Callista terkejut bukan main, kala dirinya mendapati kembali jika dirinya telah kembali ke lima tahun lalu..
Dimana dia kembali pada awal pernikahan dengan Darius suami yang di di cintai secara ugal-ugalan.
Namun kini cinta itu telah berubah menjadi kebencian, segala perbuatan Darius di kehidupan lalu selalu di ingat nya.
Kini hanya akan hidup untuk membalas kan dendam nya di masa lalu.
Akan kah Callista mampu membalas dendam nya, yuk kita simak aja cerita nya sama-sama.
Warning, mungkin akan terdapat beberapa typo dan flashback di cerita Mak ini, jadi jangan heran ya😅.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Makmisshalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Pora Sang Binatang
Begitu pintu kediaman Callista tertutup rapat dan deru mesin mobil yang membawa pergi trio iblis itu menghilang di kejauhan, suasana ruang tamu yang tadinya tegang seketika berubah menjadi lebih cair.
Lily, yang sedari tadi menahan gejolak emosi di balik topeng diamnya, tiba-tiba meledak dalam tawa kecil yang terdengar sangat memuaskan.
Ia menyandarkan punggungnya di sofa, melipat tangan di dada dengan seringai penuh kemenangan.
"Akhirnya mereka pergi juga. Rasanya ingin sekali aku menyemprotkan cairan pembasmi serangga ke wajah mereka," ujar Lily sambil tertawa lepas.
Tawanya bukan tawa yang sopan, melainkan tawa kemenangan yang liar, menunjukkan gigi-giginya yang rapi namun penuh dengan dendam yang terpendam.
Bahunya terguncang hebat, kepalanya sedikit mendongak ke belakang, dan matanya berbinar licik—seolah ia baru saja memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya.
Liz yang sedari tadi berdiri tegak seperti patung es, menatap Lily dengan tatapan tajam dan penuh tanya. Alisnya yang tipis terangkat satu.
Ia merasakan ada sesuatu yang janggal dalam ketenangan Lily saat menyajikan minuman tadi.
"Apa yang kau lakukan, Lily?" tanya Liz dingin. Suaranya datar seperti bilah pisau yang siap menebas kapan saja. "Tadi aku melihatmu. Ada sesuatu yang kau masukkan ke dalam gelas Darius, bukan?"
Lily berhenti tertawa, lalu menoleh ke arah Liz dengan seringai yang masih menempel di bibirnya. Ia sama sekali tidak berniat menyembunyikan rencananya.
"Tepat sekali, Liz. Ingatanmu memang setajam matamu," jawab Lily santai.
"Itu adalah ramuan spesial. Aku tidak mau membiarkan si brengsek itu pulang dengan perasaan menang. Aku ingin melihat apa yang akan dilakukan binatang itu saat insting hewannya dipaksa bekerja di tempat yang salah." Callista, yang sedari tadi hanya diam menatap kosong ke arah jendela, kini perlahan menoleh.
Senyum sinis tersungging di bibirnya—sebuah senyuman yang jauh dari kata lembut, melainkan senyuman seorang predator yang sedang melihat mangsanya masuk ke dalam perangkap.
"Bagus, Lily," ucap Callista tenang.
"Itulah alasan mengapa aku memilih kalian berdua. Aku tidak butuh pengawal yang hanya tahu cara memukul atau menangkis peluru. Aku butuh seseorang yang berani bermain kotor dengan mereka yang bermain kotor denganku." Callista tidak marah.
Baginya, Darius hanyalah bidak catur yang sudah waktunya untuk dikorbankan. Jika Lily ingin memberikan sedikit "bumbu" pada akhir kehidupan Darius, Callista tidak akan keberatan.
Justru, ini akan mempermudah jalan mereka untuk menjatuhkan pria itu ke lubang kehancuran yang lebih dalam.
………………………………
Sementara itu, di dalam mobil yang melaju membelah hiruk pikuk kota, Darius merasa sangat puas. Setelah mengantarkan Rose dan Caroline kembali ke kediaman Darma Atmaja, ia segera memerintahkan Nico untuk tancap gas menuju kantor.
Sepanjang jalan, pikirannya dipenuhi dengan rencana besar untuk menguras harta Callista.
"Nico, pastikan jadwal rapat sore ini dibatalkan. Aku ingin merayakan keberhasilan proposal ini dengan tenang," perintah Darius dengan nada arogan.
Nico, yang duduk di kursi pengemudi, hanya mengangguk patuh. "Baik, Tuan."
Setibanya di kantor, segalanya tampak normal. Darius masuk ke ruang kerjanya yang luas dan mewah dengan langkah tegap.
Namun, baru satu jam ia duduk di balik meja kerjanya, sebuah sensasi aneh mulai menjalar dari perutnya ke seluruh saraf tubuhnya.
Suhu ruangan yang tadinya sejuk tiba-tiba terasa seperti api yang membakar. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Darius melonggarkan dasinya, napasnya mulai memberat. Panas.
'Sial, kenapa tubuhku mendadak seperti ini?' pikirnya.
Kejadian yang lebih memalukan terjadi semenit kemudian. Bagian bawah tubuhnya menegang dengan intensitas yang tak terkendali. Gairah yang biasanya muncul karena rangsangan visual, kini meledak tanpa peringatan, seolah darahnya mendidih.
Darius tahu betul apa yang terjadi pada tubuhnya. "Nico!" teriaknya dengan suara parau yang tertahan.
Pintu terbuka, dan Nico masuk dengan kepala tertunduk. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Cari wanita! Sekarang!" perintah Darius sambil memukul meja dengan keras. Nafasnya terengah-engah seperti binatang buas yang sedang kelaparan.
"Aku mau tiga wanita sekaligus. Cari yang masih segar, yang sudah matang, dan satu lagi yang pertengahan! Jangan tanya aku bagaimana caranya, bawa mereka ke sini dalam tiga puluh menit!"
Nico merasakan mual di perutnya, namun ia tetap mempertahankan wajah datarnya. "Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan."
Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, Nico kembali. Ia membawa tiga wanita dengan tipe yang diminta Darius melalui akses lift khusus yang langsung menuju ruangan pribadi pria itu di kantor.
Begitu ketiga wanita itu masuk ke ruangan, Darius memerintahkan Nico keluar dengan kasar.
"Pergi! Jangan berani-berani masuk sebelum aku memanggilmu!" Pintu tertutup rapat.
Ruangan kedap suara itu kini menjadi saksi bisu dari pesta pora yang menjijikkan. Darius tidak membuang waktu. Ia menerjang ketiga wanita itu seolah mereka bukan manusia, melainkan daging yang siap santap.
Suara-suara di dalam ruangan itu terdengar sangat liar. Suara decapan bibir yang saling memburu, desahan panjang yang terdengar menyakitkan namun penuh tuntutan, dan rintihan tertahan dari para wanita yang terpaksa melayani nafsu hewani pria itu.
Bunyi hentakan tubuh yang beradu di atas ranjang khusus di dalam ruangan itu terdengar berirama, seiring dengan erangan berat Darius yang terdengar semakin serak dan tak terkontrol.
"Cup... ahh... ya, terus..."
"Hah... hah... lebih cepat!"
Suara gesekan kulit dan napas yang memburu memenuhi ruangan, menciptakan simfoni kerakusan yang sangat memuakkan.
Darius tidak menyadari satu hal. Di sudut ruangan, tersembunyi di balik dedaunan lebat sebuah pot bunga hias, sebuah kamera mini dengan lensa super sensitif sedang menyala dengan lampu indikator merah yang sangat redup.
Segala gerakan, setiap rintihan, dan setiap pemandangan menjijikkan yang dilakukan Darius kini terekam dengan sempurna dalam resolusi tinggi.
Di sisi lain kota, di ruang kendali yang tersembunyi, Callista sedang menatap layar monitor dengan tatapan dingin dan tanpa emosi.
Lily dan Liz berdiri di belakangnya, ikut menyaksikan adegan tersebut.
"Inilah wajah asli suamiku," gumam Callista pelan.
"Dia selalu merasa dirinya paling berkuasa, paling suci, dan paling pintar. Tapi lihatlah sekarang... dia hanyalah seekor binatang yang sedang menjerat lehernya sendiri." Callista mematikan monitor.
Ia tahu, dengan bukti rekaman ini, ia tidak hanya akan menghancurkan reputasi Darius di depan keluarga Darma, tetapi ia juga memegang kartu truf yang akan membuat pria itu bertekuk lutut di bawah kakinya.
"Simpan rekaman ini dengan baik," perintah Callista kepada Liz.
"Ini akan menjadi kado terindah untuk pernikahan kami, tepat saat waktunya tiba nanti. Biarkan dia menikmati 'pesta'-nya hari ini, karena nanti, dunia akan tahu siapa sebenarnya Darius yang selama ini mereka puja."
Lily tersenyum puas di balik bayang-bayang. Rencananya berhasil dengan sempurna, dan ini baru permulaan dari kehancuran yang akan menimpa keluarga Darma.
Sementara di kantor yang megah itu, Darius masih tenggelam dalam nafsunya yang membabi buta, sama sekali tidak menyadari bahwa setiap detik yang ia habiskan di sana telah menjadi lonceng kematian bagi masa depannya sendiri. Perang baru saja dimulai, dan Callista sudah memenangkan ronde pertama dengan sangat mutlak.