EKSLUSIF HANYA DI NOVELTOON, JIKA ADA DI TEMPAT LAIN BERARTI PLAGIAT!! LAPORKAN!
Algazro adalah anak orang kaya, orang tuanya punya sebuah perusahaan yang cukup besar, mereka hidup dengan damai dan tenang.
Namun ada sebuah insiden yang menyakitkan, musuh bisnis papanya membakar perusahaan dan rumah yang mereka tinggali lalu membunuh kedua orang tuanya.
Saat itu ia hidup terluntang lantung sendiri, tidak ada yang mengasihaninya. Padahal semasa hidup, kedua orangtuanya sangat baik pada mereka. Tapi setelah semuanya berubah, bukan belas kasihan yang ia dapatkan, melainkan hinaan dan ejekan, mereka sungguh tidak tahu membalas budi.
Sebelum kematiannya dihakimi massa karena dituduh mencuri, saat itulah ia mendapatkan sistem ia merubah hidupnya. Dengan sistem ia mendapatkan wanita cantik mengelilinginya seperti detektif cantik yang jeli, CEO manis dan pintar, polwan tegas dan mempesona, dokter cerdas dan penampilan anggun dan sang mafia cantik yang kejam, mereka semua adalah aset terbesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
"Tidak perlu," jawab Algazro.
"Tapi kamu kan sakit," ucap Viola.
"Aku tidak selemah itu, luka ini akan sembuh setelah sampai tujuan, jadi jangan khawatir," ucap Algazro tersenyum.
Viola menekuk alisnya merasa itu hal di luar nalar.
"Kamu jangan bercanda, aku tidak percaya jika saat sampai tujuan luka mu sembuh kecuali tujuannya hingga tujuh hari tujuh malam," ucap Viola.
"Kamu nggak percaya? Lihat saja nanti," ucap Algazro.
"Tapi sebenarnya kita mau kemana sih?" tanya Viola melihat keluar jendela mobil.
"Ada deh," jawab Algazro.
Perjalan yang tidak begitu lama, Algazro pun memelankan mobilnya dan sambil melihat tempat mana yang paling bagus.
Setelah melihat tempat yang bagus, Algazro pun memberhentikan mobilnya di depan sebuah butik.
"Ngapain kita ke sini?" tanya Viola.
"Haishhhh, aku saja yang ada di samping mu saja mencium mu saja bau, apa kau sebagai pemakai baju itu tidak mencium baju mu?" tanya Algazro.
Viola mencium bajunya dan itu sedikit agak bau.
"Agak bau sih," jawab Viola.
"Ya udah, ayo masuk," ajak Algazro.
Mereka pun turun dari mobil dan masuk ke dalam butik.
"Kamu pilihlah mana yang kamu suka," ucap Algazro.
"Bener nih? Kamu yang bayar?" tanya Viola.
"Iya, sana," ucap Algazro.
Viola pun memilih baju yang cocok dengan dirinya.
Viola mengambil baju dengan setelan celana kulit.
"Hey! Kamu itu perempuan, berlakulah seperti perempuan. Dan beli baju perempuan," ucap Algazro.
"Yang aku pilih inikan baju perempuan lho," ucap Viola menekuk alisnya.
"Ini baju waria tau, ini nih baru baju perempuan," ucap Algazro mengambil dress berwarna pink.
Viola terbelalak. "Apa-apaan ini! Kalo mau ambil baju pun jangan warna ini donk. Yang lain aja," ucap Viola seperti orang ketakutan melihat dress pink itu.
"Baiklah, aku pilih warna lain saja." Algazro pun berjalan dan melihat-lihat dress dan ia pun menemukan dress berwarna silver.
"Yang ini saja bagaimana? Ini sangat cocok dengan lho," ucap Algazro melihat ke arah dress itu dan melihat ke arah Viola.
"Hm … baiklah," jawab Viola pasrah.
Algazro mengambil dress itu dan ia pun memilih beberapa baju yang lain.
"Selama kau tinggal di rumahku, maka kau harus pakai baju yang aku beli, itu juga demi kebaikan mu," ucap Algazro menenteng banyak baju.
"Kebaikan ku apa?" tanya Viola menekuk alisnya.
"Haissss, kau bukannya seorang ketua mafia, masa dengan hal kecil begini saja kau tidak tahu. Baju yang kau gunakan ini untuk penyamaran mu dari musuh, kau paham kan?" tanya Algazro.
Viola terdiam. Entah mengapa ia merasa ada yang aneh pada dirinya saat mengenal Algazro, ia seperti di sihir menjadi wanita polos dan penurut.
"Ayo kita ke kasir," ajak Algazro.
Viola mengikuti Algazro dari belakang. 'Apa yang salah dengan diriku ya?' batin Viola melihat kebawah dan pada akhirnya ia menabrak Algazro karena Algazro berhenti di depan kasir.
"Kamu kenapa? Kok nggak fokus gini?" tanya Algazro melihat kebelakang karena saat itu mereka sedang mengantri.
"Eh bukan, aku sedang memikirkan … memikirkan siapa orang yang menyamar itu," jawab Viola beralasan.
"Oh, tapi kamu jangan sampai tidak fokus di jalan ya, pikirkan nanti saat di rumah saja," ucap Algazro mengingatkan sambil berjalan kedepan.
"I-iya." angguk Viola.