Mikayla tidak hanya dikhianati.
Ia dihancurkan.
Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.
Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.
Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.
Ia datang untuk menghancurkan.
Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Elang melangkah masuk ke ruang tamu dengan langkah tegap, sisa-sisa aroma parfum mahal dan kebahagiaan dari Bali masih menempel di setelan jasnya. Ia tidak menyadari bahwa suasana rumah itu sudah berubah, bahwa setiap sudut ruangan kini telah dipasangi penyadap oleh Reno atas perintah Gerald.
Mikayla menghambur ke pelukannya, melingkarkan lengan di leher Elang dengan kehangatan yang tampak begitu alami. Wajahnya yang kini lebih segar dan glowing berkat perawatan Dr. Alvian membuat Elang terpana sesaat.
"Akhirnya kamu pulang, Mas... aku kangen banget tahu," bisik Mikayla, menyandarkan kepalanya di dada pria yang diam-diam telah meracuni rahimnya itu.
"Aku juga kangen, sayang. Maaf ya, proyek di Bali dan di lombok
Upbenar-benar menyita waktu," Elang mengecup kening Mikayla, lalu menyerahkan beberapa kantong belanjaan bermerek dari butik ternama. "Lihat, aku bawakan oleh-oleh untuk istriku tercinta. Tas ini edisi terbatas, hanya ada beberapa di Asia.”
Perang batin di balik senyuman, Mikayla menerima tas itu dengan binar mata yang dibuat seolah-olah sangat bahagia. Namun, di balik pelukan itu, jemarinya meremas kain jas Elang dengan kebencian yang mendidih.
Suara Hati Mikayla "Istri tercinta? Lidahmu benar-benar tidak kaku mengucapkannya setelah semalaman bercinta dengan kakakku di Bali? Tas ini... aku tahu ini dibeli dengan kartu perusahaan yang sebentar lagi akan menyeretmu ke penjara. Nikmatilah sandiwara ini, Elang. Karena setiap pelukan ini adalah hitungan mundur menuju kehancuranmu.”
Mikayla melepaskan pelukannya, lalu menatap mata Elang dengan tatapan yang sangat lembut sebuah jebakan psikologis yang sempurna.
"Mas pasti capek banget ya? Aku sudah siapkan teh herbal spesial di meja makan. Diminum ya, biar staminanya pulih," ucap Mikayla manis.
Mikayla berjalan menuju dapur, punggungnya tegak dan anggun. Sambil menyeduh teh, ia menggumamkan kutukan yang paling dalam di sela-sela napasnya.
"Ya Tuhan... jika dia telah mematikan fungsi rahimku dengan racunnya, maka biarkanlah dia juga merasakan kehampaan yang sama. Biarkan benihnya mati, biarkan dia mandul seumur hidupnya sehingga dia tidak akan pernah memiliki ahli waris. Biarkan bayi yang dikandung Naura menjadi pengingat abadi akan pengkhianatannya, namun biarkan Elang kehilangan kemampuan untuk memberikan keturunan selamanya.”
Keesokan paginya, tidak ada yang terlihat berbeda.
Elang bangun seperti biasa, bahkan terasa lebih segar dari biasanya. Tubuhnya ringan, pikirannya jernih, seolah semalam ia mendapatkan istirahat yang sempurna.
Ia tidak tahu…
bahwa apa yang bekerja di dalam tubuhnya bukanlah pemulihan, melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih sunyi perubahan yang perlahan, tak kasat mata, namun pasti.
Di dapur, Mikayla sudah berdiri lebih dulu.
Masih mengenakan piyama, rambutnya tergerai rapi, ia kembali menyiapkan secangkir teh hangat dengan gerakan yang sama tenangnya seperti kemarin. “Mas, enakan badannya?” tanyanya lembut saat Elang mendekat.
“Lebih enak dari biasanya,” jawab Elang sambil menarik kursi. “Kamu pakai apa kemarin? Badanku rasanya fit banget.”
Mikayla tersenyum tipis, lalu mendorong cangkir itu ke arahnya. “Ini aku buatkan lagi teh herbalnya.”
Elang menerimanya tanpa ragu menyesap perlahan, ia menatap istrinya“Tumben banget kamu masih pakai piyama,” lanjutnya santai. “Nggak berangkat kerja?”
“Aku masih cuti, Mas. Besok baru masuk,” jawab Mikayla ringan, duduk di seberangnya.
Elang mengangguk, lalu seolah baru teringat sesuatu. “Oh iya… ibumu sempat menghubungiku. Dia tanya soal kartu kredit yang tiba-tiba nggak bisa dipakai.” Ia menatap Mikayla, sedikit heran. “Kenapa diblokir, Sayang? Apa uang bulanan dariku kurang?”
Mikayla menghela napas pelan, memainkan ujung cangkirnya sebelum menjawab. “Itu karena rekening utamaku sempat terblokir, Mas. Aku juga kaget waktu lihat pengeluarannya.” Ia mengangkat pandangan, suaranya tetap lembut, namun ada nada lelah yang terselip. “Lebih dari dua ratus juta lebih mas dalam sebulan… buat apa coba?”
Elang terdiam sejenak…
“Buat foya-foya,” lanjut Mikayla pelan. “Aku saja yang kerja sendiri pengeluaranku paling banyak lima belas juta.”
Ia tersenyum kecil, tapi tidak sampai ke mata.
“Jujur saja, Mas… anak Ibu itu bukan cuma aku.” Nada suaranya tetap tenang, namun mulai terasa lebih tegas. “Ada Naura yang model, Mas Ilham yang jadi manajer di perusahaan kamu, Mas Alfan juga kerja di tambang gajinya besar.”
Ia menatap Elang lurus. “Biar mereka juga ikut bantu. Jangan semua dibebankan ke aku terus. Jangan mau enaknya saja.”
Elang mengangguk pelan, seolah masuk akal, sementara itu, ia kembali menghabiskan teh di tangannya tanpa sisa. Dan di hadapannya, Mikayla hanya diam mengamati dengan tenang dan sabar, karena ia tahu kehancuran itu tidak selalu datang dengan gejala yang langsung terasa. Kadang, ia bekerja diam-diam, sampai semuanya terlambat untuk diselamatkan.
Elang meletakkan cangkir kosong itu di atas meja kayu jati mereka, suaranya berdenting pelan sebuah melodi penutup bagi kejantanannya yang perlahan mulai dikikis oleh racun tak kasat mata. Ia menyeka bibirnya, menatap Mikayla dengan pandangan yang masih dipenuhi rasa percaya diri yang buta.
"Kamu benar, Sayang. Ibu memang kadang keterlaluan kalau soal belanja," ujar Elang sambil mengancingkan kemeja kerjanya. "Mungkin ini saatnya mereka belajar mandiri. Aku akan bilang ke Naura juga supaya dia tidak terlalu membebani kamu.”
Mikayla hanya mengangguk kecil, jemarinya mengusap pinggiran cangkir Elang yang masih hangat. Naura tidak akan membebani aku lagi, Elang. Dia akan menjadi beban terberatmu sebentar lagi, batin Mikayla sedingin es.
Begitu Elang melangkah keluar menuju garasi, kelembutan di wajah Mikayla luntur seketika. Ia mengambil cangkir bekas Elang, membilasnya dengan air mengalir hingga tak ada satu pun molekul herbal itu yang tersisa.
Ia segera menghubungi Reno melalui jalur terenkripsi.
"Reno, dia baru saja berangkat. Dia merasa 'fit' karena efek awal stimulan dalam teh itu memang memberikan lonjakan energi sementara sebelum mulai merusak sistem reproduksinya secara permanen. Bagaimana dengan audit di kantornya?”
"Lancar, Mikayla. Tuan Gerald sudah menandatangani surat tugas untuk tim audit eksternal hari ini. Mereka akan datang ke kantor Elang siang ini dengan dalih 'pemeriksaan rutin tahunan'. Elang tidak akan curiga karena ini perintah langsung dari pusat," jawab Reno di ujung telepon.
Memutus rantai benalu, Mikayla beralih ke tabletnya. Ia melihat daftar pesan masuk dari ibunya yang semakin histeris karena semua akses keuangan masih tertutup.
Pesan Ibu: "Mika! Elang bilang kamu lagi sakit, tapi masa kartu Ibu tetap nggak bisa? Naura sampai nangis karena tas yang dia pesan dibatalkan sepihak! Kamu tega ya sama Kakakmu sendiri?"
Mikayla mengetik balasan singkat, pertama kalinya ia bersikap konfrontatif secara tertulis:
Balasan Mikayla: "Bu, bukannya Naura sudah punya calon suami kaya? Kenapa masih minta ke adik yang sedang sakit? Mintalah sama Ilham. Tabunganku sedang diaudit bank karena transaksi mencurigakan di Bali. Jangan hubungi aku dulu sampai urusan bank ini selesai.”
Mikayla melempar ponselnya ke sofa. Ia tahu, dengan mengirim pesan itu, ia sedang mengadu domba ibunya dengan Elang. Ibunya akan terus merongrong Elang, dan Elang yang mulai terhimpit audit Gerald akan mulai merasa tercekik oleh keluarga Mikayla yang parasit.
Sambil menunggu kabar lanjutan dari Dr. Alvian, Mikayla tidak membiarkan waktunya terbuang percuma, Ia berdiri di depan lemari pakaian, menatap deretan busana yang tersusun rapi. Tangannya bergerak perlahan, memilih bukan berdasarkan selera, tapi berdasarkan pesan yang ingin ia sampaikan hari ini.
Bukan gaun pengantin, bukan pula pakaian santai.
Melainkan setelan kerja paling mahal yang pernah ia beli. Warna gelap, potongan tegas, dan siluet yang memperlihatkan kendali penuh atas dirinya sendiri, tidak ada kelembutan hari ini. Tidak ada peran sebagai istri.
Yang ada hanyalah seorang wanita yang siap mengambil kembali apa yang menjadi miliknya.
Ia mengenakannya dengan tenang, merapikan setiap detail hingga sempurna. Rambut disisir rapi, riasan tipis namun tajam, cukup untuk menegaskan aura dingin yang kini melekat padanya.
Di atas meja, berkas-berkas sudah menunggu.
Dokumen penyitaan aset, semua telah dipersiapkan rapi, legal, dan tidak menyisakan celah. Melalui skema “pisah harta” yang selama ini dianggap remeh, Mikayla justru menemukan jalan untuk membalik keadaan. Aset-aset yang diam-diam telah dialihkan atas namanya kini siap ditarik sepenuhnya secara sah.
Dan awal dari runtuhnya fondasi yang selama ini menopang kehidupan Elang. Mikayla mengambil tasnya, memasukkan dokumen dengan hati-hati, lalu melangkah keluar tanpa ragu, setiap langkahnya ringan, namun penuh kepastian.
Karena hari ini ia tidak lagi bergerak dalam bayangan, ia akan mulai menampakkan dirinya sebagai ancaman nyata. Dan begitu proses itu dimulai tidak akan ada jalan kembali.
"Biarkan dia merasa gagah hari ini," gumam Mikayla sambil menatap pantulan dirinya di jendela. "Karena besok, dia akan menyadari bahwa satu-satunya hal yang tersisa darinya hanyalah nama besar Abimanyu yang sudah dicoret oleh kakaknya sendiri."
Mikayla beranjak menuju kamar mandi untuk bersiap. Bau parfum Elang masih tertinggal di udara, namun bagi Mikayla, itu bukan lagi bau cinta, melainkan bau bangkai dari sebuah pernikahan yang sudah lama mati.