Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.
Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.
Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.
Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Pre-op
Di dekat ruang On-call ICCU, lampu lorong redup. Dokter Devan menyudutkan tubuh Savira. Punggungnya nempel ke dinding dingin. Satu tangannya nahan di samping kepala Savira. Mengurung.
Wajah gadis itu tampak gugup. Napasnya pendek-pendek. Takut kalau-kalau ada orang yang ngegap mereka dalam posisi yang cukup...intim.
"Saya percaya sama kamu." Suaranya pelan. "Apapun yang terjadi, kamu tidak boleh menyerah." katanya penuh penekanan.
Mata Savira berkedip beberapa kali. Wajahnya setengah mendongak, menatap wajah Devan. Rahang tegas itu. Mata gelap itu. Dan...napas hangat serta aroma parfum sandalwood yang entah sejak kapan jadi favorit nya.
Dengan jarak yang cukup dekat. Savira bisa merasakan hawa panas dari balik pakaian yang dikenakan dokter Devan. "Maksud dokter?" cicitnya bingung. Sebisa mungkin Savira tahan napas, dan tenang. Agar dokter Devan tidak dengan degup jantungnya yang sedang bertalu-talu. Dug...dug...dug... Sekencang alarm.
Ia baru bertemu saat ronde pagi. Cuma lapor trombosit, sebelumnya juga tidak ada komunikasi dengan sang kekasih plus konsulennya.
Dokter Devan tidak langsung menjawab. Matanya nge-scan wajah panik Savira. Dari alis yang ketarik, dan bibir yang digigit. Kayak lagi assessment pasien kritis. "Operasi." katanya setengah berbisik. Napasnya ngena ke pipi Savira.
"Saya yang minta kamu jadi anestesi utama." Tangannya nyentuh pipi Savira. Usap lembut. Membuat gadis itu memejamkan matanya, menikmati sentuhan itu.
Dokter Devan senyum melihat tingkah Savira. Jika tidak mengingat mereka berada di ruang ICCU dan tidak ada operasi kolaborasi yang menunggunya. Mungkin ia tidak akan menahan diri. Dinding ini sudah menjadi saksi terlalu banyak. Tapi untuk saat ini...
Bukannya mencium bibir Savira. Dokter Devan menyatukan kening mereka. "Tunggu." Napasnya mulai memburu menerpa wajah Savira. "Nanti malam setelah kita off." sambungnya.
Savira membuka matanya hingga kedua pasang mata itu bertemu. Dokter Devan mengecup singkat hidung Savira lalu pergi. Meninggalkan sang kekasih mematung dengan banyak pertanyaan di kepalanya.
"Nanti malam?" ulang Savira sambil memegang puncak hidung yang tadi di kecup Devan.
Wajahnya seketika memerah. Kata-kata dokter Devan. "Tunggu. Nanti malam." Mengantarkan nya pada imajinasi yang....nakal. Mengingat mereka bukan lagi ABG. Mereka ada sepasang kekasih dewasa...dengan kebutuhan yang juga dewasa.
Savira berjalan sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri yang terasa panas. "Aira... Sejak kapan otak pintar mu tercemar." gerutunya dalam hati.
....
Ruang Pre-op. Jam 09:40.
Ns. Lia, Circulating nurse buka tirai. Bawa map coklat tebal. "Permisi, Pak. Tim operasi sudah lengkap ya. Kita cek terakhir sebelum masuk OK." Katanya dengan nada seramah mungkin.
Di belakangnya terlihat dr. Devan, dr. Arlo, dr. Savira, dr. Angga. Semua sudah pakai scrub biru, headcap, dan masker. Hanya masker Savira yang masih menggantung di leher. Terlihat wajahnya pucat dan scrub yang sedikit kusut dari pada yang lain.
Keluarga langsung berdiri. Salah satu anak pasien mendekat. "Dokter...bapak saya titip ya, Dok." katanya pelan. Semua mengangguk. Begitu juga dengan Savira, senyum tipisnya yang tidak tertutup masker membuat keluarga pasien sedikit lega.
Dokter Devan maju satu langkah. Tidak ada senyum. Professional. Dia liat map." Pak Haryoko. Saya dr. Devan, Sp.BTKV. Saya yang buka jantung bapak nanti. Ini Operasi CABG \= pasang bypass. Dan angkat tumor di tengah dada. Estimasi nya 6-8 jam. Risiko: pendarahan, infeksi, gak jantung. Bapak paham?"
Pak Haryoko mengangguk lemas di atas brankar. "Paham, Dok." jawabnya lirih. Dokter Devan menatapnya sesaat, kemudian mengangguk sekali lalu mundur.
Kini ganti dr. Arlo maju satu langkah. Dingin. Matanya nge-scan dari kepala sampai kaki pasiennya. "Saya dr. Arlo, Sp.BTKV Onko. Thoraks. Saya yang angkat tumornya. Kasus bapak berat. Tapi kami siap." Itu bukan pengenalan. Tapi pemberitahuan.
Dokter Devan tanda tangan consent bedah. Di ikuti dr. Arlo. Selesai. Mereka mundur dua langkah. Tugas bedah selesai.
Sekarang. Giliran Savira maju. Ia menghembuskan napas pelan. Berusaha bersikap tenang. Meski sulit. Dalam hatinya membenarkan kata-kata Riko di ruang residen. Kalau hari ini rumah sakit lebih serem dari rumah hantu.
Seulas senyum tipis terukir di bibir Savira sebelum ia membuka suara. "Selamat pagi, Bapak. Saya dr. Savira. Saya dokter anestesi Bapak hari ini. Saya yang tidurin Bapak, jaga napas Bapak, jaga jantung Bapak selama 8 jam kedepan." Pak Haryoko hanya ngangguk pelan sebagai jawaban.
Savira tarik napas dalam-dalam sebelum mengajukan pertanyaan. "Bapak, sekarang saya tanya ya. 1. Ada alergi obat, telur, susu, lateks?".
"Tidak ada, Dok." Sahut anaknya. Savira ngangguk.
"2. Gigi bapak ada yang goyang atau palsu?" Lanjutnya. Kembali di jawab anaknya. Savira coret map nya pake pulpen.
"3. Pernah pingsan atau muntah pas di bius?"
"4. Terakhir makan jam berapa? Harus kosong 8 jam ya, Pak."
Lagi-lagi di jawab anaknya. "Tadi jam 2 pagi. Minum kopi, Dok. Dikit." katanya.
Savira langsung tegang. Pulpen di tangannya berhenti. "Kopi?" Ulangnya. Suaranya naik setengah nada.
Sunyi. Hanya terdengar dengung AC central dan suara trolley lewat di luar tirai.
Anak pak Haryoko langsung salah tingkah. " Eh... Iya, Dok. Dikit banget kok. Cuma beberapa teguk doang. Bapaknya susah tidur semalam...."
Penjelasan anak pak Haryoko membuat Savira geleng-geleng kepala. Jantung pak Haryoko sudah separah ini. Ada sumbatan 90% Tumor segede kepalan tangan di mediastinum. Skor euroSCORE tinggi. Tapi masih dikasih kopi. Padahal mereka dari keluarga yang lumayan berpendidikan. Bukan orang awam dengan keterbatasan pengetahuan.
Di pojok, dr. Arlo langsung angkat wajah. Tatapan tajam ke Savira. Tanpa suara. Tapi pressure nya ada.
Si sebelahnya, dr. Devan masih diam. Nunggu. Ini ujian Savira .
Savira menghela napas berat. Scrub kusut dadanya ikut naik turun. Berusaha tidak panik. R2 boleh takut. Tapi tidak boleh terlihat takut.
Dia membungkuk sedikit, agar matanya setara dengan mata pak Haryoko. "Pak, cairan. Ada susu dan gula. Aturannya NPO 8 jam itu kosong kosong total, Pak. Tidak ada sedikit." katanya melirik ke arah anak pak Haryoko.
Senyum tipisnya tadi sudah hilang. Ganti wajah dokter. Ia menegakkan tubuhnya, menatap satu persatu keluarga pak Haryoko. "Alasannya gini, Pak. Buk...pas Bapak tidur dibius, reflek Bapak mati. Kalau ada sisa kopi di lambung...dia bisa naik ke atas. Masuk ke paru-paru. Namanya aspirasi. Paru Bapak bisa rusak. Dan itu sangat bahaya saat operasi jantung 8 jam." jelasnya.
Ibu Haryoko langsung tutup mulut. "Ya Allah... Dok. Kami tidak tahu." katanya menyesal.
Savira melihat jam dinding. 09:49. 11 menit lagi jam 10:00. Kemudian ia menoleh ke suster Lia. Suster Lia sudah menyiapkan map dan pulpen cadangan.
"Suster Lia. Tolong catat. NPO violation. Cairan jam 02:00. Risk: Aspirasi tinggi." katanya. Suster Lia langsung mencatat.
Lalu dia menoleh ke dr. Devan dan dr. Arlo. "Dok...kita delay 6 jam. Atau kita pasang NGT+ cuci lambung sekarang. Risiko Aspirasi bapak 4× lipat kalau kita gas operasi jam 10." Kata Savira dengan segala risiko.
Residen tahu 2 berani bilang delay. Itu butuh nyali baja. Karena yang di marahi direktur nanti ya dia. Buka dr. Devan atau dr Arlo. Apalagi ini bukan operasi biasa. Operasi seorang tahanan negara yang akan di siarkan dan di tonton langsung seluruh Indonesia.
*
*
*
*
*
To be continued