Alih-alih menjadi gadis penebus hutang, Ailyn justru dinikahi oleh seorang rentenir.
Awalnya Ailyn mengira jika rentenir itu berbadan gendut dan botak.
Ternyata.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shim Chung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Hari Saja
Ailyn masih merasa sakit di pangkal pahanya ketika bangun tidur, dia sangat malu kalau mengingat malam pertamanya yang sudah lama tertunda dengan Derick.
"Apa yang terjadi setelah ini?" gumam Ailyn.
Gadis itu masih tidak bisa tenang jika Derick belum memberinya kepastian.
Apalagi ketika dia bangun, lelaki itu tidak berada di sampingnya.
"Apa aku ditinggalkan?" Ailyn jadi panik sendiri.
Namun, pikiran Ailyn salah karena Derick ternyata kembali dengan sarapan yang kesiangan.
Karena sekarang sudah lewat pukul sebelas siang.
"Baru bangun?" tanya Derick.
Ailyn semakin malu karena tidur sampai siang.
"Aku akan mandi dulu," ucapnya seraya menurunkan kaki ke lantai. Dia meringis karena benar-benar masih sakit.
Dan Derick yang menyadari hal itu berusaha membantu sang istri dengan menggendongnya ke kamar mandi.
Lelaki itu menurunkan Ailyn di closet duduk dan mencoba melihat apa milik Ailyn bengkak.
"Jangan!" Ailyn mencegah ketika Derick ingin membuka kedua kakinya.
"Aku hanya ingin mengeceknya saja," Derick tetap memaksa membuka kedua kaki Ailyn lalu melihat dengan ekspresi biasa saja.
"Seperti yang aku duga, bengkak!"
Ailyn bertambah malu dan malu karena miliknya ditatap dengan begitu intens.
"Mungkin akan sembuh dengan sendirinya nanti," ucap Ailyn.
"Aku tidak apa-apa dan bisa mandi sendiri!"
Jujur saja kalau Derick lama-lama disitu akan timbul hasrat lagi pada Ailyn jadi lebih baik dia memang harus membiarkan gadis itu sendirian.
"Jangan lama-lama karena makananmu akan dingin," ucap Derick sebelum keluar.
Ailyn hanya membalas dengan anggukan kepala dan melihat lelaki itu keluar meninggalkan dirinya seorang diri.
Saat Derick sudah benar-benar keluar, Ailyn bisa bernafas dengan lega.
Dia langsung menutup wajah dengan kedua tangannya, rasanya Ailyn ingin berteriak jika mengingat perlakuan Derick yang begitu intens padanya.
"Tenang, tenang, aku tidak boleh panikan," Ailyn berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Gadis itu bergegas membersihkan dirinya dan baru sadar ternyata banyak bekas percintaan semalam, ada beberapa bagian tubuh Ailyn yang terdapat tanda merah.
"Ya ampun..."
Ailyn jadi berdebar-debar, sungguh ini adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan.
Di luar kamar, Derick menunggu Ailyn sambil menyalakan rokoknya. Dia memang sengaja mematikan ponselnya supaya tidak ada yang mengganggu.
Rasanya sudah lama Derick tidak merasakan suasana tenang seperti ini.
Sampai dia merasa terganggu karena mendengar suara getaran ponsel pasti berasal dari ponsel Ailyn.
Derick mencari ponsel itu dan akan mematikan benda kotak itu karena sangat mengganggunya.
"Apa dia tidak tahu kalau sekarang sudah libur sekolah," gumam Derick yang mengira jika ponsel Ailyn berbunyi karena Ian.
Memang ada pesan dan panggilan Ian yang belum Ailyn lihat tapi kali ini yang menghubungi gadis itu berbeda.
"Marco?" gumam Derick melihat ternyata sang asisten yang menghubungi istrinya.
"Ada apa?"
Derick langsung menjawab padahal niat awalnya ingin mematikan ponsel itu.
"Tuan Derick?"
Suara Marco tampak memastikan jika yang menjawab panggilannya adalah sang tuan.
"Apa yang terjadi sesuatu sampai kau menghubungi Ailyn?" tanya Derick.
Karena merasa yakin kalau yang menjawab panggilannya adalah Derick, Marco bergegas memberikan laporan mengenai Bibi Ain.
Tentu saja Derick terkejut tapi berusaha tenang.
"Aku akan menyusul sebentar lagi," ucap Derick setelah mendapat laporan itu.
Tak lama Ailyn sudah keluar kamar mandi, gadis itu memakai bathrobe lalu mencoba mencari tasnya untuk memilih baju.
Setelah memakai baju yang pas, Ailyn mendekati Derick yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Makanlah!" pinta Derick. Dia tidak mau terburu-buru memberitahu kabar mengenai Bibi Ain pada gadis itu.
"Baik," balas Ailyn patuh. Dia sangat lapar sekali setelah semua tenaganya dikuras habis semalam.
Ailyn mencoba menikmati hidangan di hotel itu dan teringat masakan Sachie. Belum ada yang bisa mengalahkan rasa makanan wanita itu.
Mengenai hal itu, apa Ailyn harus memberitahu Derick tentang ayahnya?
Gadis itu jadi gamang, dia tidak tahu bagaimana respon Derick nantinya.
Beberapa menit berlalu, Ailyn sudah menghabiskan makanannya. Dia jadi kenyang sekarang.
"Apa sudah selesai?" tanya Derick.
"Iya, makananya lumayan enak," sahut Ailyn.
"Kalau begitu, kita harus bersiap pergi," ucap Derick.
Ailyn masih belum mencurigai apapun karena wajah Derick tampak biasa saja. Hanya saja dia tidak menyangka kalau Derick akan meminta pergi secepat itu.
"Apa kita tidak akan bermesraan dulu?" gumam Ailyn dalam hatinya. "Astaga, apa yang aku pikirkan?"
Buru-buru Ailyn mengemasi barangnya untuk mengalihkan rasa malu. Bisa-bisanya dia memikirkan hal itu.
Selesai berkemas, mereka benar-benar pergi dari kamar hotel itu dan ternyata sudah ada mobil yang menunggu mereka.
Derick tidak banyak bicara yang membuat Ailyn jadi bingung harus bersikap bagaimana.
"Sayang..." panggil Ailyn saat dalam perjalanan.
Lelaki itu langsung menoleh ke arah Ailyn yang duduk di sampingnya.
"Apa kita akan langsung pulang?" tanya gadis itu.
"Kau akan tahu nanti," balas Derick.
Mendapat jawaban seperti itu, Ailyn langsung diam dan tidak banyak bertanya lagi.
Sampai mobil yang membawa mereka memasuki sebuah pemakaman yang membuat Ailyn bingung.
Di sana sudah ada Marco yang menunggu, kalau bukan karena Ailyn sebenarnya Derick tidak perlu repot-repot kemari.
"Siapa yang meninggal?" tanya Ailyn spontan.
"Turunlah dan datangi Marco!" balas Derick. Dia tidak berniat turun dari mobil.
Karena penasaran Ailyn turun sendirian dan mendatangi Marco yang berdiri di sebuah makam. Makam itu masih basah.
"Marco..." panggil Ailyn mendekat. "Siapa yang meninggal?"
Marco tidak perlu menjawab karena ada nama yang tersemat di pusara makam itu.
"Lihatlah sendiri," sahut Marco.
Ailyn segera membaca nama yang ada di pusara makam. "Aina? Apa ini Bibi Ain?"
Seketika air mata Ailyn langsung turun begitu saja, padahal selama liburan dia sudah berniat akan menjaga wanita paruh baya itu.
Tapi, Ailyn sudah terlambat, gadis itu hanya bisa menangis di sana.
Derick melihat Ailyn dari kejauhan, entah bagaimana gadis itu akan memandangnya sekarang yang jelas pasti Ailyn akan menyalahkan dirinya atas kematian Bibi Ain.
Dan dugaan Derick benar adanya.
Saat Ailyn kembali ke dalam mobil, Ailyn tidak mau memandang Derick lagi.
Ailyn hanya diam dan tampak sesekali masih menyeka air matanya.
Dalam perjalanan pulang, rasanya sangat hening.
"Aku sudah memberikan fasilitas rumah sakit terbaik," ucap Derick memecah keheningan yang ada.
Ailyn tidak mau menanggapi Derick sampai mereka sampai ke rumah. Gadis itu buru-buru turun ketika mobil sudah berhenti.
"Ailyn..." panggil Derick. Sepertinya dia harus memberikan gadis itu waktu.
"Aku memberimu waktu satu hari saja untuk marah!"
jadi pengin kata keramat berapa tahun kemudian terus ketemu sama aylin lagi.
semangat aylin