Saga, sang CEO dengan aura sedingin es, tersembunyi di balik tembok kekuasaan dan ketidakpedulian. Wajahnya yang tegas dihiasi brewok lebat, sementara rambut panjangnya mencerminkan jiwa yang liar dan tak terkekang.
Di sisi lain, Nirmala, seorang yatim piatu yang berjuang dengan membuka toko bunga di tengah hiruk pikuk kota, memancarkan kehangatan dan kelembutan.
Namun, bukan pencarian cinta yang mempertemukan mereka, melainkan takdir yang penuh misteri.
Akankah takdir merajut jalinan asmara di antara dua dunia yang berbeda ini? Mampukah cinta bersemi dan menetap, atau hanya sekadar singgah dalam perjalanan hidup mereka?
Ikuti kisah mereka yang penuh liku dan kejutan di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beauty and The Beast 29
Saga mengikuti arah pandang Nirmala, lalu menghela napas. Tanpa berkata apa-apa, ia menggandeng Nirmala menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Saga membantu Nirmala melepaskan jaketnya yang sobek, lalu menyuruhnya berbaring di tempat tidur.
"Aku panggilkan dokter, ya?" tanya Saga khawatir.
Nirmala menggeleng lemah. "Nggak usah, Saga. Aku cuma butuh istirahat," jawabnya dengan suara serak.
Saga menatap Nirmala dengan ragu, tapi akhirnya mengalah. Ia menyelimuti Nirmala dengan selimut tebal, lalu duduk di tepi ranjang, menggenggam tangannya erat.
"Ceritakan padaku kalau kamu sudah siap," bisik Saga lembut.
Nirmala memejamkan matanya, mencoba untuk beristirahat. Namun, bayangan wajah Sabrina yang berteriak histeris terus menghantuinya. Ia merasa bersalah karena telah membuat Mamanya semakin menderita.
Saga mengamati Nirmala dengan cemas. Ia bisa merasakan betapa berat beban yang sedang dipikul Nirmala. Ia ingin sekali membantu meringankan bebannya, tapi ia tahu bahwa Nirmala harus menghadapi ini sendiri.
Malam harinya, Nirmala menggigil hebat. Saga yang masih berjaga di sampingnya, segera menyentuh keningnya, dan terkejut merasakan suhu tubuhnya yang sangat tinggi.
"Astaga, kamu demam tinggi sekali!" seru Saga panik.
Tanpa menunggu lagi, Saga segera berlari keluar kamar untuk memanggil pelayan "Tolong siapkan air kompres dan obat penurun panas! Nirmala demam tinggi!" teriak Saga dengan nada khawatir.
Pelayan yang sedang berada di dapur langsung terkejut dan bergegas membantu Saga. Dalam waktu singkat, mereka sudah kembali ke kamar Nirmala dengan membawa perlengkapan yang dibutuhkan.
Saga dengan telaten mengompres kening Nirmala, sementara pelayan menyiapkan teh hangat dan bubur untuknya. Saga terus menggenggam tangan Nirmala, memberikan dukungan dan kekuatan.
"Kamu harus kuat, Nirmala. Aku akan selalu ada di sini untukmu," bisik Saga di telinga Nirmala.
Nirmala membuka matanya perlahan, menatap Saga dengan tatapan sayu. Ia bahkan tak kuasa meski hanya membuka mata.
Saga terus menemani Nirmala sepanjang malam, menjaganya dengan penuh perhatian. Ia tidak tidur sama sekali, hanya memastikan bahwa Nirmala merasa nyaman dan aman.
Tiba-tiba, Nirmala mulai gelisah dalam tidurnya. Keningnya berkerut, bibirnya bergerak-gerak seperti sedang berbicara sesuatu.
"Mama... jangan... jangan marah..." igau Nirmala lirih.
Saga yang mendengar igauan Nirmala langsung terbangun. Memeluk dan menggenggam tangan Nirmala erat.
"Nirmala, bangunlah. Ini aku, Saga," bisik Saga lembut.
Namun, Nirmala tidak merespon. Ia terus mengigau dengan nada yang semakin pilu.
"Aku bukan pencuri... aku anakmu... Mama..."
Air mata mulai menetes dari sudut mata Nirmala. Ia tampak sangat ketakutan dan sedih dalam mimpinya.
Saga semakin khawatir. Ia mencoba membangunkan Nirmala dengan menggoyangkan tubuhnya pelan.
"Sayang, bangun! Ini hanya mimpi!" seru Saga dengan nada cemas.
Akhirnya, Nirmala membuka matanya dengan terkejut. Ia menatap Saga dengan tatapan kosong, lalu tiba-tiba menangis histeris.
"Saga... Mama... Mama..." isak Nirmala sambil memeluk Saga erat.
Saga membalas pelukan Nirmala dengan erat, mencoba menenangkannya. "Tenanglah, aku di sini." bisik Saga di telinga Nirmala.
Nirmala terus menangis dalam pelukan Saga, meluapkan semua kesedihan dan kekhawatiran yang selama ini ia pendam. Saga hanya bisa memeluknya erat, memberikan dukungan dan kekuatan.
"Aku takut, Saga. Aku takut Mama tidak mengakui ku," ucap Nirmala di sela-sela tangisnya.
Saga mengangkat wajah Nirmala dan menatapnya dengan tatapan penuh keyakinan. "Jangan bicara seperti itu, Nirmala. Aku yakin Mama akan segera pulih. Kita akan terus berusaha sampai Mama bisa menerima mu," kata Saga dengan tegas.
Nirmala menatap Saga dengan ragu, tapi kemudian mengangguk pelan. Ia percaya pada Saga, ia tahu bahwa Saga akan selalu ada untuknya.
Saga memeluk Nirmala kembali, memberikan ciuman lembut di keningnya. "Sekarang, istirahatlah. Aku akan selalu berada di sini menjagamu," bisik Saga.
Nirmala memejamkan matanya, mencoba untuk menenangkan diri. Ia merasa sedikit lebih baik setelah mendapatkan dukungan dari Saga.
Saga terus menemani Nirmala, menjaganya dengan penuh perhatian. Ia tahu bahwa Nirmala membutuhkan waktu untuk memulihkan diri, dan ia akan selalu ada di sisinya untuk memberikan cinta dan dukungan.
Semalaman Saga memeluk Nirmala, karena jika Saga melepaskan pelukannya, Nirmala akan kembali mengigau dan menggigil hebat. Saga tidak beranjak sedikit pun dari sisi Nirmala, ia rela menahan kantuk dan pegal demi memastikan Nirmala merasa aman dan nyaman.
Sesekali, Saga mengecup kening Nirmala, membisikkan kata-kata penenang, atau sekadar mengusap rambutnya lembut. Ia tahu, sentuhan dan kehadirannya adalah obat terbaik untuk Nirmala saat ini.
Pagi menjelang, mentari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, menerangi wajah Saga yang tampak lelah namun penuh cinta. Ia menatap wajah Nirmala yang masih terlelap dalam pelukannya. Wajahnya pucat, namun tampak lebih tenang dari semalam.
Saga menghela napas lega. Ia bersyukur demam Nirmala sudah mulai turun dan igauannya sudah tidak separah semalam.
Perlahan Saga bangkit dari ranjangnya, berusaha untuk tidak membangunkan Nirmala. Ia ingin membersihkan diri, tapi baru saja ia hendak masuk ke dalam kamar mandi, pintu kamar diketuk pelan.
"Permisi, Tuan Saga," suara seorang pelayan terdengar dari balik pintu.
Saga mengernyitkan kening. "Ada apa?" tanyanya dengan suara berbisik, khawatir Nirmala akan terbangun.
"Maaf mengganggu, Tuan. Tuan Rafael datang dan ingin bertemu dengan Anda," jawab pelayan itu sopan.
Saga terdiam sejenak. Ia tidak menyangka Rafael akan datang sepagi ini. Ada sedikit rasa khawatir di hatinya, ia takut Rafael akan membawa kabar buruk tentang Sabrina.
"Baiklah, saya akan segera ke sana. Tolong siapkan kopi untuknya dan suruh dia menunggu di ruang kerja saya," perintah Saga.
"Baik, Tuan," jawab pelayan itu, lalu pergi.
Di tengah perjalanan pelayan terheran, sejak kapan Tuan nya itu mengucapkan kata tolong? Seperti nya ia sudah lebih sering mendengar Tuannya berkata Tolong akhir-akhir ini. Pelayan itu pun sampai mengorek telinga nya, berharap ia yang salah mendengar.
Saga menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah Nirmala yang masih terlelap di tempat tidur. Ia merasa tidak tega meninggalkannya sendirian, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan Rafael.
"Maafkan aku, Sayang. Aku harus pergi sebentar," bisik Saga lembut sambil mengecup kening Nirmala.
Dengan langkah pelan, Saga keluar dari kamar dan menuju ruang kerjanya. Sesampainya di sana, ia melihat Rafael sudah duduk dengan wajah cemas.
"Ada apa, Rafael?" tanya Saga langsung, tanpa basa-basi.
Rafael menghela napas berat, menyisir rambutnya dengan frustrasi. "Ini tentang Mama, Saga. Dia... dia semakin parah," jawabnya dengan nada putus asa.
Saga merasakan jantungnya berdebar kencang. "Apa maksudmu? Apa yang terjadi?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Setelah kami pergi kemarin, Mama terus mengamuk. Dia terus berteriak memanggil Nirmala dengan sebutan wanita itu. Para perawat sudah mencoba menenangkannya, tapi tidak berhasil. Mereka bahkan sampai memberinya dosis obat penenang yang lebih tinggi dari biasanya," jelas Rafael dengan nada cemas.
Saga terdiam, membayangkan betapa menderitanya Sabrina saat ini. Ia merasa bersalah karena telah membuat wanita itu semakin tersiksa.
"Tapi... ada yang lebih aneh lagi, Saga," lanjut Rafael dengan nada bingung.
Saga mengangkat alisnya, menatap Rafael dengan tatapan bertanya. "Apa itu?" tanyanya.
Ada yang penasaran sama kelanjutannya?
Boleh subscribe, like dan komen ya, bikin aku semangat buat lanjutkan babnya.
Luph you sekebon buat Kelen ❤️