Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persimpangan takdir
Matahari baru saja naik beberapa jengkal, namun udara di pinggiran kota sudah mulai terasa gerah. Adeeva memacu motor matiknya dengan kecepatan tinggi, mengabaikan debu yang menerpa wajahnya. Ia berhasil kabur melalui gerbang belakang pondok saat para santri sedang sibuk dengan jadwal kerja bakti pagi. Pikirannya masih panas karena pertengkaran subuh tadi.
"Cabut fasilitas, ya? Silakan saja. Aku masih punya tabungan sendiri," gerutu Adeeva di balik helmnya.
Ia harus segera sampai di sebuah kafe untuk bertemu Alesha. Mereka sudah berjanji untuk mendaftar kuliah desain di sebuah kampus swasta secara daring. Adeeva tahu Abi nya tidak akan pernah mengizinkannya, tapi ia tidak peduli. Ia lebih baik hidup susah daripada harus terus-menerus menjadi bayangan Adiba.
Sementara itu, di sebuah kompleks pertokoan yang cukup tenang, sebuah mobil dinas militer berwarna hijau tua bergerak pelan mencari posisi parkir. Di balik kemudi, Shaheer Ali tampak fokus. Ia baru saja kembali dari markas besar untuk mengurus dokumen kepindahannya ke satuan baru di kota ini.
"Bang, berhenti di depan apotek itu sebentar. Aku mau beli vitamin untuk Ibu," ujar Fathiyah yang duduk di sampingnya.
Shaheer mengangguk singkat. Sebagai seorang perwira, ia terbiasa dengan efisiensi waktu. Ia membelokkan setir dengan sigap menuju area parkir yang tampak cukup lengang.
Namun, tepat saat moncong mobilnya hendak memasuki slot parkir, sebuah motor matik melesat dari arah tikungan tanpa menyalakan lampu sein. Motor itu memotong jalur mobil Shaheer dengan sangat dekat hingga suara decitan rem terdengar memekakkan telinga.
Ckiiiiiitt!
Shaheer menginjak rem dalam-dalam. Tubuhnya dan Fathiyah sempat terdorong ke depan. Motor itu oleng, namun pengendaranya berhasil menyeimbangkan diri tepat beberapa sentimeter dari bemper depan mobil.
"Gila ya?!" Adeeva membuka kaca helmnya dan berteriak kencang, tidak peduli siapa yang ada di dalam mobil itu. Ia masih emosional karena masalah di rumah, dan kejadian ini seolah menjadi pematik ledakan amarahnya.
Shaheer menghela napas panjang, mencoba menjaga ketenangannya. Ia mematikan mesin, lalu turun dari mobil dengan langkah tegap. Seragam perwiranya tampak rapi tanpa cela. Ia berdiri di depan Adeeva, menatap gadis itu dengan tatapan yang bisa membuat nyali anak buahnya menciut.
"Anda yang memotong jalur tanpa lampu isyarat, Nona. Kalau saya tidak mengerem, Anda sudah di bawah kolong mobil ini," ujar Shaheer dengan suara bariton yang tegas dan dingin.
Adeeva turun dari motornya, melepaskan helm dan mengibaskan rambutnya yang kecokelatan. Ia mengenakan jaket denim yang ukurannya agak kekecilan dengan kaos dalam yang cukup rendah di bagian dada. "Ya tapi lihat-lihat dong kalau mau belok! Mentang-mentang pakai mobil dinas, merasa punya jalan sendiri?"
Shaheer terdiam sejenak. Ia tidak fokus pada makian gadis itu, melainkan pada wajahnya. Ada sesuatu yang sangat familiar. Alis yang tegas, bentuk hidung yang mancung, dan struktur rahang itu.
Wajah ini... Shaheer membatin.
Pikiran Shaheer melayang pada foto yang tadi pagi ditunjukkan oleh ayahnya, Jenderal Ali. Foto seorang gadis bernama Adiba Zaheera Arjunka yang katanya sangat sholehah, lembut, dan penghafal Al-Qur'an.
Wajahnya mirip sekali dengan gadis di foto itu. Tapi... tidak mungkin, pikir Shaheer lagi. Gadis di depannya ini memakai riasan mata yang cukup tebal, berpakaian minim, dan bicaranya sangat kasar. Sangat jauh dari deskripsi "putri kyai" yang diceritakan ayahnya.
"Ada masalah, Bang?" Fathiyah turun dari mobil, menatap Adeeva dengan pandangan menyelidik. Sebagai seorang dokter militer, Fathiyah terbiasa menilai orang dari penampilannya. Ia melihat Adeeva dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan tidak suka.
"Gadis ini hampir mencelakai diri sendiri karena ceroboh," jawab Shaheer singkat tanpa melepaskan pandangannya dari Adeeva.
Adeeva mendengus. "Cih, sok tahu. Minggir! Aku ada urusan penting."
"Tunggu," Shaheer menahan stang motor Adeeva saat gadis itu hendak naik kembali. "Lain kali, berkendaralah dengan otak, bukan dengan emosi. Dan satu lagi, berpakaianlah yang lebih aman untuk berkendara. Pakaian seperti itu tidak akan melindungimu kalau kamu jatuh ke aspal."
Wajah Adeeva memerah karena malu dan marah. "Urus saja urusanmu sendiri, Pak Perwira! Jangan jadi polisi moral di jalanan!"
Adeeva langsung menyalakan motornya, menarik gas dalam-dalam, dan melesat pergi meninggalkan kepulan asap tipis.
Shaheer masih berdiri di tempatnya, menatap punggung gadis itu yang menghilang di keramaian jalan.
"Mirip ya, Bang?" celetuk Fathiyah tiba-tiba, seolah bisa membaca pikiran kakaknya.
Shaheer menoleh. "Apa yang mirip?"
"Gadis tadi. Wajahnya mirip sekali dengan foto calon yang dikasih Papa tadi pagi. Namanya siapa? Adiba?" Fathiyah menyipitkan mata. "Tapi penampilannya... Ya Tuhan, jauh sekali. Masa anak Kyai Arjunka seperti itu? Mungkin cuma mirip saja."
Shaheer tidak menjawab. Ia kembali masuk ke dalam mobil, namun bayangan wajah Adeeva tidak mau hilang dari benaknya. Ada sebuah keganjilan yang mengusik insting intelijennya.
"Adiba Zaheera..." gumam Shaheer pelan. Ia ingat di CV tertulis Adiba adalah anak tunggal yang akan melanjutkan studi. Ia tidak tahu bahwa ada sosok bernama Adeeva di keluarga itu.
Sore harinya, Shaheer sampai di rumahnya. Ayahnya sudah menunggu di ruang tamu dengan teh hangat.
"Bagaimana, Shaheer? Sudah kamu baca CV Adiba?" tanya Jenderal Ali dengan penuh harap.
Shaheer duduk di hadapan ayahnya. Ia teringat kembali pada kejadian di parkiran tadi. "Sudah, Pa. Wajahnya... memang cantik."
"Bukan cuma cantik, Shaheer. Dia itu mutiara di Pesantren Al-Arjun. Sopan sekali. Kamu tidak akan menyesal kalau menikah dengannya."
Shaheer terdiam sejenak. Ia ingin menanyakan apakah Adiba memiliki saudara kembar, tapi ia mengurungkan niatnya. Ia merasa tidak sopan mencurigai putri seorang sahabat ayahnya hanya karena bertemu seseorang yang mirip di jalanan.
"Baik, Pa. Saya setuju untuk memulai proses ta'aruf. Tapi saya ingin pertemuan pertama dilakukan secara informal dulu, tanpa melibatkan terlalu banyak orang," ujar Shaheer.
"Bagus! Besok Papa akan hubungi Kyai Arjunka. Katanya minggu depan mereka akan mengadakan acara syukuran di pondok, kita bisa datang ke sana."
Di kamarnya, Shaheer membuka kembali berkas foto Adiba. Ia menatap lekat-lekat foto gadis berhijab besar itu. Matanya memang sama dengan mata gadis pemotor tadi, tapi pancarannya sangat berbeda. Adiba di foto terlihat tenang dan teduh, sementara gadis tadi penuh dengan api dan pemberontakan.
"Siapa sebenarnya kamu?" bisik Shaheer pada dirinya sendiri.
Sementara itu, di sebuah sudut kafe, Adeeva sedang mengeluh pada Alesha. "Aku benci banget hari ini! Tadi pagi berantem sama Abi, terus di jalan hampir ditabrak tentara sok tahu yang ceramahin cara berpakaianku. Sial banget!"
"Tentara? Ganteng nggak?" tanya Alesha sambil menyesap kopinya.
"Nggak peduli! Mau ganteng atau nggak, kalau mulutnya kayak ustadz komplek, aku tetap nggak suka!" seru Adeeva.
Ia tidak menyadari bahwa di tasnya, ponselnya terus bergetar. Ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Revian Alfie, sang mantan kekasih yang masih belum mau melepaskannya. Dan di pojok layar ponsel itu, terpampang notifikasi pesan dari kakaknya, Adiba:
“Deeva, kamu di mana? Abi marah besar. Tolong pulang, aku butuh bantuanmu buat urusan visa ke Mesir.”
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...