Kisah seorang anak yg tak kenal orang tua..mencoba bertahan dari keras nya hidup dalam dunia persilatan...di asuh oleh 3 orang gembong iblis, mencoba bertahan hidup..untuk mebalas dendam..terhadap orang2 yg tlah mencelakai orang2 yg di cintai nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jack mad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch : 31 Tamu tak di undang
Sementara itu anak buah Thai Sin setelah melihat
Setan rubah melarikan diri sambil teriak teriak
seperti orang gila, mereka pun ikut lari terbirit birit.
Suasana di tempat rombongan hakim Li sangat hening, semua diam tak ada yang bicara, mereka masih seperti orang kebingungan dan terbayang bayang kejadian yang membuat hati mereka bergidig.
Senja mulai naik, malam perlahan mulai datang.
Ada yang melihat capingku? tanya Shin Mo,
untuk memecah keheningan.
Mendengar perkataan Shin Mo baru mereka tersadar.
Ada yang memeriksa temannya, ada yang lari ke arah kereta kuda, banyak pula mereka yang mondar mandir sambil matanya melihat kebawah, mencari caping Shin Mo
Tiba tiba terdengar suara lembut di dekat Shin Mo.
Shin gege, ini caping mu! ucap Wan ji sambil mengulurkan tangan, memberi caping kepada Shin Mo.
Terima kasih Wan ji! Jawab Shin Mo sambil tersenyum.
Wajah Wan Ji tampak merah melihat Shin Mo tersenyum, Wan ji hanya bisa tertunduk malu, sambil memainkan ujung bajunya dengan kedua jari tangan, gadis itu tak mampu untuk bicara.
Terdengar suara langkah kaki menghampiri, kemudian suara berat dari hakim Li terdengar.
Sambil membungkuk kan badannya, ia berkata
Ingkong ( tuan penolong ) Aku Li Bao, ia tak
menyebut namanya dengan embel embel pembesar atau hakim, di depan Shin Mo. Li Bao
mengucapkan beribu terima kasih karena telah menyelamat kan kami semua, kalau tak ada
ingkong, mungkin saat ininhanya mayat mayat
kami saja yang berada di sini." ucap Li Bao sambil tetap memberi hormat.
Mendengat perkataan hakim Li, Shin Mo berkata.
"Aku yang harusnya berterima kasih kepada
pembesar Li karna mau menampung dan memberi makan orang buta seperti aku."
Perkataan Ingkong membuat hamba malu,"
jawab hakim Li.
"Jangan panggil aku dengan sebutan Ingkong
hakim Li! Aku jadi malu, panggil saja nama ku
Shin Mo." Shin Mo berkata sambil tersenyum
Selanjutnya apa yang perlu hamba bantu,
bila mampu, hamba akan melaksanakannya.
berkata hakim Li.
Tampak kerut di wajah Shin Mo mendengar
perkataan hakim Li, seperti sedang berpikir
Boleh kah aku minta sesuatu pada hakim Li? tanya Shin Mo agak malu malu.
"Apa yang Shin Mo butuh kan, katakan saja!"
"Bila hakim Li mempunyai arak berlebih, apa boleh
saya minta? Tanya Shin Mo sambil tertunduk malu.
Ha ha ha
Hakim Li tertawa keras mendengar permintaan Shin Mo yang cuma arak, tadi hakim Li sempat berpikir, Shin Mo akan meminta uang atau jabatan.
"Paman Ouw! Teriak hakim Li, bergegas seorang pria gemuk, polos dan agak tolool datang menghampiri
"Hamba tuan!jawab paman Ouw.
"Tolong kau ambil arak terbaik yang kita bawa, dan berikan kepada Shin Mo."
"Arak! ucap si gendut, tampak lirikan paman Ouw kepada Shin Mo agak sedikit aneh.
Baik tuan! Paman Ouw lalu bergegas lari ke arah
kereta perbekalan untuk mencari arak.
Hakim Li kemudian berkata kepada cucunya.
"Wan ji, ayo kita melihat keadaan pendekar Yo!
dan biarkan Shin Mo istirahat, tolong beri tau
pada paman Ouw, sediakan makanan buat Shin Mo sekalian suruh bawa,
Wan ji tersenyum manis pada kakeknya, "baik kek," ucap Wan ji.
"Shin Mo! kami akan melihat keadaan pendekar Yo terlebih dahulu, sambil membungkukkan badannya, hakim Li dan Wan ji lalu pergi meninggalkan Shin Mo.
***
Malam itu Shin Mo duduk di depan api unggun
sambil menikmati arak pemberian dari hakim Li.
Tak lama kemudian ia merasa ada langkah kaki menghampiri, ternyata paman Ouw dan Wan ji.
Wan ji sebenarnya mau menemui Shin Mo
seorang diri, tetapi dia malu karna hari sudah malam makanya mengajak paman Ouw.
"Hai buta, ternyata kau hebat juga ya," ucap paman ouw dengan wajah polos, Shin Mo melengak mendengar perkataan paman Ouw, hati nya panas selalu di panggil buta.
Tetapi setelah di pikir kembali, paman Ouw orang polos dan dunguu, biarlah Shin Mo berkata dalam hati.
"Hebat apanya? jawab Shin Mo.
"Pertama aku tanya waktu siang tadi, kau mau cari jalan ke kampung saja susah, tapi kok bertempur jadi hebat ya? mendengar perkataan paman Ouw
di hati Shin Mo perasaan bercampur aduk, ya kesal, ingin tertawa, mangkel serta gondok.
"Paman Ouw! Apa seh yang kau bicarakan?
bikin aku kesal saja," berkata Wan ji.
Wan ji sejak paman Ouw, si kusir dungu
memanggil Shin Mo dengan sebutan buta, entah kenapa perasaannya sakit, ia tak terima.
Wan ji lantas membentak paman Ouw.
"Pergi sana...Pergi...Pergi! kata Wan ji.
"Kenapa nona jadi marah? tanya paman Ouw sambil melangkah pergi.
Sebelum Wan ji kerkata lebih lanjut.
Terdengar tawa tergelak dari sebuah pohon.
Ha Ha Ha.
Aku suka sama omongan kusir gendut itu,
kenapa di usir? tanya orang yang tertawa.
Shin Mo dan Wan ji terkejut mendengar suara dari arah sebuah pohon besar, yang tak begitu jauh dari tempat mereka.
Di ranting pohon besar itu duduk 2 orang kakek.
1 orang bertubuh kurus berjenggot panjang
sampai dada dan yang satu lagi kakek tua yang perkaian seperti pengemis, karna di pakaiannya bayak tambalan.
Tetapi yang membuat Wan ji lebih terkejut,
setelah memperhatikan ranting tempat duduk kakek yang ongkang ongkang kaki sambil minum arak.
Ranting itu hanya sebesar jari kelingking anak
kecil, tetapi tidak melengkung
Tanda kedua kakek, mempunyai tenaga dalam yang tinggi.