"Kenapa hidupku harus semenyedihkan ini? Aku bukan hanya kehilangan suamiku, tapi aku juga harus memupus harapanku untuk menjadi seorang ibu karena aku mandul. Apa aku tidak pantas bahagia?"
Maharani adalah seorang wanita yang menjadi istri dari seorang pria yang bernama Rendy Wijaya. Awal pernikahan mereka terjalin dengan begitu bahagia dan penuh keromantisan. Namun, setelah 5 tahun menikah dan selama itu juga mereka masih belum juga dikaruniai seorang pun anak, perlahan sikap Rendy mulai berangsur berubah hingga akhirnya ia menghadirkan Celine dalam pernikahan mereka dan mengakibat pernikahannya harus berujung dengan perceraian.
Bagaimana kisah Maharani dalam menjalani kehidupan keduanya dan menyembuhkan luka di hatinya atas pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya? Apakah Maharani akan memperoleh kebahagiaan yang begitu diimpikan? Lantas bagaimana dengan kemandulannya, akankah ada mukjizat yang Tuhan akan berikan untuknya atau selamanya harapan untuk dapat menggend
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Dion
Selamat membaca!
Setelah melewati perjalanan selama tiga puluh menit lamanya, mobil yang dikendarai oleh Dion pun telah terparkir rapi di area parkiran rumah sakit. Setelah selesai memarkirkan kendaraannya, Dion pun bergegas keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Maharani, ia tahu betul bahwa wanita itu kini tak memiliki banyak tenaga setelah mendapat kabar soal Vania. Dion mempersilakan Maharani untuk keluar dari mobilnya, lalu ia melangkah di samping Dini untuk dapat membisikkan sesuatu.
"Mah, tolong banget Mama temani Maharani terus ya! Dion takut kondisinya drop dan tiba-tiba saja pingsan. Kalau aku yang menemani pasti Maharani menolak, Mama tahu itu 'kan?" pinta Dion dengan berbisik di depan telinga ibunya.
Dini menatap penuh selidik wajah putranya yang saat ini tengah memperhatikan Maharani, padahal tanpa Dion memintanya ia pasti akan melakukannya semua itu.
"Kenapa aku merasa Dion jadi perhatian sekali dengan Maharani ya? Tapi apa hanya perasaanku saja ya?" batin Vania bertanya-tanya sambil melihat wajah putranya itu sesekali yang kedapatan sedang memperhatikan Maharani dengan sorot matanya yang teduh.
Sadar bahwa saat ini Maharani sedang membutuhkannya, Dini pun menghampiri wanita itu dan mulai melingkarkan tangannya pada punggung wanita itu untuk menguatkan Maharani yang terlihat lemah dengan raut sendu di wajahnya.
Kedua kaki Maharani terasa berat untuk melangkah. Namun, ia tetap memaksakan diri agar kuat demi melihat kondisi ibunya. Setelah Dion bertanya pada bagian resepsionis, pria itu mengajak Maharani dan Dini menunggu di depan ruang IGD.
"Mah, Suster bilang Dokter di dalam masih melakukan tindakan pada Tante Vania. Kita tunggu di sini sampai Dokter keluar ya." Pria itu mempersilakan kedua wanita yang mengekor di belakangnya untuk duduk terlebih dahulu, sampai menunggu kabar terkini dari hasil pemeriksaan Dokter.
"Sayang, kita duduk dulu yuk!" Maharani tak memberikan penolakan, ia segera duduk di samping Dini yang kembali merangkulnya. Sekuat apapun ia menahan diri agar tidak menangis, tapi tetap saja air mata tak berhenti menetes dari kedua matanya yang selalu berkabut sejak pertama kali mendapatkan kabar tentang Vania yang mengalami kecelakaan.
Setelah cukup lama menunggu, perasaan Maharani semakin tak enak. Kegelisahan tak beranjak pergi dalam pikirannya. "Ya Allah, bagaimana kondisi Mama saat ini? Kenapa sudah selama ini tapi Dokter tidak juga keluar dari ruang IGD untuk memberikan kabar pada aku yang sudah menunggu di sini?"
Dion yang duduk di sebelah Dini mencoba menoleh ke arah Maharani. "Hei, kamu butuh sesuatu enggak? Makan atau minum, biar saya beliin," tanya pria itu mencoba menawarkan.
Maharani menoleh ke arah Dion dan membalas tatapannya dengan mata yang sendu. "Sekarang yang paling saya butuhkan adalah doa untuk Mama Vania. Saya tidak butuh yang lainnya, saya hanya ingin Mama selamat dan Dokter segera menyampaikan kabar baik pada kita semua yang sudah menunggu di sini."
Dion tertegun mendengar jawaban Maharani yang membuat hatinya terenyuh. "Kamu harus yakin dan percaya ya, bahwa Mama kamu pasti selamat, Maharani. Saya pamit untuk izin salat dulu, permisi."
Maharani mengangguk penuh keyakinan. "Terima kasih, Dokter Dion."
Dion tersenyum manis mendengar Maharani mau menyebut namanya. Kemudian ia beranjak pergi dari posisinya untuk menuju sebuah musholla yang berada di lantai dasar rumah sakit. Ia akan bersungguh-sungguh memohon dan memanjatkan doa untuk keselamatan Vania yang saat ini masih berada dalam penanganan Dokter.
Kepergian Dion yang tak luput dari pandangan Dini membuat wanita itu bertanya-tanya dalam hati. "Aku tidak salah lagi, memang Dion sangat perhatian kepada Maharani. Padahal mereka baru pertama kali bertemu di tempat klinik Dion bertugas karena kebetulan."
Ya, Dion sudah menceritakan pada Dini akan insiden yang terjadi di klinik saat dirinya menemukan Maharani tak sadarkan diri setelah keluar dari salah satu ruangan dan tengah menyusuri lorong klinik yang lengang.
Pikiran Dini kembali traveling dan coba mengartikan perhatian demi perhatian yang Dion berikan, mulai dari membukakan pintu mobil untuk Maharani sampai perhatian-perhatian lainnya yang membuatnya dapat menyimpulkan sesuatu.
"Apa jangan-jangan karena pertemuannya bersama Maharani itu, Dion mulai suka sama putri sahabatku? Ya Allah, apa dugaanku ini benar adanya? Kalau benar begitu apa perpisahan Maharani dengan suaminya akan membuat Maharani berjodoh dengan Dion di kemudian hari?" batin Dini yang sangat senang bila pikirannya itu benar-benar menjadi kenyataan.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian ya.
Jangan lupa jika suka dengan novel ini berikan gift sebanyak-banyaknya.
Terima kasih ya sahabat semua.
Follow Instagram : ekapradita_87
makasih ya Thor ceritanya bagus 👍