perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang bersama
Sekitar 15 menit perjalanan. Mas Rama menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan yang terlihat cukup asri. Ku kira selama ini Ibu di inapkan di hotel yang bagus dan mewah. Ternyata dugaaanku salah. Tempat itu lebih mirip sebuah rumah singgah atau guest house yang di buat seperti rumah tinggal yang memiliki banyak kamar.
Aku membuka pintu mobil dan turun. Mas Rama berjalan lebih dulu menuju salah satu kamar. Aku mengikuti langkahnya bersama ke dua anak ku. Sampai di depan sebuah pintu kamar, Mas Rama mengetuknya perlahan. Tak berapa lama pintu terbuka, terlihat Ibu mertuaku yang membukanya sendiri. Begitu melihat anak lelakinya dan kedua cucu nya, wajahnya langsung berubah ceria.
" ehhh,,,, cucu-cucu nenek. Sini sayang. Nenek kangen sekali sama kalian." Seru nya, sambil memeluk cucu nya bergantian.
Setelah puas memeluk cucu-cucunya, Ibu langsung menoleh kepadaku. Aku tahu tatapan itu, tatapan yang sama seperti dulu. Dingin. Seolah kehadiranku di hadapannya adalah sesuatu yang tidak di inginkannya. Melihatnya begitu, justru aku membalasnya dengan terseyum.
" Ibu, apa kabar? Ibu sehat?" Tanya ku.
Aku kemudian mengulurkan tangan dan mencium punggung tangannya. Ibu menyambut uluran tanganku, namun dengan wajah melengos ke arah lain. Tanpa senyuman dan tanpa jawaban. Aku hanya tersenyum tipis melihat nya.
" Ibu, hari ini kita pulang, ya? Kasihan kalau Ibu terus tinggal disini. Pasti Ibu sagat kesepian. Aku juga tidak bisa kalau setiap hari harus datang menjenguk Ibu. Kalau Ibu dirumah kan ada aldi, Aira dan juga Jasmine yang menemani Ibu." Ujar Mas Rama menjelaskan maksud kedatangannya.
Mendengar namaku disebut, Ibu kembali menatapku. Tatapan nya sulit diartikan. Aku hanya membalas nya dengan senyum sopan. Namun dalam hati, aku sudah mempersiapkan diri. Mulai hari ini dan seterusnya aku akan berani membuat batasan untuk Ibu mertuaku.
Mas Rama yang sadar dengan tatapan Ibu nya ke arah ku. Langsung berkata lagi.
" Ibu,, Istriku minta maaf atas apa yang sudah dilakukannya keapda Ibu. Jasmine sudah janji tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Mas Rama.
Aku tahu Mas Rama sedang berusaha mencairkan suasana. Aku pun tidak ingin memperpanjang masalah.
" Iya, Bu. Saya minta maaf. Kemarin saya khilaf." Imbuhku, memperkuat permohonan maaf Mas Rama.
" Hmmm.... Ya sudah kalau gitu. Ibu maafkan. Tapi jangan sampai di ulangi lagi." Ucap Bu Lastri dengan nada ketus.
" Nah,, kalau gitu sekarang ayo kita pulang. Supaya nanti kita bisa makan malam bersama." Ujar Mas Rama dengan antusias.
Aku hanya tersenyum kecil. Mas Rama kemudian membawa barang-barang Ibu nya, sementara aku membantu anak-anak masuk ke mobil. Setelah semuanya selesai. Mobil pun perlahan meninggalkan guest house.
Di sepanjang perjalanan aku lebih memilih diam. Karena aku merasa sudah malas dengan situasi seperti ini, penuh dengan kebohongan dan sandiwara.
................................
Malam itu, meja makan kami terasa tenang. Tidak ada suara pertengkaran, tidak ada sindiran, tidak ada pembicaraan yang membuat suasana menjadi panas. Ibu mertuaku lebih banyak diam. Begitu pula dengan Mas Rama yang hanya sesekali mengajak Aldi dan Aira berbicara. Kedua anak ku justru terlihat paling bahagia.
Sedangkan aku, aku melakukan apa yang selama ini menjadi tugasku. Aku memastikan semua makanan tersedia di atas meja. Nasi, lauk, sayur, dan beberapa makanan kesukaan anak-anak.
" Silahkan makan, Bu." Kata ku kepada Bu Lastri.
" Iya." Jawabnya singkat.
Aku kemudian duduk dan mulai makan bersama mereka. Tidak banyak yang kami bicarakan. Justru aku lebih nyaman dengan keadaan yang seperti ini. Aku tidak perlu memaksakan percakapan, tidak perlu menjelaskan apapun, aku cukup menjalankan peranku. Sebagai Ibu, sebagai istri, dan sebagai menantu.
Setelah semua selesai makan. Aku mulai membereskan meja. Satu persatu piring ku angkat. Sisa makanan ku pindahkan ke tempatnya.
Mas Rama, Ibu nya dan kedua anak ku terlihat sedang berkumpul di ruang tengah. Malam ini benar-benar berjalan damai. Aku tersenyum kecil.
Biarlah.
Malam ini aku akan membiarkan mereka menikmati kedamaian itu. Aku tidak akan merusaknya. Namun besok, aku baru akan mulai dan menjalankan langkah berikutnya. Sudah waktunya aku mengambil kendali dan merubah keadaan.
Setelah memastikan dapur sudah kembali rapi, aku berdiri beberapa saat di ambang pintu kamar, memandangi ruang keluarga dari kejauhan. Pemandangan di depanku terlihat begitu hangat. Aldi dan Aira sedang duduk bersama Papa dan nenek nya. Kalau dilihat sekilas, kami seperti keluarga yang tidak pernah memiliki masalah. Seperti keluarga yang hidup bahagia tanpa sedikitpun luka.
Aku terus memperhatikan mereka. Sampai kemudian aku melihat perubahan pada wajah Mas Rama. Tatapan nya kosong mengarah ke satu titik, lalu menghela napas panjang.
Aku tahu, pasti ia teringat dengan gundiknya. Aku yakin wanita itu pasti terus saja menghubunginya.
Biarlah, aku sudah tidak peduli siapa yang sedang di pikirkan Mas Rama sekarang. Karena aku harus tetap fokus pada tujuan awalku. Tujuanku sudah jelas. Aku ingin memastikan masa depan Aldi dan Aira. Aku juga tidak ingin mengorbankan seluruh hidupku hanya demi mempertahankan sebuah rumah tangga yang mungkin sudah tidak memiliki kejujuran di dalamnya.
Aku harus kuat, aku tidak boleh lengah sedikitpun. Aku tidak boleh menggunakan perasaan untuk menentukan langkahku kali ini.
...****************...
Terimakasih sudah membaca 🙏😘