Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ti Amo atau Ti Ammazzo
Langit di atas perbukitan Tuscany berubah warna menjadi ungu pekat, seolah-olah alam pun sedang berduka atas kekacauan yang terjadi di vila keluarga De Luca. Aroma sisa daging panggang yang terbakar dan bau kabel listrik yang hangus masih menggantung di udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan. Setelah baku hantam yang memalukan bagi Isabella—namun sangat melelahkan bagi klan De Luca—keheningan yang menyakitkan kini kembali berkuasa.
Bianca (dalam tubuh Lorenzo) duduk di atas kap mobil SUV lapis baja yang terparkir di bawah pohon zaitun tua. Ia memandangi tangannya yang besar dan kasar, yang kini lecet akibat hantaman botol anggur dan serpihan kaca. Di dalam kepalanya, ia masih bisa merasakan sisa-sisa amarah Lorenzo yang meluap-luap, bercampur dengan rasa takutnya sendiri yang belum sepenuhnya hilang.
"Ti amo atau ti ammazzo," gumam Bianca pelan. "Aku mencintaimu atau aku membunuhmu. Kenapa sih orang Italia kalau ngomongin perasaan pilihannya ekstrem banget?"
"Itu karena kami tidak mengenal jalan tengah, Bianca."
Bianca menoleh. Lorenzo (dalam tubuh Bianca) berdiri di samping mobil. Wajah aslinya yang kini dihuni Lorenzo terlihat sangat lelah. Lingkaran hitam di bawah mata Bianca tampak semakin jelas di bawah cahaya bulan.
"Mas Lorenzo, belum tidur? Mas Dante bilang koneksi kita ini bikin capek lahir batin. Mas harusnya istirahat," ucap Bianca.
Lorenzo tidak menjawab. Ia melompat naik ke atas kap mobil, duduk di samping Bianca. Untuk pertama kalinya, mereka duduk berdampingan tanpa ada meja atau senjata yang membatasi.
"Aku memikirkan perkataan Isabella," ucap Lorenzo tenang. "Dia benar tentang satu hal. Koneksi ini adalah kelemahan. Dia bisa menyiksaku hanya dengan menyakitimu. Dan melihatmu berteriak kesakitan tadi... itu memberikan rasa perih yang tidak bisa kujelaskan dengan logika medis."
Bianca menunduk. "Maaf ya, Mas. Gara-gara saya, Mas jadi ngerasa sakit juga. Padahal Mas itu bos mafia yang harusnya nggak punya kelemahan."
Lorenzo menatap profil wajahnya sendiri yang sedang dihuni Bianca. "Banyak orang yang ingin membunuhku, Bianca. Ti ammazzo adalah kalimat yang kudengar hampir setiap hari selama sepuluh tahun terakhir. Tapi Ti amo... itu adalah kalimat yang paling kutakuti."
"Kenapa takut? Bukannya enak kalau disayang orang?"
"Dalam duniaku, kasih sayang adalah vonis mati. Jika aku mencintai sesuatu, musuhku akan menemukannya, mengambilnya, dan menggunakannya untuk menghancurkanku. Itulah sebabnya aku setuju bertunangan dengan Isabella—karena aku tidak mencintainya. Itu hanya bisnis. Tapi kau..." Lorenzo terdiam sejenak, mencari kata yang tepat. "Kau datang dengan goyang Pargoy dan saus jamur, merusak semua tembok yang kubangun."
Bianca terkekeh pelan. "Ya namanya juga usaha bertahan hidup, Mas. Lagian, Mas Lorenzo itu aslinya baik kok. Cuma casing-nya aja yang horor."
Sementara itu, di dalam perpustakaan, Dante sedang berdebat dengan Valerio. Suasana di sana tidak kalah tegang.
"Kita tidak bisa memutus koneksi itu tanpa risiko kematian salah satu dari mereka, Valerio!" bentak Dante, suaranya naik satu oktav. "Frekuensi jiwa mereka sudah terjalin. Seperti dua kabel yang disolder menjadi satu. Jika kau menariknya paksa, kau akan merusak intinya."
Valerio memukul meja dengan kepalan tangannya. "Lalu kita biarkan mereka menjadi sasaran empuk? Isabella akan kembali dengan lebih banyak pengikut Rosanera. Dia tahu titik lemah Lorenzo sekarang adalah Bianca, dan titik lemah Bianca adalah tubuh Lorenzo!"
"Aku sedang mencari alternatif," balas Dante sambil menunjuk ke naskah kuno yang baru saja ia pecahkan kodenya. "Ada satu ritual kuno yang disebut Il Sacrificio del Cuore—Pengorbanan Hati. Tapi istilahnya menyesatkan. Ini bukan soal membunuh seseorang, tapi soal menyatukan keinginan yang sama kuatnya untuk kembali. Masalahnya, apakah mereka berdua benar-benar ingin kembali ke kehidupan lama mereka?"
Valerio tertegun. "Maksudmu?"
"Pikirkan, Valerio. Lorenzo selama ini tertekan dengan tanggung jawab klan. Di dalam tubuh Bianca, dia menemukan kebebasan yang tidak pernah ia miliki. Dan Bianca? Di dalam tubuh Lorenzo, dia memiliki kekuatan dan kekuasaan yang mungkin membuatnya merasa aman untuk pertama kalinya. Jika salah satu dari mereka ragu secara bawah sadar, kristal itu tidak akan pernah berfungsi."
Valerio menoleh ke arah jendela, melihat dua sosok di atas mobil SUV di kejauhan. "Jadi, nasib kita tergantung pada apakah mereka lebih memilih Ti amo atau Ti ammazzo terhadap diri mereka sendiri?"
"Tepat," gumam Dante.
Kembali ke bawah pohon zaitun, suasana semakin intim. Bianca mengeluarkan sebatang cokelat dari saku jasnya—sisa dari stok daruratnya. Ia membaginya menjadi dua dan memberikan setengahnya pada Lorenzo.
"Nih, Mas. Cokelat bisa bikin mood bagus. Di Jakarta, kalau lagi galau biasanya makan ini sambil dengerin lagu galau di radio," ujar Bianca.
Lorenzo menerima cokelat itu, memakannya perlahan. "Sangat manis."
"Mas Lorenzo," Bianca menatap mata Lorenzo dalam-dalam. "Kalau nanti kita beneran balik ke tubuh masing-masing... Mas bakal kangen saya nggak?"
Lorenzo berhenti mengunyah. Ia menatap mata Bianca—matanya sendiri—yang kini memancarkan ketulusan yang luar biasa. "Aku tidak akan punya waktu untuk merindukanmu, Bianca. Karena aku akan sangat sibuk memastikan kau tetap berada di jangkauan pandanganku."
"Hah? Maksudnya?"
Lorenzo mendekat. Ia meletakkan tangannya di pipi Bianca (tubuh aslinya). "Aku sudah memutuskan. Setelah semua ini berakhir, aku tidak akan membiarkanmu pulang ke Indonesia begitu saja. Kau sudah tahu terlalu banyak rahasia De Luca. Dan kau... kau sudah mencuri sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kristal Vatikan."
Jantung Bianca berdegup kencang. Ia bisa merasakan emosi Lorenzo mengalir deras melalui koneksi batin mereka. Rasa posesif, rasa ingin melindungi, dan sesuatu yang jauh lebih lembut sedang bergejolak di sana.
"Mas... ini namanya penculikan atau pernyataan cinta?" tanya Bianca dengan suara gemetar.
Lorenzo tersenyum tipis—senyuman yang kali ini benar-benar tulus. "Pilihannya hanya dua, Bianca. Ti amo... atau aku akan memastikan tidak ada pria lain yang bisa mendekatimu. Yang mana yang kau pilih?"
Sebelum Bianca sempat menjawab, ponsel di saku Lorenzo bergetar hebat. Itu adalah panggilan video dari nomor yang tidak dikenal. Lorenzo mengangkatnya.
Layar ponsel menampilkan wajah Isabella Moretti yang berlumuran darah, namun bukan darahnya sendiri. Di belakangnya, tampak Palazzo De Luca yang sedang terbakar. Dan yang paling mengerikan, Isabella sedang memegang leher Antonio yang terikat di kursi.
"Lorenzo, sayangku," suara Isabella terdengar serak dan gila. "Pargoy-mu tidak akan menyelamatkan pelayan setiamu ini. Aku sudah bosan bermain kucing-kucingan. Datanglah ke katedral tempat semuanya dimulai dalam dua jam. Bawa kristalnya, bawa gadis itu, atau aku akan mengirimkan kepala Antonio sebagai hidangan penutup malam ini."
Isabella mendekatkan wajahnya ke kamera. "Dan satu hal lagi... aku sudah mengaktifkan L'Oscurità—Kegelapan. Jika kau tidak datang, koneksi batin kalian akan meledak dan menghanguskan jiwa kalian berdua. Ti ammazzo, Lorenzo. Ti ammazzo dengan cara yang paling puitis."
Sambungan terputus.
Bianca gemetar hebat. Rasa sakit yang dirasakan Antonio entah bagaimana merembes masuk ke dalam batinnya melalui kebencian Isabella yang terpancar di layar.
"Mas... Antonio..." bisik Bianca.
Lorenzo melompat turun dari mobil, wajahnya kembali menjadi batu yang dingin. Aura sang Capo kembali seketika. "Dante! Valerio! Siapkan semua perlengkapan! Kita berangkat ke Roma sekarang!"
Dante dan Valerio berlari keluar dari vila. "Lorenzo, kita belum siap! Ritual pengembalian jiwanya belum sempurna!" teriak Dante.
"Tidak ada waktu lagi untuk kesempurnaan!" balas Lorenzo sambil masuk ke kursi pengemudi. "Isabella sudah melewati batas. Dia menyentuh keluargaku. Dan di duniaku, hanya ada satu jawaban untuk itu."
Bianca masuk ke kursi penumpang, tangannya masih memegang sisa cokelat yang kini meleleh. "Mas Lorenzo, kita bakal selamat kan?"
Lorenzo menatap Bianca, lalu menggenggam tangannya erat. "Dengarkan aku, Bianca. Malam ini, entah kita akan kembali ke tubuh masing-masing atau kita akan mati bersama, ada satu hal yang harus kau tahu."
"Apa, Mas?"
"Ti amo, Bianca. Dan aku bersumpah, jika aku harus membunuh seluruh klan Rosanera untuk menjagamu tetap hidup, aku akan melakukannya tanpa berkedip."
Mobil SUV itu menderu, membelah kegelapan jalanan Tuscany menuju Roma. Perjalanan yang akan menentukan apakah takdir mereka berakhir dalam pelukan cinta yang tulus atau dalam kehancuran kematian yang mematikan.
Di kursi belakang, Dante dan Valerio saling berpandangan. Mereka tahu, malam ini bukan lagi soal kristal atau kekuasaan. Ini adalah soal seorang bos mafia yang baru saja menemukan jiwanya, dan seorang gadis semprul yang baru saja menyadari bahwa ia jatuh cinta pada pria yang tubuhnya sedang ia pinjam.
"Ti amo atau ti ammazzo," gumam Valerio sambil mengokang senjatanya. "Malam ini, kita akan pastikan hanya cinta yang menang, meskipun harus lewat pertumpahan darah."