Selama 2 tahun menjalin mahligai rumah tangga, tidak sekali pun Meilany mengucapkan kata 'tidak' dan 'tidak mau' pada suaminya. Ia hanya ingin menjadi sosok seorang isteri yang sholehah dan dapat membawanya masuk surga, seperti kata bundanya.
Meski jiwanya berontak, tapi Mei berusaha untuk menahan diri, sampai pada akhirnya ia tidak bisa menahan lagi ketika suaminya meminta izinnya untuk menikah lagi.
Permintaan itu tidak membuat Mei marah. Ia sudah tidak bisa marah lagi ketika sudah kehilangan segalanya. Tapi ia juga tidak bisa tinggal di tempat yang sama dengan suaminya dan memilih pergi.
Selama 7 tahun Mei memendam perasaan marah, sampai pada suatu ketika ia menemukan kebenaran di dalamnya. Kebenaran yang sebenarnya ada di depan matanya selama ini, tapi tidak bisa ia lihat.
Bisakah Mei memperbaiki semuanya?
*Spin off dari "I Love You, Pak! Tapi Aku Takut..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jnxdoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 - Mengabulkan
Sudah seminggu, Aslan tinggal bersama isterinya. Mereka memang masih tidur di kamar terpisah, tapi Mei selalu menyediakan kebutuhannya seperti dulu. Kamarnya selalu dirapihkan dan pakaiannya disiapkan. Isterinya juga selalu mengantar dan menyambutnya saat ia pulang.
Selama seminggu ini, ia merasa sangat bahagia. Hidupnya yang dulu seolah telah kembali. Ia tidak memiliki keinginan apapun, selain melihat isterinya selalu tersenyum seperti sekarang.
Tapi apakah Mei bahagia? Wanita itu menghabiskan waktunya sebagian besar hanya di rumah saja.
Aslan tahu, isterinya ini tidak terlalu butuh uang. Wanita itu berasal dari keluarga cukup kaya, dan sebelum hubungan dengan keluarganya putus, ia telah diberi bekal berupa aset dan simpanan di bank yang jumlahnya tidak sedikit. Belum lagi tabungan sebelum menikah, dan saat menjadi sekretaris Conrad. Ia menduga Mei mendapat gaji lebih besar, atau minimal sama dengan dia, mengingat mata uang gajinya berupa dolar.
Ia tidak mau Mei merasa seperti tujuh tahun lalu, terpaksa melepas karirnya untuk menjadi IRT. Aslan bukan merendahkan profesi IRT, tapi ia tahu isterinya butuh kegiatan lain selain mengurus rumah.
Melepaskan si Cantik dari gendongannya, pria itu menatap isterinya yang sedang memotong daun kuning di halaman. Tampak senyuman wanita itu tidak berubah. Isterinya memang menikmati kegiatan itu.
"Mei?"
Kepala Mei berpaling dan ia tersenyum pada suaminya. "Ya mas?"
Pria itu tidak membalas senyuman isterinya seperti biasa. Rautnya tampak serius.
"Kamu sibuk ga? Mas mau bicara."
Ekspresi suaminya membuat Mei berdebar, tapi ia mengangguk. Wanita itu mengikuti suaminya masuk ke dalam rumah dan keduanya duduk di depan meja makan. Saling berseberangan.
Selama beberapa saat, belum ada yang bicara.
Kepala Aslan akhirnya terangkat dan pria itu memandangi isterinya. Suara beratnya terdengar tegas.
"Sekarang apa rencanamu, Mei? Sudah hampir sebulan kamu di Indonesia dan kamu bilang, kamu sudah resign sebagai asisten Conrad. Apa yang ingin kamu lakuin sekarang, Meichan? Mas tahu, kamu pasti akan bosan kalau hanya di rumah saja. Jadi apa rencanamu ke depannya?"
Pertanyaan itu membuat Mei menatap Aslan sebentar. Ia sedikit menundukkan pandangan.
"Mei hanya ingin berada di samping mas Aslan. Menjadi isteri mas sesungguhnya. Mei ingin-"
"Apa benar itu keinginanmu, Mei? Kamu ingin di rumah dan ga punya kegiatan apapun selain masak, nyuci, bersihin rumah atau ngurus tanaman? Kamu yang biasanya sibuk dengan tugas kantor dan mencari solusi masalah kompleks, yakin akan tinggal di rumah dan berkutat dengan urusan monoton? Kamu yang terbiasa update dengan situasi terkini, sekarang cuman ngobrol dengan tetangga tukang gosip dan ngurusin kucing? Yakin kamu mau ngelakuin itu semua seumur hidup, Mei? Di saat kamu masih sanggup ngelakuin hal lain?"
Tatapan Mei mulai nanar pada suaminya.
"Mas... Mei tahu, Mei sudah jadi isteri durhaka buat Mas Aslan. Mei ingin menebusnya sekarang. Mei-"
"Seinget mas, mas ga pernah minta kamu melepas impianmu, Mei. Mas ga pernah nyuruh kamu berhenti kerja, baik dulu atau pun sekarang. Mas ga pernah ngelarang kamu berkegiatan, selama kamu bisa seimbang ngatur waktu buat... buat keluarga. Mas ga ingin kamu kehilangan jati diri, hanya karena jadi isteri mas. Bahkan saat ini, mas juga belum bisa memutuskan, apakah... apakah kita tetap bersama, atau berpisah."
Nafas Mei terdengar lebih cepat. Kedua matanya mulai merah dan tangan kecilnya mengepal.
"Mas..."
Sorot mata pria itu melembut dan perlahan, ia mer*mas tangan isterinya di atas meja. Ia tersenyum.
"Mas sudah maafin kamu, Mei. Selama seminggu ini, kamu sudah menebusnya. Kamu sudah ngelakuin apa yang mas impikan saat kamu pergi tujuh tahun lalu. Kamu sudah buktiin itu semua, dan mas menghargainya. Tapi, mas sadar selama tujuh tahun ini pasti banyak hal berubah. Apa yang kamu inginkan dulu, bisa jadi bukan keinginan kamu sekarang. Mas ga ingin kamu melepas semua, hanya karena rasa bersalah."
Aslan mengamati tangan isterinya dan mengusap punggung tangan itu lembut.
Saat memandang isterinya kembali, ia melepaskan tangan wanita itu perlahan.
"Saat kamu bilang ingin cerai dari mas, saat itulah mas sadar, mas bukan suami yang baik buat kamu. Jadi kalau pun sekarang kamu mutusin buat ninggalin mas dan minta cerai, mas akan mengabulkan keinginan kamu, Mei. Mas sadar, kamu mungkin butuh pria yang seimbang sama kamu. Yang bisa buat kamu bangga, dan bukan mas orangnya. Pikirlah, Mei. Jangan sampai kamu menyesal seperti dulu."
Selesai mengatakan itu, Aslan berdiri. Ia baru saja akan ke kamar tamu, saat terdengar suara isterinya.
"Dari tadi mas cuman bicara soal keinginan Mei. Soal impian Mei. Tapi Mei belum denger satu pun keinginan mas Aslan. Sebenernya, apa keinginan mas? Mei ingin denger."
Suara isterinya yang tegas disertai sorot mata wanita itu yang memandanginya mantap, membuat Aslan terdiam sebentar. Matanya bergerak-gerak mengamati isterinya.
Saat ia bersuara lagi, nada pria itu sangat lembut dan juga rendah.
"Mas hanya ingin melihat wanita yang mas cintai bahagia. Itu saja keinginan mas, Mei. Mas ingin lihat kamu hidup bahagia, Meichan. Karena itu mas rela melepasmu, kalau kamu lebih bahagia tanpa mas."
meican Ama aslan gak terpisah
bibit bebet bobot penting, agama penting, kaya penting....
tapi juga gak penting penting amat
yang terpenting watak dan akhlak...
jika baik insyaallah rumah tangga juga baik.....
makasih Thor.........
payah loe Aydin