Bagaiaman jika kamu harus menikah dengan orang yang mempunyai rasa trauma akan sebuah hubungan masa lalu yang masih menghantuinya? Begitu juga dengan Darin dan Arga yang terpaksa harus menikah karena keegoisan kedua orang tuanya. Arga yang meliliki trauma karena perceraian kedua orang tuanya, harus dipaksa hidup bahagia dengan Darin yang juga masih menyimpan rasa sakit hati karena ditinggal pergi Akaz.
Awal rumah tangga mereka diselimuti perdebatan, sampai akhirnya Arga mengetahui siapa sosok Darin sebenarnya yang membuat semua pandangannya selama ini berubah. Arga kembali merasakan getaran dalam hatinya, ia kembali merasakan bagaimana rasanya cemburu dan gundah. Namun Arga hanyalah lelaki yang mempunyai sifat cuek dan dingin, ia tidak tahu bagaimana caranya mengutarakan perasaannya. Hanya diam-diam Arga bisa mengutarakan perasaannya lewat tindakan kecil. Sampai akhirnya Arga berani mengungkapkan perasannya secara lantang karena ia tahu jika Darin adalah perempuan yang dicarinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Orang Dengan Luka Yang Sama
Dengan langkah tergesa-gesa Arga melangkahkan kakinya menuju kamar, banyak pertanyaan di pikiran Arga tentang apa yang baru saja dikatakan oleh Bintar. Di rumah ini hanya ada dua perempuan yaitu Amanda dan Darin. Tidak mungkin Amanda mengkonsumsi susu untuk ibu hamil, satu-satunya yang bisa menjadi tersangka adalah Darin.
Krek...Pintu kamar Arga terbuka lebar lalu ia melihat Darin sedang duduk sambil membaca buku dan kedua telinganya disumpal oleh earphone sehingga Darin tidak mengetahui jika Arga masuk ke kamar. Arga melepaskan salah satu earphone yang menempel di telinga Darin membuat gadis cantik berkulit putih merasa kaget karena seseorang mengambil earphone nya. Darin menoleh dengan wajah ketakutan dan ia melihat Arga sudah berdiri didekatnya.
"Arga! Bisa nggak jangan ngagetin kalau datang?" Darin terlihat sedikit emosi karena rasa kaget yang menghampirinya.
Tadinya jika buka Arga ingin rasanya Darin marah karena sudah mengganggu waktu santainya. Sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi kepada Arga karena ekspresi wajahnya begitu datar terkesan sinis membuat Darin bertanya-tanya.
"Kenapa kamu lihatin aku kayak gitu?" tanya Darin merasa heran dengan tatapan Arga seakan suaminya hendak memakannya.
"Ada yang mau aku tanyakan sama kamu." nada bicara Arga terkesan datar dan serius.
"Apa?" Darin berubah menjadi serius karena ekspresi wajah Arga.
"Sejak kapan kamu mengkonsumsi susu untuk ibu hamil?"
Deg, bagai disambar petir Darin mendengarnya. Mengapa Arga bertanya tentang susu dan Darin tidak pernah mengkonsumsi susu hamil seperti yang diucapkan oleh Arga.
"Apa! Susu untuk ibu hamil?" Darin kaget mendengarnya.
"Iya. Bintar menemukan box kosong susu untuk ibu hamil, apa itu milikmu?"
Darin tidak bisa berkata apa-apa dan tidak mengerti dengan apa yang Arga tuduhkan kepadanya. Mengapa Arga menganggap jika Darin sedang berbadan dua.
"Aku nggak pernah mengkonsumsi susu untuk ibu hamil, dan aku nggak tahu itu milik siapa yang jelas bukan milikku!" tegas Darin membela diri sambil berdiri di hadapan Arga.
"Kalau bukan milikmu, lalu milik siapa?" Arga tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Darin.
"Mana aku tahu. Yang pasti itu bukan milikku!"
Tentu saja Arga belum percaya akan ucapan Darin karena perempuan di sini hanyalah dirinya yang sudah menikah dan bisa mengkonsumsi susu seperti itu. Dan Darin juga tahu jika Arga tidak akan mempercayai ucapannya begitu saja karena terlihat jelas dari tatapan Arga yang penuh dengan tanda tanya.
"Kamu lagi nggak menyembunyikan sesuatu dariku, kan?" pertanyaan Arga semakin membuat Darin merasa tersudutkan.
Deg, Darin merasa sangat kecewa dengan pertanyaan Arga yang tidak mempercayainya. Entah mengapa dada Darin terasa sangat sakit sekali dengan pertanyaan Arga. Mengapa bisa Arga tidak mempercayainya.
"Kenapa diam?" tanya Arga lagi saat melihat Darin hanya terdiam dengan ucapannya.
Pelupuk mata Darin dipenuhi buliran bening yang lama kelamaan memenuhi kedua matanya. Tuduhan Arga membuat Darin tiba-tiba saja menangis. Namun sebisa mungkin Darin mencoba untuk menahannya.
"Kamu nggak percaya sama aku?" tanya Darin menatap kedua bola mata Arga dengan lekat.
"Bagaimana aku mau percaya sama kamu kalau salah satu bukti ada di sini."
"Itu hanya sebuah kardus kosong dan belum bisa membuktikan kalau aku sedang hamil!"
"Maka dari itu aku bertanya akan kehadiran kadus kosong yang bisa ada di sini. Siapa yang mau mengkonsumsinya? Di sini kebanyakan laki-laki, perempuan hanya kamu dan Amanda. Nggak mungkin Amanda mengkonsumsi susu untuk ibu hamil!"
Keduanya mulai terlibat perselisihan kecil dan sama-sama dengan prinsipnya masing-masing. Arga menuduh istrinya sedang menyembunyikan sesuatu dan Darin terus membela diri jika kardus kosong itu bukanlah miliknya.
"Mana ponselmu?" tanya Arga sambil mengulurkan tangan kanannya seolah meminta ponsel Darin.
Melihat sikap Arga yang keterlaluan membuat Darin sedikit kesal dibuatnya, mengapa Arga seolah menjadi sumi yang sebenarnya bagi Darin. Padahal mereka hanya berpura-pura bahagia dan menjadi sepasang suami istri di depan keluarga mereka berdua.
"Aku nggak ngerti sama kamu, Ga," kata Darin yang baru saja menyebutkan nama suaminya.
Arga tertawa ringan terkesan sinis, baru kali ini dia mendengar istrinya menyebutkan namanya selama mereka menikah. Rasanya hati Arga begitu sedih. Sementara Darin tidak mengerti akan arti senyuman yang terlukis di bibir Arga. Yang dilihat oleh Darin adalah amarah di wajah Arga membuat dirinya sedikit ketakutan.
"Apa aku nggak salah dengar? Baru kali ini kamu memanggil namaku setelah kita menikah, apa sesulit itu kamu menyebutkan namaku?"
Entah apa yang Arga mau mengapa sekarang membahas tentang panggilan nama, bukannya tadi mereka berdua sedang membahas soal susu ibu hamil. Ucapan Arga membuat Darin semakin tidak mengerti. Namun Darin mencoba bersabar untuk menghadapi Arga yang sepertinya sedang emosi.
"Aku nggak tahu mau kamu apa, dan aku juga nggak ngerti apa yang sedang kamu bahas. Pertama kamu bahas masalah susu, kedua kamu meminta ponselku yang notabennya adalah ranah privasiku, dan yang ketiga kamu mempermasalahkan tentang nama. Yang harus aku jawab yang mana?" air mata Darin mulai tidak bisa terbendung lagi dan kini mulai menetas jatuh ke pipi.
Melihat Darin yang mulai menangis tidak membuat Arga gentar untuk mencari jawaban yang sebenarnya, rasa penasaran dan cemburu melebihi rasa iba kepada Darin. Saat ini Arga menjadi orang yang sangat egois kepada Darin.
"Semua. Kamu harus menjawab semuanya," kata Arga dengan nada tegas.
Glek, hati Darin terasa berlubang dan sesak saat Arga berbicara seperti itu. Apalagi dengan tatapan tajam menatapnya seakan Darin seperti tersangka utamanya. Sesaat Darin menarik napas sejenak agar dirinya bisa mengontrol emosi dan tidak terjadi gesekan dengan Arga. Kedua bola mata Darin menatap lekat Arga, ingin rasanya memberitahu Arga jika perempuan yang ada di hadapan dirinya adalah perempuan yang menyelamatkannya. Namun Darin sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak memberitahukannya.
"Pertama, susu itu bukan milikku. Kedua kita sudah mempunyai perjanjian untuk tidak saling mencampuri privasi masing-masing. Ketiga karena aku ingin memanggil namamu, apa itu salah?" suara Darin mulai terdengar parau dan terus menahan air matanya yang semakin lama semakin menetas jatuh ke pipinya.
Sepertinya Arga masih belum puas dengan semua penjelasan Darin, karena jelas-jelas bukti satu-satunya sudah dipegang oleh Arga yang diyakini jika itu milik Darin.
"Perjanjian yang kedua dibatalkan. Aku sudah bilang kepadamu kalau aku ini suamimu dan semua yang kamu lakukan adalah tanggung jawabku. Nggak ada privasi yang aku berikan untukmu, jadi sebisa mungkin aku harus mengawasi mu supaya nggak terjadi hal seperti ini lagi."
"Hal seperti ini apa maksudmu? Kamu menuduh aku berbadan dua hanya karena box kosong itu?" Darin mulai emosi karena Arga masih belum mempercayai ucapannya dan air mata terus jatuh menetas dengan derasnya.
Bibir Darin mulai gemetaran dan rasanya ingin sekali meluapkan rasa amarah dan emosinya karena Arga masih tidak mempercayainya. Bagaimana lagi Darin harus meyakinkan suaminya jika semua yang diucapkan olehnya benar adanya.
"Maka dari itu berikan aku bukti yang kuat kalau ini bukan milikmu." tegas Arga yang tidak mau kalah dengan ucapannya.
"Aku tegaskan sekali lagi kalau box susu itu bukan milikku," kata terakhir Darin memutuskan untuk pergi meninggalkan Arga sendirian.
Belum sampai Darin berjalan beberapa langkah, Arga sudah lebih dulu memangilnya. Ia menginginkan ponsel Darin agar tidak dibawa bersama pemiliknya. Sikap Arga kali ini terlihat sangat berlebihan.
"Berikan ponselmu kepadaku," kata Arga menahan langkah Darin sebelum pergi.
Deg, langkah kaki Darin terhenti dan hatinya semakin sedih. Tanpa banyak bicara Darin kembali menghampiri Arga dan memberikan ponselnya tanpa sepatah kata yang terucap. Lebih baik untuk saat ini Darin menghindari Arga lebih dulu. Ada rasa penyesalan di hati Arga mengapa dirinya harus berbuat seperti ini.
Setelah memberikan ponsel miliknya, Darin memutuskan untuk diam di ruangan pakaian milik Darin. Kamar Arga begitu luas sehingga mudah bagi Darin untuk menjauh dari suaminya sejenak. Kedua bola mata Arga mengikuti langkah kaki istrinya yang memilih untuk pergi ke ruangan pakaiannya, ternyata Darin tidak mau semua anggota keluarga ini tahu jika mereka berdua sedang berselisih paham.
Dikuncinya ruang pakaian Darin dan tubuhnya terasa sangat lemas saat berdebat dengan Arga, disandarkan tubuh Darin ke pintu sambil kedua matanya menatap ke sembarang arah. Darin berpikir mengapa Arga tidak mempercayainya, apakah Arga menganggap jika dirinya adalah perempuan murahan.
Di ruangan keluarga kelima saudara Arga masih menunggu Arga yang sedari tadi belum juga kembali dari kamarnya. Mereka menyangka jika Darin dan Arga sedang berdebat hebat, tapi tida terdengar suara bising dari kamarnya.
"Lo semua yakin kalau Bang Arga nggak tahu Darin lagi hamil?" tanya Herry memulai pembicaraan.
Keempat lelaki tampan terdiam sejenak sambil menatap satu sama lain, pertanyaan Herry adalah pertanyaan yang sulit untuk ditebak.
"Menurut gue kayaknya Bang Arga nggak tahu kalau Darin hamil, terbukti tadi dia kaget banget pasi lihat susu hamil," tebak Bintar dengan persepsinya.
"Kalau menurut gue kayaknya Darin sengaja menyembunyikan kehamilannya dari kita semua, dan dia akan memberitahukan pas waktunya tiba," tambah Richi.
Ketiga lelaki tampan itu menatap ke arah Alex dan Zein yang belum memberikan jawaban akan pertanyaan yang Herry ajukan. Sadar akan tatapan ketiga saudaranya yang sedang menanti jawabannya membuat Alex mau tidak mau menjawabnya.
"Gue nggak yakin Darin hamil, dan gue nggak percaya kalau susu itu punya Darin," tandas Alex yang jawabannya berbeda dari ketiga saudaranya.
Alex tahu bagaimana hubungan antara kakaknya dan Darin, bagaimana perasaan mereka berdua Alex tahu persis. Darin masih belum bisa membuka hati untuk lelaki lain dan kakaknya masih trauma dengan hubungan pernikahan karena perceraian kedua orang tuanya. Jadi tidak mungkin bagi Arga dan Darin melakukan hubungan suami istri begitu saja meskipun mereka berada dalam satu kamar.
Sama halnya dengan Alex, Zein juga mempunyai pikiran yang sama dengan adik keenamnya. Karena baru saja tadi Arga mengungkapkan isi hatinya dan tidak mungkin juga mereka melakukan hal hubungan suami istri begitu saja. Zein tahu persis siapa Arga, sampai saat ini belum ada yang bisa menggetarkan hatinya.
"Gue juga sama. Gue nggak yakin kalau itu punya Darin," sambung Zein membuat ketiga adiknya mengerutkan keningnya menatap keheranan.
"Terus punya siapa?" tanya Bintar penasaran seolah tidak mau kalah.
Ketika mereka berlima sedang berdebat sebuah suara menghampiri, suara yang terdengar lembut menyapa para kakaknya yang sedang berdiskusi.
"Lagi pada ngapain? Kok belum pada tidur?" tanya seseorang menghampiri kelima kakak-kakaknya yang sedang duduk.
Suara itu membuat kelima pria tampan menoleh secara bersamaan, ternyata Dewa yang baru saja bangun dari tidurnya dan merasa sangat haus.
"Lo sendiri kenapa belum tidur?" tanya Alex melihat Dewa berjalan dan duduk di samping Zein.
"Tenggorokan gue kering," jawab Dewa dengan wajah polosnya.
Adik bungsu menyadari suasana di sana terlihat sedikit tegang, Dewa merasakan dari raut wajah para kakak-kakaknya yang begitu masam dan tegang. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di sini, dan membuat Dewa sangat penasaran.
"Kenapa mukanya pada kusut?" tanya Dewa lagi begitu penasaran dengan ekspresi wajah kakak-kakaknya.
Belum sempat kakak-kakaknya menjawab tiba-tiba mata Dewa terpaku pada sesuatu yang ada di atas meja, yaitu box susu kosong yang dibelinya beberapa hari lalu.
"Kenapa box kosong ada di situ? Perasaan udah gue buang tadi ke tempat sampah?" tanya Dewa keheranan melihat box susu kosong yang sudah dibuang olehnya dan kini ada di atas meja ruang tamu.
Deg, kelima kakak-kakaknya secara bersamaan menatap ke arah Dewa dengan tajam. Mereka kaget bukan main dengan apa yang baru saja diucapkan oleh adik bungsunya. Jadi box susu kosong ini miliknya? Lalu untuk siapa? Kelima kakak beradik sudah tahu jika ini semua adalah ulah Dewa yang membuat kesalahpahaman antara Darin dan Arga.
"Udah gue duga kalau anak kelinci yang ngelakuinnya," gumam Richi sambil menunduk dan memegang keningnya karena merasa pusing atas apa yang baru saja terjadi.
"Jadi ini punya lo?" tanya Bintar sedikit kesal dengan nada meninggi.
"Iya," jawab Dewa mengangguk.
"Serius lo?" Herry meyakinkan ucapan Dewa.
"Serius." Dewa mengangguk meyakinkan kakak-kakaknya.
"Gue pikir punya Darin," timpal Alex yang mulai ikut bicara.
"Bukan, itu punya gue. Sewaktu gue beli susu pisang, gue lihat susu buat ibu hamil. Terus apa salahnya gue beli sekalian buat Darin, secara dia udah nikah dan pasti butuh susu ini," jelas Dewa begitu polosnya tampa dosa.
"Darin nggak butuh susu ini, bocil," gumam Zein bicara sendiri dengan nada suara begitu pelan sehingga tidak ada yang mendengar ucapannya.
"Lo tahu nggak! Gara-gara susu ini akan jadi perang dunia ketiga!" Bintar mulai semakin emosi melihat sikap Dewa begitu biasa saja.
Bingo...Masalah terpecahkan jadi biang kerok dalam masalah ini adalah Dewa. Dan pasti di dalam sana Arga dan Darin sedang berdebat hebat.
"Di mana perang dunia ketiganya?" Dewa dengan wajah tidak bersalah bertanya balik kepada Bintar.
Merasa lelah dengan semua ucapan dan pertanyaan Dewa, kelima adik-kakak itu memutuskan untuk menyudahi pembicaraan ini dan memberitahu Arga jika semuanya adalah perbuatan Dewa.
Di dalam kamar Arga masih saja memegang ponsel milik Darin dan menatapnya tanpa membukanya sedari tadi. Apa yang dilakukan olehnya adalah benar. Sebenarnya Arga belum siap melihat semua isi ponsel Darin, mulai dari pesan masuk, semua panggilan dan yang terpenting adalah isi galeri istrinya. Pasti di dalam galerinya masih banyak foto-foto mantan kekasih Darin.
Setelah berpikir beberapa lamanya akhirnya Arga memberanikan diri membuka galeri foto ponsel Darin. Galeri terbuka dan banyak sekali foto-foto Darin seorang diri yang sepertinya diambil oleh seseorang, hanya ada beberapa foto selfie sendiri dan juga foto bersama dengan Rian yang kebanyakan mengisi galeri fotonya.
Arga belum menemukan foto Darin bersama lelaki lain selain Arga. Tapi...Ada sesuatu yang membuat Arga terdiam menatap sebuah foto begitu lekat yaitu foto dirinya yang diambil dengan Darin saat selesai resepsi pernikahan di dalam hotel memakai gaun putih dan setelan jas hitam.
Senyum Arga merekah saat melihatnya ternyata Darin menyimpannya, rasa kecewa Arga terobati saat melihat foto mereka berdua satu-satunya selain bersama dengan Rian. Amarah Arga kini mulai mereda karena ia tidak menemukan foto lelaki lain selain Rian dan dirinya. Sepertinya rasa bahagia Arga hanya sesaat, hatinya dibuat kesal dan marah ketika melihat satu foto yang hampir saja terlewatkan.
Arga meradang melihatnya karena ada foto lelaki lain selain dirinya dan Arga yaitu adalah Alex. Entah kapan foto ini berada di galeri ponselnya, yang pasti emosi Arga kembali mencuat karena foto alex yang memakai baju setelan kemeja yang diambil di dalam ruangan kantornya. Saat itu pose Alex sedang duduk di meja kantornya sambil menatap ke luar jendela.
Setelah selesai mengecek galery ponsel, Arga langsung mengecek kontak telepon dan mencari nama Alex. Nihil, di dalam kontak telepon tidak ada nama Alex. Apa istrinya tidak menyimpan nomor Alex atau menyimpan namanya dengan nama lain. Ditekannya angka yang merupakan nomor ponsel Alex lalau Arga menekan simbol berwarna hijau gagang telepon yang artinya memanggil.
Bagai disambar petir Arga melihatnya sebuah nama yang muncul di sana bertuliskan "Hero💙💙" dengan tanda hati di samping huruf O. Sepertinya Darin harus menjelaskan semua ini, tapi Arga bisa menduga kalau ini adalah mungkin ulah Alex yang membajak ponsel istrinya.
Ingin rasanya Arga membanting ponsel Dain, namun sebisa mungkin ia harus menahannya. Tidak lama kemudian ada pesan masuk ke ponsel Arga dan itu dai Zein, yang memberitahu jika masalah yang yang terjadi adalah ulah adik bungsunya, Dewa.
"Masalah terselesaikan, semua ulah Dewa yang memberikan susu buat Darin setiap hari. Susu yang sering Darin minum adalah susu untuk ibu hamil pemberian Dewa tanpa Darin tahu." isi pesan dari Zein yang kembali membuat Arga merasa kesal dan bersalah karena sudah mencurigai istrinya sampai mereka berdebat.
Sial, Arga baru ingat jika Dewa memang sering memberikan susu kepada Darin. Mengapa dia tidak mengingatnya. Semua harus diselesaikan dan disudahi, Arga harus segera meminta maaf kepada Darin karena telah mencurigainya sampai membuat Darin menangis.
Tubuh Arga berdiri mematung di depan pintu ruangan baju milik Darin, ia harus meminta maaf sekarang juga kepada Darin karena semua tuduhannya salah. Pasti Darin sangat kecewa kepadanya dan merasa sedih atas ucapan Arga yang baru saja terucap beberapa jam lalu.
Tok...Tok...Tok...Arga mengetuk pintu kamar ruang baju ganti Darin dengan hati yang merasa bersalah. Tidak ada jawaban yang terucap dari dalam sana, mungkin Darin sudah enggan untuk berbicara dengannya.
"Boleh aku masuk," kata Arga meminta izin kepada Darin namun masih belum ada jawaban darinya.
Pintu ruang baju Darin terbuka dengan sendirinya sepertinya Darin mengizinkan Arga untuk masuk, lalu langkah kaki Arga memasuki ruang ganti baju Darin dan melihat istrinya berada di belakang pintu dengan wajah yang sendu serta pipi yang basah karena air mata sudah mulai mengering. Melihatnya Arga merasa sangat bersalah telah membuat Darin menangis seperti ini.
Wajah Darin tertunduk sedari tadi menyembunyikan sedihnya dari Arga. Dan tatapan Arga begitu sendu menatap istrinya yang sedang sedih karena ulahnya. Bibit Arga membeku saat ingin mengucapkan kata maaf, entah dari mana harus memulainya.
"Aku minta maaf. Nggak seharusnya aku berbuat seperti itu kepadamu, dan semua ini adalah salah Dewa," kata Arga yang memulai pembicaraan setelah mereka berdua terdiam sesaat.
Air mata Darin yang tadinya mengering kini kembali memenuhi pelupuk matanya. Ucapan Arga membuat Darin merasa sangat sedih, entah mengapa.
"Sekali lagi aku minta maaf atas semua ucapanku tadi, yang pasti aku sangat emosi saat mengetahui kamu berbadan dua dan bukan anakku."
Sama seperti tadi tidak ada kata yang kembali terucap dari mulut Darin, gadis itu hanya menangis tanpa mengucapkan sepatah kata kepada Arga.
"Aku sangat keterlaluan, aku melakukan ini karena teringat kejadian kedua orang tuaku yang bercerai karena perselingkuhan. Aku masih merasa trauma saat mengetahuinya, apalagi situasi seperti itu kembali menimpaku dan membuatku merasa sedikit worry." Arga mulai menceritakan alasannya tidak mau menikah dan memiliki hubungan yang spesial.
"Maka dari itu aku sangat takut untuk memulai hubungan dengan seseorang, dan menikah karena aku takut kejadian yang sama akan menghampiriku."
Ternyata ini alasan Arga menutup diri dari perempuan dan tidak mau mempunyai hubungan yang serius sampai saat ini, semua karena rasa traumanya kepada kedua orang tuanya. Darin merasa iba saat mendengar cerita Arga, dirinya tidak menyangka jika suaminya juga mempunyai luka yang membekas seperti dirinya.