NovelToon NovelToon
Bukan Inginku Jadi MADUMU

Bukan Inginku Jadi MADUMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Single Mom
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.

"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.

Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.

Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat tahun kemudian

Empat Tahun Kemudian.

Pagi itu, di beranda rumah kayu yang sederhana namun asri di pinggiran kota kecil Kalimantan, Siti sedang menyisir rambut hitam lebat milik Daffa. Anak lelaki berusia empat tahun itu duduk diam, matanya menatap jauh ke arah jalan setapak yang berkelok menembus pepohonan hijau. Wajahnya, hidungnya, alisnya, bahkan cara ia memiringkan kepala, persis serupa dengan Yusuf—seolah sosok lelaki itu hadir kembali dalam wujud anak kecil.

"Bunda…" panggil Daffa pelan, suaranya lembut namun terdengar begitu dewasa untuk ukuran anak seusianya.

Siti tersenyum tipis, jari-jarinya terhenti sejenak di atas ubun-ubun putranya. “Ada apa, sayang?”

“Kapan Ayah pulang? Tadi di taman, teman-teman semua diajak main sepeda sama Ayah mereka. Aku cuma bisa duduk dan melihat saja. Apa tugas Ayah begitu berat dan jauhnya sampai tidak bisa pulang sama sekali?” tanya Daffa, matanya yang bening memandang ibunya dengan penuh rasa ingin tahu dan kesedihan yang samar.

Siti memeluk tubuh mungil itu erat, mencium pipinya yang halus dan wangi. “Ayah sedang bertugas di tempat yang sangat jauh, Nak. Tempat yang sulit ditempuh, dan pekerjaannya mulia serta sangat penting. Ayah tidak lupa sama sekali pada kita. Setiap hari, setiap malam, Ayah pasti selalu memikirkan dan mendoakanmu. Kamu anak yang hebat, kan? Kamu harus sabar dan kuat seperti Ayah.”

“Benarkah? Ayah memang sangat hebat ya? Kalau Ayah pulang nanti, apakah dia akan bangga melihat aku sudah pandai membaca dan berhitung? Aku sudah hafal banyak doa juga, Bunda,” ujar Daffa, wajahnya kini bersinar penuh kebanggaan.

“Tentu saja, sayang. Ayah pasti akan sangat bangga, bahkan mungkin bangga sekali sampai matanya berkaca-kaca. Kamu adalah harta paling berharga yang dimiliki Ayah,” jawab Siti, berusaha menahan rasa nyeri yang menjalar di dadanya saat melontarkan kata-kata itu.

Di ruang makan rumah mewah miliknya, suasana terasa dingin dan hening. Yusuf duduk termenung, suapan nasi di tangannya belum juga disantap. Di hadapannya, Haikal—yang kini berusia lima belas tahun dan duduk di kelas tiga SMP—makan dengan tenang namun tanpa ekspresi. Wajah pemuda itu tampan dan tegas, namun sorot matanya selalu tertutup dan dingin. Di ujung meja, Nora duduk dengan santai, sesekali memainkan ponselnya sambil tersenyum sendiri, seolah orang-orang yang ada di ruangan itu tidak pernah ada.

“Haikal, bagaimana sekolahmu? Ada kesulitan pelajaran atau kegiatan apa pun?” tanya Yusuf pelan, berusaha memecah keheningan yang menyesakkan itu.

Haikal mengangkat wajah sekilas, menatap ayahnya dengan pandangan datar. “Biasa saja, Pa. Semua berjalan lancar. Tidak ada masalah apa-apa.”

“Baguslah. Kalau butuh bantuan atau apa pun, jangan sungkan bicara sama Papa,” ucap Yusuf lagi.

“Terima kasih, Pa. Tapi aku bisa mengurus diriku sendiri,” jawab Haikal singkat, lalu kembali menunduk memakan makanannya.

Yusuf menghela napas pelan, menatap putranya dengan perasaan yang rumit. Ia tahu betul ia gagal menjadi ayah yang hangat dan dekat, namun ia juga tidak tahu bagaimana cara mengubah keadaan yang sudah terlanjur kaku ini. Ia selalu membandingkan dalam hati, bagaimana jadinya seandainya Daffa ada di sini bersama mereka. Apakah suasana akan berbeda? Apakah kehangatan akan terasa nyata?

“Mas, sore ini aku pulang agak terlambat ya. Ada acara reuni sekaligus kumpul teman lama setelah jam praktek selesai,” ujar Nora tiba-tiba, suaranya terdengar begitu santai dan tidak mempedulikan apa pun.

Yusuf menatap istrinya sekilas. “Acara? Teman yang mana? Biasanya kamu jarang sekali ikut acara seperti itu.”

“Teman kuliah dulu. Sudah lama tidak bertemu, jadi kami sepakat berkumpul. Memangnya ada yang salah?” jawab Nora, menatap balik dengan tatapan yang sama dingin dan bebasnya.

“Tidak ada yang salah. Hanya saja, hati-hati saja. Jangan pulang terlalu larut,” ucap Yusuf, lalu kembali diam. Ia tidak lagi punya energi atau keinginan untuk bertanya lebih jauh atau peduli. Ia hanya tidak ingin adanya perdebatan.

“Tentu saja. Aku akan berhati-hati. Lagipula, aku bukan anak kecil lagi yang perlu selalu diawasi dan diatur,” balas Nora ketus. “Berbeda dengan Mas, yang setiap hari seolah-olah sedang mencari sesuatu yang hilang, seolah-olah orang yang pergi itu akan kembali hanya dengan terus dipikirkan dan dirindukan. Sudahlah, Mas. Mereka sudah pergi, dan mereka sudah memilih jalan mereka sendiri. Sekarang, biarkan aku juga menikmati jalan hidupku sendiri.”

Yusuf mengepalkan tangannya di atas meja, menahan amarah yang tiba-tiba meluap. “Kamu bicara apa, Nora? Apa maksudmu dengan menikmati jalan hidupmu sendiri?”

“Mas tahu betul apa maksudku. Empat tahun berlalu, dan Mas masih tetap sama. Mas masih memikirkan Siti, masih memikirkan anak itu. Aku istri sahmu, aku yang ada di sini mendampingimu setiap hari, tapi aku sama sekali tidak pernah ada di dalam pikiran atau hatimu. Jadi, kenapa aku harus terus menyiksa diriku sendiri menunggu perhatian dan kasih sayang yang tidak akan pernah aku dapatkan? Aku berhak bahagia, Mas. Aku berhak merasa dihargai dan disayangi, sesuatu yang tidak pernah Mas berikan padaku.”

“Jaga ucapanmu, Nora! Aku suamimu! Dan apa yang aku rasakan atau pikirkan, itu urusanku sendiri. Selama ini aku tidak pernah melarang atau menahanmu melakukan apa pun, dan rasanya kasih sayangku masih tetap sama. Ingatlah batasan dan kewajibanmu sebagai istri!” bentak Yusuf, suaranya menggelegar menahan emosi.

Nora hanya tertawa kecil, tawa yang terdengar getir dan penuh kepahitan. “Batasan? Kewajiban? Mas, tolong jangan munafik. Kita berdua tahu betul bagaimana keadaan rumah tangga kita ini. Kita hanya dua orang yang hidup bersama demi nama dan status saja. Jangan berlagak seperti suami yang cemburu atau peduli, padahal hati Mas sudah lama milik orang lain. Kasih sayang yang mas berikan selama ini hanyalah keterpaksaan. Jadi, biarkan saja aku mencari kebahagiaanku sendiri. Selama aku tidak mengganggu hidup dan urusan Mas, biarkanlah aku bernapas dan merasa hidup kembali.”

Tanpa menunggu jawaban atau tanggapan lebih lanjut dari Yusuf, Nora bangkit berdiri, berjalan keluar dari ruang makan dengan langkah yang tegap dan penuh ketidaksukaan. Yusuf duduk membatu, merasa sangat kalah dan hancur. Di sudut lain meja, Haikal hanya diam menyaksikan semuanya, wajahnya tetap datar namun hatinya terasa semakin sepi dan kosong. Ia sudah terbiasa dengan pertengkaran dan suasana seperti ini, namun setiap kali melihat dan mendengarnya, ia semakin merasa bahwa keluarganya hanyalah bangunan kosong yang rapuh dan tidak memiliki arti apa pun.

Sore itu, di sebuah kafe yang mewah dan tenang, Nora duduk berhadapan dengan Raka, teman kuliahnya dulu yang kini juga menjadi rekan sejawat. Wajah Nora tampak cerah dan bersinar, jauh berbeda dibandingkan wajahnya yang selalu murung dan kaku saat berada di rumah.

“Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Nora. Kamu terlihat makin cantik dan mempesona, meski sudah menjadi ibu dari anak yang besar,” ujar Raka sambil tersenyum lebar, matanya menatap Nora dengan penuh kekaguman dan perhatian yang mendalam.

Nora tersenyum malu-malu, pipinya memerah samar. “Ah, kamu bisa saja, Raka. Padahal aku merasa sudah tua dan banyak beban pikiran.”

“Tua? Kamu bicara apa? Di mataku, kamu masih tetap wanita yang sama seperti dulu. Cantik, cerdas, dan memiliki pesona yang tidak bisa ditandingi siapa pun. Aku selalu mengingatmu, Nora. Selama bertahun-tahun, wajahmu tidak pernah hilang dari pikiranku. Dulu aku tidak berani bicara karena kamu sudah memilih orang lain, tapi sekarang… melihat keadaanmu seperti ini, rasanya hatiku terasa sakit sekali,” ucap Raka pelan, tangannya perlahan menyentuh tangan Nora yang tergeletak di atas meja.

Nora tergugu, jantungnya berdegup kencang. Ia tidak menarik tangannya, justru membiarkan sentuhan hangat itu meresap masuk dan membuat hatinya yang beku perlahan mulai meleleh.

“Raka… aku sudah lelah sekali. Aku merasa hidupku hampa dan tidak berarti. Suamiku sendiri bahkan tidak pernah melihat atau menganggapku ada. Selama bertahun-tahun aku berusaha, berjuang, dan menunggu, tapi hasilnya nihil. Hatinya selalu milik wanita lain, wanita yang sudah pergi dan menghilang bertahun-tahun yang lalu. Aku merasa bodoh dan menyedihkan,” kata Nora, suaranya bergetar, air matanya mulai menetes membasahi pipi.

Raka mengusap punggung tangan Nora dengan lembut, tatapannya penuh kasih sayang dan pengertian.

“Jangan bicara begitu, Nora. Kamu bukan wanita yang menyedihkan, kamu wanita yang hebat dan kuat. Kamu hanya berada di tempat yang salah dan berada di samping orang yang tidak pantas memilikimu. Kamu berhak dicintai, kamu berhak dihargai, dan kamu berhak bahagia. Mengapa kamu harus terus menyiksa dirimu demi orang yang bahkan tidak peduli sedikit pun padamu? Mulai sekarang, biarkan aku ada di sampingmu. Biarkan aku berusaha membuatmu tersenyum dan merasa bahagia setiap harinya. Aku tidak akan pernah membuatmu merasa tidak berharga atau sendirian, aku berjanji.”

“Tapi… kita sudah sama-sama berkeluarga, Raka. Apa yang kita lakukan ini salah dan tidak pantas,” bisik Nora, meski hatinya sepenuhnya tidak setuju dengan kata-katanya sendiri.

“Benar, mungkin secara aturan itu salah. Tapi hati dan perasaan tidak bisa dipaksa atau diatur, Nora. Cinta dan kenyamanan tidak salah. Kita hanya dua manusia yang sama-sama kesepian dan membutuhkan sandaran. Biarkan saja waktu dan keadaan yang menentukan nanti. Yang terpenting sekarang, biarkan aku membuatmu merasa hidup kembali. Aku tidak meminta apa-apa darimu, aku hanya ingin melihatmu bahagia dan tersenyum seperti ini terus-menerus,” jawab Raka lembut namun tegas.

Nora mengangkat wajahnya, menatap mata Raka yang tampak tulus dan penuh janji. Di dalam hatinya, rasa takut dan rasa bersalah perlahan-lahan terkalahkan oleh rasa nyaman, rasa dihargai, dan rasa bahagia yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. Ia mengangguk pelan, air matanya semakin deras mengalir namun kali ini adalah air mata kelegaan dan rasa gembira.

“Baiklah, Raka… Aku lelah berjuang sendirian. Aku lelah merasa tidak berarti. Aku ingin merasa bahagia, aku ingin merasa dicintai. Tolong jangan pernah meninggalkanku atau menyakitiku seperti yang orang lain lakukan padaku,” ujarnya lirih.

Raka tersenyum lebar, lalu menggenggam kedua tangan Nora dengan erat dan penuh perlindungan.

“Tidak akan pernah, Nora. Selama aku masih bernapas, aku akan selalu ada di sampingmu, melindungimu, dan membahagiakanmu. Mulai hari ini, biarkan aku menjadi alasan di balik setiap senyummu.”

Di sudut kafe itu, mereka berdua saling menatap dan tersenyum, seolah dunia hanya milik mereka berdua saja. Nora sama sekali tidak lagi memikirkan Yusuf, tidak lagi memikirkan statusnya atau aturan yang melingkupinya. Ia hanya memikirkan rasa nyaman dan bahagia yang sedang ia rasakan saat ini, rasa yang sudah sangat lama hilang dari kehidupannya. Ia tidak menyadari bahwa keputusan dan langkah yang ia ambil ini akan membawa konsekuensi yang besar dan berat, serta akan mengubah jalannya nasib banyak orang yang terlibat di dalamnya. Ia hanya tahu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa damai dan merasa benar-benar hidup kembali.

Bersambung....

1
Naufal Affiq
istrimu di tempat selingkuhan nya yusuf
Jetva
si Siti ga kerja..??
Jetva
Lah Siti ogeb....ga pux harga diri....
Dewi Habibah
endingnya sudah bisa di tebak🤭
Dewi Habibah
gimana Nora tidak mencari kebahagiaannya sendiri , suami yg di cintai si Yusuf itu memendam cita pada Siti dan Nora di abaikan , lebih baik Nora cari kebahagiaan sendiri la
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
lanjut kak 👍
Naufal Affiq
kasihan aku lihat kamu yusuf,masih saja kau pikir kan perasaan istrimu yang tukang selingkuh di belakang mu
Tri Hastuti
mudah2an mereka bersatu,, nora tinggalin j
Naufal Affiq
nikahin siti yusuf,karena istri mu sudah selingkuh di belakang mu
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
mau lihat reaksi nora gimana nanti 🤧
Suanti
nora sdh selingkuh yusuf tinggal cerai kan nora baru nikah lgi sm siti 🤭
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤: gampang sekali ya kak /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Meri Meri
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Sasikarin Sasikarin
bolak balik g up juga... kecewa sangat
❀∂я 𝗗𝗘𝗪𝗜 𝗥⒋ⷨ͢⚤ : Bentar ya kak, lagi nulis🤗
total 1 replies
Naufal Affiq
yusuf berusaha kuat lagi untuk mencari siti dan dafa,mereka ada di Kalimantan lho
Tri Hastuti
biarin j nora selingkuh, nti siti sama yusuf j 😂
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
tapi kabar buruk dari ibumu Haikal , dia selingkuh 😭😭😭😅
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
ini ada maunya raka 🙄
Suanti
semoga secpt nya yusuf ketemu siti dan daffa
untung nora semoga aja ank nya haikal sendri yg nampak mama nya selingkuh sm raka 🤣🤣🤣
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
salah jalan kamu nora pelampiasan sama suami orang 🙄🤧
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
ujungnya jadi selingkuh kalian 🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!