Novel ini sudah mengalami revisi ulang ya. Judul dan nama tokohnya masih tetap sama, hanya ada beberapa tokoh yang author hilangkan.
Sakila gadis sederhana yang pernah terluka karena kehilangan seseorang Ibu, harus di hadapkan dengan kenyataan pahit, bahwa dia harus menerima pinangan pria yang jauh lebih tua darinya, yakni 23 tahun. Sakila berusia 21 tahun, sementara pria itu 44 tahun. Sakila hidup dengan Ayah dan Ibu tirinya, serta adik lelakinya yang berusia 18 tahun.
Alka Prayoga, duda kaya beranak dua dan telah menikah. Alka di hadapkan dengan peristiwa menyakitkan, yaitu dia harus kehilangan istri tercintanya dalam kecelakaan tragis.
Alka yang menutup hatinya selama bertahun-tahun, di paksa menikah lagi demi anak dan menantunya yang menginginkan seorang mertua. Lalu apa jadinya bila wanita yang di nikahinya hampir seumuran dengan anak dan menantunya? sanggupkah sakila meluluhkan hati Alka yang beku? dan bagaimana cara sakila memenangkan hati para menantunya yang tak pernah menerimanya?
Saksikan kisahnya berikut ini ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suharni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 31. Provokasi.
Beberapa kali di bentak dan di tolak pendapatnya, Reina dan Herlina akhirnya menyusun rencana untuk memisahkan Sakila dan Alka. Reina tak terima di bentak oleh Ayah mertuanya itu. Seumur-umur Reina tak pernah di bentak atau di salahkan oleh Alka. Meski pria itu sangat kaku dan dingin, tetapi dia tak pernah memarahi tiap menantunya.
Awal mula Sakila memasuki rumah mereka, Alka tampak tak perduli. Bahkan dia menolak gadis berusia 21 tahun tersebut. Namun, ada apa dengan Alka sekarang? mengapa akhir-akhir ini hubungannya dengan Sakila semakin dekat? dia juga sering membela wanita itu ketika sesuatu menimpa Alka.
Satu lagi yang sangat kentara di mata Reina dan Herlina, yakni Alka mulai bisa mengumbar senyuman. Sejujurnya Reina dan Herlina bersyukur karena Ayah mertuanya itu pelan-pelan mulai melupakan masa lalunya yang begitu menyakitkan. Namun, beberapa kali hal buruk yang menimpa Alka, membuat dua menantunya itu lebih mawas diri dan menganggap, bahwa Sakila tak cocok untuk Ayah mertua mereka.
Reina bisa melihat ketidakcocokan itu lewat sikap Sakila yang ternyata sangat kekanak-kanakan dan sering lalai dalam mengerjakan sesuatu. Sakila juga menyebabkan keluarga Prayoga malu dan menghadapi beberapa gunjingan orang-orang melalui media.
Parahnya lagi, Alka harus kehilangan kontrak dengan Tuan Gautam. Meski Reina tahu, bahwa Tuan Gautam berlaku curang dalam berbisnis. Namun, Reina justru berpikiran lain. Dia merasa Tuan Gautam berubah pikiran karena bintang Sakila yang tak mendukung Alka dalam hal rejeki. Alasan yang sungguh konyol memang. Namun, itulah sangkaan Reina terhadap Sakila.
"Herlina, apa yang harus kita lakukan untuk membuat Ayah mengerti, bahwa Sakila tak cocok dengannya?" tanya Reina sembari mondar-mandir seakan tengah memikirkan sesuatu.
"Bagaimana kalau kita beritahu Sakila sendiri untuk meninggalkan Ayah. Lagi pula, dia kan menolak pernikahan ini dulu. Dan dia juga tidak mencintai Ayah sampai sekarang. Dia juga membawa sial untuk keluarga ini," saran Herlina.
Penjelasan Herlina itu seperti memunculkan ide baru di kepala Reina. Dia tersenyum menyeringai seakan sedang memikirkan sesuatu.
"Kau benar Herlina. Kita beri saja dia uang yang banyak untuk pergi dari rumah ini. Anggap saja sebagai bayarannya selama ada disini. Lagi pula Ibunya yang mata duitan itu pasti akan dengan senang hati menerima Sakila kembali dengan membawa sejumlah uang," balas Reina sembari tersenyum licik.
"Kau benar Kak," tambah Herlina seakan mendukung pendapat saudara Iparnya itu.
**
Sore hari menjelang, Alka pergi ke sebuah Hotel untuk menemui seorang klien setelah pagi tadi tak sempat ke kantor karena insiden alergi dan sakit perut.
Sementara Sakila tetap berada di rumah dan istirahat. Meski perutnya sudah membaik. Namun, Alka menyuruhnya untuk tidak beraktivitas dulu di dapur.
Melihat Alka pergi, Reina dan Herlina menjalankan rencananya untuk menemui Sakila dan menyuruh Ibu mertuanya itu pergi dari rumah mereka.
Setibanya di kamar, Reina dan Herlina melihat Sakila tengah membaca buku.
"Sakila, kami perlu bicara denganmu," tutur Reina tanpa basa-basi
Sakila menoleh pada Reina dan Herlina seraya menutup bukunya.
"Silahkan saja Reina. Ada apa? apakah kau membutuhkan sesuatu? atau ada hal lain yang ingin kau sampaikan padaku?" balas Sakila tanpa menaruh rasa curiga sama sekali.
Sebelum menjawab pertanyaan Sakila, Reina dan Herlina saling memandang satu sama lain seakan ingin berkata sudah waktunya untuk mengatakan segalanya.
"Aku minta padamu untuk pergi dari rumah ini," titah Reina akhirnya setelah beberapa saat diam seolah tanpa beban.
Hal itu membuat Sakila terkejut. Betapa tidak, Reina mengusirnya dari rumah yang telah di tempati selama empat bulan ini tanpa salah dan dosa. Jika memang Sakila melakukan kesalahan, apakah kesalahan itu? mengapa dia tak menyadarinya?
"Apa maksudmu Reina?" tanya Sakila tak percaya.
"Maksud Kakak adalah kau pergilah dari rumah ini dan jauhi Ayah. Karena kau tak cocok dengan Ayah mertua kami. Kau juga tak pantas untuk menjadi Ibu mertua kami berdua," tandas Herlina menjawab pertanyaan Sakila seolah menggantikan Reina untuk menjawab pertanyaan wanita tersebut.
"Tapi mengapa begitu? apakah aku melakukan kesalahan lagi? apakah aku mempermalukan keluarga Prayoga lagi? kalau mengenai Tuan Gautam, itu bukanlah salahku. Kalian tahu sendiri, bahwa pria licik itu yang berusaha untuk menipu Paman Alka," balas Sakila masih terus tak percaya pada Reina dan Herlina yang ingin mengusirnya dari rumah itu.
"Ini bukan hanya tentang Tuan Gautam, tapi tentang ketentraman keluarga Prayoga. Ini tentang ramalan bintangmu yang menunjukkan bahwa kau tidaklah cocok untuk Ayah," tandas Reina penuh penekanan.
"Tapi bukankah kalian sendiri yang membawaku ke rumah ini? kalian yang menginginkan aku untuk menikahi Paman Alka. Apakah menurut kalian pernikahan itu sebuah lelucon yang pantas untuk kalian permainkan? mengapa kalian tidak memikirkan ramalan bintang itu terlebih dahulu sebelum datang ke rumahku dan melamarku?" tandas Sakila tak terima di pojokkan oleh dua menantunya itu tanpa dasar.
"Begini Sakila, sebelumnya kami minta maaf karena telah membawamu ke rumah ini. Mungkin kau merasa, bahwa kami telah menyia-nyiakan masa mudamu, tapi bukankah masih belum ada yang hilang dari dirimu? kau dan Ayah tak pernah berbagi ikatan suami istri. Apa aku benar?" ujar Reina dengan suara yang mulai melunak. Berusaha untuk meluluhkan hati Sakila.
"Dulu kami salah menilaimu. Maksudku adalah kami tidak berpikir jernih waktu itu sebelum menjadikanmu sebagai Ibu mertua kami. Lagi pula, Ibu tirimu terus datang pada kami dan berusaha untuk meyakinkan kami, bahwa kau mampu mengurus Ayah dan keluarga Prayoga. Kau bisa menjadi Ibu mertua kami yang baik. Bahkan dia juga meminta sejumlah uang kepada kami dengan jaminan, bahwa kau menyanggupi tugasmu sebagai Nyoya Prayoga. Tapi nyatanya tidak," terang Reina, dan sukses membuat Sakila kecewa dan sakit hati. Betapa tidak, dia seperti menjadi tersangka dalam pernikahan yang mana dia sendiri menolaknya dulu.
Reina dan Herlina seperti seseorang yang tak tahu diri dan berbuat sesuka hati tanpa memikirkan bagaimana hancurnya perasaan orang lain.
"Ambillah uang ini sebagai upahmu selama berada di rumah ini. Aku akui, bahwa Ayah mulai berubah dan perlahan-lahan melupakan masa lalunya yang pahit. Dia juga sudah mulai tersenyum. Tapi bukan itu poin pentingnya Sakila. Kau harus bisa membawa hoki atau keberuntungan bagi Ayah," ujar Reina selanjutnya seraya memberikan sejumlah uang yang di isi dalam tas.
Harga diri Sakila semakin terluka. Dia hancur berkeping-keping ketika dua menantunya itu memperlakukan dirinya seperti seseorang yang tak berharga.
"Baiklah, aku akan pergi dari rumah ini dan meninggalkan Paman Alka," tutur Sakila akhirnya setelah beberapa lama bungkam sembari menitikan air mata.
Mendengar kalimat Sakila, Reina dan Herlina saling memandang satu sama lain sembari melempar senyuman bahagia.
"Benarkah?" tanya Reina dan Herlina secara bersamaan. Tampaknya dua wanita sosialita itu tak sabar lagi untuk menyaksikan Sakila pergi dari rumah itu.
"Tapi sebelum itu, berikan seluruh harta kekayaan keluarga Prayoga padaku. Apa kalian sanggup?" lanjut Sakila kemudian dengan nada menantang.
Mata Reina dan Herlina terbuka lebar seakan ingin melompat ke lantai. Apakah Sakila sudah gila? mengapa dia menginginkan seluruh harta kekayaan keluarga Prayoga? ternyata wanita itu sangat tamak dari Ibu tirinya. Wajahnya saja yang terlihat sangat polos, tapi tidak dengan hatinya. Pikir Reina.
"Apa kau sudah gila? mengapa kami harus memberimu seluruh harta kekayaan keluarga Prayoga?" tandas Reina penuh amarah.
"Iya, untuk apa kami melakukan itu?" tambah Herlina.
"Bukankah kalian ingin membayarku dengan uang? maka berikan aku seluruh harta kekayaan keluarga Prayoga sebagai gantinya. Bukankah kalian tahu sendiri, bahwa aku menyia-nyiakan masa depanku demi memenuhi permintaan kalian berdua dulu. Jangan lupa Reina, kaulah yang paling menginginkan aku menjadi Ibu mertuamu. Dan jika aku harus pergi dari rumah ini, biar kan Paman Alka sendiri yang menyuruhku. Maka aku akan pergi dengan senang hati!" balas Sakila tak kalah marahnya.
"Keluar dari kamar ini sebelum aku menelpon Paman Alka dan mengadukan kalian berdua," titah Sakila kemudian.
Reina dan Herlina pun keluar kamar dengan membawa tas berisikan uang tadi.
"Kakak, ternyata Sakila tak sepolos yang kita pikirkan. Dia jauh lebih cerdik dari wajahnya yang lugu itu. Ternyata dia mengincar harta kekayaan keluarga Prayoga selama ini," ujar Herlina seakan memprovokasi Reina.
"Kau benar Herlina. Dia tak sebodoh yang kita pikirkan. Kita harus mencari cara untuk menyingkirkan wanita sial itu dari rumah ini," balas Reina seraya menatap kedepan seakan sedang memikirkan sesuatu.
To be continued.