ini adalah kisah seorang gadis yang bernama Aura yang memiliki kemampuan luar biasa, ia memiliki anugrah yaitu bisa melihat dan berkomunikasi dengan mahluk lainnya... penasaran jangan lupa baca ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitha Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Tiga Puluh Satu...
bahkan kebanyakan anak anak di sini mengaji ke sana. Abby sangat kasihan kepada anak anak yang mau mengaji karena jarak masjid dan kampung di sebelah sangat lah jauh jadi Abby bercanda kepada kakaknya jika ia mempunyai uang nanti ia akan membuat mushola untuk beribadah dan sekalian mengajar ngaji di sini dan tanpa sepengetahuan Abby! Putra pun memberikan uang cukup besar ke pada mbah Karsa untuk membuat mushola di belakang dan untungnya di belakang itu dekat dengan jalan akses para warga sehingga nanti mempermudah orang orang untuk beribadah di sana.
" jadi begitu...! kalo begitu om gak ngajar ngaji di kampung sebelah lagi dong kalo mushola ini udah jadi?," tanya Aura pelan.
" hmmm," hanya itu yang keluar dari mulut Abby.
" yah....sayang banget. padahal di sana ada seseorang yang mengagumi dan menyukai om Abby," kata Aura pelan dan membuat Lola dan Abby penasaran.
" siapa?" tanya Abby dan Lola hampir bersamaan..
" cie.... barengan," kata Aura menggoda Abby dan Lola.
" siapa yang kamu maksud yang mengagumi dan menyukai om?," tanya Abby yang sudah kebal dengan godaan dari Aura.
" mbak kunti..hihihihihihi!!" seru Aura yang menirukan suara tawa kuntilanak.
" Astaghfirullah'alazim," ucap Abby mengelus dada dan sabar menghadapi keponakannya yang seperti ini.
" kamu ini...kirain siapa," kata Abby dan malah menatap Lola.
yang di tatap pun malah salah tingkah dan menunduk.
" udah sana tidur! ini sudah malam," kata Abby lagi.
" om tidurnya di sini?," tanya Aura dan Abby pun mengangguk.
" iiiih...!! gak takut apa... tar ada yang nemenin loh," kata Aura yang malah menakut-nakuti om nya.
" mana ada, udah sana tidur sudah malam ini. besok kan kakek sama nenek mau panen sayur kalo kalian gak tidur sekarang nanti besok kesiangan dan gak bisa bantu bantu nenek sama kakek panen," kata Abby lagi.
Aura dan Lola pun mengangguk dan meninggalkan Abby di sana seorang diri mereka berdua pun menuju kamar Abby dan tidur di sana.
Ke Esokan Harinya...
Aura bangun kesiangan sedangkan Lola pagi pagi sekali sudah bangun karena memang sudah terbiasa Lola bangun pagi pagi sekali.
Aura pun keluar dari kamar Abby dan menuju dapur dan ia melihat bunda, ayah dan Kiran tengah duduk di meja makan.
" pagi yah, bun, kak," sapa Aura pelan.
" pagi sayang... ayo sarapan dulu," ajak bunda.
" baru bangun kamu," kata Kiran tersenyum.
" iya nih kak," ucap Aura ketika duduk.
" kakek sama nenek mana bun?," tanya Aura lagi karena melihat rumah yang sangat sepi.
" kakek sama nenek lagi di kebun. katanya sih hari ini mau panen sayur," kata bunda lagi.
" ayah sama bunda juga nanti ke sana nyusul," kata bunda lagi.
" ya ampun, Aura lupa...padahal semalam udah di kasih tahu om Abby kalo hari ini kakek sama nenek panen sayur." kata Aura lagi.
" terus Lola mana bun?," tanya Aura lagi dan ia mengambil susu yang di buatkan bunda untuknya.
" Lola sama Abby tadi sudah berangkat lebih dulu, katanya mau bantu bantu kakek sama nenek duluan," kata bunda lagi.
" hmmmm," hanya itu yang keluar dari mulut Aura dan ia pun meminum susu itu dengan pelan.
( hihihihi pasti mereka lagi pedekate,) batin Aura senyum senyum.
" 'apa itu pedekate'?," tanya seorang tiba tiba yang tak bisa dilihat siapa pun kecuali Aura.
" uhuk.. uhuk...uhuk...," karena terkejut dengan kedatangan seseorang yang tiba tiba di belakangnya membuat Aura sampai keselek air susu yang di minumnya.
" ya ampun sayang, pelan pelan," kata ayah dan menepuk nepuk punggung Aura.
" 'maaf'," ucap seorang itu yang tak lain adalah Aslan.
" Astaghfirullah...om kan bisa kalo datang tuh bilang bilang, atau paling tidak ngucap salam, kaget tau om," dalam batin Aura kesal.
" maaf, saya benar benar tidak sengaja" ucap Aslan pelan.
" om bikin kaget saja...untung gak mati keselek aku," kata Aura kesal.
" iya iya maaf," ucap Aslan menyesal.
" pelan pelan sayang," ucap bunda lembut.
" hehehe iya bun, maaf jadi keselek," kata Aura yang malah tertawa.
" makannya pelan pelan...kamu tuh kaya lihat setan saja sampai keselek kaya gitu.," kata Kiran pelan.
" hehehhe memang iya kak, aku lihat setan... habisnya kaget di kejutin tiba tiba begitu," kata Aura lagi.
" apa...!! memangnya di rumah kakek sama nenek ada setannya ya Ra?," tanya Kiran ketakutan.
" bukan setan yang itu sih kak, tapi jin usil yang tiap hari gangguin aku." kata Aura tersenyum dengan kesal
" apa... jin usil?," tanya Kiran bingung karena menurut dia jin atau pun setan bukannya sama saja, sama sama tak kasat mata.
" astaga....! apa maksudmu jin yang kamu maksud itu om mu, sayang?," tanya Putra pelan.
memang keluarga Aura sudah mengetahui siapa sahabat atau om yang di maksud Aura, karena sejak kecil dia lah yang selalu menjaga Aura sampai sekarang! bahkan Aura tak segan segan lagi berbicara tentang om yang berkelakuan buruk itu kepada keluarganya.
" iya yah...siapa lagi kalo bukan dia," kata Aura kesal.
" apa dia sering mengganggumu, sayang?," tanya ayah pelan.
" bukan sering lagi yah...bahkan tiap jam om yang nyebelin itu selalu saja ganggu aku," kata Aura yang malah mengadu.
Aslan hanya memicingkan matanya saja.
" Astaghfirullah... Rai jangan ganggu terus keponakanmu kasihan dia," ucap bunda lembut dan menasehati adik tak kasat matanya itu ke segala arah karena bunda tidak tahu di mana posisi Aslan yang sebenarnya berdiri di belakang Aura.
" maaf nyimas," ucap Aslan pelan.
" iya...! saya tahu kamu itu om dan sekaligus sahabat putri saya dan saya juga tahu saya tidak bisa lihat kamu. tapi jika kau selalu mengganggu dan terus usil kepada Aura jangan salahkan saya untuk mengatakan kepada kakeknya atau kau mau aku untuk mengatakan kepada kakeknya agar bilang kepada ibumu agar kau menjauh saja dari Aura. apa itu yang kau inginkan," kata ayah dengan tegas.
" tuh dengar apa kata ayah," kata Aura tersenyum puas.
" maaf kan saya rakak, saya berjanji tidak akan berbuat seperti itu lagi. saya benar benar lupa kalo Aura belum terbiasa," kata Aslan pelan.
namun apa pun yang di katakan Aslan tak kan ada yang mendengar selain Aura saja.
" katakan kepadanya Aura, kalo aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi aku tidak mau jika kakekmu nanti malah bilang kepada ibunda untuk menjauhkan mu dariku," kata Aslan lagi.
" iya iya iya..." kata Aura pelan.
" yah...kata Aslan ia minta maaf, ia tak akan melakukan hal seperti itu lagi. ia benar benar lupa kalo aku belum terbiasa dengan kemunculannya yang suka datang tiba tiba," kata Aura