NovelToon NovelToon
Pasangan Misterius X & V

Pasangan Misterius X & V

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Transmigrasi
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: ShinZa_17

Di mata dunia, pernikahan hanyalah sebuah formalitas saja.
Hingga suatu hari, seorang pria misterius yang selalu mengenakan topeng - yang dikenal sebagai asisten biasa - menikahi seorang wanita yang dijadikan alat penebus hutang.
Mereka tidak ada yang mencurigai apapun... hingga segalanya perlahan mulai berubah.

Ketika sang kakak menghilang secara tiba-tiba, sang adik perempuan dipaksa menggantikan posisinya sebagai istri.

Keputusan itu disetujui tanpa ragu oleh keluarga demi menebus hutang mereka.

Tidak ada seorangpun yang peduli dengan perasaannya... atau bahkan menanyakan keadannya.

Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal penting - adik perempuan mereka sebenarnya telah mati sejak berada di dalam gudang yang pengap karena dianggap telah mencoreng nama keluarga.

Kini, di dalam tubuh yang lemah dan penuh luka, telah tergantikan oleh jiwa lain.

Jika penasaran, ayo ikuti kisah mereka hingga akhir.

Selamat membaca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Dikeluarkan

Langkah kaki para murid mulai menjauh dari lapangan. Namun suasana sekolah masih tampak riuh setelah video Agnes dan teman-temannya masuk dalam forum sekolah.

Seorang guru tampak berlari menuju ruang kepala sekolah. “Pak! Pak kepala! Di halaman parkiran sekolah terlihat kerumunan wartawan!”

“Apa?!”

Seorang guru yang mengikuti kepala sekolah, mulai membuka suara. “Pak, video Agnes dan teman-temannya telah menyebar ke luar sekolah.”

Pak kepala sekolah langsung memijat dahinya. “Saya sudah menduga, video itu akan tersebar dengan cepat.”

Di sisi lain, Violet saat ini tengah berdiri diam menatap kepergian Agnes dan yang lainnya. Tatapannya dingin, dan dalam dadanya masih ada rasa sesak yang bersemayam.

“Xavier...” lirih Violet pelan.

Xavier menoleh. “Hm?”

“Apa aku terlalu berlebihan tadi?”

Pertanyaan itu membuat Xavier terdiam beberapa detik. Pria itu lalu mengangkat tangannya dan mengusap pelan kepala Violet.

“Tidak. Mereka pantas mendapatkannya,” jawab Xavier. “Dan setiap manusia punya batas kesabarannya. Dan tadi, kamu meluapkan semua emosimu yang selama ini dipendam.”

Violet menunduk.

Xavier dengan senyum memegang dagu Violet. “Aku tahu, dalam hatimu masih tersimpan rasa tidak puas. Jika kamu mau, kita bisa melakukan hal yang tadi lebih dari itu di suatu tempat.”

Mata Violet langsung berbinar. “Benarkah?”

“Tentu saja. Karena orang yang berada di sisiku harus kuat dan memiliki sisi kejam terhadap orang seperti mereka. Jadi, apa kamu ingin melakukannya?”

Dengan semangat, Violet mengangguk. “Tentu, aku mau.”

“Sekarang, kita pulang dan tunggu kabar dari Kelvin.”

“Eummm... baiklah.”

"Saya telepon sopir dulu untuk menjemput kita di belakang sekolah."

Xavier segera membuka teleponan dan menghubungi supir pribadinya.

📞"Jemput kami di belakang sekolah SMA Prima Navara."

📞"Baik, tuan."

Mereka pun berjalan ke arah belakang sekolah, tak lama menunggu, sebuah mobil sudah menunggu mereka.

Xavier dan Violet pun langsung masuk dan mobil pun perlahan meninggalkan sekolah.

Sedangkan saat ini di sekolah, setelah mendapatkan laporan bahwa di depan sekolah, kerumunan wartawan sudah memenuhi lapangan parkiran, itu tidak membuat kepala sekolah lupa akan tugas yang harus dia lakukan.

Ia pun duduk di kursinya menatap Agnes, Frenda, Riany dan Grace dengan raut wajah yang sulit dibaca.

“Selama ini saya menerima berbagai laporan mengenai tindakan kalian,” katanya tegas. “Namun tidak pernah ada bukti yang cukup kuat. Tetapi hari ini, semuanya terbongkar. Dan kalian tidak bisa mengelak lagi.”

Keempat gadis itu saling berpandangan dengan wajah pucat.

“Kalian tidak hanya melanggar aturan sekolah saja, tetapi juga telah melakukan perundungan yang berlangsung dalam waktu yang lama.”

Agnes menggigit bibirnya.

“Pak... kami bisa menjelaskan...”

“Cukup!” bentak Kepala Sekolah.

Ruangan langsung hening.

“Saya tidak ingin mendengar alasan apapun lagi. Yang saya ingin dengar adalah penyesalan dan pengakuan dari kalian.”

Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menjawab.

Beberapa guru yang berada di sana, hanya menatap mereka dengan kecewa.

Sementara itu, kabar mengenai kejadian di lapangan sudah menyebar ke seluruh sekolah. Para murid yang selama ini mengalami perundungan oleh mereka, berani membuka suara.

Satu persatu kesaksian korban muncul.

Ada yang dipermalukan.

Ada yang dipaksa untuk mengerjakan tugas sekolah mereka.

Bahkan beberapa murid muncul dan mengaku pernah diancam agar tidak melaporkan kepada guru atau pihak lain.

Semakin banyaknya kesaksian yang terkumpul, wajah Agnes dan teman-temannya semakin pucat.

Mereka baru menyadari bahwa selama ini banyak orang diam bukan karena takut, melainkan karena menunggu waktu yang tepat untuk membuka suara.

Menjelang sore, akhirnya keputusan diumumkan.

Kepala sekolah menarik napas, lalu berdiri dengan tubuh yang tegap. “Mulai hari ini, Agnesia Alexander, Frenda Joshephine, Riany Beatrix, dan Grace Danielle, dikeluarkan dari sekolah SMA PRIMA NAVARA.”

Jedarrr...

Seketika lutut mereka langsung lemas.

“Pak, saya mohon jangan keluarkan kami, pak...”

“Beri kami kesempatan untuk berubah...”

“Kami berjanji tidak akan melakukannya lagi...”

“Iya, pak. Kami bersungguh-sungguh tidak akan melakukannya lagi...”

Mereka memohon dengan wajah memelas, namun dari sorot mata mereka, tidak memancarkan rasa penyesalan sama sekali.

Kepala Sekolah langsung berucap kembali, “Dari sebelum-sebelumnya, kenapa kalian tidak melakukan perubahan? Tetapi, justru kalian melakukan yang lebih parah dari perundungan. Mencoba mencekoki teman sekolah kalian dengan alkohol, lalu merencanakan sesuatu yang bahkan itu bukan hal yang wajar yang dilakukan oleh murid sekolah!”

Mereka langsung terdiam. Dan di hadapan kepala sekolah, tangan mereka mengepal. Dengan pikiran yang sama, mereka berucap dalam hati, “Ini semua karena Violet. Awas kau Violet, aku akan melakukan hal yang lebih daripada ini.”

“Apa kalian dengar?!”

“Dengar pak,” jawab mereka.

“Sekarang kalian pulang dan jangan melakukan apapun lagi. Dan mulai besok, jangan pernah datang lagi ke sekolah ini.”

Mereka menunduk, dan kemudian berbalik meninggalkan ruangan kepala sekolah.

Ketika sudah berada di luar, mereka kembali berbicara. “Ini semua karena Violet. Kita harus melakukan hal yang lebih daripada ini.”

“Benar. Karena dia, kita di keluarkan dari sekolah.”

Setelah berjalan beberapa lama, mereka tidak sadar bahwa mereka diikuti. Lalu tiba-tiba –

Bugh!

Tengkuk mereka dipukul oleh orang yang mengikuti mereka. “Bawa mereka ke dalam mobil. Dan jangan biarkan siapapun melihatnya.”

“Baik, tuan.”

Sedangkan di halaman parkiran sekolah, kerumunan wartawan memenuhi parkiran sekolah. Kilatan kamera dan suara pertanyaan saling bersahutan, membuat suasana sekolah yang biasanya tenang berubah menjadi kacau.

“Pak kepala, kita harus segera melakukan verifikasi terhadap media, dan menjawab pertanyaan mereka agar para wartawan itu segera pergi,” ucap guru BK.

Setelah Agnes dan teman-temannya keluar, kepala sekolah langsung segera bersiap menghadapi para wartawan.

Kepala sekolah, Guru BK beserta guru lainnya berjalan ke arah lapangan parkiran sekolah, tempat para wartawan berada.

Ketika sampai sana, mereka langsung dihadiahi dengan kelap-kelip kamera. “Pak, apa benar orang yang berada dalam video itu murid SMA Prima Navara?”

“Lalu, kami juga mendapatkan video bahwa teman-temannya itu mencekoki temannya sendiri dengan alkohol. Apa itu benar, pak?”

“Bagaimana hukuman yang mereka dapatkan, pak. tolong jelaskan pak?”

Para wartawan terus menanyakan hal yang sama, dan membuat Guru BK langsung bertindak tegas.

“Tolong harap tenang. Kami akan menjawab pertanyaan kalian satu persatu,” ucap Guru BK.

Kepala Sekolah menarik napas, sebelum akhirnya ia menjawab. “Betul, orang yang ada di video itu murid kami sendiri. Dan berita mencekoki temannya sendiri dengan alkohol juga itu benar. Dan kami juga sudah bertindak tegas terhadap keempat murid itu. Kami tidak membiarkan mereka mencoreng nama baik sekolah, maka dari itu, kami dengan tegas mengeluarkan pelaku dari sekolah SMA Prima Navara.”

“Baik, karena pertanyaan kalian sudah terjawab. Dimohon untuk segera meninggalkan sekolah.”

Para wartawan pun satu per satu pergi meninggalkan lapangan parkiran sekolah. Begitu juga dengan para guru dan kepala sekolah.

Sementara Agnes dan yang lainnya sudah di bawa keluar melalui pintu belakan sekolah lalu pergi dengan menggunakan mobil menuju markas.

...... To be continued .......

1
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
tentu beda... dih
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥: iya kah?? /Chuckle/
total 1 replies
Tio Buki
Moga lancar👍👍👍🙏
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏
Tio Buki
Semangat ya thor👍👍👍
Tio Buki: Hehehe. Alhamdulillah. Masama Thor👍👍🙏
total 2 replies
Tio Buki
Lanjut
Tio Buki
Bunuh diri rupanya
Tio Buki
Tidak mengapa
Tio Buki
Yang benarkan tidak begitu
Tio Buki
Mencari alasan lagi kan
Tio Buki
Mau buktikan ya
Tio Buki
Siapa yang percaya
Tio Buki
Benci ya
Tio Buki
Biarin
Tio Buki
Akasan
Tio Buki
Hayo ngaku. Siapa
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
ughhh manisnyaaa❤️🔥
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥: /Awkward//Awkward/
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
uhhhh..... cocwet
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥: /Joyful//Joyful//Awkward/
total 3 replies
Dewi Payang
serba gelap, kaya abang Xavier🤭
Dewi Payang
Yakin, Tan?
Dewi Payang
Mateng kau Agnes🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!