Bagaimana jika kita bangun tidur sudah ada uang di sebelah kita dan bukan hanya uang, terkadang barang yang kita perlukan juga bisa tersedia. Memang sekilas terdengar enak dan mudah, tapi hampir setiap hari kita mimpi buruk dan berpetualang di dunia yang berkebalikan dari dunia nyata, jika di dunia nyata ada manusia, di dunia mimpi ada zombie yang merepresentasikan sifat sifat manusia di dunia nyata.
Kisah ini adalah kisah seorang pemuda dan adiknya yang sedang menghadapi masalah berat, mulai dari di minta cuti paksa karena belum membayar biaya kuliah sampai kekasihnya hamil oleh sahabatnya sendiri. Dia tidak sengaja "menemukan" sistem ini dan memulai petualangannya di dunia mimpi buruk untuk merubah dunia nyata di sekitarnya dan mengatasi masalah besar yang menimpa dirinya dan adiknya.
Genre : Fiksi, drama, comedy, fantasi, sistem, sedikit horor.
Mohon tinggalkan jejak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mobs Jinsei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
“Klek,” jam di dinding menunjukkan pukul tiga pagi, Rudi membuka matanya, dia langsung duduk di atas ranjangnya, perasaannya masih campur aduk karena sudah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Dia menoleh dan melihat Rina masih tertidur memeluk bantal guling membelakanginya. Tangan Rudi mengangkat dan mengelus kepala Rina dari belakang,
“Gue harus kelarin semuanya dengan cepat, jangan sampe Rina terlibat, gue kayaknya tau kenapa si mafia itu ngotot banget pengen ngadopsi Rina, bukan karena anaknya udah koit gue rasa,” ujar Rudi.
“Hmmm,” Rina melenguh dan berbalik menghadap Rudi sambil memeluk gulingnya, wajahnya terlihat senang karena kepalanya sedang di elus oleh Rudi. Melihat wajah Rina yang seperti itu, tentu saja hati Rudi semakin bergejolak ingin segera menuntaskan tugasnya walau ada sedikit perasaan takut di hatinya karena kali ini lawannya bukan hanya sekedar mahasiswa yang ugal ugalan melainkan jaringan mafia yang sudah mendarah daging di masyarakat.
Selain rasa takut, rasa tidak percaya diri juga hinggap di dalam hatinya, dia masih ragu kalau dirinya bisa melakukan tugasnya dengan benar. “Plak,” Rudi menampar kedua pipinya menggunakan kedua telapaknya supaya pikiran dan perasaan negatifnya hilang. Dia berdiri dan berjalan ke kemar mandi untuk mencuci wajahnya. Setelah itu, dia ke mejanya dan membuka lacinya, dia melihat buku tabungan yang tidak pernah dia print namun saldonya bertambah sebanyak 20 juta.
“Dah besok urus kuliah gue dulu, satu satu gue kelarin, ayo semangat Rud,” ujarnya dalam hati untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Rudi duduk di kursi dan membuka smartphonenya untuk melihat pesan yang masuk baik di aplikasi chatnya dan di sosial medianya. Setelah itu, dia kembali berbaring di ranjangnya dan memejamkan mata.
******
Pagi harinya, setelah mengantar Rina kesekolah menggunakan motornya, Rudi langsung menuju ke kampusnya. Setelah sampai, dia langsung menuju ke kantor administrasi kampus, seorang staff administrasi menyambutnya. Rudi mengatakan ingin bertemu dengan pak Heru yang merupakan wakil yayasan dan berkantor di sana.
“Wah kamu kepagian, beliau belum datang, memang ada apa mencari beliau ?” tanya ibu yang merupakan staff administrasi.
“Begini bu Nancy, saya mau melunasi sks saya yang belum di bayar selama tiga bulan terakhir dan mau kembali kuliah,” ujar Rudi.
“Oh gitu, coba lihat kartu mahasiswamu, biar aku cek,” ujar Nancy.
Rudi memberikan kartunya, Nancy langsung memasukkan nomor induk mahasiswa Rudi dan namanya ke dalam komputernya. Namanya masih tercantum di dalam database kampus, tunggakannya juga keluar dan Nancy memberitahu jumlahnya kepada Rudi. Kemudian dia minta supaya Rudi menyetorkan tunggakannya ke nomor rekening yang dia berikan dan kembali lagi memberikan bukti transfernya.
Langsung saja Rudi berjalan menuju ke bank negeri yang berada di dalam kampus dan sudah pasti buka. Setelah di persilahkan security masuk, Rudi masuk ke dalam bank dan duduk menunggu antrian, tiba tiba pundaknya di sentuh seseorang. Rudi menoleh, dia melihat Lisna berdiri di belakangnya. Rudi sedikit kaget wajah Lisna yang sebelumnya pucat dan terlihat seperti orang yang tidak tidur berhari hari ketika kemarin bertemu di mall, sekarang terlihat segar dan cerah tidak pucat lagi.
“Pa kabar Lis ? kok lo di sini ?” tanya Rudi basa basi.
“Rud, lo mau bayar sks ya ? gue liat lo masuk kesini jadi gue susul ke dalem,” ujar Lisna.
“Iya, kenapa ?” tanya Rudi.
“Um...abis ini boleh ga gue ngobrol bentar ama lo sebelum kelas masuk ?” tanya Lisna.
“Boleh aja, bentar ya, abis gue dari ruang admin, kita ngobrol, mau dimana ngobrolnya ?” tanya Rudi.
“Kantin aja, gue tunggu di sana ya,” jawab Lisna.
“Ok, duluan aja, gue nyusul ntar,” ujar Rudi.
Lisna berbalik dan berjalan keluar dari bank, Rudi langsung menyelesaikan transfernya dan pergi ke kantor administrasi untuk menyerahkan buktinya kepada Nancy. Ketika sampai disana, kebetulan dia berpapasan dengan pak Heru, tanpa menunggu pak Heru masuk ke dalam, Rudi langsung memperlihatkan bukti transfernya kepada pak Heru. Setelah membacanya, pak Heru menepuk pundak Rudi sambil tersenyum, dia mengatakan kepada Rudi kalau dia akan melaporkan pembayaran Rudi ke bu Nur yang merupakan dekan dari fakultas Rudi.
Setelah mendapat kuitansi sebagai bukti sudah membayar dari Nancy, Rudi langsung bergegas ke kantin untuk menemui Lisna. Dia melihat Lisna sedang duduk sendirian di dalam kantin yang sepi dan masih belum buka. Dia menghampiri Lisna dan duduk di depannya,
“Nah udah kelar, jadi lo mau ngobrol soal apa ?” tanya Rudi langsung.
“Ga sih, gue pengen cerita aja, lo orang pertama yang gue ceritain, tadi gue mau cerita ama Rahman tapi dia masih tidur,” jawab Lisna.
“Ok, cerita aja,” balas Rudi.
Lisna menaikkan tangannya, Rudi bisa melihat pergelangan tangan Lisna yang di perban, tapi Lisna langsung membuka perbannya dan memperlihatkan pergelangan tangannya kepada Rudi. Begitu melihat pergelangan tangan Lisna, Rudi bisa melihat bekas luka percobaan bunuh diri Lisna sudah hilang dan kulitnya kembali mulus seperti semula.
“Oh luka kemarin udah sembuh ya ?” tanya Rudi.
“Bukan cuman itu Rud, gue pake perban bukan cuman karena kemarin coba bunuh diri, ada beberapa bekas suntikan di pergelangan tangan gue,” jawab Lisna.
“Oh gitu, trus ?” tanya Rudi.
“Tadi malem, gue mimpi aneh banget, gue ga inget detailnya gimana, tapi gue inget sebuah kejadian waktu gue di bawa kerumah orang sama Eko, kejadiannya ga lama setelah gue balik dari puncak, gue di iket di kamar trus di suntik narkoba sampe mabok. Nah semalem gue ngimpi kejadian itu lagi, tapi kali ini beda, gue ngeliat ada monster serem yang bebasin gue, pas keluar gue liat Eko udah mati, trus tau tau ada cahaya dan gue ga inget lagi,” jawab Lisna.
“Monster serem ? kayak apa ?” tanya Rudi pura pura.
“Ga tau, pokoknya serem kayak film horror gitu, tapi kayaknya monster itu ngelepasin gue, jujur gue ga inget detailnya gimana,” jawab Lisna.
“Horror yeh,” ujar Rudi.
“Trus ada yang aneh, biasanya jam 3 atau jam 4 gue pasti bangun dan badan gue menggigil karena kencanduan gue ama narkoba yang tiap hari gue lawan, tapi tadi enggak, gue bangun seger jam 5 pagi, ga menggigil sama sekali dan waktu pipis.....” ujar Lisna.
“Lo balik perawan gitu ?” tanya Rudi.
“Kok lo tau ?” tanya Lisna kaget.
“Karena Farah dan Santi juga gitu, gue kaga kaget dengernya, penyebabnya apa juga gue kaga tau (padahal gara gara gue, makasih lo ama gue),” jawab Rudi.
“Gitu ya, mereka juga berarti,” ujar Lisna.
“Lo tanya aja ntar ama mereka, dua duanya bakal ke kampus juga kok, kemaren mereka ngomong ama gue mau ke kampus ,” ujar Rudi.
“Tapi...gue ga enak ama mereka, gara gara gue ngajak Eko ke puncak semua rusak,” ujar Lisna.
“Jah ga apa apa kale, lagian di banding mereka, lo kan yang paling rusak, udah tenang aja, lo kan akrab ama mereka dari sma, ga mungkin cuman gara gara kayak gini pertemanan kalian rusak, percaya deh ama gue,” ujar Rudi.
“Gue coba deh,” ujar Lisna menunduk.
“Lagian kalo ngomong salah, gue juga salah karena ga ikut kan jadi lo pada kurang satu orang,” ujar Rudi.
“Tapi kan waktu itu ade lo sakit, ya ga bisa di bilang salah lah,” ujar Lisna.
“Yah pokoknya gara gara kita, bener kan,” ujar Rudi sambil tersenyum.
“Hehe iya deh, thanks Rud,” ujar Lisna tersenyum.
“Nah gitu kan enak di liatnya, senyum yang lebar, lo cakep kalo senyum,” ujar Rudi.
“Bisa aja lo ah, gue bilangin Farah nih,” ujar Lisna.
“Bilangin aja, gue bicara fakta kok,” balas Rudi.
Akhirnya Lisna sudah berbicara seperti dahulu lagi sebelum semua kejadian buruk terjadi. Rudi melihatnya menjadi lega, “dling,” sebuah pesan dari fakultas masuk ke dalam smartphone Rudi berisi jadwal kuliahnya dan pemberitahuan kalau dia sudah bisa lagi menghadiri kelas kelasnya.