Resha kembali menikah untuk kedua kali, bersama seorang pria yang sudah di kenalnya sejak masih kuliah.
****
Mengapa Resha menikah 2 kali? ada apa dengan suaminya yang pertama? saksikan ceritanya
hanya disini.... ☺
HAPPY READING
🥀🥀🥀
Hai kakak2 semuanya 🙂
Ini karya baruku, mohon bimbingannya ya ☺️
Dibaca aja dulu jangan lupa like-nya...
Suka? klik favorit dong, kasih vote juga ☺️
Kalau ada yang salah mohon koreksinya ya 😉
Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rannty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB Ketigapuluh Dua
Hatiku terasa sakit saat melihat Rafa memeluk Viona, apa yang ku khawatirkan terjadi begitu cepat tanpa persiapan. Pasangan yang dulu terpisah karena jarak sekarang kembali bertemu, apa yang harus aku lakukan? mengapa hati ini terasa sesak? Ketika melihat Viona menceritakan kisah cintanya dengan Rafa, dia terlihat masih mencintai dan mengharapkan Rafa.
" Sha " panggil Rafa
" Resha " Rafa kembali memanggilku karena tak ada jawaban
Aku sibuk melamun, hingga tak menyadari bahwa Rafa sudah pulang dan tengah duduk disampingku. Aku bahkan tidak menghiraukan panggilan Rafa dan tetap berada dalam pikiranku sendiri.
" Resha " kali ini Rafa sedikit meninggikan volume suaranya dan membuatku tersentak
" Ya " kataku spontan karena kejutan Rafa
" Rafa, kamu sudah pulang? " sambungku
" Iya, sudah sejak tadi aku memanggil dan duduk di sampingmu, tapi kamu terus saja diam melamun. Ada apa Sha? Akhir-akhir ini kamu sering sekali melamun, sebenarnya apa yang kamu pikirkan? " tanya Rafa penasaran
" Tidak ada, Resha ke kamar dulu " pamitku dan berdiri hendak masuk kedalam kamar
" Tunggu Sha " cegah Rafa dengan memegang tanganku
" Apa kamu sedang memikirkan hubungan kita? " tanya Rafa kemudian
Aku hanya diam dan masih berdiri di posisiku. Apa yang harus aku katakan? Apa aku harus bertanya mengenai Viona kepada Rafa? Tapi hubungan kami tidak sedekat itu hingga aku harus meminta penjelasan dari Rafa.
" Mari kita coba Sha " ajak Rafa
Aku masih tetap diam, dan kini Rafa berdiri di depanku dengan memegang kedua pundakku.
" Aku sudah memikirkannya, aku akan tidur dalam satu kamar denganmu " lanjut Rafa
deg
" Apa? Rafa mengajakku tidur dalam satu kamar? bagaimana aku menghadapinya nanti? sampai sekarang bayangan saat Rafa dan Viona bertemu terus saja membayangiku. Tidak, aku tidak bisa "
" Sha " panggil Rafa
" Maaf Rafa, untuk saat ini aku belum siap " kataku lalu pergi meninggalkan Rafa
Aku masuk kedalam kamar dan segera mengunci pintu.
...----------------...
~ RAFA POV ~
" Tidak, aku tidak boleh menyerah hanya karena Resha menolak untuk tinggal dalam satu kamar denganku. Aku seharusnya tahu bahwa hal ini tidak mungkin untuk saat ini, Resha masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan menerimaku sebagai suaminya. Seharusnya aku tidak terburu-buru dalam hal ini dan kembali mempertimbangkannya "
Aku menyegarkan pikiranku dengan mandi. Aku harap Resha tidak bersikap cuek setelah kejadian ini.
Sudah lebih dari 30 menit setelah aku selesai mandi, namun Resha tak kunjung keluar dari kamarnya. Sekarang sudah hampir pukul 7 malam, aku sudah lapar dan tidak ada sedikitpun makanan.
****
" Apa yang kamu lakukan Rafa? " pertanyaan Resha membuatku kaget karena tengah sibuk memasak mie instan
" Aku sedang memasak mie instan, tunggu sebentar Sha " kataku masih menyibukkan diri
" Kenapa masak mie? " tanya Resha lagi
" Tidak apa, aku hanya sedang ingin memakannya " kataku lagi membawa mangkok berisi mie instan untuk Resha
" Ini Sha, punya kamu yang telornya matang " sambungku
Aku sengaja mematangkan telurnya, karena Resha tidak suka dengan telur setengah matang saat memasak mie. Dulu sekali saat aku dan Resha memasak mie instan, kami selalu mengocok dan mencampurnya menjadi satu dengan mie, karena hanya ada satu telur sedangkan aku dan Resha berbeda pendapat tentang tingkat kematangan dari telur itu sendiri.
Resha tidak menyukai telur setengah matang karena menurutnya itu tidak higienis dan tidak menyehatkan. Sedangkan aku sangat menyukainya, karena sensasi saat memakan telur yang meleleh dalam mulut, aroma sedikit amis bercampur dengan bumbu mie rasanya nikmat sekali.
Aku selalu menambahkan sayuran dan beberapa potong cabai dalam mie, membuat suatu kombinasi yang menarik, enak dan tentunya mengenyangkan.
" Ah pedas pedas " teriak Resha membuatku tersentak dari lamunan
" Ini minum dulu, minum dulu " kataku memberikan segelas air untuknya
" Kamu masih tetap sama ya Sha " kataku lagi
" Apa? " tanya Resha yang masih kepedasan
" Iya, padahal kamu sangat menyukai makanan pedas tapi selalu berteriak saat menemukan potongan cabai dalam mulut " sambungku sedikit tersenyum
" Kenapa? Memangnya aku harus berubah, lagipula kamu memotong cabe terlalu besar. Aku kan sudah bilang kalau kasih cabe dalam mie itu harus di potong kecil " protes Resha
" Hehmm, iya iya maaf ya Sha " balasku dengan sedikit tawa
" Rafa, kamu itu ya "
" Apa Resha? Kenapa? " godaku
" Kamu selalu saja mengejekku saat seperti ini, lain kali aku tidak mau makan mie instan buatan kamu lagi " Resha mulai kesal
" Kamu selalu mengatakan hal itu dari dulu, tapi nyatanya kamu selalu memakan mie yang aku buatkan bukan? " kini aku tertawa lepas saat mengingat kejadian itu
Entah berapa kali aku membuatnya seperti itu, dan Resha selalu mengatakan tidak akan memakan mie instan yang aku masak. Namun kenyataannya dia tetap saja memakan mie tersebut dan kembali merasakan hal ini.
" Rafaaaa, awas kamu ya " teriak Resha dan berdiri menghampiriku
Aku bangkit dari duduk dan berjalan pergi menghindari amarah Resha, dia mempercepat langkahnya hingga membuatku berlari mengelilingi ruang tamu dan dapur.
" Ha stop stop stop, aku menyerah " aku menghentikan lariku dan berbalik menghadap Resha, namun dia tidak bisa mengontrol langkah kakinya dan berakhir menabrakku hingga terjatuh diatas sofa
" Aduh, kamu kalau mau..... " Resha menghentikan protesnya saat pandangan kami bertemu
Aku memperhatikan wajah Resha dari dekat, lalu turun ke hidung dan bibir. Aku bisa melihat bibirnya yang masih terlihat merah karena ulah cabai tadi. Aku tertegun hingga menelan ludah saat melihat bibir Resha yang cukup merah meskipun bukan karena lipstik membuatku ingin mengecupnya.
deg deg deg
Suara detak jantung semakin cepat, Resha masih berada dalam pelukanku dan pandangan kami masih tetap saling memandang satu sama lain.
drrrrtt drrrrttt
Lagi lagi suara getar handphone memisahkan kami. Ia terus saja bergetar tanpa mengenal lelah, membuatku ingin segera mencabut baterainya andai itu bukan milik Resha.
Resha segera bangkit dan mengangkat telfon.
" Halo, ya ada apa? " jawab Resha pada si pengganggu di seberang sana
" Besok? iya bisa, aku akan ke tempat kamu kalau begitu "
" Oke, sampai jumpa besok " sambung Resha lalu menutup panggilan telfonnya
" Ada apa Sha? " tanyaku sedikit kesal namun penasaran
" Itu teman yang aku temui tadi pagi " balas Resha
" Dia minta ketemu lagi besok? " tanyaku lagi
" Iya, dia mau ketemu Ayah dan Ibu, dan mengajakku pergi bersama " balas Resha lagi
" Cewek apa cowok? " tanyaku mulai kesal karena mereka akan pergi menemui orang tua Resha seperti akan melamar saja
" Cewek, dia teman SMP aku dulu, dia juga tetangga kami sejak kecil. Boleh aku pergi? " lanjut Resha
" Oh begitu, ya baiklah kamu hati-hati dan titip salam buat mereka. Maaf karena tidak bisa menemanimu pergi kesana " kataku mengizinkan Resha pergi
" Tidak apa-apa, kami hanya ingin mengenang masa kecil dulu karena sudah bertahun-tahun lamanya setelah dia pergi " jelas Resha
" Ya baiklah, aku masuk kamar dulu " pamitku
****
*****
****
Come back 🙂
Mohon maaf atas keterlambatan update-nya
Terima kasih, selamat membaca 🙂
dapet salam nih dari Cinta Rumit Azizah...
Semangat doang cerita nya bagus aku lanjut baca dulu yah
Semangat selalu..!
Salam dari~Anak sekolah yang tak mampu
Feedbacknya jangan lupa ya 😉
Terima Kasih 💖