Suatu kehormatan, seorang gadis muda belia memilih menikah dengan seorang dokter duda tua, daripada menjual harga diri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan sore ala pengantin baru
Sore harinya mereka pergi kesuatu tempat, mencari angin segar disore hari.
Ilham sengaja mengajak Sifa keluar untuk dinner bersama, mumpung dirinya masih cuti
Sore ini Ilham mengajak Sifa pergi kepantai yang berada diancol jakarta
Mereka berjalan menyusuri bibir pantai sambil menunggu keindahan sunset
"Sayang, apakah sayang capek?"
"Sedikit"
"Ya sudah, kita kesana saja yuk "Tunjuknya pada sebuah restoran yang berada didermaga cinta beach pool pantai indah yang berada diancol
Le Bridge, itulah nama restoran yang menjadi tempat yang sempurna untuk quality time bersama pasangan.
Disamping itu, mereka bisa menyaksikan keindahan sunset dan dilengkapi dengan deburan ombak laut yang menenangkan
Mereka sudah duduk disebuah kursi direstoran, sambil santai menikmati indahnya hamparan laut lepas
"Sayang, sayang mau pesan apa?"
Setelah tadi pelayan resto datang membawakan buku menu
Sifa sibuk membolak balikkan buku menu tersebut
"Steik, omelet sayur, sama salad" Pesanan Sifa
"Hanya itu?"
"Iya , itu sudah banyak"
"Tidak ingin mencoba ikan salmon panggang?
"Sifa takut duitnya kurang?"
"Apa?? kalau untuk makan satu restoran ini, papa masih sanggup bayar. Asal jangan sama waiternya dan bosnya "
"Dah itu aja nggak apa apa" Sifa sudah sibuk memandangi warna langit, yang sudah berubah menjadi warna jingga
Ilham berbisik sama pelayan restoran
" Mbak, kami pesan steik, omelet sayur , salad, salmon bakar dan menu andalan sini apa ya mbak?"
Pelayan sudah menulis apa yang Ilham pesan
"Menu andalan disini, burger le bridge pak"
"Kalau begitu, saya pesan burger le bridge juga ya mbak, masing masing dua"
"Siap, lalu minumnya pak?"
"Sayang, minumnya apa?" Ilham memegang punggung Sifa
"Sifa, jus alpukat saja "
"Ok, jus alpukatnya dua mbak"
"Siap, saya sebutkan sekali lagi ya pak? Bla bla bla bla" Pelayan resto
Setelah berurusan dengan pelayan selesai, Ilham memperhatikan Sifa yang sedang memandangi keindahan sunset, sekaligus memperhatikan apa yang Sifa perhatikan
"Wah pah, sunsetnya dipoto pah ?" Ucap siwanita
"Baik, baik, kita poto bareng sayang"
Mereka akhirnya berswafoto, berbagai gaya, dan terlihat begitu mesra
Setelah berpoto, pasangan tadi berjalan menjauhi tempat duduk pasangan beda generasi ini
Tidak sengaja, setelah pasangan tadi membuat perhatian Sifa. Kini ada pasangan lain, yang membuat Sifa terus memperhatikannya dengan seksama
"Hubby, liatin tuh" Tunjuk siwanita pada sunset "Dibikin video aja buat vlog"
Suaminya sibuk telpon dengan seseorang
"Hubbyyyy, mana hapeku " Siwanita itu merebut hapenya
Ternyata Ilham dari tadi terus memperhatikan Sifa yang diam, tanpa meminta poto, tanpa memfoto
Maksud Ilham, biasanya, meskipun berjalan dengan pasangan, mereka tetap sibuk sendiri, jika ada sesuatu yang indah ketangkap oleh netra mereka, dan langsung mengambil gambar begitu saja dengan ponselnya, tanpa risih dengan pasangannya
Tapi lain sekali dengan Sifa, ia hanya diam memperhatikan orang sekitar yang jalan melintas pada tempat duduknya
"Apa Sayang tidak memiliki ponsel ya? astaga, nomer hape istrinya saja nggak tau, kebangetan kebangetan , Ilham, Ilham" Ilham tepuk jidat
Tangan Ilham menjulur, memegang pundak Sifa
"Sayang, sambil menunggu pesanan kita datang, kita poto yuk? mau?"
"Itu aja pak dipoto, bagus. Sifa tak pernah melihat pemandangan seindah itu" Tunjuknya pada sunset yang hampir tenggelam diujung barat
"Ayo, sayang duduk disana, papa poto yuk"
Sifa malu malu tapi tak berani minta
"Ayuk, kita poto bersama mau?" Ilham lagi
"Mau?"
Setelah sampai dipagar pinggiran "Ponsel sayang ada?"
Sifa geleng geleng "Kalau buat poto gambarnya hitam, gelap, nggak cerah, itupun Sifa lupa, kemarin ada dimana?"
"Maksudnya, hapenya sayang hilang?"
"Nggak tau, lupa taruhnya"
"Ohh, ya sudah, kita foto bareng mau?"
Ilham tau, dirinya tidak pantas berpoto dengan istrinya. Ilham juga sadar, dirinya terlalu tua untuk Sifa. Makanya takut Sifa malu, lebih baik perasaan sakit, ia singkirkan terlebih dahulu jika Sifa menolaknya untuk poto bersama.
"Mau"
"Baiklah, apa sayang tidak malu? poto dengan papa yang terlalu tua ini?"
Sifa menggandeng Ilham dan bergelayut manja pada lengan suami tuanya
"Tidak, untuk apa malu"
"Papa seperti pedofil, penyuka anak kecil"
"Tidak apa apa, kenyataannya iya" Jawaban Sifa sedikit mencubit hati Ilham
"Sifa juga sama, sukanya sama orang tua seperti bapak. Buktinya, Sifa nyaman berada disisi bapak. Dan, bapak tidak merasa pernikahan kita paksaan kan pak?"
Ilham manggut manggut tersenyum, lalu tangannya mengusap kepala Sifa dan Ilham mulai sibuk membidik sunset yang sangat indah
"Hubby..."
Ilham kaget, dan langsung menghentikan acara memotret pemandangan alam yang indah tersebut.
Sifa mendongak, Ilhampun menunduk agar mereka bisa memperhatikan orang yang diajak bicara
"Iya sayang, tadi sayang panggil papa apa?"
Ilham mulai deg degan takut pendengarannya kongslet
Sifa tersenyum
"Hubby, boleh Sifa panggil bapak hubby?"
"Tentu saja sayang, papa siap dengan panggilan sayang. Mau hubby, papa, tidak masalah, asal panggilan bapak dipensiunkan ya? hubbymu sedikit gimana, seperti panggilan pada ayahnya. Papa sedikit bingung kalau mau menggauli istri kecil papa. Ini anak papa, apa istri papa?" Ilham tersenyum, Sifapun membalas senyuman Ilham.
"Ayo dong, sunsetnya dipoto lagi pah" Sifa sengaja merubah panggilan, karena sepertinya, suami tuanya ingin dipanggil papa daripada yang lain.
Ilham tambah berbunga ketika sebutan papa disebutkan lagi oleh seseorang yang sudah berhasil masuk kedalam hatinya
"Iya, tentu saja sayang"
Ilham melanjutkan acara memotret
"Sekarang, sayang papa foto ya?"
"Kalau foto sama papa, Sifa mau, kalau difoto sendiri, Sifa nggak mau"
"Baik, baik, kita selfi"
Akhirnya mereka selfi, sampai lupa daratan.
Teklok teklok teklok
Suara sepatu palayan resto datang menghampiri
"Maaf pak, pesanan anda sudah siap" Tunjuk pelayan resto pada meja nomor 11 yang tadi mereka duduki disana
"Eh iya mbak, kami segera kesana"
Ilham membenahi hijab Sifa yang sedikit merot merot (Acak acakan) karena terkena angin sore dipantai ini
"Ayo sayang, kita kesana" Tunjuk Ilham
Ilham menarik kursi untuk Sifa duduki, setelah itu, baru kursi untuk dirinya ia tarik agar bisa duduk dengan sempurna
"Waah banyak banget pesenannya pah? kalau tidak habis, apa nggak mubazir? memang papa kuat, ngehabisin makanan semua ini?"
"Tenang saja sayang, papa laperkan dari tadi siang, kita melupakan makan siangkan? tenaga papa sekarang juga banyak yang terkuras, ayo makan, biar stamina kita terjaga, jangan sampai loyo"
Ilham sekarang sudah banyak bicara, tidak seperti kemarin waktu status dudanya belum kehapus. Sekarang remnya sedikit dol, gara gara tiap hari disuguhi lalapan daun muda didepannya.
Setelah melakukan dinner bersama, mereka akhirnya cabut dari dermaga tersebut
Akhirnya, mereka berdua menaiki mobil tanpa sopir. Ilham memang lebih suka menyetir sendiri, daripada diantar pak Dar. Apalagi, kemana mana sudah ada pasangan. Mending berpasangan dengan wanita cantik bukan? ketimbang berpasangan dengan pak Dar. BAHAYA
***BERSAMBUNG......
Tuh, Sifa sudah mengganti panggilannya
Semoga readers suka ya...
Cium sayang Ilham emmmuuuuaaahh***
kangen sama cerita lama...
kangen pengen baca lagi...
sakjane ki aku kangen karro karrya mu thor...😩
gak buat karya lagi kah🤔
kata *samoza* jadi kelingan sama novel ini🙈
klw suami di dunia nyata kayak bgtu.. ummmm senangx