Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.
Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.
Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
Udara di dalam kabin Vanguard mendadak terasa begitu tipis, seolah-olah seluruh oksigen tersedot keluar oleh tekanan atmosfer yang berubah drastis akibat kecepatan luar biasa kereta tersebut. Di depan mata mereka, Tembok Es Raksasa bukan lagi sekadar pemandangan; ia adalah monster vertikal yang memakan cakrawala. Dinding es setinggi ribuan meter itu tampak seperti batas dunia, permukaannya yang biru tua memantulkan pendaran cahaya kematian dari meriam-meriam armada Jenderal Vane yang kini menukik turun dengan kecepatan supersonik.
Garis-garis cahaya merah—muatan plasma pemusnah massal—menari-nari di udara di belakang kereta, menghancurkan sisa-sisa pilar es dan jalur rel yang mereka lalui hanya beberapa detik sebelumnya. Setiap kali sebuah hantaman plasma mendarat, gelombang kejutnya membuat Vanguard terombang-ambing, seolah-olah kereta itu hanyalah mainan kertas yang dilemparkan ke tengah pusaran badai.
Leo, yang duduk di kursi kemudi, memutar kemudi hidrolik dengan urat-urat yang menonjol di lehernya. Tangannya yang berlapis mekanik mengeluarkan suara berderit tajam, menahan beban torsi mesin yang dipaksa bekerja di luar batas desain pabrik. "Aku tidak bisa menjaga kestabilan ini selamanya, Kapten! Kita melaju dengan kecepatan di mana gesekan udara saja bisa membuat bodi kereta ini terbakar menjadi abu!"
Gavin, yang duduk di terminal kendali, tidak lagi sekadar mengetik. Tangannya bergerak seperti seorang konduktor orkestra di tengah kekacauan, mengendalikan ribuan baris data peretasan untuk membelokkan sensor pertahanan otomatis yang dipasang di permukaan Tembok Es. "Sistem pertahanan otomatis mereka tidak menargetkan kita sebagai kereta! Mereka menargetkan semua yang bergerak di zona ini! Jika aku tidak terus memanipulasi sinyal mereka, meriam otomatis di dinding itu akan menghujani kita dengan peluru kendali laser sebelum kita sempat menabrak esnya!"
Di sampingnya, Soju berdiri tegak, busurnya siap, matanya menatap tajam ke luar jendela palka. Ia bisa melihat setiap pergerakan pesawat tempur musuh yang berusaha mengejar mereka dari belakang. "Jangan khawatirkan peluru kendali itu, Gavin. Fokus saja pada temboknya. Jika ada sesuatu yang berani mendekat lebih dari lima puluh meter, mereka akan menjadi sasaran empuk bagi busurku."
Ren berdiri di tengah kabin, memegang erat tiang penyangga baja. Matanya terpaku pada dinding es yang kini memenuhi seluruh sudut pandang mereka. Ia bisa merasakan denyut The Core Engine di dadanya bergetar hebat, sebuah ritme yang sinkron dengan kecepatan kereta yang terus meningkat. Ini adalah momen kebenaran. Sepuluh tahun pelarian, sepuluh tahun rasa sakit, dan sepuluh tahun kebencian, semuanya akan menemui titik didihnya dalam beberapa saat lagi.
Yuna berjalan mendekat, berdiri tepat di samping Ren. Ia tidak terlihat takut. Di tangannya, ia memegang perangkat penyuntik ramuan energi terakhir yang ia racik khusus untuk Ren. "Apapun yang ada di balik tembok itu, Kapten, pastikan kita tetap hidup untuk melihatnya. Karena kalau tidak, aku akan sangat marah karena usahaku memasak di saat-saat terakhir ini menjadi sia-sia."
Ren melirik Yuna, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah dinding es yang semakin mendekat. Kecepatan Vanguard kini telah mencapai ambang batas di mana suara di luar sana tidak lagi terdengar seperti deru angin, melainkan seperti jeritan logam yang dipaksa membelah realitas.
Tembok itu kini menjulang begitu tinggi hingga menutupi matahari yang redup di balik kabut tebal. Permukaannya kasar, berlubang-lubang oleh meriam pertahanan otomatis yang terus berkedip dengan cahaya merah mematikan. Salah satu meriam tersebut mendadak berputar, moncongnya yang raksasa berhenti tepat di jalur yang akan dilalui oleh kereta mereka.
"Gavin! Sekarang!" teriak Ren lantang, suaranya membelah kebisingan mesin.
"Sudah kutangani!" teriak Gavin balik. Dengan satu sentuhan terakhir pada tabletnya, sistem pertahanan meriam itu mendadak eror, memutar moncongnya ke arah armada udara Jenderal Vane yang terbang terlalu dekat, melepaskan rentetan laser biru yang menghancurkan satu dari sayap kapal induk musuh.
Ledakan di belakang mereka terjadi tepat saat Vanguard memasuki zona benturan. Kereta itu kini meluncur di atas sisa-sisa jalur rel yang menanjak vertikal, seolah-olah lokomotif itu sedang mendaki sebuah gunung es yang tidak berujung.
Ren menarik napas dalam-dalam, merasakan lonjakan energi yang begitu besar di dalam tubuhnya. Ia tahu, saat tabrakan itu terjadi, dibutuhkan kekuatan fisik yang luar biasa untuk tetap sadar dan menjaga kru-nya dari hancuran total. Ia menoleh ke arah teman-temannya—mereka semua menatapnya, menunggu aba-aba terakhir sebelum momen kehancuran atau kebebasan itu tiba.
"KALIAN SEMUA SIAP?" teriak Ren lantang, suaranya penuh dengan otoritas dan kepercayaan yang mendalam, tidak menyisakan ruang bagi keraguan sedikit pun.
Leo mencengkeram kemudi dengan kedua tangannya, matanya menatap tajam ke arah dinding es yang kini hanya berjarak beberapa ratus meter. Soju telah menarik tali busurnya hingga batas maksimal, siap melepaskan panah energi di detik terakhir. Gavin dan Yuna merapat ke dinding kabin, menyiapkan sistem pertahanan darurat mereka sendiri.
"SIAP KAPTEN!" jawab mereka serempak, sebuah teriakan yang menggema dengan kesetiaan yang melampaui rasa takut akan kematian.
Ren menatap ke arah dinding es yang tampak sangat kokoh, seolah-olah ia bisa melihat melampaui ketebalan kristal es tersebut. Ia merasakan denyut jantungnya, denyut mesinnya, dan denyut teman-temannya yang kini bersatu menjadi satu kesatuan.
"Kita tidak akan mati hari ini," bisik Ren pada dirinya sendiri.
Saat moncong lokomotif Vanguard akhirnya berada tepat di depan permukaan es yang keras dan dingin, sistem pertahanan otomatis yang gagal di dinding tersebut mendadak melakukan reboot paksa secara serentak, mengunci target tepat pada lokomotif yang melaju kencang itu—dan pada saat yang sama, Jenderal Vane melepaskan serangan plasma terpusat dari kapal induknya yang paling besar, menciptakan sebuah jepitan maut yang mustahil untuk dihindari dari kedua arah secara bersamaan.
Ren memejamkan mata, memusatkan seluruh energi inti ke bagian depan kereta tepat saat dentuman suara tabrakan pertama—bukan dengan es, melainkan dengan ribuan ton energi murni dari serangan Vane—mengguncang dunia mereka hingga menjadi hitam total.