pengalaman pahit serta terburuk nya saat orang yang dicintai pergi untuk selama-lamanya bahkan membawa beserta buah hati mereka.
kecelakaan yang menimpa keluarganya menyebabkan seorang Stella menjadi janda muda yang cantik yang di incar banyak pria.
kehidupan nya berubah ketika tak sengaja bertemu dengan Aiden, pria kecil yang mengingatkan dirinya dengan mendiang putranya.
siapa sangka Aiden adalah anak dari seorang miliarder ternama bernama Sandyaga Van Houten. seorang duda yang memiliki wajah bak dewa yunani, digandrungi banyak wanita.
>>ini karya pertama ku, ada juga di wattpad dengan akun yang sama "saskavirby"
Selamat membaca, jangan lupa vote and coment ✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saskavirby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 31
Stella dan Laras baru saja pulang dari acara belanjanya, tadi pagi Laras sudah menelepon Stella mengajaknya untuk belanja di salah satu mall terbesar di Jakarta.
Stella mengiyakan saja ajakan Laras, dia juga perlu beberapa barang yang ingin dibelinya. Tidak lupa Aiden juga ikut dalam kegiatan belanja mereka, kebetulan hari ini adalah hari minggu, serta Pak Udin yang menjadi sopirnya.
Hampir setengah hari mereka berbelanja, setelah makan mereka memutuskan untuk pulang. Sesampainya di halaman rumah, Stella dikejutkan dengan kehadiran mantan mertuanya yang sedang duduk di teras rumahnya.
Ketiganya turun dari mobil.
"Bu, sudah lama?" sapa Stella seraya mencium tangan Dewi.
"Tidak terlalu, Ste," jawab Dewi tersenyum.
Stella beralih menatap Laras. "Ma, kenalkan ini Ibu Dewi, Ibu dari mendiang Mas Hari. Bu, ini Mama Laras, calon mertuaku," terangnya memperkenalkan keduanya.
"Laras," ucap Laras menjabat tangan Dewi.
Dewi memperhatikan gaya Laras, mulai dari rambut hingga ujung kaki, sangat terlihat jelas bahwa Laras bukan orang yang biasa. Mulai dari baju, tas, perhiasan yang dipakainya menunjukkan bahwa dia orang kaya, dan juga mobil yang digunakan tak luput dari perhatian Dewi.
"Masuk dulu, Ma," ajak Stella.
Laras menggeleng. "Tidak usah, Ste, Mama langsung pulang saja, sebentar lagi Papamu kembali dari kantor," jawabnya melihat jam yang melingkar di tangannya.
Stella mengangguk, mensejajarkan tubuhnya dengan Aiden. "Hati-hati, ya, Sayang, nggak boleh rewel, oke?" ucapnya mencubit pipi Aiden.
"Siap, Bunda."
Stella menciumi wajah Aiden gemas.
"Mama pulang dulu, ya, Ste?"
Stella mengangguk. "Hati-hati, Ma."
"Dah, Bunda."
"Dah, Sayang," Stella melambai pada Aiden yang berada di dalam mobil.
"Mari masuk, Bu," ajak Stella setelah mobil Laras sudah menjauh dari rumahnya.
"Ada apa ya, Bu?" tanya Stella saat keduanya sudah duduk di sofa setelah Stella meletakkan minuman dan cemilan di atas meja.
Dewi meneguk minumannya. "Anu, Ste, Ibu mau pinjam uang lagi," lirihnya.
Stella tertegun.
"Ayah butuh uang lagi untuk pengobatannya, Ste." Dewi menghela nafasnya. "Ibu tidak tahu harus pinjam kemana lagi, bahkan sekarang hanya rumah yang kami punya, semuanya sudah terjual untuk biaya pengobatan Ayahmu," ungkapnya menyandar pada sofa, matanya berkaca-kaca.
Stella tidak tega melihatnya. "Mau pinjam berapa, Bu?" tanyanya pelan.
"Lima puluh juta, Ste?"
Stella terkesiap. "L-lima puluh juta?" ulangnya terbata.
Dewi mengangguk lemah.
"Tapi, aku tidak ada uang sebanyak itu, Bu."
Dewi menatap Stella dalam. "Ibu tahu, Ste, maka dari itu Ibu mau meminjam sertifikat rumah ini untuk jadi jaminan di Bank."
Stella tersentak.
"Ibu tahu rumah ini atas nama Hari, dulu Hari pernah cerita sama Ibu kalau sudah bisa membeli rumah di Jakarta," sambung Dewi lagi.
"Tapi, Bu, ini rumah Stella juga."
"Ibu mohon, Ste, Ibu butuh uang untuk pengobatan Ayah, Hari 'kan anak Ayah juga, apa salahnya meminta bantuan pada anaknya?" pinta Dewi memegang tangan Stella.
Stella bingung harus bagaimana, memang rumah ity atas nama Hari, tapi 'kan dirinya juga ikut andil membeli rumah itu.
"Ste, Ibu mohon," Dewi mengelus tangan Stella, matanya sudah berkaca-kaca "Apa perlu Ibu berlutut di depanmu?" ucapnya mendramatisir.
"Jangan, Bu," cegah Stella yang melihat Dewi hendak berlutut.
"Ibu hanya ingin Ayahmu sembuh, Ste," ucap Dewi disertai airmata yang mengalir di pipinya.
Stella mengangguk. "Baik, Bu, akan Stella pinjamkan sertifikat," putusnya kemudian.
Dewi berbinar, memeluk tubuh Stella. "Terimakasih, Ste, terimakasih banyak."
Stella mengangguk dan tersenyum ragu. "Iya, Bu." Sebenarnya dia ragu dengan keputusanya sendiri, ragu untuk meminjamkan sertifikat itu, namun dirinya juga tidak tega melihat orangtua mantan suaminya memohon bahkan berlutut di depannya. 'Semoga aku tidak salah mengambil keputusan, Mas,' bathinnya.
...***...
Stella yang baru saja selesai melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim tersentak dengan dering ponselnya. Segera dia melepas mukenanya dan meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Ternyata Sandy yang menelepon, bukan, lebih tepatnya video call.
Stella tersenyum menatap layar ponselnya, menggeser tombol hijau, dan muncullah wajah Sandy di seberang sana.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Stella tersenyum renyah.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik, kau sendiri?"
"Tidak baik," wajah Sandy berubah sendu.
"Kenapa? Kau sakit?"
"Iya."
"Sudah periksa ke Dokter?"
Sandy menggeleng. "Dokter tidak bisa menyembuhkan penyakitku."
Stella terkesiap, dia menegakkan tubuhnya yang tadinya bersender pada kepala ranjang. "Apa penyakitnya parah?" Terlihat wajahnya yang khawatir, bahkan Stella menggigit bibir bawahnya.
Sandy menahan tawa, dia mengangguk lemah.
"Astagfirullah, Sandy, kau sakit apa?" tanya Stella penasaran, terlihat jelas wajahnya yang sangat sedih dan khawatir.
"Penyakitku hanya kau yang bisa menyembuhkan, Ste."
Stella menyernyit. "Maksudnya?"
"Dokter mengatakan aku terkena gejala rindu, rindu berat sama kamu," jawab Sandy tertawa keras.
Stella terdiam, kedua matanya menyipit tajam memperhatikan lawan bicaranya yang tertawa berderai-derai di seberang sana. "Nggak lucu," sungutnya kesal.
"Aku serius, Sayang, penyakit ini tidak bisa disembuhkan oleh Dokter," ucap Sandy disela tawanya. "Dokter mengatakan obatnya hanya kamu," sambungnya masih tertawa.
Stella mencibir saja.
"Jangan perlihatkan wajah itu, Ste," peringat Sandy.
"Kenapa?" tantang Stella.
"Kau membuatku ingin pulang sekarang juga."
"Haish, dasar."
Sandy kembali tergelak. "Bagaimana kabar Aiden?" tanyanya kemudian.
"Aiden baik-baik saja, kau baru pulang kerja?"
Sandy mengangguk. "Banyak pekerjaan, sepertinya kepulanganku harus ditunda," ucapnya menghela nafas lelah.
Stella tersenyum. "Jaga kesehatanmu."
Sandy menatap lekat wajah Stella di layar ponselnya.
"Ada apa, hem?" tanya Stella melihat perubahan pada raut wajah Sandy.
"Pernikahan kita," jawab Sandy lesu.
Stella geleng-geleng kepala dan tersenyum. "Aku bisa menunggu, selesaikan dulu urusanmu di sana, jangan berfikiran yang berat, yang terpenting jaga kesehatan."
"Aku merindukanmu, Ste."
"Aku juga."
Keduanya tersenyum, meresapi kerinduan lewat tatapan mata dari layar ponsel.
...***...
Tepat sebulan sejak keberangkatan Sandy ke luar negeri, namun karena masih ada beberapa urusan, Sandy belum bisa kembali ke Indonesia. Hari itu Stella berniat mengajak Aiden untuk jalan-jalan ke area bermain dengan Pak Udin sebagai sopir tentunya, karena Sandy sudah mewanti-wanti agar Stella tidak menggunakan mobilnya sendiri. Meskipun terkadang Stella memilih menggunakan mobilnya sendiri, toh Sandy tidak akan tahu.
Stella berjalan sambil menggandeng tangan Aiden. "Aiden mau main apa?"
"Itu, Bunda," Aiden menunjuk ke arah komedi putar.
"Oke, come on."
Setelah membeli tiket, keduanya naik dan memilih bentuk kuda untuk dinaiki.
"Bunda, Aiden lapar," ucap Aiden sesudah turun dari komedi putar.
Stella melihat sekeliling, matanya tertuju pada salah satu restoran di ujung. "Ayo kita makan dulu."
Saat keduanya sedang asik makan, terdengar suara seseorang yang memanggil Stella.
"Stella?"
Keduanya menoleh ke asal suara. "Erin?" pekik Stella terkejut, kemudian memeluk sahabatnya itu. "Gimana kabar lo, Rin?" tanyanya.
Erin mengambil duduk di samping Stella. "Baik, Ste." Beralih menatap Aiden. "Hai, Ganteng, apa kabar?"
"Baik, Tante," jawab Aiden tersenyum.
"Kalian berdua aja di sini?" Erin menatap Stella dan Aiden bergantian.
Stella mengangguk. "Sandy sedang tugas negara," guraunya.
Erin membulatkan mulutnya.
"Vini nggak ikut?" tanya Stella yang tidak melihat kehadiran anak dari sahabatnya itu.
"Ikut kok, tapi lagi sama Papanya ke arena bermain, capek gue ngikutin mereka, haus juga."
Erin memanggil waiters dan memesan minuman.
"Aiden, pelan-pelan, Sayang, kalau makan." Stella mengusap bibir Aiden yang belepotan dengan tisu.
Erin memangku wajahnya. "Lo kapan merit sama Sandy?" goda Erin menaik turunkan alisnya. Dia sudah mengetahui hubungan antara Stella dan Sandy, dan dia sangat setuju apabila sahabatnya itu menikah dengan Sandy, mereka pasangan yang cocok, —menurutnya.
"Nunggu Sandy balik," jawab Stella asal.
"Uluh, uluh, yang mau jadi Nyonya Sandyaga Van Houten," goda Erin yang tak sadar suaranya bisa didengar seluruh penghuni restoran.
"Hsstt.. jangan keras-keras, Erin," peringat Stella meletakkan telunjuknya di depan bibir.
"Nggak perlu ditutup-tutupi, entar orang juga bakalan tau, Ste," bantah Erin menghiraukan protesan Stella.
"Tapi, lo nggak perlu ngasih tahu semua orang sekarang juga, Rin," cetus Stella bersungut.
Erin terkekeh. "Iya, Nyonya Sandyaga," godanya.
Stella melotot pada Erin, yang ditatap justru tertawa terbahak.
Tak berapa lama waiters datang membawa pesanan Erin.
"Aiden mirip banget sama bokapnya ya, Ste?" Erin memperhatikan Aiden yang tengah hikmat menikmati makanannya. "Gue belum pernah lihat nyokapnya," imbuhnya seraya mengaduk-aduk minumannya.
"Ibunya cantik, Rin, gue pernah lihat fotonya," tanggap Stella.
Erin mengangguk. "Tapi, Ste, bola matanya hampir mirip sama lo deh, kalau gue perhatikan lebih deket gini."
"Jangan ngaco deh, lo."
"Gue serius, Ste, orang nggak bakal tahu kalau Aiden bukan anak kandung lo, pasti ngiranya Aiden beneran anak lo."
Stella memutar bola matanya.
"Atau jangan-jangan.." kalimat Erin memgambang.
Stella melotot. "Jangan-jangan apa?" tuntutnya.
Erin memicing. "Aiden bener anak lo, ya?" selidiknya.
Stella memukul lengan Erin. "Sembarangan kalau ngomong."
Seketika tawa Erin pecah melihat wajah kesal sahabatnya. Tanpa sadar ada seseorang yang tengah merekam obrolan keduanya.
.
.
tbc
...Jeng jeng siapakah itu????...
...Ada yang tahu????...
...*Sorry thor gue tempe...
...😒😒...
kok milih perempuan kasar bgt nganggep cocok to dia
aneh sich
tp bnyak kok orang yg ga paham dng pilihannya