NovelToon NovelToon
Retak Mimpi

Retak Mimpi

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Patahhati / Balas Dendam / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:526.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Bagaimana jika pasanganmu, merasa bahwa dirinya seperti korban dari lagu Joji Glimpse of Us?

"Mas, yang setia. Ingat mimpi kita, katanya ingin menua bersama?"

Sesederhana itu mimpi mereka. Namun, bisakah mereka mempertahankan hubungan mereka sampai mimpi itu tiba?

Memiliki enam orang anak, tidak menjamin membuat mereka menjadi orang tua yang baik. Lika-liku rumah tangga, bahkan perceraian sekalipun, mereka sudah alami dan akhirnya memutuskan untuk kembali. Nyatanya, semua itu tidak mampu mendewasakan diri mereka.

Tetapi ada satu nama, yang mengukir sejarah di hati Ananda Givan. Seorang wanita, yang kembali dengan kondisi yang begitu memprihatinkan. Ia disebut-sebut, sebagai perempuan yang paling dicintai Ananda Givan. Tapi, apakah benar demikian?

Hingga Canda Pagi Dinanti, istri yang setiap hari memanjatkan doa untuk keberhasilan suaminya, mempercayai tentang kabar burung yang mengatakan bahwa Ananda Givan masih begitu mencintai perempuan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RM32. Mengadu

"Canda, apa aku boleh berkunjung ke kau?" Givan memeluk ransel yang berisikan beberapa pakaiannya.

"Ya, boleh."

Dengan jawaban itu, Givan memiliki kesempatan untuk membuat Canda bisa seperti sediakala lagi padanya. Givan akan mencoba untuk membuat rumah tangganya harmonis kembali.

"Aku di rumah mamah ya? Di kamar kita dulu. Kalau sulit tidur, datang ke sana aja ya?" Menurut Givan, rumah orang tuanya akan membantunya menjaga dirinya sendiri tanpa istri.

Canda hanya mengangguk, kemudian ia langsung mencium tangan suaminya seperti saat suaminya akan pergi bekerja. "Mas bebas kok mau apa aja, tapi jangan minta aku untuk tetap di rumah juga."

Givan paling membenci ucapan itu.

"Aku tak apa kau kekang juga, Canda. Kau tau kan, kalau kau akan dilaknat kalau pergi dari rumah tanpa izin suami. Kita masih suami istri, Canda." Givan mengusap rahang istrinya.

"Kalau Mas kasihan aku di akhirat nanti, ya berarti harusnya kita bukan suami istri lagi. Begitu kan?"

Baru kali ini, Givan merasa kalah berdebat dan tidak ingin berdebat dengan istrinya. Ia khawatir ketika mengeluarkan pendapatnya lagi, ucapan itu akan dikembalikan padanya. Givan tidak ingin menciptakan keributan dalam diamnya Canda seperti ini.

"Ya udah, aku izinkan kau keluar rumah. Yang penting jaga diri ya? Ingat anak-anak kita, ingat jagoan kita juga." Givan berlutut dan mencium perut Canda.

Harapannya sama dengan Canda, yaitu memiliki buah cinta berjenis kelamin laki-laki. Meski pada akhirnya akan diberikan perempuan lagi juga pun, mereka tidak akan menolak dan pasti akan tetap membesarkannya.

"Ya." Canda tidak mengusap kepala suaminya, seperti biasanya saat suaminya mencium perutnya.

Givan merasa cukup untuk berpamitan dengan Canda dan buah cintanya. Ia tidak akan melakukan pamit pada anak-anaknya yang lain, karena pasti akan menciptakan kehebohan yang membingungkan anak-anak.

Givan keluar dari rumahnya sendiri dengan berat hati. Ingin melawan Canda, ia takut Canda malah nekat pergi dari dari rumah. Ia tak mau mengambil resiko besar, jika memaksakan inginnya yang tetap berada di rumah.

"Hei, Bang. Mau ke mana?" Sapa Ghavi, salah satu adik kembar Givan yang berada di depan kantor kecil miliknya sendiri.

"Ke mamah." Givan tetap memeluk tasnya, tidak mengenakannya di belakang punggungnya.

Ghavi memahami raut sedih di wajah kakaknya. "Bawa apa itu, Bang?" tanya Ghavi kembali.

Namun, tidak dijawab oleh kakaknya itu.

Kehadiran Ai di teras rumah orang tua Givan tersebut, membuat Givan ragu menjadikan rumah orang tuanya untuk tempatnya pulang. Namun, hanya rumah orang tuanya yang paling dekat dengan rumah yang Canda tempati.

"A...," sapa Ai dengan senyum yang amat lebar.

Sayangnya, tidak disahuti oleh Givan. Ia melepaskan sandalnya, dengan berjalan masuk ke dalam rumah.

Sampai ia berpapasan dengan ibunya yang baru keluar dari dalam kamar, Givan langsung memeluk tubuh ibunya yang melahirkannya tiga puluh sembilan tahun silam itu. Givan melepaskan rasa lemahnya pada ibunya.

"Mah, aku diminta pergi dari Canda." Suara Givan begitu kencang dengan aduan isakan dewasanya.

Adi panik, ia yang berada di halaman belakang langsung berlari masuk ke dalam rumah. Ia berpikir terjadi pertumpahan darah, karena suara tangis lepas itu.

"Ada apa?" Adi bingung melihat anak sambungnya memeluk istrinya begitu erat.

"Coba ke Canda dulu, Bang." Adinda melihat ke arah suaminya.

"Ada apa memang?" Adi melangkah menghampiri istrinya.

Ia mengusap-usap punggung anaknya yang sesenggukan pada bahu istrinya. Anak sulung yang begitu kuat, berpikir matang, sombong dan memiliki gengsi tinggi itu terkenal tidak pernah menangis. Namun, kali ini ia melihat sendiri anak sulungnya begitu lepas menangis seperti anak kecil.

"Diusir Canda katanya." Adinda pun kebingungan di sini.

"Loh? Kok bisanya diusir dari rumah sendiri?" Adi tidak habis pikir, anak sulungnya kalah dari menantunya yang pandai mengadu dan menangis tersebut.

"Cobalah ke sana, Bang! Aku urus Givan dulu." Adinda membawa anak sulungnya masuk ke dalam kamarnya.

Dengan menggaruk kepalanya, Adi keluar dari rumahnya. Tetapi, ia kembali dikagetkan dengan sosok perempuan berkerudung hitam itu.

"Ya ampun! Udah dikasih tau, jangan pernah mejeng di depan rumah begini. Kalau mau berkunjung, ya datang dan bertamu dengan sopan. Jangan pernah mengumbar penasaran orang lain begini, Ai!" Suara tegas dan keras itu mengejutkan Ai.

Ia kebingungan mendengar tangis pecah tadi. Tapi ia tidak berani untuk menimbrungi dan menanyakan hal tersebut.

"Aku udah ketuk pintu beberapa kali, udah assalamualaikum berulang-ulang. Tapi tak ada yang nyahutin, tak ada orang-orang." Cukup lama Ai di sini, sejak Canda keluar rumah dan akhirnya memilih untuk berbelok ke rumah Ghifar.

"Ada perlu apa sih? Sering betul ke sini?" Adi merasa risih dengan kehadiran perempuan muda yang sering datang ke rumah tersebut.

"Aku ada perlu sama mamah, Pah." Ai menghadap Adi.

Adi gelang-gelang kepala. "Ck.... Bisa di chat aja! Udah, sana pulang!" Adi mengusir tamunya.

Ini bukan pengusiran pertama yang ia dapat dari ayah di rumah tersebut. Menurutnya, itu hal yang sudah biasa karena watak keras Adi.

"Ya, Pah." Ai tertunduk dan langsung bergegas meninggalkan rumah itu.

Itu semua hanyalah alasannya saja. Satu yang ia tunggu setiap saat adalah, ingin berbicara langsung dengan Canda. Ingin bertemu dengan Adinda hanyalah alasannya saja. Padahal jelas, dari awal ia tidak mengetuk pintu atau mengucapkan salam. Ia di situ, untuk menunggu Canda datang dengan amarahnya.

Setelah Ai tidak terlihat lagi di pandangannya, Adi langsung bergegas untuk menemui menantunya. Ia ingin menanyakan langsung, akan putra sulungnya yang dibuat menangis lepas seperti itu. Cukup aneh untuk Adi, makanya ia tanpa berpikir panjang langsung mengiyakan perintah istrinya untuk menemui Canda.

"Canda...." Adi memanggil nama menantunya dari teras rumahnya.

Canda yang tengah membasuh wajahnya pun langsung berseru menyahuti, karena ia tahu diri bahwa gerakannya lambat. Jadi, ia mengutamakan agar suaranya sampai terlebih dahulu.

"Ya, Pah. Bentar, lagi di kamar mandi." Canda mengeringkan wajahnya, kemudian ia berjalan dengan hati-hati untuk membukakan pintu rumahnya.

Ia sudah menyangka bahwa pasti mertuanya akan datang untuk menegur. Namun, ia tidak menyangka bahwa yang datang adalah ayah sambung suaminya.

"Ya, Pah." Canda membukakan pintu yang baru ia kunci beberapa menit lalu tersebut.

Adi memandang wajah menantunya yang sudah seperti anaknya tersebut. Ia tidak menemukan wajah penuh emosi atau penuh air mata dari menantunya. Tapi keadaan anaknya sampai menangis meraung, seperti bukan anaknya sendiri.

"Sambil duduk, Papah tak kuat berdiri lama." Adi masuk begitu saja ke dalam ruang tamu rumah tersebut.

Canda mengikuti langkah orang tua yang begitu ia patuhi tersebut. "Masalah mas Givan ya, Pah?" Canda sudah menebaknya.

"Nah, kau tau. Ada apa coba?" Adi langsung membuka pembicaraan mengenai hal tersebut.

...****************...

1
Hi Dayah
kangen canda jadi kesini baca lagi🥰
falea sezi
aib ma perempuan lain di ceritain ke istri najis bgt tau
falea sezi
pernah ada yg telfon g ada nomernya suara nya jg kek aneh
Lismardiana
ngk malu si ainya
Yunia Spm
kayaknya yg lebay mbak nisa deh ini
Yunia Spm
karakter nya ai bikin gemes banget
Yunia Spm
eng ING eng.... konflik di mulai 😁
Red Velvet
yang penasaran langsung aja baca jgn lupa subscribe
Rosita💖
Merujuk dari cerita sebelumnya aku mulai suka dengan pengokohan karakter Canda yang tegas dan lugas...

Pokoknya suka banget deh sama ceritanya...
Siti Latifah
keren
Ai Oncom
bagus banget ceritanya..
Mafa
ih modusnya yayah givan , beraksi dibalik alasan cemburu😂
Febrians
iq canda jongkok betul wkwkwkwk
Novalia Fatmawati
sehat sll kak Annisah, karyamu sll dinanti dan dihati 🤗
IG : anissah_31: terima kasih kak 🥰 bantu dukung subscribe favorit
total 1 replies
Red Velvet
Yayah harus bisa membimbing anak2nya, karena disini papah Adi dan mamah Dinda udh gak ada. 🥺
Edelweiss🍀
gak akan pernah bosan sama karya2 kak Nissah😘
chaia
makasih kak Nisa...sehat selalu😍
Komsatun Komsatun
terima kasih buat kak nisa atas cerita yang banyak hikmahnya ini.....
Yuli Amoorea Mega
Alhamdulillah ya mujabiddu....
mudah"an kak nissa ku di tangtayunan ku gusti Allah sehat" selalu biar lanjut cerita"nya...hatur nuhun author....
IG : anissah_31: terima kasih kembali kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Nirwana Fabil
gk papa tamat d cerita retak mimpi..
aku tunggu d cerita seanjutnya....
sehat" selalu kak nissa🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!