NovelToon NovelToon
ARUNA

ARUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: bund FF

Tidak ada yang bisa memilih untuk dilahirkan dari rahim yang bagaimana.
Tugas utama seorang anak adalah berbakti pada orang tuanya.
Sekalipun orang tua itu seakan tak pernah mau menerima kita sebagai anaknya.

Dan itulah yang Aruna alami.
Karena seingatnya, ibunya tak pernah memanjakannya. Melihatnya seperti seorang musuh bahkan sejak kecil.

Hidup lelah karena selalu pindah kontrakan dan berakhir di satu keadaan yang membuatnya semakin merasa bahwa memang tak seharusnya dia dilahirkan.

Tapi semesta selalu punya cara untuk mempertemukan keluarga meski sudah lama terpisah.

Haruskah Aruna selalu mengalah dan mengorbankan perasaannya?
Atau satu kali ini saja dalam hidupnya dia akan berjuang demi rasa cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bund FF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dila, Faradila

"Kak Tyooo....." teriak Mina begitu bisa lepas dari pegangan orang tuanya.

Tyo dan Aruna yang sedang berjalan sambil berangkulan tentu menoleh. Sudah terpampang wajah ngambek penuh ketantruman disana. Mina dengan nafas brutalnya nampak berdiri dengan tangan terkepal erat.

"Urusin dulu tuan putrinya, kak" ejek Aruna lantas melangkah mundur, meninggalkan Tyo yang masih mematung dengan tangan memegangi Aruna.

"Lepasin kak" ujar Aruna lirih.

"Nggak" jawab Tyo.

"Apa-apaan ini? Lepasin nggak? Aruna, lepasin tangan kotor Lo dari kak Tyo" bentak Mina.

"Cg, lepasin dong kak" rengek Aruna berusaha melepaskan tangan Tyo yang menggenggam erat.

"Run, lepasin!" bentak Mina lagi.

"Lo buta?" bentak Aruna tak kalah nyalang, mau menyalahkan Tyo juga tak enak hati.

"Kamu jangan beraninya membentak anak saya, ya" kesal Berta.

"Sudah dong ma, malu dilihat orang" kata Kim melerai asap yang mulai tersulut.

"Papa diam ya" kesal Berta seolah Kim tak mendukungnya.

"Aduh, sudah dong. Ada apaan sih ini" sergah Ferdi yang selalu datang tepat waktu.

"Ayo pulang. Kalian ini apa-apaan sih. Malu dilihat orang" ujar Ferdi lagi.

"Gue harus kerja, Fer" ujar Aruna yang menjauh dari gerombolan teman sekelasnya, berjalan santai bersama Ferdi dan tak lagi mengindahkan yang lain.

"Iya, gue anterin hari ini. Besok nggak" kata Ferdi membuat Tyo sedikit tersenyum. Hal yang tak bisa dia lakukan bersama Aruna adalah bercanda. Padahal Tyo juga ingin sedekat itu dengan Aruna.

"Sudah, biang masalahnya sudah pergi. Sekarang kita lanjutkan saja acaranya, ya" ujar Berta meminta semua teman Mina untuk kembali ke dalam kelas.

"Ayo kak Tyo, masuk" ujar Mina yang sangat ingin memamerkan hubungannya dengan Tyo.

"Sorry Mina" ujar Tyo tanpa mau memberi tahu alasannya.

Beranjak pergi sementara Mina tak bisa mengejar karena sudah ditunggu teman sekelasnya.

Tyo sengaja menunggu Ferdi di pinggir jalan setelah keluar dari sekolah. Cowok itu pasti akan melintasi jalan depan sekolah karena arah toko Acing berlawanan dengan rumah Ferdi.

Tin... Tin...

Tyo segera membunyikan klakson dan sedikit mengejar motor Ferdi karena anak itu tadi tak melihatnya. Tapi saat sadar, segera Ferdi menepikan motornya.

Tyo keluar dari mobilnya, berjalan mendekati Ferdi yang masih ada diatas motor.

"Ada apa, kak?" tanya Ferdi.

"Gue mau membahas tentang satu hal sama Lo, Fer" ucap Tyo serius.

Ferdi memicingkan mata. Heran saja Tyo mengajak bicara.

"Mau bahas apa?" tanya Ferdi.

"Apa selama ini Lo tahu tentang bapaknya Aruna?" tanya Tyo tanpa basa-basi.

"Aruna bilang sudah mati" jawab Ferdi.

"Kalau gue bilang bapaknya Aruna masih hidup, dan gue tahu keberadaannya, apa Lo percaya sama gue?" Tyo sengaja bercerita pada Ferdi terlebih dahulu karena di anggap jika Ferdi lebih mengenal Aruna.

"Tentu saja gue nggak percaya, kak. Gue sudah lebih dari sepuluh tahun berteman sama Aruna, nggak pernah sekalipun pernah membahas apalagi bisa nemuin orangnya" kata Ferdi dengan senyum mengejek, aneh-aneh saja Tyo menurut pendapat Ferdi.

"Sepertinya memang sudah waktunya Tuhan mempertemukan mereka, Fer. Dan sialnya, gue adalah orang pertama yang tahu keberadaan bapaknya Aruna" kata Tyo yang tentu sudah menerima pandangan menelisik dari Ferdi.

"Bohong. Bukti apa yang Lo punya dengan keyakinan ini?" tanya Ferdi, entah harus senang atau sedih.

"Bentar deh kak. Gue perhatiin akhir-akhir ini Lo kelihatan dekat atau lebih tepatnya mencoba untuk dekat sama Aruna. Apa tebakan gue salah?" tanya Ferdi dengan pandangan tajam.

"Ya, gue deketin Aruna" jawab Tyo santai.

"Cg! Gue mohon sama Lo ya kak. Sebagai sahabatnya Aruna, dan satu-satunya teman Aruna. Gue mohon Lo jangan mainin perasaannya dia. Hidupnya sudah cukup menderita. Apalagi sekarang dia juga ditinggal sama ibunya. Jadi, Lo yang kata orang circle nya jauh dari kehidupan menderita kami jangan lagi nambah deretan masalah kami, kak" kata Ferdi sama persis dengan yang pernah Aruna sampaikan.

"Apalagi Lo lihat tadi Mina segitu tantrum nya saat Lo nekat deketin Aruna. Pasti masalah baru buat Aruna ke depannya. Dan gue sebagai seorang sahabat, pasti bakalan terkena imbasnya. Gue cuma takut Aruna jadi nekat, dia kan lagi sendirian dirumahnya" kata Ferdi dengan pikiran buruknya.

"Sudah ngomongnya?" tanya Tyo dengan tenangnya.

Ferdi mendengus.

"Gue juga nggak tahu, Fer. Suka aja gue kalau lihat dia senyum. Dan kalau sehari saja nggak lihat muka juteknya, pasti rasanya ada yang kurang" ujar Tyo menjabarkan perasaan, berusaha agar setidaknya Ferdi paham.

"Cinta monyet" ejek Ferdi.

"Saran gue sih dari sekarang kalau niat Lo cuma mau mainin dia, mending segera pergi dari kehidupan Aruna deh, kak. Gue cuma nggak rela kalau sahabat yang selama ini gue jaga dengan sepenuh hati malah sakit hati karena orang yang baru kenal" kata Ferdi masih tak berniat menerima Tyo dalam pertemanan mereka.

"Lagian kenapa gue malah curhat sih" kesal Tyo.

Malah Ferdi lupa menanyakan tentang siapa dan dimana bapaknya Aruna kepada Tyo padahal mereka mengobrol lumayan lama tadi.

...****************...

"Aruna" tanya panita pelatihan begitu melihat Aruna datang dengan name tagnya.

"Iya pak" jawab Aruna.

Pria itu memicing singkat, lantas tersenyum saat mengingat sesuatu.

"Oh, anak bawaan ko Acing ya?" tanya pria itu sambil membetulkan letak kacamatanya.

Aruna hanya mengangguk.

"Silahkan masuk, acaranya akan segera dimulai" kata pria itu lagi.

Aruna menurut, melangkah masuk setelah mengangguk singkat dan membubuhkan tandatangan untuk absensi.

"Hai, nama Lo siapa?" tanya seorang gadis yang duduk tepat di sebelah Aruna.

"Aruna" jawabnya singkat.

"Gue Faradila, panggil saja Dila" ujar gadis itu lagi.

"Gue sekolah di SMAN 23, kalau Lo?" tanya Dila mulai berbasa-basi sebelum acara dimulai.

"Gue di SMAN 91" jawab Aruna.

"Oh iya, di sekolah Lo juga ada program pertukaran pelajar nggak?" tanya Dila, supel sekali anak ini.

"Ada" jawab Aruna yang memang irit bicara.

"Uwah, bagus dong. Lo berminat ikut nggak? Gue pengen banget. Tapi gue takut kalau sendiri. Soalnya teman-teman gue nggak ada yang berminat. Kalau seandainya Lo mau ikut program itu, sepertinya gue juga mau terus maju" ujar Dila lagi.

Aruna menghela nafas sebelum menjawab, Dila ini cukup cerewet untuk gadis seperti Aruna.

"Sepertinya gue sedikit tertarik juga" jawab Aruna.

"Ah, bagus. Nanti kita coba daftar bersama, ya. Nggak apa-apa meski beda sekolah, yang penting kita bisa berangkat bareng dengan tujuan negara yang sama, bagaimana?" tanya Dila sangat antusias.

"Lo kenapa percaya banget sama gue? Padahal baru saja kita ketemu" kata Aruna, heran sekali cewek ini sangat mudah percaya pada orang baru.

"Ya nggak apa-apa. Gue yakin kalau Lo anak yang baik. Makanya gue langsung percaya sama Lo" ujar Dila sambil tersenyum. Pipi cuby nya mengeluarkan lesung cantik saat tersenyum.

"Lo pengen ke negara mana?" tanya Aruna, sepertinya acara masih belum dimulai karena panitia masih sibuk dengan para anggotanya.

"Hongkong bukan pilihan yang buruk, kalau Cina terlalu tinggi untuk pemberian nilainya. Gue sudah banyak cari tahu, dan sepertinya pilihan terbaik menurut gue sih kalau nggak Hongkong ya Taiwan. Soalnya kalau ke negara Eropa itu lebih cenderung ke sains, sementara kalau ke negara Asia Timur itu lebih menonjol ke bisnis. Gue ingin jadi bisniswomen sukses, Run" jawab Dila panjang dan lebar.

Aruna sedikit berfikir, sepertinya ide Dila bagus juga. Tapi dia akan berdiskusi dengan Ferdi saja terlebih dahulu. Bukankah Ferdi juga berencana akan ikut program itu juga.

"Bagaimana Run?" tanya Dila menegaskan.

"Ah iya, nanti gue pikir-pikir lagi" jawab Aruna.

"Iya. Memang Lo harus bicarakan sama ortu Lo dulu sih. Kabari gue ya kalau setuju. Nomor ponsel Lo, berapa?" ujar Dila yang sudah mengeluarkan ponselnya.

Mereka saling bertukar nomor. Dan Aruna cukup merasa bising akan sikap terlalu supelnya Dila. Sementara dia adalah penyuka kesunyian.

Tapi biasanya yang berlawanan seperti mereka akan lebih awet dalam berkawan, bukan?

Seperti dia mata koin yang berlawanan, mereka tak bisa dipisahkan.

1
Azizah Hazli
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!