NovelToon NovelToon
Legenda Dewa Kesetaraan Vs Dewa Roh

Legenda Dewa Kesetaraan Vs Dewa Roh

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Barat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.4
Nama Author: MURADIF

*Jilid Satu (Tujuh Bidadari): TAMAT.
[Episode O-58].
*Jilid Dua (Nyanyian Kematian): TAMAT. [59-98].
*Jilid Tiga (Deklarasi Perang Dewa-Dewi): TAMAT. [Episode 99-143].
*Jilid Empat (Dewa Kesetaraan Vs Dewa-Dewi): Berlangsung. [Episode 144-183].

SINOPSIS: Sebagai perwujudan Dewa Kesetaraan yang ketiga belas, 'jiwa tak bernama' telah diwajibkan untuk mempublikasikan rahasia bangsa Barat. Namun ditengah perjuangannya demi membuat warga percaya perihal kebobrokan perang dunia jin ke-18 ini. Dewa Roh nyatanya telah berwujud dan mengemban pula mandat dari Langit, untuk membawa pula roh umat Manusia serta umat Jin, guna membentuk kembali galaksi Dewadewi. Hingga membuat dua Dewa itu kembali saling berperang demi menghentikan kewajiban satu sama lain.

[Sub genre: Dark Fantasy, Psychology, Political, Crime, Martial Arts, Dark Romance.]

⚠Perbuatan dalam novel tidak untuk ditiru.
⚠Novel hanya fiksi semata.
⚠Novel hanya hiburan semata.


*NOVEL INI HANYA ADA DI PLATFORM NOVELTOON/MANGATOON. BILA TERDAPAT DI PLATFORM LAIN SEGERA HUBUNGI AUTHOR.*


✅Untuk mendukung /mengapresiasi /menghargai karya Author, cukup berikan, like, vote(poin/koin) atau favorit. Terima kasih, semoga terhibur dengan kisah kami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MURADIF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29: Berbagi Rasa Sakit. (Part 1.)

Putri Walikota Yuyu bernama Nana. Mereka telah menetap 500 tahun di alam ras Syin. Bukan hanya info tersebut yang didapat. Lokasi tabik Selkar pun diketahui, walau tak begitu pasti lokasinya, namun menurut keterangan Dewa Kesetaraan hutan Kirentia memang berada di hutan Timur benua netral ras Syin.

Info memang mengenai lokasi tabik Selkar, pasalnya, Selkar adalah figur terakhir yang mengetahui posisi Rusa Kemurnian.

Sesudah melintasi bermacam lereng perbukitan hingga segala macam lanskap alam. Dilengkapi tujuh hari berlalu. Siang harinya, Nerta dan rombongannya tiba di depan hutan Timur. Sejenak mata mereka mengobservasi segala yang eksis di hadapan mereka.

Mulai dari aroma dedaunan kering, lalu pohon-pohon besar setinggi 70 meter, sampai sisi gelap yang luput dari sorot mentari dan membentuk impresi misterius.

Mereka mulai masuk ke dalam hutan secara hati-hati, terbang di antara pepohonan rindang. Menembus udara yang kadang mentransfer aroma pering, atau kadang tanpa beraroma.

Momentum dalam pencarian itu disertai gemerisik dedaunan dan kesepiannya hutan. Dikarenakan Nerta yang memandu perjalanan sehingga yang lainnya terbang agak di belakang Nerta.

Lokasi terakhir keberadaan Selkar cukup jauh dari posisi Nerta sekarang. Sekitar 30 hari purnawaktu dibutuhkan tanpa tidur demi mencapai lokasi.

Mereka mau tidak mau mesti berbagi pil Tenaga untuk menjaga perut mereka dari jerat kelaparan dan diwajibkan tidak tidur.

Semua tak keberatan mengenai itu, kecuali Nana yang rewel malah ingin pulang. Dengan perangainya bak seorang bocah cilik yang tak diberi uang jajan, di hari ketiga Nana marah-marah. Di hari kelima Nana memukul kepalanya sendiri. Di hari keenam Nana menangis tanpa henti. Di hari ke delapan Nana hendak kabur. Dan di beberapa hari lainnya yang telah terlewati, Nana kerap kali meronta ingin pulang.

Di hari ke 25 kerewelan Nana semakin menjadi. Dia memukul-mukul ibunya sendiri lantaran tak betah.

“Aku maunya pulang!” Nana menjerit dan merengek. “Aku mau pulang!”

Terpaksa siang itu Nerta serta lainnya berusaha menenangkan Nana. Mereka mendarat di rerumputan nuansa hijau dengan bersikeras membuat Nana patuh pada ibunya.

Perlu digaris bawahi, tanpa seizin Dewi Intelegensi tak ada yang berhak membawa Rusa Kemurnian keluar dari hutan, bukan itu saja, air mata sang Rusa Kemurnian akan menguap selepas lima detik di ruang terbuka.

Oleh karenanya, Nerta perlu membawa Nana agar mudah diobati.

“AKU TAK MAU PERGI! AKU TAK MAU PERGI!” Nana meronta dan menangis dengan menjambak rambutnya, menolak segala ajakan serta iming-iming kesembuhan.

“Tenang Nak, di sini ada ibu.” Walikota Yuyu berusaha meluluhkan hati putrinya. Memegang bahu sang putri dengan kasihan dan penuh pengharapan. Begitu erat. “Bersabarlah, kita nanti akan pulang.”

Sayangnya Nana semakin keras berteriak dan semakin memberontak. “AKUUU MAUNYAAAA PULAAAANG!”

Pelukan dari sang ibu dilakukan, tangan sang ibu mengelus-elus penuh iba belakang kepala putrinya, berharap keresahan anaknya mereda. Tapi meski demikian, rengekan dari Nana tetap bergema. Menangis bagai anak kecil yang habis-habisan telah dimarahi orang tuanya.

Nerta serta Inky hanya sanggup terpaku, tanpa berbuat banyak. Membiarkan sang waktu bekerja dan menanti usaha sang ibu mempersembahkan hasil baik. Bantuan kecil Nerta hanya sebatas tersenyum dan berkata, 'tenang, kamu punya teman'.

Sedangkan Inky hanya menguatkan bujuk rayu sang ibu dengan mengiya-iyakan.

Sampai bentang malam kembali bergulir, menyingkirkan cahaya baskara, menyulihnya dengan benderangnya bulan purnama. Saat seperti ini sangat krusial. Apalagi dalam situasi perang dunia.

Prasangka Nerta serta Inky nyatanya benar, telah datang satu koloni ras Siluman yang mencari mangsa. Kira-kira 50 sosok ras Siluman dari bermacam wujud dan klan yang secara sengaja hadir mencari sumber teriakan sesosok wanita; Nana. Mereka sudah dua hari mengikuti Nerta dan lain-lain.

“Kalian telah memasuki wilayah kami tanpa izin!” Sesosok siluman laki-laki berwujud setengah manusia setengah ular mengingatkan secara lantang. “Oleh sebab itu, kalian wajib membayar dua jantung ras Manusia sebagai denda.”

Tanpa takut, dengan kalemnya Nerta maju melangkah. Lantas bernamaskara dan menunduk hormat secara santun.

“Mohon maaf, bung ... mohon maaf kami telah lancang.” Nerta tak lupa bersikap sopan, lalu kembali tegap menatap teduh wajah elok sang siluman ular, yang terduga pemimpin koloni tersebut. “Tapi kami tak memiliki jantung ras Manusia. Kami hanya berniat hendak lewat.”

“Omong kosong!” sahut siluman setengah manusia setengah kadal. Tak terima.

“Jangan bodoh kau!”

“Ini wilayah kami! Seyogianya kau tahu adat!”

Beberapa siluman malah tersulut emosi, membuat suasana yang tadinya tenang, seketika mulai meninggi tensinya. Terlebih, beberapa siluman agak memprovokasi keadaan.

“Ganti saja dengan wanita itu!”

“Iya!”

“Ganti dengan nyawa wanita manis itu!”

Nana yang telah tenang, kembali resah dan ketakutan. Dia menangis dengan berlindung di belakang sayap ibunya. Seluruh siluman ini telah mengepung Nerta dan lainnya. Lebih-lebih, setiap wilayah netral memang kadang diklaim sebagai wilayah beberapa koloni siluman.

“Bagaimana kalau aku ganti oleh jiwa kalian semua!” Inky mengancam dan siap untuk mencabut nyawa para siluman.

Nerta yang enggan banyak membuang tenaga terpaksa menenangkan Inky: “Tenang, nona Inky, tenang ... malam ini tak perlu ada nyawa yang hilang.”

“Diam!” Sang pemimpin koloni pun angkat bicara. “Kesopanan itu penting bung! Sedangkan kau sudah berbuat tidak sopan, dan seyogianya kau membayar kejahatanmu!”

“BAYAR DENGAN NYAWAMU!” sentaknya begitu bergelora.

“YEAH!”

“YEAH!”

Beberapa siluman berteriak setuju dengan pemimpinnya. Sementara beberapa siluman lainnya yang berwujud kadal maju menyerang. Sebilah pedang mereka manifestasikan.

Nerta tak mungkin kabur dengan kondisi begini. Terpaksa, di malam bulan purnama itu, Nerta, Inky serta Walikota Yuyu berjibaku dalam pertempuran melawan beberapa siluman. Bertempur hanya karena sikap tidak sopan.

Jumlah ras Siluman yang banyak lumayang membuat Nerta serta Inky kelabakan, khususnya Walikota Yuyu yang bergerak ke sana kemari demi menjaga keselamatan putrinya. 

Dentang pedang, pekik kesakitan, goak semangat, seluruh suara ngerinya pertempuran bersinergi menghiasi sepinya hutan.

'Tang' 'Trang' 'Klang'.

“Habisi dia!”

“Habisi dia!”

Sisa para siluman dan pemimpinnya hanya menonton sebagai penghiburan sekaligus pekerjaan. Namun, tentunya selalu siap untuk berpartisipasi.

'Bruk', 'Tsrat'. Beberapa siluman kadal tewas di tempat. Jumlah mereka memang terbilang banyak, tapi Nerta serta Inky memiliki keunggulan insting dan bertarung melebih siluman kadal.

Sayang bagi mereka, keunggulan itu hanya berlangsung satu jam. Sebab ekspektasi tiba-tiba dikhianati oleh realitas, tepat tatkala siluman kelelawar kepercayaan dari sang pemimpin telah sukses menikam jantung Nana hingga 'Bruk' terkapar dengan sekarat, lalu tewas dengan tragis.

Membuat Walikota Yuyu menggoak sekerasnya. “NAANAAAAAAAAAAAAA ...!”

Kemudian berlari dalam getir dan mendekap buru-buru putrinya. Menangisi kepergian anak semata wayangnya. Tak rela menerima ajal anaknya berakhir di depan matanya.

Angin mendesau, hawa berubah nelangsa dan seluruh siluman serempak berhenti bertarung, seraya mundur menjauh.

“Itulah akibatnya karena tidak sopan.” Sang pemimpin koloni berucap percaya diri. “Maka rasakanlah derita itu, supaya kalian mengenal perbuatan kami.”

Kemudian, bagai tak terjadi apapun, atau seakan-akan telah merampungkan tugas paling mulia, koloni itu mulai pergi meninggalkan Nerta dan lainnya.

Sementara Nerta serta Inky hanya sanggup terpaku lima meteran dengan lokasi kematian Nana. Mata Nerta berbuntang tak menyangka, Inky melongo terkejut dan Walikota Yuyu menanggung beban kehilangan yang teramat dalam.

1
Kinia
semangat ya (:
setiyowati b
lg mau baca nih thor... moga asyik
Harman LokeST
njuuuuuuuuuut author
Fahrur Rozi
seperti filem sinetron ajh
🍾⃝ʙͩaᷞiͧ ǫᷠiͣɴƓǫɪɴƓ 💞🇵🇸
baru mulai baca..semgat ka
arfan
up
zien
hadir 🌹🌹❤❤
zien
hadir 🌹🌹
zien
hadir 💗💗
zien
Hadir ❤❤
zien
Hadir 💗💗
zien
hadir ❤❤
Si Autor (IG: Anterta.): 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
zien
hadir 🌹🌹
zien
hadir 💗💗
Gyatsa Dzaky
bahasanu tinggi nian
Dave19
👍
Botha Hantu
ikut
zien
Semoga sukses selalu💗💗🌹🌹
zien
Hadir 💐💐
zien
hadir💗💗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!