Ainun yang sudah berusia senja, harus mengurus Alif—cucunya—yang tingkat kenakalannya luar biasa. Beberapa kali dia dipanggil ke sekolah karena Alif membuat ulah. Meskipun begitu Ainun sangat menyayangi cucunya itu.
Hingga suatu hari datanglah murid baru dari kota yang ternyata cucu dari Malik, yang merupakan mantan kekasih Ainun. Perasaan tidak enak dan canggung pun membuat keduanya bingung harus bagaimana. Namun, tanpa disadari semua itu adalah awal dari cinta lama yang kembali hadir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Oma Laila dan Fajar sudah kembali bergabung dengan Oma Ainun dan Alif, tapi tidak ada yang memulai pembicaraan. Fajar dan Alif saling membuang muka karena enggan untuk berteman. Laila dan Ainun saling lirik, hingga akhirnya keduanya pun hanya bisa membuang napas panjang.
Untuk memang menaklukkan hati cucu mereka sangatlah sulit. Keduanya sama-sama memiliki watak yang keras. Meskipun begitu Ainun dan Laila sama-sama bertekad mereka akan membuat Fajar dan Alif menjadi teman, bahkan mungkin mereka nantinya akan menjadi saudara.
"Alif, kamu mau 'kan mempertimbangkan apa yang Oma minta tadi?" tanya Ainun pada cucunya.
"Aku tidak mau, Oma. Aku tidak mau berteman dengan dia."
"Apa yang membuat kamu tidak mau berteman dengan Fajar? Dia anak yang baik, sama seperti kamu. Kamu hanya belum mengenalnya saja."
"Baik dari mana? Dari dulu dia selalu memusuhiku. Pokonya aku tidak mau berteman dengan dia."
"Siapa juga yang mau berteman denganmu! Aku juga tidak mau berteman denganmu. Dari dulu kamu itu selalu saja membuat masalah dengan teman-temanku, itu yang aku tidak suka darimu."
"Itu karena mereka yang buat ulah duluan. Aku tidak akan membuat masalah dengan mereka jika mereka tidak melakukan kesalahan."
"Sudah, sudah, kalian sama-sama melakukan kesalahan. Meminta maaf lebih baik daripada yang memaafkan. Sekarang kalian saling bersalaman dan mulai sekarang kalian harus berteman. Jika tidak, maka kamu Alif, uang jajan kamu akan Oma dikurangi, Oma juga akan tarik motor kamu," kata Ainun dengan tegas.
"Iya, benar. Oma juga akan melaporkan apa yang kamu lakukan pada orang tuamu, Fajar, biar mereka yang memberikan hukuman. Oma sudah lelah," timpal Laila yang tidak ingin kalah.
Alif dan Fajar sama-sama kesal, tapi tidak berani membantah terutama Alif, kalau dia membantah bisa-bisa nanti dirinya akan dimasukkan ke pondok pesantren, hal yang sangat dia tidak inginkan. Melihat kedua anak itu terdiam membuat Ainun dan Laila sedikit lega. Setidaknya mereka ada hal yang ditakuti, yang nanti akan dijadikan sebagai ancaman saja.
Setelah cukup berbincang mereka pun pamit pulang ke rumah masing-masing. Anak-anak juga menggunakan motornya sendiri-sendiri.
***
Fajar sampai di rumah lebih dulu karena dia menggunakan motor. Di ruangan tamu sudah ada Harun dan Malik yang sedang berbincang. Fajar yang melihat keberadaan Malik pun jadi kesal. Dia jadi ingat dengan kejadian hari ini. Semuanya juga berhubungan dengan orang yang dipanggilnya 'opa' itu.
Melihat kedatangan Fajar, Malik pun segera berdiri dan bertanya, "Fajar, tadi kamu bertengkar dengan siapa? Kata opamu pihak sekolah memanggil walimu."
"Alif," sahut Fajar dengan kesal dan segera berlalu dari sana sebelum Malik bertanya banyak hal.
"Fajar, Opa belum selesai bertanya. Tadi yang datang mewakili orang tuanya Alif siapa?" teriak Malik yang tidak mendapat jawaban dari Fajar karena anak itu sudah tidak terlihat.
Harun menepuk pundak sahabatnya dan berkata, "Sudahlah, dia sepertinya sedang kesal. Pasti tadi Laila sudah memarahinya."
"Aku 'kan hanya bertanya tentang Alif."
"Alif atau Ainun?"
"Dua-duanya."
"Sudahlah, tunggu Laila saja."
"Kenapa tadi kamu tidak menghubungiku, biar aku saja yang datang ke sekolah Fajar."
"Halah, kamu itu modus saja. Yang ada nanti Fajar akan semakin marah karena kamu lebih membela Alif."
"Mana ada begitu! Meskipun Alif adalah cucunya Ainun, tapi Fajar juga cucuku. Meskipun tidak ada darahku yang mengalir dalam tubuhnya, tapi tetap saja sejak kecil aku sudah menganggapnya sebagai cucuku sendiri, jadi aku tidak mungkin membela salah satunya."
"Terserah kamulah. Nanti bicara saja sama Laila."
Harun memang tidak meragukan betapa besarnya rasa sayang Malik pada Fajar. Mungkin itu karena pria itu tidak memiliki keluarga lagi, padahal sudah beberapa kali dia menasehati temannya itu untuk pulang dan menerima perjodohan kedua orang tuanya, tapi Malik selalu menolak dengan keras. Baginya tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan Ainun.
Tidak berapa lama terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Masuklah Laila dengan langkah pelan karena tahu di rumahnya ada Malik, terlihat mobil pria itu terparkir di depan rumah. Wanita itu sengaja berjalan tanpa melihat dua orang yang sedang duduk di sofa ruang tamu dan berjalan memasuki rumah.
"Laila, tunggu! Duduklah dulu, kita bicara sebentar!" seru Malik membuat Laila menoleh.
"Mau bicara apa? Aku sudah sangat lelah. Aku mau istirahat."
"Ayolah, Laila! Jamu mana ada lelahnya. Apalagi di saat waktunya ghibah seperti ini."
"Ghibah? Enak saja ngatain aku. Bilang saja kalau kamu ingin tahu tentang Ainun, nggak usah banyak alasan."
"Itu kamu tahu, pakai pura-pura tidak mengerti segala. Duduklah dulu."
ceritanya baguuuuss,,, aluuuurrrnnnyyaaa aku suka bangeeettttt,,,,, 😍😍😍😍
novelnya baguuuuss,,,, alur ceritanya juga bagussss,, aku suka😍