Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Panggilan boarding akhirnya terdengar memenuhi ruang tunggu bandara, suara wanita dari pengeras suara yang terdengar sangat jelas.
Panggilan boarding akhirnya terdengar memenuhi ruang tunggu bandara. Suara wanita dari pengeras suara terdengar jelas, membuat beberapa penumpang mulai berdiri sambil membawa barang bawaan mereka masing-masing.
Feryal menarik napasnya pelan, "udah waktunya." gumamnya lirih. Bilal langsung berdiri lebih dulu lalu mengulurkan tangannya ke arah koper mereka. "Ayo."
Feryal mengangguk kecil sebelum ikut bangkit. Langkahnya terasa sedikit lebih berat di banding saat datang tadi, Semakin dekat perjalanan ini dimulai, semakin nyata pula semua kemungkinan yang akan ia hadapi nanti.
Mereka berjalan berdampingan menuju pintu keberangkatan. Sesekali bahu mereka bersentuhan kecil di tengah keramaian orang orang yang berlalu lalang.
Dan anehnya sudah sejauh ini didalam pesawat feryal tidak menjauh sama sekali. Di dalam pesawat mereka duduk berdampingan di dekat jendela.
Feryal memilih kursi sisi kaca sementara bilal duduk di sebelahnya. Setelah pramugari selesai memberi arahan keselamatan dan suasana perlahan menjadi lebih tenang.
Feryal menatap keluat jendela, langit pagi terlihat cerah. Pesawat mulai bergerak perlahan meninggalkan landasan tunggu.
Tangannya tanpa sadar mencengkram sandaran kursi sedikit kuat. Bilal yang menyadarinya melirik pelan.
"Takut terbang?
"Enggak."
"Terus." Feryal diam ssbentar sebelum akhirnya menjawab jujur. "Takut sama yang nunggu setelah mendarat.
Deg. Bilal terdiam beberapa detik mendengar itu, lalu perlahan tanpa banyak bicara, tangannya bergerak mendekat. Jemarinya menyentuh tangan feryal pelan.
Tidak memaksa hanya hadir, dan kali ini Feeyal membiarkannya, pesawat mulai lepas landas perlahan. Kota jakarta mengecil dari balik jendela, berubah menjadi kumpulan titik titik kecil yang perlahan tertutup awan.
Feryal memandanginya tanpa benar benar bisa fokus dengan pikirannya yang kelewat rumit dan penuh, apalagi tentang mamanya maupun tentang rumah di Bali dan begjtu banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. Apalagi tentang dirinya sendiri yang bahkan sampai sekarang belum benar benar selesai memahami apa yang ia cari selama ini.
"Kamu boleh punya rasa takut dan itu normal,' suara bilal terdengar pelan di sampingnya. Feryal menoleh sedikit.
"Tapi jangan jalan sendirian." Kalimat itu sederhana. Namun cukup membuat dadanya menghangat perlahan. Untuk pertama kalinya ia merasa Bilal tidak lagi mencoba mengarahkan hidupnya.
Dua jam kemudian, pesawat akhirnya mendarat di Bali. Begitu keluar dari bandara, udara hangat langsung menyambut mereka. Aroma laut samar samar bercampur dengan angin khas bali yang lembut.
Feryal berdiri beberapa detik sambil memandang sekitar. Sudah cukup lama sejak terakhir kali dia datang ke sini. Begitu banyak yang berubah tapi banyak juga yang terasa masih sama.
"Mobilnya udah pesen?," tanyanya pada Bilal. Bilal mengangguk. "udah." Tak lama kemudian mereka masuk kedalam mobil travel yang sudah menunggu diluar bandara. Dan sepanjang perjalanan feryal lebih banyak diam.
Kedua netranya sibuk melihat jalanan luar, dan lura pura tenang. Padahal jantungnya terus berdetak semakin cepat seiring mobil mendekati kawasan ruman ibunya.
Bilal meliriknya beberapa kali, "nervous banget?.'
Feryal terkekeh kecil tanpa humor, "parah."
"Masih bisa napas kok."
"Tipis tipis." ahal itu justru membiat Bilal tersenyum tipis. "Kalau pingsan aku bingung jelasinnya nanti."
"Bilal." panggil Feryal dengan lembutnya
"Iya ada apa?." tanya bilal menoleh ke arah istrinya.
Deg. Feryal terdiam beberapa saat.
Tak lama kemudian mereka masuk kedalam mobil travel yang sudah menunggu di luar bandar. Sepanjang perjalanan, Feryal lebih banyak diam.
Matanya sibuk melihat jalanan luar, seolah pura pura tenang padahal jantungnya terus berdetak semakin cepat seiring mobil mendekati kawasan rumah ibunya.
Bilal meliriknya beberapa kali, "nervous banget?." Feryal terkekeh kecil tanpa humor, "parah."
"Masih bisa napas?."
"Yah begitulah, tipis tipis mungkin." Hal itu justru membuat Bilal tersenyum tipis, "kalau pingsan aku bingung jelasinnya nanti."
"Bilal.."
"Iya?."
"Jangan tinggalin aku sendirian nanti ya."
Deg. Bilal langsung menoleh penuh perhatian, namun tatapan feryal kali ini berbeda. Tidak bercanda ataupun santai.
"iya jangan khawatir ya, Aku disini kok." sahut Bilal tanpa ragu. Hanya beberapa kata saja tapi sudah bisa menjadikan feryal jauh lebih tenang.
Mobil akhirnya memasuki kawasan perumahan yang lebih sepi. Pohon pohon besar besar berjajar di sisi jalan sementara suara dedaunan tertiup angin terdengar samar dari luar yanh semakin dekat dan nyata sampai pada akhirnya.
Mobil pun berhenti tepat di depan sebuah rumah
modern bernuansa putih hangat dengan taman kecil di halamannya.
Deg. Feryal langsung diam, rumah itu masih sama. Tidak banyak berubah sejak terakhir kali ia datang. Rumah itu masihlah sama, tidak banyak berubah sejak terakhir kali ia datang.
Tangannya perlahan mengepal kecil diatas pangkuan. Bilal memperhatikannya sebentar sebelum akhirnya berkata pelan.
Bilal memperhatikannya sebentar sebelum akhirnya berkata pelan, "kita nggak harus buru buru Fey."
Feryal menggeleng pelan, "enggak,..aku cuma,.."
Kalimatnya menggantung, karena tiba tiba saja pintu rumah itupun terbuka dari dalam.
Dan sosok itu muncul yaitu Santi sang bundanya Feryal. Wanita itu berdiri di depan pintu dengan dress panjang warna olive dan rapi yang tertata rapi. Wajahnya tetap cantik seperti yang Feryal ingat.
Namun sorot matanya, selalu sulit ditebak. Dan untuk beberapa detik baik bilal maupun feryal keduanya tidak ada yang bergerak tanpa kata ataupun suara.
Hanya tatapan seorang ibu dan anak yang akhirnya bertemu lagi setelah sekian banyak percakapan yang tertunda.
"Ma.." suaranya Feryal pelan sekali. Santi beejalan mendekat perlahan,Tatapannya berpindah dari wajah putrinya, lalu ke Bilal yang berdiri di sampingnya. Dan entah kenapa…
Udara mendadak terasa lebih tegang, Bilal langsung menundukkan kepala sopan. “Assalamualaikum.” Santi diam sepersekian detik sebelum akhirnya menjawab pelan,
“Waalaikumsalam.” Nada suaranya tidak dingin.
Tapi juga belum hangat. Feryal bisa merasakannya jelas. “Ayo masuk dulu,” ujar Santi akhirnya sambil menyingkir memberi jalan.
Mereka masuk ke dalam rumah itu perlahan. Aroma lavender yang familiar langsung menyambut begitu pintu tertutup, rumah itu masih sama seperti dulu. Rapi, tenang dan terasa sedikit terlalu sunyi.
Fery duduk perlahan di sofa ruang tamu, sementara Bilal duduk di sebelahnya dengan jarak yang sopan
Santi datang membawa minuman beberapa menit kemudian. "Kamu lebih kurus Fey," katanya tiba tiba sambil menatap feryal dan tangannya memegang pundak feryal.
Feryal sedikit salah tingkah, "Masa sih bunda?."
"Iya loh."
"Padahal makan terus."
Santi menghela napas kecil sambil duduk di kursi seberang mereka. Tatapannya lalu beralih ke Bilal. “Gimana perjalanan kalian lancar?”
“Lancar, bunda" jawab Bilal tenang, dan kata “Bunda” itu membuat Feryal langsung melirik cepat. Santi juga tampak sedikit terdiam, namun wanita itu tidak membahasnya.
“Aku sudah siapkan kamar kalian di atas.”
Deg. Kalian, satu kata sederhana, tapi entah kenapa membuat Feryal sedikit gugupnya bukan main. Santi kembali menatap putrinya beberapa detik lebih lama, “kamu kelihatan capek.”
Feryal tersenyum kecil. “Sedikit.” sahut Feryal, “habiskan minumnya dulu. Setelah itu istirahat.”
Feryal mengangguk pelan, percakapan mereka masih terasa hati-hati. Seperti semua orang sedang mencoba mengukur jarak aman masing-masing. Namun di tengah suasana itu…
Feryal menyadari sesuatu, Bundanya tidak marah. Dan tidak juga langsung membahas hal-hal sensitif seperti yang ia takutkan. Dan justru itu yang membuatnya semakin gugup.
Karena ketenangan seperti ini biasanya selalu menyimpan sesuatu yang lebih dalam. Malam mulai turun perlahan di Bali. Langit berubah gelap sementara suara ombak samar terdengar dari kejauhan.
Di kamar atas, Feryal berdiri dekat balkon sambil memandang luar. Angin malam meniup rambut pendeknya pelan. Pikirannya yang masih kelewat penuh.
“Capek?” Suara Bilal membuatnya menoleh, pria itu baru keluar dari kamar mandi dengan kaos hitam sederhana dan rambut yang masih sedikit basah. Feryal menggeleng kecil. “Lebih ke… bingung.”
Bilal berjalan mendekat perlahan lalu berdiri di sampingnya. “Dia nggak marah,” gumam Feryal pelan.
“Hm.” sahut bilal mengangguk lalu memeluk feryal dari belakang. “Tapi itu malah bikin aku takut.” Bilal memahami maksudnya, karena kadang sebuah ketenangan justru lebih sulit dibaca daripada kemarahan.
“Aku rasa beliau juga lagi berusaha,” ujar Bilal hati-hati, Feryal menunduk. “Bi…”
“Iya?, kalau nanti semuanya jadi rumit gimana ya…” Bilal langsung memotong pelan. “Ya jangan putus asa kiita hadapin.”
“Kalau mama nyuruh aku pilih?” tanya feryal khawatir.
Deg. Pertanyaan itu akhirnya keluar juga. Bilal terdiam beberapa detik, lalu menatap Feryal dalam. “Aku nggak akan minta kamu ninggalin ibu kamu.” Dan jawaban itu membuat mata Feryal langsung melembut. “Tapi aku juga nggak akan ninggalin kamu,” lanjut Bilal pelan.
Dan entah kenapa…kalimat itu terasa jauh lebih emosional dibanding pengakuan cinta apapun.
Karena untuk pertama kalinya, Feryal benar-benar merasa sedang diperjuangkan…
Tanpa dipaksa memilih siapa-siapa, namun tanpa mereka sadari di balik pintu kamar yang belum tertutup sempurna, Santi berdiri diam beberapa detik, mendengar sebagian percakapan itu. Dan perlahan, sorot matanya berumah semakin rumit.