wanita bernama Ayu yang hidup dalam kemiskinan setelah menikah dengan suaminya yang bernama Sugi.
Sugi sang suami hanyalah pekerja serabutan yang penghasilannya tidak menentu, sehingga membuat Ayu mengambil jalan pintas dengan melakukan pesugihan yang mana mengorbankan anak atau anggota keluarganya.
Bagaimanakah kisah perjalanan Ayu, ikuti kisah selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati yang Lara
Bagas berlari mengikuti arah langkah kakinya. Orang-orang tidak begitu memperhatikannya karena masih sibuk dengan penco-blosan.
Ia berlari menuju Mushola yang saat ini tentunya dalam kondisi sepi. Ia memasukinya dengan hati yang hancur. Ia tidak dapat membuktikan kebenarannya karena sesuatu yang ghaib itu sulit dijelaskan oleh akal.
Namun kematian adik-adiknya yang secara tak wajar dan beruntun tentu membuatnya semakin meyakini perkataan para ibu-ibu pengghibah yang mencurigai ibunya melakukan pesugihan dan bersekutu dengan iblis laknatullah.
Ia melangkah dengan gontai, sudut matanya terus mengalir bulir bening yang tak dapat ia cegah untuk membasahi sudut matanya yang mulai sembab.
Pandangan bocah itu sayu, lalu terduduk lesu disudut bangunan nan suci tersebut.
Ia menangkupkan wajahnya diatas lututnya yang ditekuk. Perih diwajahnya akibat tamparan dari sang bapak tak dapat mengalahkan rasa perih dihatinya saat menyaksikan ketiga adiknya harus mengalami kematian yang sangat tragis dan mengerikan.
Hatinya terkoyak. Apalagi Juni yang merupakan adiknya yang terbilang sangat baik dan juga teman dalam kesehariannya.
Dokter sendiri tak dapat menganalisa penyakit apa yang dialami oleh adik ya itu hingga membuatnya mengeluarkan cairan pekat berwarna merah dan berbau amis yang sangat menyengat dan membuat mual perut bagi yang menghirupnya.
Ia terisak dengan bahunya yang terguncang. Ia tidak dapat mengerti mengapa ibunya sampai tega melakukan hal itu pada adik-adiknya dan itu semua demi atas nama kekayaan.
Laila berhenti tepat didepan Mushola. Ia melihat sendal jepit milik Bagas sang adik berada didepan teras dan ia mengatur nafasnya yang tersengal karena berlari mengejar bocah laki-laki tersebut.
Ia menghela nafasnya dengan berat, lalu melangkah masuk dan membuka pintu dengan sangat hati-hati, kemudian menutupnya.
Gadis kecul itu melihat sang adik yang duduk dengan terisak. Lalu ia berjalan menghampirinya dan menyentuh pundak sang adik dengan sangat lembut.
Bagas tersentak kaget, lalu menatap sang kakak dengan tatapan yang sangat sayu.
"Ayo, Pulang," ajaknya dengan sangat hati-hati.
Bagas menggelengkan kepalanya. "Bagas gak mau, kak, tinggalkan Bagas sendiri disini," ucapnya lirih, dengan isakan yang masih terdengar sangat menyayat hati.
Laila menghela nafasnya dengan berat. Kemudian ia duduk disisi Bagas, bersandar pada dinding dengan kesua kaki yang ditekuk. "Kenapa kamu menuduh ibu seperti itu? Apakah ada bukti yang bisa kamu jelaskan?" tanya Laila yang juga sebenanrnya mencurigai sang ibu, namun ia belum dapat meyakinkan hatinya.
Bagas menoleh ke arah sang kakak. Terlihat wajahnya begitu sangat lelah. Ada banyak beban yang ia hadapi dan diletakkan dipundaknya yang masih sangat kecil.
"Adik-adik kita meninggal dengan berturut-turut, ibu dapat membeli semua barang mewah dengan mudah, dan ibu tidak terlihat sedih dengan kematian anak-anaknya. Apakah itu semua bukan bukti, Kak?!" ucapnya dengan amarah yang meledak didalam hatinya.
"Tetapi apakah itu cukup bukti?" tanya Laila dengan penasaran.
"Sosok, ya, sosok mengerikan dengan wajah menakutkan itu! Dan aku meyakini jika itu adalah iblis yang bersekutu denga ibu!" Bagas berusaha meyakinkan kakaknya yang terlihat sedikit lemot dari anak-anak seusianya, kemungkinan itu faktor karena ia selalu dibebani oleh banyaknya pekerjaan rumah tangga yang harus dikerjakannya seorang diri.
"Lalu, apakah ibu akan mengambil tumbal lagi untuk pesugihannya?" tanya gadis itu ragu. Ada sinar ketakutan dan juga gelisah disana.
"Tentu saja. Bisa saja Aku, kakak, Nisa ataupun Meli yang akan ditumbalkan oleh ibu," jawab Bagas menegaskan, yang semakin membuat Laila ketakutan.
"Mengapa ibu tega melakukan ini pada kita?" Laila semakin tak dapat mengontrol rasa takutnya. Ia mersakan jika tubuhnya gemetar.
"Karena semua demi uang, dan uang," balas Bagas dengan ketakutan dan amarah yqng bercampur aduk pada dirinya.
"Lalu kita harus apa?" tanya Laila, meminta pendapat dari sang adi yang mungkin saja memiliki solusi dari apa yang sedang mereka alami.
"Mohon perlindungan pada Allah, hanya itu yang dapat kita lakukan" Bagas seolah memberikan semangat pada sang kakak, ia sendiri belum dapat mencari solusinya.
Sementara itu, Ayu menangis terisak dalam dekapan Sugi yang saat ini berusaha menenangkan hati sang istri yang mana terlihat sangat tidak terima atas perlakuan anak lelakinya barusan.
"Sudahlah, Sayang jangan menangis, Bagas itu hanya bercanda, dan tidak bersungguh dengan ucapannya," Sugi mulai melancarkan bujukannya.
"Pak, ini Juni bagaimana?" tanya Nisa pada lelaki yang sibuk dengan ibu mereka, tetapi melupakan satu raga yang sudah terbujur kaku diatas sebuah kasur busa.
Sesat Sugi tersentak kaget. Ia baru mengingat jika ada satu anaknya yang saat ini sedang terbaring tanpa nyawa.
Ia melepaskan pelukannya pada sang istri. Lalu menghampiri jasad Juni yang mengeras. Ia menatap bingung, lalu menyentuh puterinya yang terlihat terpejam seperti orang sedang tertidur.
"Dik, kamu tunggu disini, akang pinjam motornya dulu, akang mau nemui uztaz Guntur buat menyelesaikan fardhu kifayah untuk Juni," ucap Sugi yang meminta kunci motor barunya. Sebab ia butuh kendaraan untuk cepat tiba dirumah sang Ustaz.
Ayu menganggukkan kepalanya dan memberikan kunci itu kepada sang suami.
Sugi bergegas keluar. Lalu menuju garasi yang berisi mobil dan motor megah. Terasa bagaikan mimpi saat ia mengendarai motor tersebut. Sebab baru pertama kalinya ia mengendarai apalagi memilikinya.
Ia tak perduli orang-orang menatapnya dengan pandangan sinis saat mengendrai motor mewah itu, sebab ia masih mempercayai ucapan sang istri ketimbang dengan ghibahan para tetangga.
Melihat suaminya pergi. Ayu menatap Nisa dan Meli yang masih tercengang melihatny, karena tersenyum-senyum saat mereka sedang berduka.
Nisa, ini uang jajan, bawa Meli untuk jajan diwarung seberang," titahnya dengan nada sehalus mungkin, lalu mengulurkan unag pecahan lima puluh ribu rupiah.
"Kamu habiskan saja, dan pu-askan apa yang menjadi keinginanmu,"ujarnya mengingatkan, dan hal ini sangat tak biasa.
Nisa yang masih terlalu polos, mengangguk senang, lalu meraih uang tersebut, dan memimpin tangan mungil Meli untuk berbelanja jajan yang banyak.
Melihat rumah sudah sepi, ia melangkah dengan sangat hati-hati sebab jahitan yang masih terasa sakit.
Ia mengangkat tubuh kaku sang anak, lalu menyeretnya dengan sisa tenaganya menuju keluar dari kamar. Ia tidak ingin ada orang lain mengetahu tentang anaknya yang meninggal secara beruntun, maka ia harus melenyapkan buktinya.
Ia terus menyeretnya ke arah pintu belakng dan tujuannya adalah safety tank yang menjadi tempat pembuangan yang paling aman baginya.
Saat ia tiba disana, penutup safety tank yang terbuat cor semen itu sudah mengalami kerusakan dan berlubang.
Ia terus menyeret tubuh mungil nan kurus karena melawan penyakitanya dan membuat ia sangat begitu ceking.
Ia memaksa tubuh itu masuk ke dalamnya, dan tentunya bercampur dengan kotoran, namun apakah ia perduli? Tentu saja tidak! Sebab ia akan menerima imbalan harta yang melimpah dari sang iblis.
Setelah melancarkan aksinya. Ia menutup kembali tutupnya dengan penutup alternatif, dengan menggunakan pot bunga yang berisi tumbuhan jahe. Sepertinya pemilik rumah sebelumnya sangat rajin berkebun, karena banyaknya tumbuhan bahan dapur yang tumbuh disana.
Ayu kembali memasuki rumah. Kali ini ia ingin membersihkan sisa noda da-rah yang ikut terseret saat ia membawa jasad tersebut.
Setelah itu ia akan mencari alasan lainnya untuk harus mengatakan apa jika nanti suaminya bertanya.
Ia berjalan tertatih menuju lantai dua dengan tertatih, lalu membukanya, kemudian melakukan ritual untuk memuja sang iblis.
untuk yang Mega J episode nya gak banyak jadi enak untuk dibaca
sampe baca 2x
oh aku ingat pelajaran Sugi yang cinta mati pada istrinya walaupun sudah tahu akan sipat nya
hidup Sugi
baru kali ini ana baca novel gini amat
Akhy Sugi kayaknya yang akan mendapatkan piala Oscar 2030 mendatang
Sugi genius
Sugi prosesor
Sugi
Sugi
Sugi
sugi.sugi
Sugi
Sugi cerdas