah ikut pecah 5 detik yang lalu.
"Kenapa Tuhan gak pernah adil sama aku, Put ? Kenapa cuma aku yang di kasih penderitaan seberat ini ? Aku udah nyerah ,Put ! Aku udah nggak sanggup nerima cobaan lebih berat dari ini. Aku nggak sanggup." Suara Ellena terdengar parau.
"Hushhhh nggak boleh ngomong, gitu. Nggak baik, El ! Tuhan kasih kita cobaan karena Tuhan tahu kita mampu. Putri gak mau El nyerah ! Putri mau El tetap kuat kayak biasanya." Dekapan Putri kian mengerat. Dia tidak ingin mendengar hal bodoh lagi dari mulut Ellena. Sudah cukup.
"Tapi, aku benar-benar udah capek, Put ! Aku udah lakuin semuanya. Aku udah rela di buang sama Oma, aku udah rela serahin semua harta papa sama mama demi keselamatan Ellio, aku bahkan rela jual diri aku sendiri ke manusia kutub itu demi biaya operasi dan rumah sakit Ellio, tapi... tapi... tetap aja aku menderita. Kenapa ?"
Putri segera melepas pelukannya dari Ellena.
"El ngomong apa barusan ? El jual diri demi biaya rumah sakit Ellio ?."
Ellena mengangguk dan jatuh bersimpuh di tanah. Tangisnya belum juga reda. " Iya, Put ! Aku udah jual diri aku demi biaya perawatan Ellio. Aku rela jadi istri kontrak Bima demi bisa bayar biaya perawatan Ellio setiap bulannya. Aku ngelakuin itu, Put !".
Putri membekap mulutnya tak percaya. Ia kemudian memeluk El yang masih bersimpuh di atas tanah.
"Ya ampun ,El ! Apa yang udah kamu lakuin ?".