Mengidap Endometriosis, bagai vonis mimpi buruk bagi wanita mana pun hingga terpaksa melakukan operasi dan proses bayi tabung, namun perceraian justru harus terjadi.
Berjuang sebagai orang tua tunggal dengan kehadiran kedua buah hati yang terlahir fraternal, membuat hari-hari Irene tidak terduga hingga pertemuan tak terduga kembali terjadi dengan Hendrik, menyisakan pertanyaan yang tanpa diketahui ada bahaya mengancam di saat kebenaran mulai terungkap.
Di saat pertemuan dan genggaman tangan itu menarikmu, apa kau akan berbalik untuk bersama atau justru meninggalkan kembali?
Ikuti kisah Irene & Hendrik selanjutnya, tak lupa Xander & Xavia yang menggemaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fidia K.R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan 1
"Kau harus kembali ke Houston! Para dewan direksi meminta penjelasan," Bastian memberikan sebuah laporan mengenai beberapa rangka bangunan yang retak, tepat di atas gedung gudang produksi berlantai tiga.
"Bagaimana bisa? Bukankah sudah ada tim uji dan Giselle yang mengamati pembangunan?!" Hendrik membaca laporan dan mencermati dengan begitu serius.
"Sepertinya ada yang ingin menyudutkan Irene. Ada satu hal aneh yang kutemukan," balas Bastian dengan raut wajahnya yang begitu serius.
"Bahan bangunan tidak mencukupi? Bukankah Irene bahkan sudah meminta kita untuk menambahkan dana pembelian bahan? Lalu kemana uang itu pergi?!"
"Itulah Hendrik, aku takut Irene dianggap melarikan uang itu! Kau harus kembali ke Houston dan jelaskan semua ini pada dewan direksi yang lain. Dana pembangunan sebesar ini, tidak mungkin berlalu begitu saja dengan mudah!"
Putih keabuan kala langit musim dingin datang menyapa. Tidak ada sinar matahari menyinari begitu terang seperti musim gugur sebelumnya meski udara terasa dingin. Awal pertengahan musim salju mendekati akhir pergantian tahun, kembali menghadirkan kebimbangan yang tak kunjung usai dikala diri dihadapkan pada pilihan untuk meninggalkan kembali sosok yang selalu dirindukan, menyisakan ruang kosong lainnya.
Tidak ingin lagi meninggalkan Irene seorang diri untuk kedua kalinya, Hendrik mencoba untuk memendam kecemasan hatinya yang memberontak mencoba menyangkal tanggung jawab yang harus ia pikul sebagai CEO PT. Etheral. Sadar akan kesulitan yang akan Irene hadapi saat ini, berada di wilayah berbeda tentu tidak akan berguna sama sekali jika Hendrik tidak dapat melakukan sesuatu.
(BRAAKKK) Suara pintu yang terbuka secara paksa, di saat William masuk ke dalam ruangan kerja Hendrik.
Menatap raut wajah sang ayah bagai dipenuhi amarah, Hendrik menundukkan sedikit kepalanya sembari memijat ruang di antara kedua alisnya mencoba untuk menghentikan kepenatan yang harus ia hadapi beberapa detik. Semua terjadi begitu sangat kebetulan di saat pembangunan berjalan lancar, PT. Etheral pun akan mengalami kerugian besar jika proses produksi kembali mengalami kemunduran waktu, mengingat permintaan jumlah pasar yang semakin bertambah.
"Apa kau yakin, dapat meyakinkan para dewan direksi?" tanya William begitu tegas pada anaknya yang masih hanya dapat terdiam, memijit ruang di antara kedua alisnya yang penat.
"Bass, jika dilakukan rekonstruksi ulang, berapa lama waktu yang diperlukan?" tanya William mencoba mempertimbangkan keputusan apa yang harus ia ambil.
"Jika pihak jasa kontruksi setuju, tidak akan lebih dari 2 bulan, tapi Tuan ... masalah ini bukan hanya sebatas itu, tapi aliran dana yang diberikan hilang begitu saja dalam jumlah yang besar," balas Bastian.
William pun akhirnya ikut terdiam bersama Hendrik yang mencoba memikirkan jalan penyelesaian lainnya. Menyadari ada yang sedang bermain–main di wilayahnya, William terpaksa bertindak tegas, tidak ingin lagi kejadian serupa yang terjadi dahulu kembali terulang hingga membuat Hendrik bekerja banting tulang seolah tidak mengenal waktu terlebih untuk kehidupan pribadinya yang ikut hancur berantakan.
"Pergi dan kembalilah ke Houston, biar aku dan Bastian yang mengurus masalah di sini," ucap William pada Hendrik yang terlihat begitu tercengang.
"Tunggu, ma–maksud Papa adalah ...."
"Kau bereskan dulu semua masalah dengan para dewan direksi serta semua masalah di gudang produksi, biar Papa dan Bastian yang membantu Irene di sini. Lagi pula ... ibumu masih mencoba mendekati Irene untuk meminta maaf," William sedikit menundukkan kepalanya, masih merasa bersalah atas semua yang terjadi pada Irene.
Tidak ada lagi kata–kata yang bisa Hendrik ungkapkan saat ini, karena baginya dukungan dari kedua orang tua lah yang terpenting saat ini. Tidak lagi merasa ragu, Hendrik segera melakukan penerbangan menuju Houston untuk segera menyelesaikan masalah yang terjadi.
Berbeda dengan Hendrik yang mendapatkan dukungan, Irene yang tidak memiliki siapa pun untuk bersandar atau berbagi keluh kesalnya harus berjuang seorang diri berjalan menuju gerbang penghakiman yang ia sendiri pun tidak mengerti mengapa bisa terjadi. Berbagai pertanyaan aneh yang membingungkan pun timbul, tak kala bagi Irene sendiri pun merasa ada kejanggalan yang terjadi.
(TOK TOK TOK) Irene mengetuk ruangan Luke.
"Masuk!" ucap tegas Luke dengan sedikit meninggikan suaranya.
Tidak perlu diragukan lagi akan betapa terkejutnya Irene saat ini ketika melihat sesosok wanita tak terduga yang begitu sangat membencinya hadir tanpa dosa seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Sarah McLaren, putri kesayangan Anna berdiri tepat disamping Luke, menatap Irene bagai benalu memalukan yang tidak tahu diri. Dengan berat hati Irene pun melangkah masuk, dengan bayangan akan penyudutan atau penghakiman seperti apa yang akan ia hadapi saat ini.
"Sudah membaca email yang kukirimkan semalam bukan? Katakan padaku, apa yang terjadi Irene?!" tanya Luke dengan kedua tangannya yang melipat di atas meja penuh angkuh.
"Irene Farmer ... tidak aku duga akan bertemu kembali denganmu! Kulihat kau baik–baik saja, sedikit pun tidak terlihat tua," Sarah pun ikut berkomentar dengan tatapan yang sinis.
Irene mencoba memendam perasaan hatinya yang kian berkecamuk dengan memilih menahan diri, menundukkan sedikit kepalanya seraya hanya mencoba menghormati atasannya. Berjalan dan mencoba untuk duduk pada sebuah bangku di hadapan mereka, Sarah berjalan seolah mencari masalah tak kala sedikit menendang kursi yang akan ditempati Irene, memintanya untuk tetap berdiri tegap dihadapan mereka.
"Arsitek seharusnya tahu hal ini ... bagaimana bisa rangka bangunan retak tidak lama setelah proses pembangunan baru selesai? Paling tidak bangunan itu retak kalau sudah beberapa tahun, So, what have you been doing all these years?!" Sarah berjalan memutari Irene, sembari melipat tangannya penuh angkuh.
"Setengah tahun lebih kau habiskan untuk pembangunan gudang dan produksi perusahaan kami, tapi kemana hasilnya?! Uang yang perusahaan kami berikan pun bagai hilang begitu saja! Kau kemanakan uang itu!" sentak Sarah kembali.
Tanpa berkata Irene berjalan melewati Sarah begitu saja dengan rincian semua biaya atau laporan yang diperlukan. Kembali pada posisi semua, terlihat Luke sedikit kebingungan menanggapi laporan yang Irene berikan. Menatap pada Sarah yang saat ini seolah sedang menunggu perintahnya, Irene mulai menyadari ada yang salah di antara mereka.
Bagai hidup segan mati tak mau, air yang tenang jangan disangka tak berbuaya. Irene yang sudah jauh mempersiapkan dirinya untuk medan pertempuran yang terpaksa membuatnya menjadi sosok yang berbeda, menyadari akan pentingnya bersikap egois atau berani seperti saat sebelum melahirkan kedua buah hatinya. Tidak ingin terluka untuk kesekian kalinya, perhatian Irene kali ini hanya tertuju kepada Xander dan Xavia.
"Bukankah sudah jelas dengan semua bukti yang aku laporkan? Bahkan saat aku menggunakan uang tersebut untuk membeli bensin selama operasional, bukti itu aku lampirkan di sana! Lalu, uang apa yang kalian maksud sebenarnya?!"
Luke dan Sarah saling menatap satu sama lain merasa tidak percaya bahwa Irene bisa melakukan ini. Bagai membangunkan singa yang sedang tertidur, jangan pernah berani mencari masalah dengannya.
Tidak ingin kalah dan merasa tersudutkan, Sarah mengamati semua hal yang Irene laporkan dan mencari di mana ia bisa mencari celah untuk menyudutkan Irene kembali. Namun laporan yang Irene berikan benar–benar terperinci, tidak ada sedikit pun kesalahan di dalamnya yang bisa membuat mereka menyalahkan Irene. Coba saja jika kalian sekali lagi berani mencari masalah denganku! Akan aku buat kalian menyesal.
(BRRAAKKK) Luke tiba–tiba menghentak tangannya ke atas meja.
"Irene, masalah uang yang hilang akan aku beri perintah pada bagian internal perusahaan untuk meninjau kembali. Tapi, bagaimana dengan bangunan yang retak itu? Apa kau berniat untuk beradu nyawa di sana?!" sentak Luke.
"Apa maksud anda Mr. Luke?" Irene melangkah maju dengan mengerutkan kedua alisnya.
"Biaya pembangunan sudah tidak ada lagi! Retakan pada pilar pondasi bangunan utama sangat penting! Jika di bangun ulang, apa kau punya biaya?! PT. Etheral bukan perusahaan main–main! Mau dengan apa kau bertanggung jawab!" Luke menunjukkan jarinya ke arah Irene seraya menyudutkannya.
"Aku, sebagai perwakilan PT. Etheral sampai harus datang kemari untuk membereskan hal ini! Para dewan direksi tidak akan senang mendengar hal ini, bahkan bisa menuntut kalian terlebih padamu!" Sarah ikut memberikan pernyataan hanya untuk memperkeruh masalah.
Irene terdiam sejenak karena dalam hal ini, ia harus berdiskusi dengan pihak jasa konstruksi. Namun semenjak semalam, tidak ada satu pun pihak jasa konstruksi yang dapat dihubungi bagai hilang di telan bumi. Irene terpaksa memutar pikirannya kembali, berusaha memikirkan jalan keluar atas pilihan apa yang bisa diambilnya.
(BRAAAKKK) Suara pintu yang terbuka secara paksa dari luar.
"Segera hubungi pihak jasa konstruksi lainnya, biar biaya pembangunan kali ini, aku pribadi yang akan menanggungnya!"
"Mr. William? ... Aap–apa yang ...."
Terhadir sosok yang tidak terduga, pikiran akan maksud dari tujuan hati pun dipertanyakan. Di saat jarak dan tembok tinggi kembali dibangun dengan kokoh. Untuk apa lagi kehadirannya kali ini? Tidak cukupkah luka dan kesedihan ini?