Bosan dengan gaya hidup ugal-ugalan, mencoba menyelami jati diri yang mungkin terpendam dalam palung jiwa, merubah penampilan dan tabiat. Dari yang mulanya di tuduh sebagai salah satu ciri tanda kiamat, menjadi seorang ukhti. Baru terjun dalam hal baik langsung ditempa dengan cobaan hidup masa sekolah. Dirundung karena terlalu berbakat, dan penuh cinta, lantas timbul iri dengki teman sebangku yang menjelma bagai dewi nyatanya seorang munafik. Menghasut orang lain untuk membenci Aluna.
Bisakah Aluna mempertahankan kehidupan SMA nya tanpa kembali menjadi tomboy?
Mari ikuti kisahnya. :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diahps94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Getaran Yang Sama
Pernahkan kau mencintai seseorang hanya karena mendengar suaranya, atau sekilas melihat senyuman menawannya, atau karena gaya rambutnya yang keren, dan hal tak masuk akal lainnya. Sekarang ini Aluna mengalami hal itu, belum dipastikan ini cinta atau suka, Aluna mengakui hatinya bergetar atas perlakuan pujangga yang memujanya. Tak memaksa namun amat memikat.
Menemui titik sepakat tak mengirim bunga, lelaki itu mengirim satu puisi pengantar tidur setiap malamnya. Dengan catatan Aluna hanya boleh membaca tanpa perlu berkomentar. Seperti membaca buku harian seseorang, Aluna suka cara lelaki itu memperlakukan dirinya. Kesemsem padahal tak tahu bentukan manusianya seperti apa.
"Kak, aku masuk." Karin meminta izin lebih dulu, sebelum akhirnya duduk di ranjang Aluna.
"Laku berapa?" Aluna tahu adiknya akan setoran hasil menjual bunga.
"Tak banyak, tiga ratus ribu tiga pot mawar putih, dan satu pot aster, terus satu pot anggrek." Karin memberikan semua uangnya pada Aluna.
"Kau jual anggrek murah sekali?" Di pasaran bunga anggrek bisa sampai ratusan.
"Hoho, jangan sedih kak dia pelanggan tetap, lagian kalau yang nawar ibu-ibu susah di lawan. Gak rugi kok, nawarnya itu bukan yang penuh, ini yang sudah di pencar sama ibu." Jelas Karin.
"Okelah, kau mau berapa?" Tawar Aluna, karena kalau diberi sedikit adiknya menjerit.
"Seratus saja tak masalah." Menengadahkan tangan ke atas.
"Rugi dong kakak." Canda Aluna, sebenarnya tak masalah Karin meminta berapapun.
"Ish, besok-besok Karin malas jualan lagi kalau gitu." Pura-pura pundung.
"Yakin, nanti tak ada uang jajan tambahan loh." Goda Aluna.
Menyambar uang seratus di tangan Aluna secepat kilat. "Jangan basa-basi terus kak, aku harus pacaran, dah."
Aluna ditinggalkan setelah dirampas uangnya. Tersenyum simpul, ada perkembangan dari hubungan Bondan dan Karin. Keduanya jadi sering belajar bersama, entah modus saja atau benar-benar belajar. Bondan akan datang ke rumah, membawa Wahyu dan mereka belajar bertiga, kadang berempat dengan Eva. Yang Aluna tak habis pikir, Eva dan Bondan memang satu jurusan, Wahyu anak IPA, dan tolong ingatkan Karin masih SMP. Ada saja akal-akalan mereka.
Malam ini Aluna tak nimbrung dengan mereka, selain malas, Aluna sedang terserang demam virus. Isolasi mandiri dilakukannya, tapi yang namanya Karin tahu kakaknya sakit justru semakin menempel, keluar masuk kamar sesuka hati, bahkan tidur di kamar Aluna juga. Memang musimnya demam, hampir seisi kelas izin sakit, dan Aluna salah satunya.
"Sudah enakan belum?" Mawar meraba kening Aluna.
"Sudah mendingan kan Bu?" Karena Aluna juga tak sadar kondisi tubuh, yang dirasa hanya dingin dan lemas.
"Masih panas, tapi tak sepanas kemarin. Izin lagi ya hari ini." Mawar mengirim surat dokter, menulis izin tiga hari namun sekarang lebih satu hari.
"Tapikan, surat izinnya cuma tiga hari Bu." Aluna kian semangat memiliki absen bersih.
"Ish, nanti ibu minta Bondan atau Eva izinkan, yang penting kau sembuh dulu." Mawar mencegah Aluna dengan segala tekad berangkat sekolahnya.
"Ekhmm, tapi ibu tinggal ke kedai tak masalah kan?" Mawar takut Aluna sedih akan hal itu, sakit namun tak pernah di tunggu.
"Iya Bu, aku paham. Jangan lupa Bu, besok Aluna tak bisa ke rumah sakit karena sedang sakit, ibu dan Karin saja yang menjenguk ayah, dan gantian dengan om Nanda, tak enak mereka yang jaga terus Bu." Aluna mencoba tak egois.
"Terimakasih sudah menjadi dewasa karena keadaan." Mawar mengecup kening Aluna, sembari menahan airmatanya yang mendesak keluar.
Berbaring seharian bukan hal menyenangkan, meski badan terasa lemas Aluna memaksa untuk beraktivitas. Keluar kamar, mencari pacaran mentari pagi yang bagus untuk kesehatan. Berjemur sebelum minum obat. Menyapa beberapa tetangga yang lewat untuk berkerja, ke warung, atau ke ladang. Ada anak karang taruna yang menghampiri dan memberi satu kresek buah rambutan. Ada juga yang menatap sinis. Ya begitulah kehidupan bermasyarakat.
"Wow, si cantik sedang sakit, semoga lekas mati!" Bisik suara yang mengejutkan.
Aluna terperanjat, seingatnya hanya dia seorang di rumah. "Kau.....kenapa disini?"
"Masalah kalau aku disini? Suka-suka aku dong mau dimana aja." Songgongnya dengan muka menyebalkan.
Aluna dengan kondisi lemah, dan melihat perut Tina yang membuncit, merapal doa selamat. "Bagaimana kabarmu?"
"Heleh tak usah sok akrab, kau siapa berani bertanya kabar? Aku bertaruh kau pasti menyumpahi ku setiap hari bukan?" Tuduh Tina.
Membela diri di depan orang yang membencimu adalah hal percuma. "Aku masuk, kalau tak ada kepentingan."
Mencekal tangan Aluna yang hendak menarik kenop pintu. "Tak sopan, aku bertamu bod*h!"
"Aku tak sedang membuka pintu untuk tamu." Balas Aluna, tangannya sibuk mengirim pesan ke grup kontak yang berisikan sahabatnya.
"Emmm, kenapa bunganya dipindahkan? Aku semakin repot harus datang ke rumah mu untuk merusaknya satu persatu." Tutur Tina.
"Tina, apa yang kau dapat dengan hancurnya bunga-bunga itu? Tak ada bukan, yang ada hati mu semakin dipenuhi kebencian yang merusak diri." Petuah Aluna.
"Aku tak butuh nasehatmu j*lang, lancang sekali bicara padaku begitu, tahu diri kau bin*tang bagiku." Tina bicara teramat dekat, tepat di wajah Aluna.
"Jangan terlalu dekat, aku demam virus, jangan sampai kau tertular, lantas kandungan mu terganggu." Aluna memberi jarak aman.
"Persetan dengan ocehan mu, aku tahu yang terbaik untuk bayiku. Yang jelas dia akan bangga padaku jika berhasil membalas dendam dan lahir dengan tenang." Tina menjambak Aluna tiba-tiba.
Mendorong Tina beresiko baginya kenapa-kenapa, Aluna hanya bisa menarik tangan Tina sekuat mungkin agar terlepas. "Lepas Tina, kau menyakitiku!"
"Hoh ya, justru aku merasa sedang melepaskan stres, jarang loh aku punya kesempatan emas seperti ini, hanya kita berdua, dan jelas aku pemenangnya." Tina memperkuat tarikan di rambut Aluna.
Dasarnya kurang fit, Aluna merasa pusing di kepala tak tertahankan. Pandangan kunang-kunang, lama kelamaan Aluna tak sadarkan diri. Tina tersenyum puas dengan apa yang dilihatnya. Meludah ke tubuh Aluna yang tergeletak di teras depan, Tina mengambil tongkat kasti yang dibawanya. Menghancurkan semua pot bunga, tak menunggu lama semua rata. Hadiah indah dari Tina, dengan kejam dia melepaskan satu ekor ular yang dibelinya dari pecinta ular ke dekat Aluna.
"Kau patuk dia sampai koid, ingat aku membelimu mahal-mahal, jadi kerja sesuai harga." Melenggang pergi setelah semua memuaskan hatinya.
Selang tujuh menit kepergian Tina Vebby datang dengan tergopoh, celingukan mencari keberadaan Aluna, dari kejauhan kakinya sudah gemetar melihat bunga yang hancur berantakan. Melangkah lebih jauh Vebby dikejutkan dengan ular yang hampir dia injak.
"Arghhhhhhhh." Menjerit hingga orang lewat mengehentikan motornya.
"Kunaon neng?" Ucap warga setempat.
"Ada ular mang." Vebby berlari ke arah tetangganya.
"Dimana? Turun dari motor.
"Itu kang Rus, di dekat pot bunga yang pada rusak itu loh." Adu Vebby.
"Lah di rumah Mawar apa abis kena putih beliung kok begitu bentuknya." Rusli meletakkan barang dagangannya.
"Coba Amang cek dulu ularnya, kau disini sana itu jagain bakso nanti takut di makan kucing lewat." Kang Rusli mengkhawatirkan dagangannya.
Rusli mengambil kayu, mencari keberadaan ular yang di maksud, setelah melihat dari dekat, dikejutkan dengan ular piton yang cukup besar. kepalanya sekepal anak balita tapi tubuhnya hampir selengan remaja. Dengan gesit menangkap ular tersebut. Berhasil diamankan dengan mudah.
"Neng, ambil karung di gerobak Amang sebelah kanan." Perintah Rusli.
"Mana mang nggk ada." Vebby mencari namun tak ketemu.
"Buru, ini nanti ularnya lepas matok kamu." Rusli menakut-nakuti.
"Iya ini.....ini mang ketemu." Dengan gesit memberikan pada Rusli.
"Eh, buka atuh, ini tangan Amang kan megang ular." Pinta Rusli.
Ular dimasukkan ke dalam karung. "Alhamdulillah aman, bisalah jadi tambahan bahan buat bakso."
"Istighfar mang, ya kali bakso daging ular." Ledek Vebby, yang darahnya mulai kembali mengalir lancar.
"Ular peliharaan siapa sih neng, kok lepas disini?" Rusli tahu itu peliharaan karena tak sukar saat di tangkap, dan terawat dengan baik, ularnya juga kondisi kenyang.
"Tanya aja sama ularnya." Lagipula tak ada tetangga sini yang hobi pelihara hewan menggelikan satu itu.
Sibuk perihal ular, Vebby lupa tujuan awalnya datang untuk memastikan kondisi Aluna baik-baik saja. Hingga datang Bondan dan Eva, yang serampangan menaruh motor tanpa distandarkan lebih dulu, langsung lompat. Lari ke dalam rumah, dengan kepanikan tingkat tinggi.
"Astagfirullah, aku lupa." Ucap Vebby, turut berlari.
"Pada ngapain sih Veb, ini Amang sudah boleh berangkat dagang belum, ini uler mau dikemanain." Rusli bingung.
"Bawa aja mang buat kenang-kenangan, makasih ya mang, besok Vebby borong deh baksonya. Love you Amang bakso kecintaan." Teriak Vebby tanpa menoleh dan terus berlari.
Halaman rumah di pinggiran kota cukup luas. Jarak tempuhnya lumayan melelahkan jika dilakukan sembari berlari. Nafas tersengal, Vebby langsung ambruk saat melihat Aluna tergeletak di teras dalam posisi tak sadar.
"Hei, Aluna bangun." Eva menggerakkan tubuh Aluna.
Bondan tak sabar, mengguncang tubuh Aluna cukup kencang. "Aluna jangan bercanda, BUKA MATAMU!"
"Jangan teriak Bondan b*doh, bawa Aluna ke puskesmas aku takut dia di patuk ular." Dengkul Vebby amat lemas.
"Kalau ngucap jangan sembarang Vebby, awas dulu coba ngapain duduk di situ sih Veb?" Bondan kesal, bukannya mendekat ke arah Aluna Vebby malah bersimpuh cukup jauh dari tubuh Aluna.
"Dengkul ku lemas, itu Aluna liat, pastikan tak ada gigitan ular, aku baru saja menangkap ular besar sama mang Rusli barusan." Kalimat Vebby sudah tak tertata.
Panik berlebihan, bingung karena tak bawa mobil. Bondan menggendong Aluna yang tak sadarkan diri. Naik ke atas motor, meminta Eva memegangi dari belakang, meninggalkan Vebby yang masih lemas. Tujuan utamanya datang ke puskesmas, setelah itu baru mengurus Vebby.
Bersambung
mksih author cerita ny sngt menghibur 🙏🙏🥰😍😘🤗
udah kayak rajaaa😂😂