Kianara Shernon Abraham
Seorang gadis berfrofesi aktrist berkarakter periang yang begitu tergila-gila pada novel berjudul “Save The Male Lead” tiba-tiba bertansmigrasi menjadi salah satu karakter novel yang sangat dibenci para pembaca yaitu Kianara Genevivie Anwealda.
Ya, karakter antagonis yang menjadi salah satu sumber penderitaan pemeran utama pria. Pun dengan suami yang sangat tidak peduli dengan istri bahkan anak nya. Bagaimana perjalanan kisah selanjutnya, ikuti jalan penuh lika-liku novel ini yang akan membawa kejutan ditiap plotnya.
Update 2-3 kali dalam seminggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyn_11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Udara dini hari menusuk hingga ke tulang.
Kabut tipis masih menggantung di atas perbukitan ketika dua ekor kuda hitam berlari meninggalkan ibu kota menuju wilayah utara.
Tidak ada iring-iringan besar.
Tidak ada panji keluarga Anwealda yang dikibarkan.
Hanya Grand Duke Agerald, Kapten Rivalt, serta empat orang ksatria kepercayaan yang mengikuti dari belakang dengan jarak beberapa puluh meter.
Perjalanan dilakukan secara diam-diam.
Bahkan sebagian besar penghuni kediaman Anwealda belum mengetahui bahwa Grand Duke telah meninggalkan rumah sebelum matahari terbit.
Agerald sengaja merahasiakannya.
Jika benar ada pihak yang selalu mengetahui setiap langkah mereka, maka semakin sedikit orang yang mengetahui tujuan perjalanan ini, semakin baik.
Selama hampir dua jam mereka menembus hutan pinus yang lebat.
Semakin jauh dari ibu kota, jalan yang mereka lalui semakin sempit.
Pepohonan tua menjulang tinggi, menutupi cahaya matahari yang baru mulai muncul di ufuk timur.
Udara terasa lembap.
Sunyi.
Hanya suara derap kaki kuda dan burung-burung hutan yang sesekali terdengar.
Rivalt memperhatikan jalan di depan.
"Yang Mulia..."
"Menurut catatan lama, mausoleum keluarga memang berada di kawasan ini."
Agerald mengangguk singkat.
"Aku pernah datang sekali."
"Kapan?"
"Saat pemakaman ayahku."
"Itu hampir dua puluh tahun lalu."
Agerald tidak menjawab.
Sejak hari itu, ia tidak pernah kembali.
Baginya, tempat itu hanyalah tempat peristirahatan leluhur.
Tidak lebih.
Namun kini...
ia mulai bertanya-tanya.
Apakah selama ini keluarganya sengaja menyembunyikan sesuatu di sana?
---
Tak lama kemudian...
bangunan batu raksasa mulai terlihat di balik kabut.
Mausoleum keluarga Anwealda.
Bangunannya berdiri megah di tengah bukit, dikelilingi pagar besi tua yang mulai ditumbuhi tanaman merambat.
Pilar-pilar batu putih menopang atap tinggi berbentuk kubah.
Meski telah berdiri selama ratusan tahun, bangunan itu masih tampak kokoh.
Di sepanjang jalan menuju pintu utama berdiri patung para Grand Duke terdahulu.
Masing-masing memegang pedang yang mengarah ke bawah sebagai lambang bahwa peperangan mereka telah berakhir.
Keheningan menyelimuti seluruh kawasan.
Bahkan angin pun terasa enggan berembus terlalu kencang.
Agerald turun dari kudanya.
Tatapannya menyapu seluruh bangunan.
Entah mengapa...
dadanya kembali terasa sesak.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
Seolah tempat ini...
pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Namun ia tidak mampu mengingatnya.
---
Pintu utama berderit pelan ketika didorong.
Ruangan di dalam begitu luas.
Barisan peti batu berjajar rapi di kedua sisi lorong.
Di setiap peti terukir nama para leluhur beserta lambang keluarga.
Lilin-lilin kecil yang selalu diganti oleh penjaga makam masih menyala redup.
Cahaya kuningnya membuat bayangan pilar-pilar batu tampak semakin panjang.
Rivalt membuka jurnal Alaric sekali lagi.
"Beliau hanya menulis..."
"Aku meninggalkan sesuatu di sana."
"Namun tidak menjelaskan letaknya."
Agerald berjalan perlahan menyusuri lorong.
Tatapannya berpindah dari satu makam ke makam lain.
Grand Duke pertama.
Grand Duke ketiga.
Grand Duchess Eleanor.
Grand Duke Leonhart.
Nama demi nama terukir dalam batu.
Hingga langkahnya berhenti di depan sebuah makam yang berbeda.
Tidak lebih besar.
Tidak lebih mewah.
Namun patung di atasnya menggambarkan seorang pria yang tidak membawa pedang.
Melainkan...
sebuah buku.
Rivalt ikut berhenti.
"Yang Mulia..."
"Saya tidak pernah melihat patung seperti ini."
Agerald membaca ukiran kecil di bawahnya.
Grand Duke Alaric Anwealda.
Leluhur yang menulis jurnal itu.
"Dia memilih diabadikan dengan buku."
gumam Rivalt.
"Padahal seluruh Grand Duke lain menggunakan pedang."
Agerald mengangkat pandangan.
"Itu berarti..."
"...pesan yang ingin ia tinggalkan lebih penting daripada peperangan yang pernah ia menangkan."
---
Mereka mulai memeriksa makam tersebut.
Tidak ada sesuatu yang mencurigakan.
Tidak ada tuas.
Tidak ada celah.
Hingga tanpa sengaja Rivalt memperhatikan sesuatu di bagian dasar patung.
"Yang Mulia."
"Ada bekas gesekan."
Agerald segera berjongkok.
Benar.
Di lantai batu terdapat goresan tipis membentuk setengah lingkaran.
Seolah patung itu...
pernah digeser.
"Semua mundur."
Empat ksatria segera memberi ruang.
Agerald dan Rivalt mendorong patung batu itu bersama-sama.
Awalnya tidak bergerak.
Namun setelah diberi tenaga lebih besar...
terdengar suara berat.
Grrrr...
Patung itu bergeser beberapa inci.
Debu-debu tua langsung berjatuhan.
Dan di bawah alas patung...
muncul sebuah lubang persegi kecil.
Rivalt menahan napas.
"Ada sesuatu."
Di dalam lubang itu terdapat sebuah kotak batu berukuran tidak lebih besar dari kedua telapak tangan.
Kotak tersebut disegel menggunakan lambang keluarga Anwealda.
Tidak ada kunci.
Hanya cekungan kecil berbentuk lambang pedang.
Agerald memandangnya lama.
Tanpa sadar ia mengeluarkan cincin kepala keluarga yang selalu dikenakannya.
Lambang pada cincin itu...
persis sama.
Ia memasukkan cincin tersebut ke dalam cekungan.
Klik.
Suara mekanisme tua menggema pelan.
Segel batu terbuka sendiri.
Tutup kotak perlahan bergeser.
Namun...
isi di dalamnya membuat seluruh orang yang berada di ruangan itu membeku.
Bukan emas.
Bukan permata.
Bukan surat wasiat.
Melainkan...
sebuah buku tua yang jauh lebih kecil daripada jurnal Alaric.
Sampulnya berwarna hitam pekat.
Di bagian tengah hanya terdapat satu kalimat yang ditulis menggunakan tinta emas yang mulai memudar.
"Jangan dibaca sebelum mereka kembali."
Rivalt menatap Agerald.
"Mereka..."
"Mereka siapa?"
Agerald tidak langsung menjawab.
Entah mengapa...
kalimat sederhana itu membuat bulu kuduknya berdiri.
Karena untuk pertama kalinya...
ia merasa seluruh kejadian yang mereka alami bukanlah sesuatu yang baru.
Melainkan...
sesuatu yang pernah terjadi.
Dan kini...
kembali terulang.
Tangan Agerald perlahan meraih buku itu.
Begitu ujung jarinya menyentuh sampulnya...
udara di dalam mausoleum mendadak berubah dingin.
Lilin-lilin di sepanjang lorong berkedip bersamaan.
Api mereka mengecil...
lalu membesar kembali.
Dan jauh...
sangat jauh...
di balik dinding batu yang telah berdiri selama ratusan tahun...
terdengar suara retakan kecil.
Krek...
Agerald dan Rivalt saling berpandangan.
"Itu suara apa?" bisik salah seorang ksatria.
Belum sempat ada yang menjawab...
retakan itu terdengar sekali lagi.
Kali ini...
lebih keras.
Seolah ada sesuatu...
yang telah lama tertidur...
Keheningan yang menyusul terasa jauh lebih menyesakkan daripada suara retakan itu sendiri.
Tak seorang pun bergerak.
Empat ksatria yang sejak tadi berdiri di belakang Agerald secara refleks menggenggam gagang pedang mereka. Tatapan mereka berputar ke segala arah, berusaha mencari sumber suara yang bergema samar di balik dinding-dinding batu tua mausoleum.
Namun tidak ada siapa pun.
Hanya barisan peti batu para leluhur yang berdiri diam diterangi cahaya lilin.
Rivalt menelan ludah.
"Yang Mulia..."
"Apakah kita... perlu mundur?"
Agerald tidak segera menjawab.
Tatapannya masih terpaku pada buku kecil di tangannya.
Permukaan sampul hitam itu terasa sangat dingin.
Terlalu dingin.
Bahkan untuk sebuah benda yang disimpan di ruang batu selama ratusan tahun.
Jemarinya perlahan menyapu ukiran tinta emas yang mulai memudar.
Jangan dibaca sebelum mereka kembali.
Kalimat itu sederhana.
Namun justru karena terlalu sederhana, maknanya terasa semakin sulit dipahami.
"Mereka..."
gumam Agerald hampir tanpa sadar.
"Siapa yang dimaksud?"
Rivalt menggeleng pelan.
"Kalau Grand Duke Alaric sengaja menyembunyikan buku ini, berarti beliau tidak ingin sembarang orang menemukannya."
"Atau..." lanjutnya pelan.
"...beliau sedang menunggu seseorang."
Agerald mengangkat pandangan.
"Menunggu?"
"Ya."
Rivalt menatap makam Alaric yang menjulang tenang di hadapan mereka.
"Kalimat itu bukan berbunyi jangan dibuka selamanya."
"Ia menulis..."
"jangan dibaca sebelum mereka kembali."
"Itu berarti..."
"...beliau percaya suatu hari nanti orang-orang itu pasti akan kembali."
Suasana kembali sunyi.
Tak ada satu pun dari mereka yang mampu menjawab.
Karena semakin dipikirkan, kalimat itu justru melahirkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Siapa "mereka"?
Mengapa harus kembali?
Dan yang paling mengusik...
apakah Alaric benar-benar mengetahui sesuatu yang akan terjadi ratusan tahun setelah kematiannya?
Saat itulah...
Krek...
Suara retakan itu kembali terdengar.
Kali ini lebih dekat.
Seluruh kepala spontan menoleh ke arah dinding sebelah timur.
Salah seorang ksatria maju beberapa langkah sambil mengangkat obor.
"Yang Mulia... di sini."
Api obor menerangi permukaan batu tua yang dipenuhi ukiran lambang keluarga.
Di salah satu sudut...
terlihat sebuah garis tipis memanjang.
Retakan itu baru saja muncul.
Sangat kecil.
Namun jelas bukan bekas usia bangunan.
Karena serpihan batu halus masih terus berjatuhan dari celahnya.
Agerald melangkah mendekat.
Entah mengapa...
semakin dekat ia berdiri...
denyut di pelipisnya kembali muncul.
Pelan.
Lalu semakin kuat.
Bersamaan dengan itu...
sekilas bayangan aneh kembali melintas di benaknya.
Seseorang.
Seorang pria tua berambut putih.
Berdiri tepat di tempat yang sama.
Menatapnya.
Lalu mengucapkan sesuatu.
Namun sebelum kata-kata itu sempat terdengar jelas...
bayangan tersebut menghilang begitu saja.
Agerald memegang pelipisnya.
Napasnya sedikit memburu.
"Yang Mulia!"
Rivalt segera mendekat.
"Apa yang terjadi?"
Agerald membuka mata perlahan.
"Tidak..."
gumamnya lirih.
"Sepertinya..."
"...tempat ini mengingatku."
Kalimat itu membuat seluruh ruangan kembali tenggelam dalam keheningan.
Di luar mausoleum...
angin dingin mulai berembus lebih kencang.
Cabang-cabang pinus bergoyang pelan.
Seolah seluruh bukit tua itu...
baru saja menyambut kebangkitan sebuah rahasia yang telah terkubur selama berabad-abad.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...TO BE CONTINUE...