Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Sudah lama tidak bertemu dengan mu, aku sangat merindukan mu, sayangku," ucap seorang laki-laki tampan yang langsung memeluk Bu Sinta setelah ia turun dari taxi yang dia tumpangi.
Jalan Cempaka nomer 14.
Terdapat sebuah rumah dua lantai, di sana tingal seorang laki-laki muda yang mungkin usianya masih bisa di bilang dalam tiga puluh lima tahun lah ya, dan dia adalah laki-laki yang selama ini di pelihara oleh Bu Sinta sebagai brondong muda nya.
Ya, kalian terkejut kan? Bu Sinta suaminya sudah lama meninggal dan dia berhubungan dengan anak muda itu entah sejak kapan.
Dan sekarang kalian pasti sudah tau kan? Kemana perginya uang yang selama ini dikirim oleh Alen.
"Kau ini, kebiasaan, jangan memeluku seperti ini di depan rumah, ayo cepat masuk, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Bu Sinta yang kemudian menarik pergelangan tangan brondong nya, mereka berjalan masuk ke dalam rumah tersebut.
"Ada apa ini? Biasanya kau ketika datang langsung bermanja dengan ku, kenapa sekarang malah buru-buru masuk ke dalam? Ada hal penting apa?" tanya si brondong dengan nada manja. Entah sejak kapan dia menjadi simpanan Bu Sinta.
Tak butuh waktu lama, mereka pun tiba di ruang tengah rumah tersebut.
"Miko, aku minta maaf, tapi aku benar-benar sudah tidak bisa membiayai mu lagi sekarang," ucap Bu Sinta ketika dia duduk di sofa dengan wajah gelisah.
Ya, laki-laki itu bernama Miko.
"Kenapa? Apa kau sudah tidak menginginkan ku lagi?" tanya Miko dengan raut wajah sedih dan menyimpan sejuta kegelisahan.
"Bukan begitu, anaku Alen, dia sekarang tau kalau aku tidak pernah memberikan uang yang dia kirim kepada adik nya, sekarang dia terlihat sangat mencurigai ku, dia mungkin tidak akan memberikan uang bulanan lagi, aku tidak bisa membayar kontrakan ini lagi dan memberimu uang bulanan," jelas Bu Sinta sambil memegang tangan Miko yang saat itu duduk di samping nya.
"Sinta, tolong jangan pernah tinggalkan aku, aku tidak mau kehilangan mu, biarpun jarak usia kita sangat berbeda, tapi aku sangat mencintaimu," ucap Miko dengan mata berkaca-kaca.
Sinta yang melihat itu seketika luluh dan iba, dia juga sebenarnya sangat mencintai brondong nya itu.
"Aku tulus mencintaimu, hanya saja untuk menikah kita tidak mungkin, kita hanya bisa melakukan hubungan rahasia ini, anak-anak mu pasti tidak akan setuju," ucap Miko.
"Iya, aku tau itu, karena itu aku tidak bisa memperkenalkan mu kepada mereka, kau seusia Alen putraku, dia jelas-jelas tidak akan pernah setuju, karena itu aku hanya bisa menyembunyikan mu di sini dan menjenguk mu sesekali, sebenarnya aku juga sangat mencintaimu dan aku tidak bisa kehilangan mu," ucap Bu Sinta seolah-olah usianya baru mencapai dua puluh lima tahun.
Ini mah puber kedua nenek nenek.
"Jika kau menyayangiku, tolong jangan buat aku menderita, kau kan tau kalau aku tidak punya keluarga dan aku tidak punya orang tua," ucap Miko sambil memeluk Bu Sinta.
"Ya, ya, jangan khawatir dan jangan bersedih, aku akan melakukan apapun untuk mu, aku tidak akan pernah meninggalkan mu," ucap Bu Sinta seketika luluh.
"Orang tua bau tanah, kalau saja aku punya banyak uang, aku juga tidak akan pernah mau di pelihara oleh mu seperti seekor anjing, melayani wanita tua keriput seperti mu sangat menjijikan jika tidak karena uang mu yang banyak itu, aku tidak akan pernah mau," batin Miko sambil menahan geli saat Bu Sinta membalas pelukannya.
Bu Sinta butuh Miko karena dia kesepian dan mungkin dia benar-benar jatuh cinta pada laki-laki muda itu, tapi sayangnya tidak dengan Miko, dia sama sekali tidak pernah tulus, dia memanfaatkan Bu Sinta untuk melunasi hutang judinya, memberikan tempat tingal yang layak untuk dirinya dan juga fasilitas yang bagus, karena itu diam di rumah saja dia sudah sangat aman sekarang.
kehilangan Bu Sinta sama saja dengan dia kehilangan rumah, makanan, fasilitas dan juga, ia akan kembali jadi orang yang di kejar-kejar karena masih punya hutang yang belum bisa dia lunas kan.
Sementara itu di sisi lain,
"Huh, uang sudah habis untuk foya-foya tadi malam, sekarang aku bisa melakukan apa lagi? Andai saja Lilian masih ada di sini, aku pasti tidak akan kehabisan uang," ucap Raya yang saat itu baru saja selesai mandi.
"Eh tunggu, tapi bukan kah selama ini kak Alen hanya memberikan uang untuk keperluan rumah tangga saja kepada Lilian? Tapi kenapa saat aku minta dia selalu bisa memberikan nya? Darimana dia punya banyak uang?" gumam Raya tanpa tau kalau sebenarnya setiap bulan Lilian selalu menerima uang tambahan dari sang papa yang diam-diam dikirim kan padanya.
Kini pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul di benak Raya, di tambah lagi sampai saat ini Lilian yang katanya tak punya orang tua serta keluarga itu sama sekali belum kembali ke rumah mereka.
Hal ini menimbulkan sedikit kecurigaan di hati Raya, dia yang merasa suntuk dan sumpek di kamar pun segera berjalan keluar dan memilih untuk jalan-jalan ke taman belakang rumah untuk menghirup angin segar.
"Kalau ada Lilian jam segini pasti sudah makan, sekarang kakak di kantor, ibu keluar entah kemana, Tasya tidak bisa di andalkan, benar-benar menyebalkan," ucap Raya sambil menyepak batu krikil yang ada di hadapannya.
Tangggg ...
tiba-tiba batu yang dia tendang barusan menabrak tong sampah besi yang ada di sana, membuat perhatian Raya tersita.
"Gila, kenapa tong sampah ini ada di sini? Mengotori taman saja, siapa yang berani-beraninya bakar sampah di taman belakang," umpat Raya.
Ia segera menghampiri tong sampah tersebut untuk segera memindahkan nya, sekaligus cari tau apa yang di bakar dan siapa yang berani bakar-bakar sampah di taman belakang rumah.
****
bikin kwatir orang yang menyanyinya tapi
jiwa nya memang sudah seperti itu bukan jahat atau menjadi wanita ga benar cuma
orang nya kepingin tau saja gitu kadang
mengabaikan nasehat ,,
punya nama. jadi bagus ,,,ehhh malah berhianat sekarang belum tau siapa Lilian
enakan,,,coba loe kelurahan anaknya abis lah nasib loe,,,,