follow igku @zariya_zaya
Kasus pembullyan yang terjadi disebuah kampus ternama hingga ada salah satu korban bully mengalami koma, membuat Valexa ingin mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Valexa, si gadis tangguh adalah mahasiswi baru yang langsung dibully dihari pertama dia masuk universitas bergengsi karena penampilannya dianggap cupu dan kampungan.
Keteguhan Valexa menghadapi para pembully membuat Ravelo, sang pangeran kampus mengincar Valexa untuk dijadikan kekasihnya. Para kaum hawa idola Ravelo, langsung menyalakan api permusuhan pada Valexa karena dianggap merebut idola mereka. Namun, dibalik itu semua, ada sebuah rahasia yang dimiliki seorang Valexa dan hanya Ravelo saja yang mengetahuinya.
Apa rahasia itu? Dan apa tujuan Valexa datang ke kampus elit? Bisakah dia menghadapi para musuh-musuh yang membully dan mengincar nyawa Valexa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 32 Terungkap Sudah
Tak ada yang bisa dilakukan Shakila selain bersikap kooperatif daripada Ronan alias sang dosen betindak lebih nekat lagi dari ini. Bila ia berani datang seorang diri ke asrama wanita, maka hal gila lainnya pasti juga bisa Ronan lakukan. Sepertinya, Shakila sudah tidak bisa terus-terusan menghindari Ronan. Bagaimanapun juga, gadis itu harus meluruskan masalah ini dengan sang dosen agar ia bisa kuliah dengan tenang tanpa beban apapun.
Melihat Shakila sudah tak ada niatan untuk melarikan diri, Ronan sedikit lega dan mengajak gadis yang ia cinta itu bicara di tempat yang tak banyak dilihat orang agar Shakila nyaman dengannya. Ronan mengajak mahasiswinya pergi ke suatu tempat tepat di pinggir pantai yang lokasinya ada dipinggiran kota.
Pemandangan pantai di sini sangat indah karena tak banyak orang tahu destinasi wisata di sekitar sini sehingga keindahannya tetap terjaga. Mungkin sengaja tak dipublikasikan karena menghindari tangan-tangan jahil manusia yang tak betanggungjawab dapat merusak keindahan alam.
"Kenapa kau terus menghindariku? Jika kau tak menyukaiku, kau tinggal bilang saja, tak perlu menghindar. Apa kau tak takut kau bisa kehilangan beasiswamu jika kau terus bolos mata kuliahku?" Ronan mulai mencecar pertanyaan untuk Shakila. Keduanya sedang duduk berdua di dalam mobil jeep kanvas Ronan.
"Maaf, Sir. Saya hanya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Sejujurnya, saya tidak bisa menerima cinta anda, karena saya tahu ... anda sudah punya kekasih." Akhirnya Shakila mengutarakan isi hatinya.
"Aku tidak tahu darimana kau dapat kabar soal aku punya kekasih. Bagiku, kaulah kekasihku. Oke, aku memang dijodohkan dengan keluarga Yakuza bernama Maria. Keluargaku takut dengan mereka makanya setuju dengan perjodohan ini. Aku tak menyukai Maria karena ia kuanggap seperti adikku sendiri. Kaulah yang kucintai. Aku sedang memikirkan cara untuk memutus perjodohan ini, aku ingin Maria membenciku. Tapi aku belum menemukan cara bagaimana wanita bisa membenci pria yang dicintainya tanpa menimbulkan masalah apapun baik aku ataupun kau." Ronan mendekat ke arah Shakila yang langsung diam seribu bahasa mendengar penjelasan Ronan.
"Aku tahu hubungan kita tidak akan mudah, akan ada banyak badai yang menghantam cinta kita. Tapi aku tak bisa berjalan dan menghadang badai itu sendirian. Kau harus bersamaku, aku akan selalu melindungimu dan bahkan rela mati untukmu asal kau mau bergandengan tangan denganku seperti ini." Ronan menggengam kedua tangan Shakila lalu mencium lembut punggung kedua tangan itu. "Aku tak pernah merasakan perasaan bahagia seperti ini saat bersamamu. Akan kulakukan apa saja asal kita bisa bersama." Ronan menatap tajam mata Shakila yang sampai detik ini masih diam saja. "Jangan menghindar lagi, beri aku waktu untuk membatalkan perjodohanku dengan Maria. Kau mengerti?"
Sungguh Shakila tak tahu harus berkata apa, ia galau dan juga bingung. Ingin rasanya ia menerima cinta Ronan dan berjalan bersamanya menghadang semua badai yang menerjang hubungan mereka. Namun di sisi lain, Shakila ingin hidup tenang tanpa harus terganggu pada perjalanan cinta mereka yang penuh liku dan tikungan tajam. Ia tak yakin apakah sanggup melalui segala rintangan alang melintang anatara dirinya dan Ronan.
Hari itu, Shakila tak memberi jawaban apapun, ia juga tidak menolak cinta yang diberikan Ronan padanya. Mereka pergi berkencan dan jalan-jalan disekitar area pantai layakanya pasangan kekasih yang baru saja jadian. Shakila ikut senang saat melihat Ronan tertawa bersamanya.
Sayangnya takdir yang digariskan di detiap hidup seseorang tak bisa ditentang ataupun di ubah. Sekeras apapun usaha Ronan untuk memutus hubungan perjodohannya dengan Maria tak membuahkan hasil. Malahan, keluarga Maria mengetahui hubungan Ronan dan Shakila. Saat itulah, malam tragis antara Ronan dan Shakila dimulai.
"Aku ingat, kakakku memintaku datang kemari dan kuliah di sini. Ia bilang ingin melindungi seseorang dan ia butuh bantuanku," ujar Ravel menyela cerita teman kakaknya. "Bagitu aku datang, di kampus sedang ada study tour dadakan. Aku terpaksa ikut karena ini program kuliah wajib. Kakakku tidak bilang kalau hari itu, ia akan pergi dengan Shakila. Ia hanya bilang akan pergi ke London." Ravel mulai mengingat-ingat kejadian saat kakaknya terlihat sangat cemas, tapi tetap berusaha tersenyum padanya seolah tak terjadi apa-apa.
"Aku juga mendapat pesan kalau Shakila akan datang ke Inggris bersama seseorang dan aku sudah siap menjemput kedatangan mereka. Namun, hingga waktu yang ditentukan, mereka tak juga kunjung tiba. Seminggu lamanya aku bolak balik ke bandara, tapi nama Shakila tak pernah ada. Apa yang terjadi Mister?" tanya Valexa mulai berkaca-kaca. Baik Ravel dan Valexa saling pndang dan mereka berdua juga sudah curiga siapakah yang membuat kakak Ravel dan sahabat Valexa mengalami hal yang tak dapat dibayangkan.
"Jelas mereka takkan pernah tiba di sana, sebab malam itu ... Shakila di culik oleh orang-orang tak dikenal." Charlen mulai kembali ceritanya. "Sebenarnya, Ronan sudah mengambil tekad akan melarikan diri bersama Shakila sejauh mungkin dari tempat ini. Ronan bahkan sudah menyiapkan tiket pesawat, mereka berdua akan berangkat ke London dan memulai hidup baru di sana. Ronan benar-benar sudah menyiapkan segala hal yang mereka butuhkan termasuk izin tinggal dan semua sudah berjalan dengan lancar, tinggal menunggu keberangkatan mereka berdua.
"Namun, saat Shakila sedang menunggu Ronan di depan pintu asrama, Shakila diculik oleh beberapa orang dan dibawa ke suatu tempat tidak jauh dari kampus. Kala itu, aku tidak sengaja melihat kejadian itu melalui cctv yang sengaja kupasang diam-diam atas permintaan Ronan. Aku bergegas memberitahu Ronan untuk menyelamatkan Shakila. Sayangnya, Ronan tak cukup kuat melawan mereka. Para penjahat itu membantai Ronan dan Shakila dengan sangat kejam.
"Syukurlah kau dan yang lainnya segera pulang dari study tour, jika tidak ... entah apa yang terjadi pada mereka. Aku hendak datang menemuimu, tapi beberapa penjahat suruhan keluarga Maria berhasil menemukan lokasi persembunyianku. Aku bergegas mengamankan semua barang bukti kejahatan mereka dan melarikan diri. Sudah lama aku mencari waktu yang tepat untuk menyerahkan barang bukti tersebut padamu, Ravel. Tapi selalu saja gagal. Itulah kenapa orang-orang berpakaian ala ninja itu ingin sekali membunuhku kala itu. Untung saja kekasihmu menyelamatkanku tepat waktu." Charlen menyerahkan sebuah hardisk berisi rekaman cctv kejadian naas yang menimpa Shakila dan Ronan pada Ravel.
Kebetulan di dalam tas ransel Valexa ada notebook yang selalu ia bawa kemana-mana. Pasangan kekasih itupun bergegas membuka rekaman cctv untuk mengetahui kebenaran dibalik penyiksaan yang terjadi pada Ronan dan Shakila. Tak bisa dibayangkan betapa kejamnya mereka semua.
Ronan mendapat beberapa pukulan benda tajam dikepalanya, sedangkan Shakila mendapat beberapa luka tusukan disekujur tubuhnya hingga ia tak bisa bicara. Valexa bahkan sampai menutup wajahnya karena tak kuat melihat adegan mengerikan itu terjadi. Tangan Ravel mengepal kuat menyaksikan pembantaian itu.
Matanya bahkan sampai merah karena marah. Namun ada hal penting yang harus diampaikan Charlen untuk Ravel dan juga Valexa terlepas dari api kemarahan yang membara di hati Valexa dan juga Ravel.
"Sekarang, target Maria adalah dirimu, Ravel. Aku sempat menyaksikan Maria juga merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan kekasihmu. Kau ... harus berhati-hati mulai sekarang. Jangan sampai apa yang terjadi pada Ronan dan Shakila, terjadi pada kalian berdua." Charlen memperingatkan. Seketika Ravel berdiri dan mendekat ke arah Valexa.
BERSAMBUNG
***
mampuslah lo caittin