WARNING!
NO BOOM LIKE! HARGAI KARYA ORANG!
“Permisi! Maaf saya mengganggu, kenapa kamu malam-malam sendirian disini?” tanya Radit.
Wanita itu berhenti bernyanyi, ia sedikit mengangkat kepalanya. Tapi, ia tidak menjawab pertanyaan Radit.
“Hey, Mbak. Kenapa diam saja? Kenapa mbak berada di kelas ini sendirian? Apakah mbak tidak takut?” tanya Radit.
“Saya gak bisa pulang!” sahut wanita itu dengan suara pelan.
“Kenapa?” tanya Radit. Wanita itu hanya menggeleng pelan.
“Saya antar, ya!” tawar Radit. Wanita itu menjawab lagi dengan anggukan kepala.
Radit segera mengulurkan tangannya, wanita itu menyambut tangan Radit yang hangat. Radit terkejut setelah meyentuh tangan wanita itu, tangan yang begitu dingin.
“Kenapa tangannya begitu dingin? Apakah dia sakit?” batin Radit.
.
.
.
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tempat dan nama tokoh. Itu semua hanya kebetulan semata. Dan karya ini hasil imajinasi saya sendiri, bukan PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 32
Hampir setengah jam, Darto menunggu Lastri bangun dari tidurnya. Akhirnya, Lastri keluar dari kamar penginapan itu bersama Herman.
Lastri dan Herman pun mengajak Darto menuju rumah makan, mereka ingin mengisi perut sebelum pergi menuju gedung universitas.
“Berangkat sekarang,” kata Darto.
“Kita makan lebih dulu, sekaligus ada yang ingin kami bicarakan denganmu,” ucap Lastri pada Darto.
Akhirnya, Darto pun mengikuti langkah Herman dan Lastri menuju rumah makan yang tidak jauh dari penginapan itu.
Sesampainya di penginapan, Lastri dan Herman segera memesan makanan. Tampak, kedua orang itu makan dengan sangat lahap. Berbeda dengan Darto yang malan alakadarnya.
“Aku ingin memberikan ini padamu!” Lastri mengeluarkan jimat pemberian Mbah Sukmo padanya.
“Untuk apa?” Darto mengambil satu kalung itu dari tangan Lastri.
“Untuk penangkal setan, agar dia tidak bisa menyentuh kita,” kata Lastri. “Aku dapatkan dari dukun pintar!”
“Baiklah!” kata Darto, ia pun memasukan jimat itu kedalam saku celananya.
“Aku juga sudah meminta air sakti dari dukun hebat. Kata dukun itu, kita harus menyiram setan itu jika dia muncul dan mendekat,” kata Herman sembari mengeluarkan botol kecil berisi air pemberian dukun yang katanya sakti itu.
“Kau sudah memiliki persiapan apa?” tanya Lastri pada Darto.
“Tidak ada, aku datang dengan tangan kosong,” jawab Darto.
“Kau memang tidak pernah berguna, selalu saja merepotkan kami. Untung kami sudah menyiapkan barang ini juga untukmu!” ujar Herman.
“Aku tidak butuh semua ini. Jika kalian mau, ambil saja lagi!” Darto mengeluarkan kembali jimat pemberian Lastri dari saku celananya. Ia mengembalikan jimat itu pada Lastri dan Herman.
“Jika kalian sudah selesai, lebih baik kita berangkat sekarang. Hari sudah semakin sore,” kata Darto sembari bangkit dari duduknya. Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Herman dan Lastri.
Herman dan Lastri juga segera menyusul Darto yang sudah pergi lebih dulu.
.
.
.
“Pa, ayo. Udah sore banget,” kata Radit. Kini, Radit dan kawan-kawannya sedang menunggu Papa Harun dan Mama Retno di depan rumah.
“Sebentar lagi, mama mu masih shalat,” kata Papa Harun sembari keluar dari rumah itu.
Jam sudah menujukan pukul 15:47 menit. Tepat waktu ashar.
Tak lama kemudian, Mama Retno keluar dari dalam rumah. Menghampiri Papa Harun, Radit dan teman-temannya.
“Ma, Sarah ikut mobil mama dan papa ya. Radit bareng Ibra, terus Farhan bareng Toni. Biar gak ke pisah-pisah,” kata Radit.
“Ingat, ya! Apapun yang di lakukan Cempaka nanti kepada Lastri, Darto dan Herman. Kita jangan ikut campur!” Papa Harun memperingati putranya dan juga teman-teman putranya itu.
“Apa gak sebaiknya. Kita lapor polisi aja, om. Biar bisa mencegah kemungkinan yang lebih buruk lagi!” ujar Ibra.
“Iya, pa,” kata Mama Retno.
“Nanti aja, kalau Lastri, Darto dan Herman benar-benar datang. Baru kita telpon polisi,” kata Papa Harun.
Akhirnya, mereka semua pergi menuju kampus garuda. Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu setengah jam lebih, mereka pun sampai di parkiran universitas garuda.
Mereka semua berjalan masuk ke dalam universitas itu. Dan menunggu di ujung lorong utara yang sangat sepi.
“Kita tunggu aja di sini, om,” kata Ibra. “Ibra sama Radit mau kesana bentar, ya!” Ibra pun menarik tangan Radit, agar menjauh dari lorong utara itu.
Setelah cukup jauh. “Kamu mau ngapain?” tanya Radit pada Ibra sembari menarik tangannya.
“Kalau setelah masalah ini selesai nanti. Jangan sesekali pun kamu jawab pertanyaan Cempaka. Anggap kamu gak dengar apa-apa!” Ujar Ibra.
“Emang kenapa?” tanya Radit.
“Setelah semua ini selesai, dia pasti akan meminta kamu ikut sama dia!”
Deg! Rasa takut Radit kembali menyerang. “A-a-aku harus gimana?” tanya Radit tergagap.
“Kamu terus berdoa, dan jangan pernah jawab pertanyaan atau kemauan dia,” kata Ibra.
Setelah mendengarkan perkataan Ibra. Radit pun kembali pada Papa dan Mamanya.
“Ada apa?” tanya Mama Retno.
“Gak ada apa-apa, ma,” kata Radit dengan wajah cemas nya.
“Gak akan terjadi apa-apa, Boy!” Papa Harun menepuk pundak putranya itu.
Swosssss....!
Angin bertiup ke arah mereka semua. “Dia datang!”
Mendengar perkataan Ibra. Sarah, Toni dan Farhan merapatkan tubuh mereka mendekat Mama Retno.
“Ma,” ucap Radit sembari menatap wajah Mamanya. “Kalau Radit mati disini, bagaimana?” tanya Radit.
“Jangan mikir kejauhan!” Mama Retno menarik tubuh Radit kedalam pelukannya. Radit memang telah dewasa, tetapi bagi Mama Retno dan Papa Harun, Radit tetaplah putra kecil mereka.
“Ishh.. Radit ka-ka-kayak na-na-nastar se-se-selai nanas. Ke-ke-keras di lu-lu-luar lembut di da-da-dalam!” ledek Farhan. Membuat Radit yang ada didalam pelukan Mamanya mendelik lebar.
“Ja-ja-jangan nge-nge-ngeledek!” balas Radit.
“Ba-ba-bangsat!” Farhan mendekati Radit yang di peluk mamanya itu. Lalu, mengajak Radit berkelahi.
“A-a-ayok ki-ki-kita adu ja-ja-jantan!” tantang Farhan.
“Gak mau, sama-sama jantan kok di adu,” kata Radit sembari melongos dan memalingkan muka.
“Huwaa! Radit gak liat apa-apa, ma. Radit gak liat,” ucap Radit sembari mengeratkan pelukannya pada Mama Retno. Pasalnya, saat ini Cempaka berada di belakang Mama Retno. Tepat di hadapan wajah Radit. Sosok itu tersenyum manis pada Radit.
“Aduh, Papa!” panggil Radit pada Papa Harun. Ia menjadi begitu takut, takut dengan semua perkataan Ibra.
Semua orang yang melihat Cempaka yang selalu mendekati Radit, hanya bisa diam. Termasuk Papa Harun dan Mama Retno, karena dari yang di katakan Ibra. Hanya Radit sendiri lah yang bisa membuat Cempaka menjauh darinya.
.
.
.
BERSAMBUNG!
terbongkar dech persembunyian x
walau telat sih 🥺
maaf bukannya sok tau hanya menyampaikan sja mungkin endingnya beda ya kn. saya harap seeprti itu