lanjutan novel Tuan Tiada Tanding
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalahnya Maheswari Sang Psikopat Pengambil Wajah
"Aneh.... beraninya kamu tertawa seperti ini, apakah kamu tidak kapok dengan luka dalam yang aku berikan kemarin?" Tanya Mawar sambil menghabiskan pedang yang berada di pinggangnya.
Maheswari terdiam memandangi Mawar yang berada di depannya. Kemudian Maheswari menyulitkan matanya, "wanita selemah dirimu tidak akan mampu menggoreskan sedikit pun luka untukku!" Ucap Maheswari sambil mengeluarkan pisau sakti miliknya.
Kemudian Maheswari meramalkan sebuah mantra khusus setelah itu terlihat Maheswari berubah menjadi seorang nenek tua sedikit bungkuk.
Mawar terlihat menggertakan giginya dengan marah ketika melihat wujud baru Maheswari.
"Eyang Sekar!" Ucap Mawar.
"Hehehe nak, mengapa kamu tidak berlutut di hadapanku?" Tanya Maheswari dalam wujud Eyang Sekar.
Mawar menggertakan giginya dengan geram, wujud yang di tampilkan oleh Maheswari adalah Eyang Sekar salah satu sosok sakti yang konon merupakan teman jauh dari gurunya, yaitu begawan Ontogeni.
"Sepertinya benar menurut rumor yang beredar, kamu bisa menggunakan keterampilan dari orang yang kamu curi penampilannya!" Ucap Mawar dengan serius.
Maheswari berucap, "nak kamu seharusnya adalah keponakanku, mengapa kamu berbicara sangat tidak sopan seperti ini?"
"Bajingan!!! Kamu sudah meniru rupa dari Eyang Sekar dan beraninya kamu meniru gaya berbicara beliau!" Geram mawar.
Maheswari menyeringai, "andai saja mendengar bagaimana jeritan terakhirnya..."
Tanpa basa basi lagi Mawar melesat dengan cepat menuju ke Maheswari. Maheswari dalam wujud Eyang Sekar menatap ke arah Mawar yang datang.
Siapa sangka mata Maheswari sedikit bersinar seketika itu juga kecepatan mawar melambat.
Mawar terlihat sangat marah karena ini salah satu kemampuan Eyang Sekar.
"Beraninya kamu!" Teriak mawar.
Maheswari melesat ke arah Mawar dengan pisau miliknya. Meskipun melambat sedikit namun Mawar tidak mau kalah sama sekali, pedang yang dia gunakan mulai menyala seperti bara.
Dentang!
Keduanya saling beradu senjata satu sama lain. Gelombang aura yang sangat mengerikan langsung terpancar ke segala arah. Kali ini pertarungan Maheswari Psikopat Pengambil Wajah melawan Mawar murid Begawan Ontogeni berlangsung sangat intens.
Bagaimana dengan Suherman? Dia hanya bisa meringkuk di balik batu. Sebagai orang biasa dia mendekat saja tubuhnya sudah merasakan kesakitan mana mungkin dia membantu mawar?
***
Pertarungan terus berjalan dengan sangat intens, namun sayang seribu sayang dari awal cerita sebenarnya Maheswari memang bukan tandingan Mawar, meskipun Maheswari sudah terluka karena serangan pak man bukan berarti kesaktian Maheswari menurun.
Bang!
Mawar terpental menabrak pohon.
Uhuk!
Dia langsung mengeluarkan seteguk darah segar dari mulutnya. Dari kejauhan terlihat Maheswari berjalan sambil menjilat bilah pisau miliknya. Wujudnya masih mempertahankan wujud Eyang Sekar.
"Aku sudah mengatakannya kepadamu, kamu bukanlah tandinganku. Beraninya kamu mengklaim dirinya yang memberikannya luka dalam!" Ucap Maheswari dengan dingin.
"Mus--mustahil! Ba--bagaimana bisa?" Tanya Mawar yang kebingungan dengan apa yang terjadi, dia yakin sekali Psikopat Pengambil Wajah kemarin terluka karena serangannya.
Bahkan Psikopat Pengambil Wajah meninggalkan menahan darah di dekat perempatan Sumbersekar, namun mengapa saat ini Psikopat Pengambil Wajah sangat kuat?
Sementara itu di balik batu, "mati aku... mati aku..." terlihat suherman meringkuk ketakutan. Bahkan suherman tidak berani mengintip jalannya pertarungan.
Mawar menggertakan giginya entah mengapa rasa takut mulai menyelimutinya.
"A... aku tidak akan mati!" Ucap Mawar dengan gugup.
Maheswari menyeringai, "aku akan mengambil wajah cantikmu itu, dan aku akan memastikan begawan Ontogeni akan mati di tanganku namun dengan wujud dirimu!"
Mawar benar benar sudah ketakutan dia mencoba mengambil pedangnya namun sayang sekali, ternyata pedangnya sudah terjatuh di kejauhan.
Mawar memejamkan matanya kemudian dia mengambil apapun yang ada di sekitarnya secara acak, layaknya seperti seseorang yang ketakutan.
"Pergi!" Teriak Mawar sambil melemparkan sebuah batu ke arah Maheswari.
Namun sayang sekali batu itu meleset dan terbang entah kemana.
Maheswari semakin melebarkan senyumannya ketika melihat mawar yang seperti ini, "Tidak akan ada yang bisa menye--"
Tung!
Sebuah potongan buah apel melesat dengan ajaib dan langsung menghantam kepala Maheswari menyebabkan kepalanya langsung benjol.
Yang memberikannya lagi Maheswari langsung tersungkur dia menjerit kesakitan.
"Arrrgghhhhh!!! Sakit!!"
"Ampun!"
Maheswari langsung kembali ke wujud aslinya. Dia hanya bisa meringkuk di tanah sambil memegangi kepalanya yang benjol.
Awalnya mawar ketakutan pasrah akan kematian. Namun ketika mendapati Maheswari yang menjerit seperti ini, mawar membuka matanya dia berdiri sambil memasang ekspresi kaget saat ini Psikopat Pengambil Wajah tersungkur sambil memegangi kepalanya yang benjol.
"A-- aku berhasil mengalahkannya?" Tanya Mawar dengan ekspresi kaget. Mawar kemudian memandangi tangannya dia ingat sekali saat dia putus asa dia melemparkan batu ke arah Psikopat Pengambil Wajah.
"Apakah benar kata orang orang apabila kepepet kekuatan sejati seseorang akan muncul?!" Tanya Mawar dengan ekspresi penuh keheranan. Namun dengan cepat ekspresinya langsung berubah menjadi ekspresi kebahagiaan.
"Hahaha!!!" Dia tertawa mendongakan kepalanya menatap Psikopat Pengambil Wajah.
"Aku berhasil mengalahkan Psikopat Pengambil Wajah aku benar-benar hebat!" Ucap Mawar.
***
Kita sedikit flashback beberapa menit yang lalu, di saat Mawar dan Maheswari bertarung sangat intens.
Terlihat Arjuna duduk di kursi depan jendela memakan buah apel Sambil mengintip suasana di luar, "Sepertinya aman!" Ucap Arjuna dengan ekspresi was-was.
"Sialan! Aku lupa memasukan motorku!" ucap arjuna yang lupa memasukan motor.
Arjuna buru-buru keluar dan langsung menuju ke arah motornya. Karena Arjuna akan memasukan motor terpaksa Arjuna membuang sisa potongan buah apelnya, "Sialan! Ini gara-gara pembunuh berantai itu! Awas saja kalau ketemu!" Ucap Arjuna.
Bagaimana tidak kesal karena pembunuh itulah Arjuna tidak bisa keluar di malam hari. Setelah melemparkan sisa buah apelnya Arjuna memasukan motornya dan mengunci pintu tokonya.
***
Kembali ke tempat pertarungan Maheswari melawan Mawar. Maheswari masih meringkuk di atas tanah sambil memegangi kepalanya yang benjol.
"Hahaha!!! Dengan ini aku sejarah akan mencatat namaku! Karena aku berhasil mengalahkan Psikopat Pengambil Wajah!" Ucap Mawar sambil membusungkan dadanya.
Tidak lama kemudian suherman keluar dari balik batu. Ketika melihat mawar berdiri sambil membusungkan dadanya suherman langsung menghela nafas lega.
Meskipun dia tidak melihat jalannya pertarungan ini namun yang terpenting nona mawar menang.
"Selamat Nona atas keberhasilan anda mengalahkan Psikopat Pengambil Wajah!" Tidak lupa suherman memberikan ucapan selamat kepada mawar.
Mawar menoleh ke arah Suherman sambil tersenyum, "kabari semua anak buahmu untuk datang! Kabari kepada semuanya aku mawar telah berhasil mengalahkan Psikopat Pengambil Wajah!'