Diangkat dari kisah nyata seorang gadis yang terbelenggu kebodohan cinta hingga hamil.
Namaku adalah Mia, seorang gadis yang beranjak dewasa merasa naluri ku berontak melihat yang terjadi di depan mata.Walau sebenarnya aku pun dari keluarga yang tak sempurna.
Sedangkan Kak Dinda adalah korban dari seorang lelaki yang memanfaatkan keluguan dan tubuhnya hanya untuk kesenangan sesaat.
Berbagai macam prahara ku hadapi bersama Kak Dinda untuk mencapai kebahagiaan semu.
Mampukah Aku dan Kak Dinda menghadapi hidup yang penuh lika liku ini.
Ikuti terus kisahnya, jangan lupa like dan komen serta vote. Agar menulisnya lebih semangat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dice Mariyetti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Sebelum beranjak ke peraduan malam. Sempat kumenanyakan kesediaan Brandon untuk datang memenuhi undangan yang dimaksud oleh Roy.
Tapi sayang Brandon menolak dengan halus. Sebab Ia masih melanjutkan tugas kuliahnya yang masih tertinggal.
Ada sedikit rasa lega dihatiku saat Brandon menolak ajakan itu. Berarti pertemuan yang dirancang oleh Roy terancam gagal. Bukan maksud hatiku tak mau mengenalkan Brandon pada Roy terlebih pada Yani, sahabatku. Aku hanya belum siap meluruskan hatiku yang bercabang dua.
Esok hari aku akan berkunjung ke rumah Yani. Sudah lama aku tak mengunjunginya sekalian memberi kabar rencana Roy yang belum bisa terlaksana.
*****
Di sebuah mansion milik Boy Dillan.Minggu pagi hingga siang hari, Brandon sibuk menyelesaikan tugasnya.
Hingga Brandon tak mendengar kedatangan Boy Dillan secara tiba-tiba.
Boy Dillan masuk ke kamar utama yang merupakan milik Dahlia biasa beristirahat.
"Aku dengar kamu sakit lagi. Apakah sekarang sudah sembuh? "
Dahlia terkejut menerima kehadiran Boy.
"Uhuuk," Dahlia pun tersedak saat meminum teh dicangkirnya.
"Bagaimana keadaan di rumah. Semua terkendali atau ada masalah selain penyakitmu"
Boy Dillan menukar pakaiannya yang ada dilemari besar tersandar di dinding kamar.
"Jangan menghinaku. Urus saja urusanmu dengan wanita simpanan itu!"
"Tak perlu emosi. Aku hanya menanyakan kabar keadaan di sini. Itu saja. Aku heran dengan sikapmu, Kamu selalu marah setiap aku datang"
"Untuk apa kamu ke sini. Aku tak percaya kalau hanya untuk mengetahui keadaan kami. Aku dan Bray masih baik-baik saja. Pendidikannya lancar. Kemarin aku senang sudah bisa keluar rumah dan shoping. Lihatkan kami sekarang bahagia"
"Syukurlah "
" Bray juga sudah move on dari kekasihnya yang dulu. Bray sekarang sudah memiliki kekasih yang baru.Mereka bertemu di kampus dan satu jurusan. Kelihatannya Mia gadis yang baik, aku menyukainya"
Boy mencium kening Dahlia.
"Aku ingin mengambil surat penting di ruangan kantor lantai bawah. Jaga kesehatan dan buat dirimu selalu happy"
"Huh.Dari awal aku sudah tahu maksud kedatanganmu kesini. Bukan semata mata untuk keluargamu. Kau pikir rumah ini hanya tempat singgah menukar baju lalu pergi. Lebih baik kau tak usah datang lagi ke sini. Bawa semua pakaianmu dan semua surat-surat itu sebelum aku bakar!! "
" Ssstt!! Kenapa meracau lagi???"
Mendengar teriakan Dahlia membuat Brandon berlari ke kamar mamanya.
"Papa?? Kapan datang? Mama kenapa? Apa sakit mama kambuh lagi"
"Coba tenangkan mamamu dulu. Sepertinya sudah kumat lagi. Sementara papa ke bawah mengurus sesuatu. Setelah itu temui Papa di sana"
"Pergi!!! Tak usah datang lagi. Bikin keruh suasana jika kau ada di sini!! "
Setelah Boy Dillan pergi. Brandon menenangkan Dahlia dengan memberikan obat dan segelas air putih.
Brandon menunggui sampai Dahlia tertidur pengaruh dari obat penenang yang diberikan dokter.
Setelah itu baru Ia menyusul Boy Dillan di kantornya yang terletak dilantai dasar bangunan itu.
Kantornya terletak tepat di samping tangga setengah lingkaran. Boy sengaja menyisakan bangunan rumahnya untuk sebuah kantor yang gunanya menyimpan dokumen dan surat berharga lainnya.
Boy memang termasuk pengusaha paling sukses. Dia memiliki perusahaan property ternama dan telah memiliki cabang hampir di seluruh pulau Sumatera.
Tak hanya crazy rich, Boy Dillan adalah sosok yang gagah. Wajahnya penuh kharisma. Siapapun akan mengaguminya. Hanya rambutnya beberapa tak hitam lagi yang tak bisa menyembunyikan bahwa Ia adalah pria berumur.
"Kebetulan Papa pulang. Aku mau menanyakan sesuatu "
" Apa mamamu sudah baikan? "
" Yah. Mama sudah tertidur setelah meminum obatnya"
"Baiklah. Kamu mau nanya tentang apa sama papa?
Sesaat Boy Dillan menghentikan kegiatannya dan fokus menghadapi Brandon.
" Apa papa kenal Kak Dinda? "
" Siapa itu? Kak apa? "
" Dinda"
"Papa nggak pernah kenal dengan nama itu. Memang kenapa dengannya? "
Boy Dillan kembali melanjutkan aktivitasnya. Sepertinya yang diucapkan Brandon tak penting dan hanya buang waktu saja.
" Papa jangan bohong. Papa punya anak dari wanita itu. Tak usah lari dari tanggung jawab "
" Jangan ngomong meracau begitu seperti mamamu. Lupa tanggung jawab?? Tanggung jawab apa? Jaman sekarang banyak yang mengaku ngaku untuk mendapatkan uang. Kamu jangan percaya begitu saja. Jangan terlalu mudah percaya dengan orang yang baru kamu kenal. Makanya kamu ditinggal pacarmu yang masih bau kencur. Sudahlah papa mau ke Jambi lagi. Pekerjaan Papa di sana masih banyak"
Boy Dillan memasukkan semua berkas dalam kopornya dan melangkah pergi.
"Kamu selidiki dengan benar orang itu. Siapa tahu mereka hanya memeras keluarga kita. Papa akan tunggu kabar di sana. Okay? "kata Boy Dillan menepuk pundak Brandon dan berlalu.
*****
Di rumah Yani, aku agak sungkan.Aku lupa keakraban yang dulu pernah terjalin dengan keluarganya.
Berada diantara mereka seperti orang yang baru bertamu. Yani juga tak biasanya menyambutku. Kekakuan mulai menjalari kebersamaan kami.
"Bagaimana kabar mu sekeluarga?sudah lama yah kita nggak ngobrol sedekat ini"
Yani membuka pembicaraan.
"Iya. Papa dan Anthony baik-baik saja. Kelihatan ibu dan ayahmu juga sehat wal'afiat"
Aku meminum secangkir teh yang telah disuguhi.
Kukabari padanya tentang ketidak sanggupan Brandon datang atas undangan Roy.
"Lain kali juga nggak apa apa. Masih banyak waktu kan buat kita. Lagipula kalian baru jadian. Nikmati aja dulu kebersamaan kalian berdua "
"Hehehehe iya masih baru soalnya masih tahap pengenalan "
" Nah gitu. Senyum jadi enak liatnya. Dari tadi saat pertama kaku banget kayak ketemu hantu"
Sejak dulu Yani memang pandai mencairkan suasana. Kami kembali ngomong hangat.
Yani menceritakan tentang hubungannya dengan Roy yang berjalan seperti biasa.
Pertemuan diantara mereka bisa dihitung dengan jari. Maklum karena kesibukan masing-masing.
"Kadang aku sempat berfikir. Hubungan kami tak seperti orang pacaran. Malah layaknya hanya disebut teman saja. Membosankan "
"Jadi kamu ingin pacaran yang seperti apa?"
"Hahaha tentu saja sama dengan pasangan yang lain. Hmmm.. menurutmu Roy mencintaiku atau tidak"
"Aku tak tahu. Tanya aja sendiri sama orang yang bersangkutan "
Tak ingin memikirkan hal buruk mengenai kisah cinta mereka. Biarkanlah Yani dan Roy menjalani hubungan. Aku tak harus ikut campur.
" Saat ini aku butuh saran darimu. Penglihatanmu bagaimana perasaan Roy sesungguhnya padaku? "
" Penglihatan? Aku bukan mama lour*n. Yang terpenting saat ini jalani saja sampai wisuda trus boleh mikir untuk selanjutnya, "kataku sambil menyebutkan nama seorang peramal wanita terkenal namun telah meninggal.
" Baik mama ded*h, "balas Yani dengan menyebut pendakwah wanita yang juga terkenal.
" Aku serius loh. Begitu juga hubunganku dengan Brandon. Sama halnya aku juga menjalaninya saja dulu"
"Iya.. iya"
Kami menghabiskan liburan akhir pekan dengan ngobrol dan tertawa. Ibu Yani membawa buah mangga muda yang baru di beli diwarung untuk dirujak petis. Membuat obrolan kami semakin panas terkena pedas cabe rawit dari bumbu rujak.
Bersambung...