Sejak kecil, Lolitta telah melewati begitu banyak penderitaan hidup. Berbagai masalah bahkan menyeretnya hingga ke penjara, menempa dirinya menjadi seorang gadis yang tangguh dan mandiri. Ia selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Meski bertunangan dengan pria kaya dan tampan, Lolitta tak pernah menjadi manja atau bergantung pada tunangannya.Di
balik ketegarannya, ia menyimpan luka yang hanya bisa ia tangisi dalam diam.
Dev Zhang, seorang konglomerat berpengaruh, menerima pertunangan itu hanya demi memenuhi permintaan sang kakek. Ia tak pernah menyadari bahwa gadis yang berdiri di sisinya telah mencintainya selama sepuluh tahun. Kedekatan Dev dengan cinta pertamanya membuat Lolitta memilih menjauh dan selalu menjaga jarak, mengubur perasaannya dalam diam.
Akankah Lolitta akhirnya berani mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam pada Dev Zhang?
Dan di antara Lolitta dan cinta pertamanya, siapakah yang benar-benar dicintai Dev?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Carmen masih berdiri kaku di depan meja, napasnya tidak teratur.
Sementara tatapan Lolitta tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Lolitta memutar pulpen di antara jari-jarinya dengan santai. Tatapannya mengarah lurus ke Carmen, dingin dan menekan.
"Kenapa diam saja?" tanyanya pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Bukankah tadi kau sangat sombong?"
Ucapan itu membuat Carmen menggertakkan giginya. Rasa takut yang sempat muncul perlahan berubah menjadi amarah.
"Lolitta Fang," ucapnya dengan suara bergetar, antara marah dan menahan diri, "dengar baik-baik…" Ia menatap Lolitta dengan penuh kebencian. "Aku akan merebut Dev darimu."
Ancaman itu menggantung di udara.
Namun Lolitta tidak bereaksi seperti yang diharapkan. Ia hanya tertawa kecil, pelan dan meremehkan.
"Kalau dia tidak setia," jawab Lolitta santai, "kau boleh mengambilnya kapan saja. Bukan karena aku mengalah."
Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis. "Tapi karena aku merasa… simpati padamu yang adalah seorang pengemis cinta."
Kata-kata itu seperti tamparan keras.
Wajah Carmen memerah, tangannya kembali mengepal. Namun kali ini ia tidak berani bergerak sembarangan.
Beberapa detik ia hanya berdiri, berusaha menahan emosi yang hampir meledak.
Akhirnya— dengan langkah cepat dan napas berat, Carmen berbalik dan berjalan keluar dari ruangan.
Pintu terbuka dengan kasar, lalu tertutup kembali dengan bunyi keras.
Ruangan kembali hening.
Lolitta tetap berdiri di tempatnya, memandang ke arah pintu yang baru saja ditutup.
Ekspresinya perlahan berubah serius. "Dasar wanita yang tidak tahu diri…" gumamnya pelan.
Ia meletakkan pulpen ke atas meja. "Beraninya berebut posisi manager denganku."Tatapannya sedikit menyipit, penuh perhitungan. "Aku jadi penasaran…"
Ia menyandarkan tubuhnya perlahan. "Siapa yang sebenarnya mendukungmu di belakang."
Malam hari.
Area parkiran perusahaan terlihat lebih sepi dari biasanya. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya redup di atas aspal yang lengang.
Lolitta yang baru keluar dari tempat kerjanya melangkah tenang menuju mobilnya. Suara langkah sepatunya terdengar jelas di tengah keheningan malam.
Namun—
beberapa langkah di belakangnya, terdengar suara lain.
Langkah kaki.
Pelan… tetapi mengikuti.
Seorang pria bertopi dengan masker menutupi wajahnya berjalan di kejauhan, menjaga jarak, namun jelas membuntuti.
Lolitta tidak menoleh.
Ekspresinya tetap datar seolah tidak menyadari apa pun.
Namun tangannya perlahan masuk ke dalam tas. Jarinya menggenggam sesuatu.
Pisau kecil.
Langkahnya sedikit melambat, memberi kesempatan pada pria itu untuk semakin mendekat.
Ia menunggu… momen yang tepat.
Detik demi detik terasa menegang.
Hingga akhirnya—
Lolitta tiba-tiba berbalik. Gerakannya cepat dan tajam.
Tangannya langsung menodongkan pisau ke arah belakang.
Namun—tidak ada siapa pun di sana.
Kosong.
Lolitta menatap ke kanan dan kiri, mencoba menangkap keberadaan pria tadi.
Hening.
Hanya suara angin malam yang berhembus pelan. "Ke mana dia?" gumam Lolitta pelan.
Alisnya berkerut.
"Apakah hanya perasaanku saja?"
instingnya mengatakan sebaliknya.
Seseorang memang sedang mengawasinya.
"Memang ada yang mengikutiku… tapi kenapa bisa hilang begitu saja? batin Lolitta.
Ia masih berdiri di tempat, matanya menyapu area parkiran dengan waspada.
Namun saat ia berbalik...tubuhnya tiba-tiba menabrak seseorang.
Bruk!
Lolitta hampir kehilangan keseimbangan. Tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang, namun sebuah tangan dengan cepat meraih pinggangnya dan menahannya.
Lolitta mengangkat kepalanya.
Dev.
Pria itu berdiri tepat di hadapannya, satu tangan masih melingkar di pinggang Lolitta, menahannya agar tidak jatuh.
"Kau baik-baik saja?" tanya Dev dengan nada khawatir.
Tatapannya meneliti wajah Lolitta, memastikan tidak ada yang terluka.
Lolitta segera berdiri tegak dan melepaskan diri perlahan. "Aku tidak apa-apa," jawabnya singkat, meski matanya masih sempat melirik ke sekitar.
Dev memperhatikan gerak-geriknya. "Ada apa?" tanyanya.
Namun Lolitta hanya menggeleng pelan.
Dev pun tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana.
"Aku datang menjemputmu," katanya santai.
Ia memasukkan satu tangan ke dalam saku celana. "Mari kita makan malam bersama."
Lolitta terdiam sejenak.
Meski pikirannya masih dipenuhi rasa curiga, ia akhirnya mengangguk. "Baiklah."
Dev tersenyum, lalu secara alami merangkul pundaknya.
Mereka berdua berjalan berdampingan menuju mobil Dev yang terparkir tidak jauh dari sana.
Di tengah langkah itu, Lolitta masih sempat menoleh ke samping.
Tatapannya tajam, mencari sesuatu di balik bayangan malam. Perasaan tidak nyaman itu belum hilang.
"Besok aku harus memeriksa rekaman CCTV," batinnya.
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰