Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.
Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: (FLASHBACK) KELAS PRIVAT DIMAS
"Aduh, gini amat dah dapet nilai terbawah... Oh iya, di mana ruangan yang dimaksud pak wali kelas tadi, ya?" gumam Dimas kebingungan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menatap selembar kertas catatan di tangannya.
Pagi itu, koridor sekolah terasa begitu kontras dengan isi kepala Dimas yang sedang kalut. Di saat siswa-siswi lain bisa berjalan santai menikmati waktu luang setelah bel istirahat atau jam kosong, Dimas justru harus menyeret kakinya menelusuri lorong sekolah dengan status sebagai "peserta spesial" bimbingan khusus.
Dimas mulai celingukan ke kiri dan ke kanan, berusaha mencari sosok wali kelasnya yang tadi sempat memberikan instruksi. Beruntung, di ujung koridor dekat tangga darurat, ia melihat sosok guru tegas berjas rapi itu sedang berjalan tak jauh di depannya.
"Eh, Pak Wali Kelas! Sebentar, Pak! Ini kelasnya di sebelah mana, ya?" panggil Dimas sambil setengah berlari menyusul gurunya.
Langkah pria paruh baya itu berhenti. Ia menoleh dengan tatapan datar khas seorang pendidik yang sudah kehabisan kesabaran menghadapi murid-murid bermasalah. "Oh, Dimas. Ikuti saya. Jangan sampai tertinggal."
"Baik, Pak," jawab Dimas patuh, pasrah mengikuti ke mana pun arah langkah kaki sang guru membawanya.
Dimas mengekor di belakang wali kelasnya, melewati tikungan-tikungan koridor yang jarang dijamah siswa lain, hingga mereka tiba di ujung area koridor utara. Sesampainya di tempat tujuan, mereka tiba di sebuah ruangan yang bentuknya sangat tidak biasa. Ruangan itu terlihat lebih kecil dari kelas standar, dengan arsitektur dinding yang sedikit miring dan pilar penyangga yang tampak canggung—sebuah bukti nyata dari kesalahan konstruksi bangunan sekolah di masa lalu, yang kini akhirnya disulap pihak sekolah menjadi kelas privat isolasi bagi siswa-siswi yang membutuhkan bimbingan super intensif.
"Wah... baru pertama kali gue menginjakkan kaki di tempat uji nyali begini," bisik Dimas dalam hati sambil mengedarkan pandangan ngeri ke seluruh sudut ruangan yang terasa begitu sunyi dan mencekam.
"Cepat duduk di kursi depan papan tulis," perintah Pak Wali Kelas tanpa basa-basi, langsung membuka pintu kelas privat tersebut.
"Siap, Pak!" ucap Dimas buru-buru, langsung mengambil posisi duduk di bangku tunggal yang tepat menghadap papan tulis putih bersih.
Tanpa buang waktu, wali kelas pun mulai mengulang materi pelajaran yang belum dikuasai Dimas dari tumpukan modul tebal. Untuk tahap awal yang mengerikan ini, Dimas diwajibkan mempelajari lima mata pelajaran yang berbeda dalam sehari. Dan sebagai bentuk "kejutan" yang luar biasa, nanti di hari berikutnya beban pelajarannya akan terus bertambah hingga menumpuk.
Rutinitas baru yang sangat padat ini sukses membuat kepala Dimas pusing tujuh keliling. Otaknya yang terbiasa santai mendadak dipaksa bekerja kerja keras bagai kuda. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak bisa mengelak atau kabur, karena ini adalah harga mutlak demi tiket kelulusannya menuju kelas 11 nanti. Jika ia gagal, namanya dipastikan akan terdepak dari daftar kenaikan kelas.
Setelah perjuangan berhari-hari lamanya, menderita dan merana di ruangan sempit itu, mempelajari total 12 mata pelajaran yang berbeda dari berbagai rumpun ilmu, hari ini Dimas akhirnya mencoba mengikuti tes uji pemahaman langsung dari wali kelasnya. Awalnya, sesi tanya jawab berjalan cukup bagus dan lancar di mata pelajaran hafalan. Namun, begitu masuk ke materi hitung-hitungan dan analisis rumit, Dimas kembali tersendat dan gagal menjawab beberapa soal krusial.
Karena merasa otaknya sudah berasap dan mengepul hebat bagaikan mesin motor tua yang kepanasan, ia akhirnya nekat mengangkat tangan dan memohon waktu untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan "kegiatan horor" berikutnya. Pak Taryo yang melihat kondisi muridnya yang sudah hampir zikir pun akhirnya mengizinkan keluar ruangan selama beberapa menit.
"Gila... ini sekolah beda banget dari sekolah lain. Serasa pindah negara antah-berantah, anjir! Bisa gila beneran gue kalau tiap hari disiksa begini," gerutu Dimas dengan napas terengah-engah begitu wali kelasnya melangkah keluar ruangan untuk mengambil berkas tambahan.
GLUG... GLUG... GLUG...
Tanpa pikir panjang, ia menyambar botol tumbler di atas meja dan meneguk air minumnya sampai tuntas tanpa sisa, membasahi tenggorokannya yang kering akibat stres tingkat tinggi.
"Haaa... enaknya ngapain, ya, buat menenangkan jiwa raga yang terguncang ini? Ah! Mumpung lagi istirahat dan bapaknya belum balik, main game sebentar ah buat refreshing otak!"
Semangat hidup Dimas mendadak meledak kembali seketika, seolah lupa bahwa ia masih berada di dalam ruangan kelas privat penderitaan itu! Dengan gerakan lincah penuh keahlian, Dimas langsung merogoh saku celananya, mengambil ponsel pintarnya, membuka aplikasi game favoritnya, dan langsung asyik push rank tanpa beban!
Belum ada sepuluh menit Dimas hanyut dalam keseruan dunianya sendiri sambil sesekali mengumpat pelan karena karakternya kalah, pintu kelas privat mendadak terbuka lebar dengan suara berderit tajam. Pak Taryo melangkah masuk kembali ke dalam ruangan sambil membawa tumpukan buku tebal ensiklopedia dan spidol boardmarker hitam di tangan kanannya.
CTAK!
Tanpa aba-aba, ponsel di tangan Dimas langsung digeletakkan di atas meja secepat kilat. Layar game yang masih menyala terang dengan animasi pertempuran itu buru-buru ia balik menghadap ke bawah, menindihnya dengan buku catatan kosong agar tidak ketahuan.
"Sudah cukup istirahatnya, Dimas?" tanya Pak Taryo dengan nada bicara yang terdengar datar, tenang, namun mengandung tekanan psikologis yang luar biasa tajam.
"Su-sudah, Pak Taryo! Puji tumpukan buku, otak saya sudah seger kembali dan siap menerima ilmu!" jawab Dimas sambil menyengir selebar-lebarnya, berusaha menutupi rasa panik luar biasa yang hampir membuat jantungnya copot.
"Bagus kalau begitu. Kalau tenaga kamu sudah pulih, kita lanjut ke dua mata pelajaran utama yang nilai ujian kamu paling hancur lebur," kata Pak Taryo tanpa ampun. Ia menarik kursi kayu di depan meja Dimas, lalu membuka buku besar bersampul tebal di hadapan muridnya. "Matematika dan Fisika."
Seketika itu juga, senyum lebar tanpa dosa di wajah Dimas langsung luntur seketika. Runtuh sudah harapan hidupnya. Beban hidup yang sebenarnya dan paling mematikan baru saja dimulai.
Pak Taryo mulai membuka spidol hitamnya, menggoreskan rumus-rumus kalkulus yang rumit dan diagram hukum Fisika di papan tulis kecil dengan sangat detail. Suaranya terdengar mantap, berwibawa, dan penuh penekanan di setiap suku kata.
"Nah, perhatikan baik-baik di sini, Dimas. Jadi, kalau gaya gesek bidang datarnya diketahui dan sudut kemiringannya bernilai sekian, kamu tinggal masukkan angka-angka itu ke dalam rumus percepatan ini. Paham sampai di sini?" penjelasan Pak Taryo meluncur panjang lebar tanpa jeda napas.
Alih-alih mengangguk paham, Dimas justru menatap papan tulis putih itu dengan mata melotot tanpa kedip. Di dalam pandangan matanya yang mulai kosong, deretan angka, huruf aljabar, dan rumus-rumus Fisika itu kini sudah tidak berbentuk tulisan normal lagi. Semuanya berubah wujud menjadi sekumpulan angka-angka ajaib yang tampak menari-nari, berputar-putar, dan beterbangan di udara mengejek kebodohannya.
"Dimas? Halo, kamu mendengarkan Bapak tidak?" tegur Pak Taryo dengan nada tajam saat melihat murid bimbingannya itu malah melamun dengan mulut sedikit terbuka dan pandangan kosong menerawang jauh.
Dimas tersentak kaget dari halusinasi akademisnya. "Eh... iya, Pak! Hadir, Pak!"
"Kalau hadir, coba jelaskan ulang. Kamu paham tidak dengan apa yang baru saja Bapak jelaskan di papan?"
Mendengar pertanyaan itu, Dimas pelan-pelan menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, meratapi nasib malang otaknya yang rasanya sudah benar-benar korsleting total.
"Jujur dari lubuk hati yang paling dalam ya, Pak Taryo... kalau pelajaran Sejarah atau Bahasa Indonesia itu masih bisa nyangkut dikit-dikit di batok kepala saya. Tapi kalau sudah masuk wilayah Matematika dan Fisika ini... wah, ampun, Pak! Otak saya rasanya serasa di-format ulang dari awal ke pengaturan pabrik. Masih bingung banget, asli nggak masuk ke dalam akal sehat saya!" keluh Dimas dengan nada pasrah tingkat dewa, menatap Pak Taryo dengan wajah melas tanpa dosa.
Pak Taryo spontan menarik napas panjang dalam-dalam, lalu mengurut dadanya sendiri secara perlahan demi meredakan tingkat kesabaran yang diuji habis-habisan melihat respon murid kesayangannya yang satu ini.
"Dimas, Dimas... Sebenarnya kamu ini niat mau naik ke kelas 11, atau memang berniat mau mengulang kelas 10 sampai tua di ruangan hasil kesalahan konstruksi bangunan ini, hah?" sindir Pak Taryo telak.
"Ya jelas mau naik kelas lah, Pak! Ogah banget saya jadi penghuni abadi ruangan miring ini!" jawab Dimas cepat tanpa jeda.
"Kalau memang punya niat mau naik kelas, sekarang hapus semua pikiran bingung dan putus asa itu dari kepala kamu, lalu perhatikan lagi ke depan!" Pak Taryo kembali mengetuk-ngetuk papan tulis dengan ujung spidolnya dengan tegas. "Kita ulang penjelasan ini dari rumus dasar pertama!"
"Aduuuhhh... ampun, Pak Taryo! Sumpah, kepala saya rasanya mau pecah sekarang juga!" ratap Dimas histeris sambil menepuk jidatnya sendiri berulang kali.
Namun, rintihan dan keputusasaan Dimas sama sekali tidak mempan di hadapan sang wali kelas. Perjuangan hidup dan mati Dimas di dalam ruang kelas privat itu masih sangat panjang dan penuh liku. Di bawah pengawasan ketat, galak, namun penuh kepedulian dari Pak Taryo, Dimas pada akhirnya hanya bisa pasrah meratapi nasib sialnya, terpaksa harus terus berperang melawan rumus-rumus mematikan demi merebut tiket emas menuju bangku kelas